(Mantan) Istri Pangeran

(Mantan) Istri Pangeran
047


__ADS_3

Aku terjatuh di atas rerumputan.


Tak kupedulikan seluruh mata yang memandangku.


Aku hanya ingin melepaskan sesak di dada.


"Hei, kamu kenapa?"


Wisesa menghampiriku.


Pria itu tidak memedulikan tentang reputasinya.


Membiarkan aku menangis dalam peluknya.


Seperti bayangku, berita tentang aku dan Wisesa lebih menggemparkan dibanding hilangnya Aden.


Berita hilangnya Aden lebih tertutup. Hanya segelintir orang yang tahu tentang hal itu.


Marwahku hilang ketika para pembawa berita mulai mengendus perceraian kami.


Mengatakan penyebab terjadinya perceraian ini ialah karena aku berselingkuh.


Bangkitnya Kerajaan Adaka selama tiga tahun ini turut tersorot oleh mereka.


Beranggapan bahwa aku memberikan sokongan pada warga Adaka.


Ah. Biarlah. Biar aku menangani berita ini dan Mas Indra fokus mencari Aden.


Yang mereka tahu aku tidak melebarkan sayap kekuasaan. Tidak mencari dukungan keluarga dari keluarga besar para bangsawan.


Sudah tentu mereka akan menyerangku dengan mudah.


Keluar dari hotel berbintang ini, seperti seorang mangsa yang akan dimakan predator.


Ya. Setelah menangis kejer kemarin, aku tidak tahu dibawa ke mana oleh Wisesa.


Ternyata dia membawaku kembali ke hotel.


"Apa makanannya tidak enak?"


"Enak," jawabku pada pria yang sudah menyelamatkanku dari riwehnya wartawan.


Karena kemarin dia sudah menyelamatkanku, rasanya tak enak menolak ajakan makannya.


Dia membawa makanan enak ke kamarku. Dari pagi tadi sampai malam ini.


"Wisesa, jangan terus datang ke kamarku. Berita kita sedang panas."


"Aku hanya ingin memastikan kamu tidak melakukan hal di luar batas," kata Wisesa seolah aku orang dengan pendek akal.


Berdecak menatapnya yang amat serius.


"Harapan hidupku tidak sependek itu, Sesa. Udah ya, aku minta tolong?"


"Baik. Baik. Asal kamu jangan tolak pemberianku."


"Kamu tamu kami, bagaimana bisa tamu yang memberikan hidangan?"


"Kemarin sudah cukup. Masakan gerobak kalian, ternyata sangat sedap."


Biarlah dia memberikan makanan sebagai penyemangatku.


Aku jadi tidak perlu memusingkan untuk memesan makanan.


Semua pengawalku kukerahkan untuk mencari Aden.


Agak riskan kalau memesan seorang diri.


Takut ada seseorang yang menyabotase makananku.


Bila ditangani Wisesa, dia perlu mengawasi makanan yang akan masuk ke dalam perutku.


Setelah kepergian Wisesa, aku merasa sepi karena tiada orang yang dapat kuhubungi.


Damara mencari jejak Aden di dalam internet. Sudah kuwanti- wanti dia untuk tak memberi tahu pada ibu dan ayah.


Mbak Aini tidak tahu masalah ini. Dia juga punya kesibukan.


Tampaknya benar kata Wisesa, sepi dapat membunuhmu.


Kujejaki laman media pada ponselku.


Tidak banyak yang kudapat.


Aku membuka jendela. Mencari cela dari tatapan buas wartawan yang menungguku.


Aku tidak bisa berdiam diri begitu saja.


Seseorang mengetuk pintu kamarku.


Rupanya kawan sekolahku.

__ADS_1


Kubiarkan saja dia masuk ke sini.


"Maaf kalau anak saya ribut ya, Kanjeng."


Wanita yang tampak lebih tua dari usianya itu memandang tak enak padaku.


Kuberikan dia senyuman yang menenangkan.


"Nggak apa kok. Namanya juga anak- anak," cetusku.


"Kami turut merasa sedih mendengar hilangnya Kanjeng Pangeran."


"Terima kasih. Ayo dimakan camilannya."


Dia hanya menyampaikan belasungkawa?


Tapi ini sudah terlalu malam.


Seketika curigaku mencuat.


Tidak ada teman di atas sini.


Adanya kelompok yang saling membutuhkan.


Seperti aku yang membutuhkan harta dan kuasa Mas Indra untuk menjadikan anakku sebagai pewaris tunggal.


Dan Mas Indra yang baik padaku setelah memberikannya seorang pewaris.


Aku mencoba memastikan sekitar. Tidak ada yang aneh.


Kubuka tabku yang berisi aplikasi pengintai.


Aku meletakkan kamera pengintai kecil di dua kamar mereka.


Awalnya aku tidak memedulikan mereka, karena mereka mampu menempatkan diri.


Hadirnya mereka ke sini, membawa curigaku.


Aku membuka aplikasi, tampaklah ruang kamar hotel mewah yang kosong tanpa penghuni.


Tadi kulihat mereka ke arah pintu kamar mereka. Apa mereka berbelok setelah aku masuk ke dalam kamar?


Aku menunggu mereka sampai terkantuk- kantuk.


Mereka muncul dengan banyak kantong belanjaan yang memuat logo- logo brand terkenal.


"Hah, apa -apaan itu? Katanya berbelasungkawa, sempat- sempatnya belanja," gumamku.


Rasanya tidak etis sesudah mengucapkan belasungkawa malah pergi berbelanja.


["Apa tidak akan terjadi masalah, Ma?"] tanya suami temanku.


["Kita hanya meletakkan kancing dan lihat penghasilan kita. Apa kamu bisa membelikan semua ini dengan hasil jualan baksomu?"] ketus temanku merendahkan sang suami.


["Tapi kancing itu sepertinya bukan kancing biasa."]


["Siapa peduli?"]


"Kancing?"


Aku bergumam dan mencari benda kecil itu.


Sialnya tempat ini terlampau luas.


Menyisir bekas tempat yang diduduki temanku. Nihil. Tidak ketemu.


Lelah aku mencari. Tubuh ini terkapar di atas karpet.


Suara dering ponsel mengganggu indraku.


Nama Damara termuat dalam layar dan seketika mati saat aku hendak menjawab.


Pada balon pesannya, terlihat Damara mengirim banyak sekali tangkapan layar.


Dari: Damara


[Bagaimana bisa Mbak begitu ceroboh!?]


Begitu pesannya diiringi foto- fotoku dari berbagai sudut.


Headline berita termuat fotoku saat sedang menikmati camilan bersama temanku.


Juga Wisesa.


PANGERAN MENGHILANG, SANG IBUNDA JUSTRU BERMALAM DENGAN SELINGKUHANNYA.


****!


Bisa saja aku menghilangkan berita ini.


Tapi sudah dibagikan ribuan kali.

__ADS_1


Biasanya aku menekan mereka sebelum berita itu dipublikasikan.


Apa sekarang ancamanku hanya dianggap angin lalu?


Satu- satunya cara membersihkan namaku adalah memberi tahu tentang sahnya perceraian kami pada hampir tiga bulan yang lalu.


Setidaknya aku tidak akan dianggap berselingkuh!


"Katakan bagaimana caranya mendeteksi kamera tersembunyi?" tanyaku pada Damara setelah dia mengangkat telepon.


["Kamera tersembunyi apa?"]


"I.. ibu?"


Ck. Damara. Kenapa malah memberikan ponsel pada ibu?


Aku takut sekali jiwa ibu akan terguncang bila mendengar berita- berita tak baik tentang putrinya.


["Kamu ajaklah Wisesa pulang ke kampung. Ibu dan yang lain sedang dalam perjalanan."]


Karena aku telah bercerai, maka surgaku kembali pada ibuku.


Aku tidak dapat membantahnya.


Membawa Wisesa pulang ke kampung halaman.


Wajah ibu terlihat baik- baik saja. Padahal pasti berita itu sudah tersebar sampai ke kampung kami.


Tadi saja banyak orang menatap sinis padaku.


"Ibu percaya pada putri ibu," ujarnya membuatku terharu.


Aku sungguh tak percaya ibu punya ide yang brilian.


Beliau menunjukkan makam kakek pada Wisesa. Membiarkan dia mendo'akan kakek sesuai keyakinannya.


Menyelenggarakan sebuah upacara do'a yang sakral.


Aku dan orang tuaku beserta Damara hanya melihat dari samping.


Tidak ada lagi berita tentang perselingkuhanku.


Pihak Wisesa telah menyatakan hubungan darah dengan kakekku. Datang ke negeri ini untuk mencari kakeknya, selain memenuhi undangan dari pihak Kesultanan.


Lalu akhirnya berita tentang hilangnya Aden turut tersiar.


Seorang saudara menenangkan saudarinya yang sedang kehilangan anak.


Orang- orang tidak lagi memandangku rendah.


"Terima kasih, Bu."


"Sudah seharusnya, Nak."


Aku selalu sangsi apakah kedua orang tuaku dapat tampil melawan musuh- musuh kami karena selama ini selalu tunduk pada Nenenda.


Ternyata mereka hanya menghormati Nenenda dan tidak berniat melawan setiap perkataannya.


Sekarang karena sudah tidak ada ikatan, ibu dan ayah tidak merasa perlu menuruti Nenenda yang minta mereka untuk diam.


"Nenenda menyuruh ibu dan ayah menyembunyikan status Wisesa?" tanyaku.


"Ya. Dia menikmati berita ini. Dan mungkin saja hadirnya wartawan di Keraton adalah ulahnya. Menyuruh mereka mencari titik kesalahanmu."


Meski diperbolehkan menikahi sepupu, di negeri ini hal itu masih tabu.


Bahkan sebagian menganggap sepupu adalah mahram.


Maka tak aneh bila berita miring tentangku dan Wisesa akhirnya kandas di tengah jalan.


"Kanjeng Nyonya, Kanjeng Pangeran ingin berbicara dengan Anda," tutur pengawal yang selama ini mengawal kedua orang tuaku.


Kuterima ponselnya.


Pergi menjauh dari kedua orang tuaku. Segan menunjukkan rasa sedihku pada mereka.


["Kenapa kamu menyuruh Fadlan untuk menutupi berita miring itu!?"]


"Sudah diatasi. Bagaimana? Apa Aden sudah ketemu?"


["Ya. Kami dalam perjalanan pulang."]


Bibirku bergetar hebat. Harusnya aku tersenyum. Aku malah menitikan air mata.


Usapan lembut tangan ibuku terasa pada bahuku.


Aku peluk beliau dan menumpahkan tangisku.


Senang sekali rasanya.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••

__ADS_1


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran


__ADS_2