(Mantan) Istri Pangeran

(Mantan) Istri Pangeran
021


__ADS_3

"Hati- hati, Mbak. Kalau ada yang bisa aku bantu, jangan sungkan kabari."


Aku berkata dengan tulus. Beberapa bulan ke depan, aku akan terlepas dari belenggu keserakahan orang- orang atas.


Sementara Mbak Aini akan menghadapinya sepanjang hidup.


Suami yang perhatian dan melindungi, ternyata tidak setiap saat dapat memberikan keamanan bagi dirinya.


Di tempat paling adil pun, politik tetap saja mengerikan.


Mbak Aini dan suaminya belum mendapatkan petunjuk, siapakah dalang dari pembunuhan tiga bakal calon anak mereka.


Semua bukti yang ada tidak dapat mengerucutkan tuduhan pada satu dua kelompok.


Semua orang terasa sebagai pelaku untuk mereka.


CCTV yang biasanya menyala di sekitaran jalur utama dan beberapa titik yang rawan di istana mereka, mendadak mati tanpa jejak. Rusak katanya.


Ini sudah mengindikasi adanya campur tangan para petinggi.


Mbak Aini dan aku sama saja asalnya, pun sama saja banyak penolakan dari kalangan suami kami, jikalau kami terlalu rendah untuk menjadi pendamping orang besar.


Memang seharusnya orang besar didampingi wanita yang sama berwawasannya.


Tapi, cinta dan jodoh tidak dapat diprediksi.


Ada saja orang- orang cerdas yang berjodoh dengan pasangan yang kurang seons. Yang wawasannya tidak seluas mereka.


Maka, seharusnya tidaklah perlu menghakimi.


Tidak melulu seorang pemimpin butuh wanita yang dapat aktif berinteraksi dengan khalayak ramai.


Sebagian justru merasa nyaman dengan istri yang hanya di rumah. Menyambut dan menyapanya dengan spesial.


Memperhatikan dia sepenuhnya, setelah dia letih memperhatikan masyarakat banyak di luaran sana.


Pun banyak para pria tidak ingin istri mereka terlibat dalam hal- hal berbahaya dalam bagian hidup mereka.


Ingin istrinya aman sentosa di dalam rumah mereka, walau istrinya mampu membantu mereka di kantor.


Aku dan Mas Indra berdiri di depan gerbang sampai mobil yang membawa Mbak Aini dan Mas Amir tidak lagi terlihat dalam pandangan.


Aku langsung menghampiri Aden yang sudah anteng dengan pengasuh barunya.


Pengasuh pilihan Mas Indra.


Sangat cantik.


"Aden sudah makan, sayang?"


"Dah!"


Respons yang sangat bagus. Aden sangat pintar untuk anak seusianya dan Insya Allah akan menjadi seorang yang jenius. Aamiin.


Aku berharap Aden menjadi cerdik sebagai dasarnya bertahan hidup dalam dunianya.


Seperti Mbak Aini yang tak selalu dapat dilindungi Mas Amir, Mas Indra yang sangat sayang pada Aden pun tidak menutup kemungkinan adanya waktu Mas Indra tidak dapat melindungi Aden.


Nampaknya aku benar- benar butuh tambahan anak buah. Untuk mengurus pendidikan Aden dan juga pengawal dalam internet supaya dapat mengamankan Aden dari pantauannya.

__ADS_1


Membiarkan Aden bermain bersama pengasuh barunya, aku menengok Ratih di kamarnya. Lumayan jauh ke belakang.


Namun karena orang- orang hampir tidak pernah mengeluarkan suara, kecuali saat menginformasikan sesuatu, jika pintu kamar Ratih dibuka, suara monitor di dalamnya terdengar ke seluruh ruang keluarga.


Perempuan itu masih saja tidak sadarkan diri.


Dalam hati, aku sungguh takut. Dia yang paling bisa dipercaya tentang Aden.


"Ratih, bangunlah. Keluargamu membutuhkanmu. Aden juga. Anak itu sudah semakin pintar. Apa kamu tidak mau melihatnya? Bukankah kamu ini bibinya? Mana bisa begitu jahat. Mengabaikan Aden dan terus tidur seperti ini."


Karena Aden sudah kembali sehat dan aktif, kuputuskan untuk pergi dari rumah ini.


Inginnya menunggu Ratih sadar dan sembuh, tapi mendengar perkataan dokter yang tidak dapat memperkirakan kapan Ratih akan bangun, aku tidak dapat terus berpangku tangan.


Aku sudah bukan bagian keluarga ini lagi. Mana boleh menjatuhkan harga diri dengan menumpang makan dan minum di sini.


"Kamu mau pergi? Meninggalkan anakmu? Ibu macam apa kamu?"


Cecaran itu tiba- tiba menggema di dalam kamar.


Ya. Aku dan dia terpaksa berada di dalam satu kamar untuk menghindari kecurigaan Mbak Aini.


"Mas Indra, saya itu sebenarnya bingung, kadang Anda bicaranya lembut, manis, bertutur cinta atau apalah, kadang bicara begini. Kasar. Cobalah periksa mental Anda. Kayanya ada yang rusak."


"Kamu juga sering berkata formal, sering berkata non formal. Apa benar tidak ada masalah pada mulutmu? Atau haruskah mulutmu diobati? Jangan bicara seolah kita orang asing!"


"Kita memang orang asing."


Aku mengangkat tangan keitika dia hendak membalasku. Kutinggalkan pakaian yang masih belum masuk ke dalam koper.


"Jangan seperti anak kecil, Mas. Impulsif dan selalu berdebat atas hal- hal tak penting. Kamu ini calon pemimpin masa depan! Harusnya banyak berpikir sebelum berucap. Aku sangat tahu ibu seperti apa diriku. Maka dari itu, aku tidak membawa Aden bersamaku!"


Sebagai wanita yang ditakdirkan jadi ibu, tentu ada sudut hatiku yang tidak ingin terpisah dari buah hatiku.


Adakah cara terbaik untuk bersama Aden dengan tetap selamat?


Aku tidak punya pengalaman pergi ke tempat jauh. Tidak punya banyak kenalan. Ke luar negeri? Lebih tak mungkin.


Aku hanya orang biasa yang jarang bertandang ke kota orang.


Lebih- lebih wanita dan anak -anak adalah korban yang paling sering diincar para pelaku kejahatan.


Maraknya penculikan, pembegalan, perampokan, penyusupan, hingga pembunuhan dan pembantaian, akan menjadi sulit bagi warga baru merasa aman di kota lain.


Aku tidak punya pilihan!


Tinggal bersama saudara bukan pilihan bagus.


Sudah untung para penculik itu tidak mengincar keluargaku. Mereka adalah orang terhormat yang memikirkan harga diri dan tahu batasan.


Mereka cukup mengincar orang yang dirasa bagi mereka akan menghalangi ambisi mereka.


"Perihal cara bicaraku, kadang masih belum terbiasa berbicara dengan hormat pada Anda, Tuan Pangeran Mahkota Yang terhormat!"


"Jangan bicara formal padaku!"


"Jangan merengek!" geramku garang.


Wajah memerah yang hendak menangis yang dipasang Mas Indra sungguh membuatku geli.

__ADS_1


Apa ada pria yang begitu cengengnya?


Menangis dan merengek.


Padahal dia dijuluki sebagai tangan besi!


Dia tidak segan menyisir rumah- rumah di hilir sungai. Meruntuhkan semuanya dalam semalam. Tidak mengindahkan tangis warga yang tinggal.


Anak- anak remaja yang melakukan kenakalan di malam hari pun tidak luput dari tangan besinya.


Dia memberi hukuman cambuk untuk mereka semua sampai mereka kesulitan berjalan.


Padahal kan mereka masih anak- anak. Cukup amankan celurit dan segala benda tajam di rumah, supaya tidak digunakan anak- anak bermain.


Bukankah kenakalan anak- anak cukup diluruskan dengan ceramah?


Tidak perlu ditindak sekejam itu!


Tiga puluh cambukan bagi anak- anak remaja yang menodong- nodongkan celurit di atas motor.


Memang ada korban dari tindakan mereka.


Tapi kan hanya satu dari dua belas kelompok remaja yang ditangkap pihak keamanan.


Kenapa harus seluruhnya dicambuk hingga sulit berjalan?


Aku tidak habis pikir.


Pernah juga aku mendengar keinginan bej*tnya yang dia utarakan secara terang- terangan.


Mas Indra selalu membawaku ke pertemuan- pertemuan besar, supaya para pengincar posisi Istri Pangeran tahu target mana yang harus mereka bidik.


Agar kekasihnya aman sentosa di dalam rumah megah, yang dia beli di dekat hutan.


Hari itu hujan badai terjadi di kota. Mas Indra membawa salah satu pemimpin keluarga yang mendukungnya, untuk menepi ke rumah kami.


Sebagai istri yang polos dan belum pernah mengalami penculikan, aku berdandan dengan sangat heboh.


Memakai perhiasan indah yang diberikannya. Menyambut tamu dengan gaya seperti hendak ke pesta.


Aku bahkan merasa nyaman ketika dia memelukku. Merangkulkan tangannya.


Bersikap dengan mesra.


"Apa yang akan pertama kali Anda lakukan setelah dilantik?" tanya tamu Mas Indra kala itu.


"Membongkar makam -makam keramat."


Aku tidak sempat berekspresi kala mendengar penuturan kejam suamiku.


Karena aku merasa risi terus saja diperhatikan oleh pria yang rambutnya telah memutih semua.


Mata pria itu sangat tajam.


Sesekali memindai wajahku, seolah mengukir garis wajah ini di benaknya.


Dia adalah Pakde Epung. Orang yang pertama kali menculikku.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••

__ADS_1


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran


__ADS_2