
"Udah dateng, bu? Gimana kabar keluarga di kampung? Kasihan loh suaminya sendiri aja ngurus warung."
Wanita itu menyamakan langkahnya denganku. Aku balas tersenyum padanya sembari mencerna ucapannya.
Suami..
Warung..
Dia masih di rumah ini!?
Kubuka pintu ketika seseorang di dalam rumah juga membuka pintu.
Wajah itu tersenyum canggung. Memberikan bingkisan pada ibu yang datang bersamaku, berbincang dengan basa- basi. Lantas menerima uang darinya.
"Kamu—"
"Yakin mau marah di depan rumah?" potong dia, Kusuma.
Wajahnya dipenuhi dengan garis kemenangan.
Aku terpaksa masuk. Mengekor di belakangnya.
"Bagaimana bisa kamu tidak tahu malu? Tinggal di dalam rumah yang tidak ada pemiliknya!"
"Kamu harusnya berterima kasih padaku."
Kusuma tersenyum dengan bangga.
Sepertinya dia tebal mukanya.
"Apa maksudmu?"
"Keluarga Halim mencarimu. Mereka mengendus kamu ada di sini."
"Halim?"
"Tidak lupa kan? Keluarga kandidat istri pangeran, sebelum kamu datang ke kehidupan pangeran."
"Maksudmu aku perusak hubungan mereka, gitu?!"
Kesal sekali mendengar penuturan orang- orang di sekeliling Mas Indra.
Seolah aku selalu salah karena tidak membiarkan pria itu menikah dengan wanita lain.
Gendhis si pacar Mas Indra sejak setahun sebelum pernikahan kami.
Lalu para gadis muda yang katanya membersamai Mas Indra semasa kecil dan remaja.
Selama, sedekat, apa pun hubungan seseorang, tidak ada yang lebih dekat dibanding hubungan suami dan istri.
Seharusnya masa lalu itu menjaga batas mereka.
Tidak ditakdirkan Tuhan untuk bersama, jangan malah berjalan di jalan setan.
Membenarkan hubungan yang tidak sah, hanya karena kata 'sudah lebih dulu'.
"Kamu sangat sensitif sepulang dari sana. Belum makan?!"
"Jangan mengalihkan pembicaraan! Kusuma, kamu tidak berpikir aku akan memaafkanmu setelah yang terjadi pada Aden, kan?"
"Aku tidak bermaksud menyerang putramu... kukira dia tidak ada. Aku hanya membalas pangeran."
"Itu bahkan lebih buruk! Tanpa Mas Indra, Aden tidak akan dapat tumbuh! Bahkan mungkin tidak akan selamat! Kamu bisa memikirkannya kan!?"
"Maaf. Aku hanya membalas pangeran yang telah meminjamkan prajuritnya pada kakakku."
Kakaknya berarti saudaranya yang beda ibu.
__ADS_1
Teringat saat berjumpa dia pertama kali.
Tubuhnya sangat rusak.
Mungkin pantas baginya menyimpan dendam pada orang- orang yang menyakitinya.
Membalas mereka saat memiliki kesempatan.
Aku seharusnya tak punya kuasa untuk marah terhadapnya.
Karena aku, pada awalnya pun tidak peduli dengan kesakitan Mas Indra.
Bahkan merasa senang dengan dirinya yang kesakitan.
Setitik rasa bahagia tumbuh di dalam hati.
"Keluar, Kusuma!" ucapku akhirnya.
Aku tidak seharusnya menghakimi dia.
"Aku sedang membungkus pesanan warga."
Belum sempat aku membalas, terdengar ramai orang di luar.
Mereka para warga.
Karena merasa capek, kuhentikan debat dengan pria di depanku.
Warga mulai memasuki rumah setelah Kusuma membuka pintunya.
Kulemparkan mereka senyuman, lantas masuk ke dalam kamarku.
Kulempar tubuh ini ke atas kasur. Menikmati empuknya kasur dengan perut keroncongan.
Aroma masakan Kusuma sangat menggoda. Tapi tentu saja gengsi kalau meminta.
Mereka sepertinya turut makan di sini. Karena tadi kulihat di meja makan ada piring makanan yang siap disantap.
Saat mencari menu di aplikasi Gofood langgananku, suara pintu terdengar diketuk,
Kubuka sedikit untuk memastikan siapa yang datang.
Rupanya Kusuma dengan masakan di nampan.
"Kudengar rintihan perutmu. Makanlah."
"Ya ampun Pak Kusuma perhatian banget sama Bu Kusuma. Jadi iri deh. Suami saya mana pernah perhatian gitu kalau belum diambeki."
"Pengantin baru nih. Jadi berharap anak saya punya suami kaya Nak Kusuma."
"Anak yang mana bu? Selvi kan masih TK."
Ibu- ibu malah saling lempar candaan mendengar ucapan Kusuma.
Sepertinya Kusuma terus melakukan drama suami istri denganku meski aku tidak berada di sini.
Aku memberikan senyuman terbaik, sehingga tidak akan ada orang yang tahu betapa tidak sukanya hati ini dengan pria di depan sini.
"Terima kasih, Mas. Maaf ya ibu- ibu, saya kurang enak badan."
"Ga apa Bu Kusuma. Istirahat aja. Maaf nih kami ganggu."
"Tidak masalah, Bu. Silakan. Saya masuk, yaaa."
"Iya, bu."
Hari itu aku dan Kusuma lagi- lagi lolos dari kebohongan kami.
__ADS_1
Aku tidak keluar sampai sore hari karena enggan membahas yang ingin kubahas.
Hatiku mendadak marah lagi melihat wajah itu dan Kusuma juga pasti lelah melayani banyak orang dan merapikan rumah seorang diri.
Kalau membahas hal sensitif, takut menyulut amarah yang akan melahirkan suatu perbuatan jahat.
Malam hari baru kuputuskan keluar rumah. Sudah tidak ada suara di dapur sejak satu jam lalu, berarti dia sudah beristirahat dengan cukup.
Pas sekali kutemui Kusuma sedang duduk bersandar di depan televisi.
Ketika mendapatiku mendekat, Kusuma duduk dengan tegak.
Rupanya dia tahu mau dihakimi.
Baru saja terduduk, lagi- lagi suara pintu terdengar mengganggu.
Kusuma beranjak pergi menyambut tamu yang tak diundang.
Waktu menjelang maghrib adalah hal tabu untuk masyrakat sini bertamu di rumah orang, kecuali ada masalah atau ada acara, barulah orang- orang tinggal di luar pada menit -menit menuju maghrib.
Biasanya warga sini berkumpul di masjid, sholat dan membaca Al- Qur'an bersama.
Yang datang itu pastilah bukan warga sekitar.
Apa orang yang berniat jahat?
Buru- buru aku mengambil tas. Mengacak dalamnya dengan satu tangan. Mengambil benda pipih serupa kartu ATM.
Sebuah pisau lipat yang ringan dan aman, tapi sangat mudah untuk menusukkannya pada tubuh manusia.
Di samping itu, aku mengambil sebuah pistol sebesar telapak tangan. Kusembunyikan di dalam blazer yang kupakai.
Aku tadi sudah berganti pakaian tidur yang panjang celananya dan pendek bajunya, di depan Kusuma kukenakan blazer dan kerudung instan.
Lama punya tunggu, tak kunjung datang Kusuma dan tamunya.
Kuputuskan mendekat dengan mengendap- endap.
Kugunakan ujung jari jempol kaki untuk menahan bobot tubuhku.
Persis seperti yang kulakukan tiap kali menyusup keluar dari tempat penculikan.
"Minggir, Widjianto!"
"Saya izinkan Yang Mulia Aden untuk masuk, tapi tidak dengan Anda! Anda dan Nyonya sudah tidak punya ikatan."
"Lantas apa ikatanmu dan wanita itu di sini!?"
"Aku anak buahnya!"
"Heh. Widjianto yang ambisius, mana bisa berpaling dari keluarga. Bukankah kamu satu tahun yang lalu mencoba menjebakku dengan Kamala, adikmu itu? Mana mungkin kamu berpaling mendukung rivalnya."
"Jaga bicara Anda, Pangeran!"
"Itu benar kok ... Giwa."
Mas Indra mengakhiri kalimatnya sambil memutuskan tatapan dari mata Kusuma lantas menatapku yang sudah di dekat mereka.
"Kusuma sangat menyayangi Kamala, adiknya. Mana bisa dia melindungimu. Dia hanya ingin menghancurkanmu dari jarak dekat."
"Jangan pengaruhi Giwa, Pangeran! Aku benar- benar berterima kasih padanya yang sudah menyelamatkanku!"
"Tapi waktu itu kamu hendak merusak rumah tangga yang baik- baik saja. Andaikan aku tidak kuat iman, tidak kuat keyakinanku terhadap pernikahan suci, apa bisa aku melawan obat rangsangan yang kamu masukkan ke dalam kopiku!?"
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
__ADS_1
© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran