(Mantan) Istri Pangeran

(Mantan) Istri Pangeran
030


__ADS_3

Sampai dengan satu pekan menginap, Mbak Aini belum juga menemukan siapa penguntit yang melakukan kekejian itu.


Mereka memiliki backingan kuat.


Apakah keluarga menteri? Keluarga jenderal? Atau justru dari sanak saudara Mas Indra sendiri?


Akalku tak genap. Aku masih gamang menuduh salah satu di antara mereka.


Semuanya tertuduh.


Aku tak berpangku tangan. Ada sebuah mata cincin yang jatuh tergeletak di dekat rancangan bom sebelum bom itu hilang dari pandangan CCTV.


Punya Aji? Mungkin saja. Semua masih menjadi misteri. Bahkan bila aku ingin menjadi seorang diri, Mbak Aini pun mencurigakan.


Tapi, aku tidak menemukan jawaban kenapa Mbak Aini harus melakukan itu padaku.


Kami jauh berbeda. Tidak ada ancaman diriku padanya.


Mas Amir juga sibuk dengan dunianya, tidak ada sangkut paut dengan dunia Mas Indra selain kerjasama di antara mereka.


Masalah kerja sama?


Terlalu dangkal untuk orang- orang yang telah terlatih indra perasanya.


Singgung menyinggung kecil bukan masalah besar.


Kalau menuntut kekayaan, tidaklah sebanding wilayah asal ibu kandung Mas Amir dengan wilayahnya sendiri.


Maka dari itu, kuputuskan menaruh percaya pada Mbak Aini.


Karena tidak ada cercah harapan, kuputuskan untuk pulang.


Tak enak juga menginap lama di tempat ini. Tujuh hari sudah seharga satu motor, belum lagi pelayanan tambahan.


Jangan lupakan service dokter pribadi yang mampu menyembuhkan luka bakar di tanganku.


"Insya Allah bekas lukanya akan hilang jika Nyonya mengoleskan resep ini setiap pagi dan petang."


Aku tersenyum dan mengangguk. Memasukkan kertas resep ke dalam tas.


Percaya pada dokter yang mampu membuat luka bakar mengering hanya dalam satu pekan, tanpa rasa sakit seperti biasanya.


"Mbak Aini, boleh aku minta tolong sekali lagi?"


"Tidak perlu sungkan begitu."


"Bagaimana tak sungkan? Mbak terus menolongku."


"Semua orang tidak selalu berada di atas. Tidak selalu menjadi penolong. Kadang ditolong. Sekarang aku yang menolongmu. Di kemudian hari bukan tak mungkin kamu yang menolongku," kata Mbak Aini dengan lembut.


Ah kapan aku bisa selembut itu. Sering kali mulut ini menghentak- hentakkan suara kala berbicara.


"Mbak Aini memang rendah hati."


"Kamu juga. Sudah jadi Permaisuri Pangeran pun, tidak berlebihan. Tetap sederhana dan humble."


"Haha. Bisa aja."


"Jadi, mau apa?"


"Mbak, aku belum punya tim IT dalam tim suksesi Aden. Aku ingin merekrut teman- teman Mbak."


"Kalo tim milikku yang kamu maksud. Aku tidak bisa merekomendasikan. Karena semuanya masih bertopeng. Aku baru tahu dua di antara mereka."


Aku mengangguk lesu. Dengan dunia di dalam virtual, tak perlu menunjukkan identitas asli asalkan memiliki kuasa dalam menangani permintaan klien.


Masalah orang jahat atau orang baik, pribadinya tidak perlu dikulik asalkan dapat menyelesaikan masalah yang dibebankan.


Mereka bekerja di balik layar, Seringnya tak mau membuka identitas. Bahkan di antara mereka.

__ADS_1


Ingin meminta dua teman Mbak Aini, tapi tampaknya mereka orang sibuk.


Apa aku akan menunda lagi memiliki tim IT?


Siapa yang bisa menjaga Aden di dunia virtual yang kadang lebih kejam daripada dunia nyata?


Semua orang bisa bersuara. Semua orang bisa membuat berita bohong.


Berita bohong yang dipercayai banyak orang akan menjadi sebuah kebenaran.


Aden yang berada di pangkat teratas dalam generasinya kelak, tidak mungkin terelak dari fitnah yang ada.


Menjadi manusia suci, akan menyulitkan pribadi manusiawinya.


Salah sedikit, akan dicaci, bila tidak mempunyai tentara virtual.


Satu orang dapat memegang seribu akun.


Menurunkan reputasi orang hanya perlu hitungan detik dari segelontor uang yang turun ke dalam rekening antonim- antonim yang tidak mau menunjukkan wajah mereka.


Mbak Aini menepuk pelan bahuku. Dia nampaknya paham kegelisahanku.


"Teman- temanku bisa IT. Tapi untuk bidang hacker dan sebagainya, tidak terlalu mereka dalami. Untuk sekadar jadi security cyber, mereka bisa. Nanti kukirim beberapa materi, semoga mereka tidak lupa pada pelajaran di kampus."


"Terima kasih banyak, Mbak!"


Senyum semringah terpantri di wajahku.


Aku yakin dengan kemampuan teman Mbak Aini.


Satu masalah terselesaikan. Aku tinggal fokus pada masalah pengeboman dan pengawal Widjianto yang muncul di gedung z, dekat rumah orang tuaku.


"Buuuuu.."


Suara khas anak- anak menyambutku yang baru keluar dari bangunan hotel.


Kuturunkan kacamata hitam yang bertengger.


Pemerah kutebalkan, alis dan celak menajamkan bentuk mataku.


Ternyata pangeran kecilku masih mengenali diri ini.


Kudekati dia. Kucium dia.


Tak sengaja kening ini terbentuk dagu lancip orang yang sedang menggendong Aden.


Untuk apa dia menurunkan kepalanya?


"Mana Kusuma?" tanyaku.


Selama sepekan ini, sama sekali tidak ada kontak di antara kami.


Aku pun melihat Kusuma pergi di hari pertama. Mereka sempat bersitegang, walau tak adu jotos.


"Baru datang sudah menanyakan Kusuma?"


"Karena kuyakin kamu tidak akan kalah darinya.."


Siapa Kusuma?


Pria itu tidak akan bisa mengalahkan Putra Mahkota negeri ini.


Kala tak sengaja melihat dokumen keprajuritannya, aku bahkan tidak menyangka ada orang terlatih sebanyak itu di negeri yang tidak terlampau luas ini.


Belum lagi pengawal bayangannya.


"..Dia pasti menderita."


Dih. Aku sedang membicarakan Kusuma, Mas Indra malah senyum -senyum sendiri.

__ADS_1


Dia tidak akan kambuh di sini kan?


Memalukan jika dia bersikap konyol di luar sini.


Kutarik tangan Mas Indra agar masuk ke dalam mobil.


Senyum konyolnya malah semakin lebar!


Kuseka kening Mas Indra yang lapang di balik poni berimbunnya, takut tiba- tiba panas yang akan menjalar pada Aden.


Sudah kuminta Aden, pria itu malah tidak fokus padaku.


Terus saja tersenyum sendiri.


"Kamu tidak gila 'kan, Mas?" tanyaku menyelidik.


"Bagaimana aku bisa tidak gila?" kata Mas Indra dengan ambigu.


Dia malah balik bertanya!


"Hah? Maksudmu? Kamu sudah didiagnosa menjadi kurang akal?"


Was- was mataku menatap Aden, jangan sampai dia tertular gila, jika memang demikian diagnosisnya.


Sebelum berpisah, Mas Indra manis dengan wajah kakunya.


Usai berpisah, Mas Indra seringkali bersikap kasar dan absurd.


Sekarang Mas Indra senyum- senyum sendiri, bagaimana bisa aku tak khawatir?


"Akalku berkurang karena mulut manismu dan tangan hangatmu. Pegang lebih lama. Kamu akan tahu apa isi kepalaku."


"Gendhis," jawabku cepat.


"Tidak ada namanya sejak dua tahun lalu. Kuputuskan semua tentangnya."


"Kamu menampungnya di villa."


"Aku tidak mungkin mengambil kembali yang sudah kuberikan. Lagian hanya villa."


"Aku tahu, Mas. Villa itu tidak seberapa menurutmu. Tapi bagi publik yang tidak semuanya dapat membeli villa, pemberianmu padanya dapat dianggap sebagai hadiah yang istimewa."


Hidup hanya berpusat pada tugas dan masalah, jarang sekali Mas Indra memikirkan apa kata publik.


Untuk itu, pasti dia tidak akan berpikir, seandainya benar dia akan menjadikan Gendhis sebagai istri selanjutnya.


Nanti, apa kata publik?


Aku yang ditampilkan sebagai cinderella pemilik keberuntungan.


Selalu tampil dengan kemesraan dan kemanisan bersama Mas Indra.


Pun tak pernah ada selek dengan mertua dan sepupu- sepupu dekatnya yang dikategorikan sebagai ipar, dalam kamus keIstanaan.


Apabila Gendhis muncul sebagai istri baru Mas Indra, publik pasti menghujatnya, sementara namaku selalu dijaga bersih olehnya.


Mungkin di balik layar aku akan diincar para pembesar.


Tapi di depan layar, Gendhis lah yang akan diincar para netizen.


"Kalau aku mengambil villa itu, apa kamu keberatan, Mas?" tanyaku seiring senyum yang penuh dengan rencana.


Memangnya apa yang diberi Gendhis pada Mas Indra sehingga dia berhak mendapat villa yang bagus itu?


Aku akan mengambilnya!


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉

__ADS_1


© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran


__ADS_2