
Acara sambutan dan pembacaan hukuman- hukuman sungguh menjengkelkan.
Lama sekali.
Ingin aku libas langsung mereka dengan dua senjata di tanganku.
Seseorang yang jubahnya serupa denganku, naik ke atas panggung.
"Pelaku utama dihukum di belakang," ucap wanita itu mengambil keris dari tanganku.
Dihukum di belakang?
Padahal ini saja sudah tertutup dari publik.
Hanya orang sekitar dan para petinggi yang melihat hukuman ini, mengingat negeri kami masih dalam pesta hari jadi.
Aku tidak ingin membuat lawan menjadi puas dan publik menjadi khawatir, bila pesta dihentikan tiba- tiba oleh kejadian ini.
Aku tidak ingin penculikan ini tersiar yang mana secara tidak langsung mengabarkan cela tidak aman pada tempat tinggal Aden.
Apa hukuman tertutup ini belum juga dapat mengamankan identitas pelaku utama?
Mas Indra ingin mengadakan upacara hukuman di antara keluarga Sultan saja?
Sepertinya benar wanita tua itu yang melakukan penculikan pada cicitnya sendiri!
Masih teringat jelas dalam telingaku, Nenenda ingin menghancurkan aku dan Aden.
Sekuat tenaga aku hempaskan cambuk rotan yang bulatannya terasa sangat besar di lingkar telapakku.
Teriakan minta berhenti pada cambukkan ke lima puluh dua kali, tidak aku hiraukan.
Aku bahkan tidak berpindah dari titik cambukkan. Membuat luka menganga, dalam, dan kelak akan membekas pada para pelaku.
Mataku memandang datar, ketika pelaku pertama menyerah tepat pada cambukkan ke seratus.
Dia berbalik dan memohon ampun.
Ayunan tanganku tidak berhenti.
Melukai wajahnya.
Ah, kenapa tidak aku tandai wajah mereka semua?
"Berhenti! Nabi melarang kita melukai wajah!"
Teriakan Mas Indra menyadarkanku tentang tindakanku yang telah keterlaluan.
Pemimpin algojo menghentikan langkahnya kala Mas Indra berteriak dari singgasananya.
Sepertinya semua orang mulai sadar, siapakah wajah di balik algojo hari ini.
Mereka bahkan serempak melirik ke arah Mas Indra, yang duduk sendirian tanpa pendamping.
Aku bukanlah wanita yang akan duduk diam menangisi putraku yang kesakitan.
Biarlah dia bersama dengan ahlinya.
Dan aku di sini menuntaskan dendamnya.
Hukuman cambuk yang harusnya genap dua ratus kali, kuserahkan setengahnya pada algojo yang bertugas.
Tanganku gemetar hebat.
Masih ada lima pelaku yang harus kuhukum dengan tangan ini.
Setidaknya setengah hukuman.
Seratus kali hukuman cambuk pada masing- masing orang.
Sayangnya, belum genap seratus kali pada orang ketiga, pandanganku mendadak memutar.
Aku jatuh dan tidak sadarkan diri.
Ketika terbangun, aku sangat jengkel pada kualitas energi tubuh ini.
Berniat menghukum pelaku malah tidak mampu.
Mendadak rasa jengkel itu lenyap kala netra ini telah terbias sinar sekitar. Mendapati Aden sedang terlelap di depanku.
Mas Indra duduk di sisi lainnya. Tertelungkup pada tumpukan bantal yang mengukung Aden.
__ADS_1
"Di sini bau obat, Mas!" desisku melirik tajam Mas Indra yang mulai terbangun.
Bagaimana bisa dia membawa Aden masuk ke dalam ruang rawat?
Apakah dia hilang akal?
Aroma rumah sakit, sangat mengganggu jiwa yang damai.
"Dua jam lagi Aden akan dioperasi."
Petir terasa menggelegar kala Mas Indra berkata dengan wajah sendunya.
Mas Indra menitikkan air mata.
Mencium lembut Aden, berhati- hati, tidak membangunkan putranya.
"Jangan bercanda, Mas!" sentakku berharap dia berkata seperti itu, hanya untuk membuatku tidak lagi menghalangi tugas algojo.
Mas Indra menggeleng.
"Kamu tenang saja, Giwa. Hanya sedikit retak."
"Sedikit retak tapi operasi, Mas??!"
"Sebagai orang tua yang do'anya diijabah untuk anak- anak, jangan berpikiran buruk. Tetap tenang. Yakinlah kalau Aden baik- baik saja. Dokter terbaik negeri ini sudah mempersiapkan semuanya."
Ucapan Mas Indra tak salah.
Aku harus berpikiran positif tentang kondisi Aden.
Jangan cemas. Jangan cemas.
Aku berusaha tetap tenang, tapi melihat tubuh kecilnya. Ada gumpalan daging yang sakit dalam diri ini.
Tubuh sekecil itu harus dibedah.
Dipasang berbagai alat medis.
Belum lagi disuntik dan diobati berbagai bahan kimia.
Oh, Pangeranku..
Harap- harap cemas aku menunggu Aden.
Kali ini aku bahkan tidak memedulikan makanan wajib untuk memulihkan kondisiku.
Terus duduk di hadapan pintu yang tertutup rapat.
Menyalakan lampu tanda sedang berjalannya operasi di dalam sana.
Mas Indra turut serta berada di dalam. Mengawasi langsung praktik dokter pada putranya.
Aku dilarang masuk karena kondisiku.
Satu- satunya yang dapat kulakukan hanyalah memanjatkan do'a pada Ilahi.
Ternyata penanganannya masih perlu menambah waktu.
Aku jadi teringat pelaku utama yang belum mendapat hukuman dariku.
Tadi sebelum jatuh tak sadarkan diri, kusempatkan memberi satu kali lesatan cambuk pada para pelaku yang belum mendapat giliran.
Meski hukuman mereka sudah terlaksana, setidaknya aku sudah memberikan satu kali hukuman.
Aku pun ingin sekali melihat wajah pelaku utama dan memberikan kenang- kenangan padanya!
Tapi meninggalkan kamar operasi?
Haish!!
"Apakah operasi sudah selesai?" tanyaku pada suster yang keluar dari ruang operasi.
"E- eh. Anu.. Kan... kanjeng..."
"Tenanglah! Katakan saja dengan jelas."
"Begini, Kanjeng Nyonya..."
"Katakan!"
Greget sekali melihatnya. Suster muda ini sangat gagap dalam berucap!
__ADS_1
"Tengkorak Kanjeng Pangeran terluka. Dokter akan melakukan operasi tambahan. Ha- hamba permisi dulu, Kanjeng Nyonya."
Entah bagaimana aku melangkah dari rumah sakit menuju aula terpencil yang jauh jaraknya.
Aku sampai di tempat ini sesaat setelah hukuman bagi pelaku utama terselesaikan.
Mereka memapahnya turun dari atas panggung hukuman.
Kutarik keris yang menyembul keluar di pinggang pengawal.
Menusukkannya ke dalam dada pelaku.
Wajah yang terbungkus kain itu, bagaimanakah ekspresinya?
Ketakutan? Kesakitan?
Hanya terdengar ringisan kecil dari bibirnya.
Apa dia tidak merasa sakit dengan luka yang kubuat.
Kuperdalam tusukan keris di dalam dada pelaku.
"Kanjeng, mohon berhenti! Pelaku sudah menyelesaikan hukumannya!"
Menyebalkan. Sangat menyebalkan.
Sementara Aden tinggal di dalam ruang operasi, pelaku ini dapat melenggang bebas!?
Kutarik keris dari dada si pelaku. Menodongnya pada pengawal yang bersuara paling lantang, dan terdengar jelas dalam runguku.
Pipinya tergores.
Seketika dia berhenti.
"Aden hampir merenggang nyawa karenanya dan hukuman dia sudah selesai!?"
Aku menarik keris sehingga luka di wajahnya benar- benar terbentuk.
Kutunjuk pelaku yang hanya dapat mengeluarkan ringisan, dengan keris berdarah di tanganku.
Keris di tanganku luruh saat tangan ini kembali gemetar.
Dampak melakukan hampir tiga ratus cambukan, membuat tangan ini sulit menggenggam.
"SIAPA YANG MENYURUH KAMU MEMBANTUNYA? KAMU REKANNYA KAH!?" teriakku saat salah satu anggota algojo hendak membantunya bangun.
Seketika tubuh itu berhenti.
Yang lainnya pun memundurkan langkah mereka.
Sebenarnya bukan hal aneh bila terdakwa sekali pun masih diperlakukan secara manusiawi.
Aku hanya tidak ingin melakukannya pada orang ini!
"Selayaknya Aden yang meringkuk dingin di tengah rumah kosong selama semalaman. Biarkan malam ini dia meringkuk di sini. Hidup atau pun mati."
Kepalaku sangat pening.
Aku tidak bisa menyaksikan hasil dari perbuatanku pada si pelaku.
Aku tidak mau pingsan di depan umum.
Tertatih langkah ini menuju kamar dalam aula.
Tidak ada Mas Indra di sini. Dia sedang menemani putranya.
Siapa yang akan menolongku?
Kupertahankan kesadaranku hingga kulihat kamar utama aula telah terbuka.
Pandanganku menghitam.
Apakah aku jatuh tepat di atas kasur ataukah itu hanya khayal, yang ternyata aku terjatuh di atas lantai?
Aku hanya merasakan kenyamanan ketika sepasang tangan mendekapku erat.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran
__ADS_1