
Kutanggapi ucapan bapak mertua hanya dengan senyuman.
Tidak perlu ada yang dibicarakan lagi.
Antara aku dan Mas Indra telah berakhir.
Meski sekarang masih dalam tahap iddah yang belum selesai.
Setelah berbasa- basi yang hanya seputaran harapan rumah tangga aku dan Mas Indra kembali, akhirnya aku dan Mas Indra melenggang pergi.
Saat mobil yang kami tumpangi mulai melewati lereng pegunungan, kupencet tombol di belakang kursi. Memerintahkan supir untuk berbelok.
Mobil yang kunaiki ini dirancang dengan pembatas antara supir dan penumpangnya. Memberikan privasi yang tak terbatas untuk para penumpang.
Jika ingin turun di luar tujuan saat sebelum berangkat ataupun berbelok seperti yang kuinginkan, tinggal memencet tombol- tombol yang disediakan.
Kulirik Mas Indra yang diam membisu. Seharusnya dia hafal jalan menuju rumah kekasihnya.
Villa kedamaian.
Terletak di dalam perkampungan yang masih jarang rumah.
Hanya empat puluh lima menit dari rumah utama. Lebih cepat dari rumah Kanjeng Romo, dua puluh menit saja.
Setiap pulang dari kantor, apa dia mampir ke villa itu?
Entah.
Mungkin saja.
Satpam penjaga yang sedang terkantuk- kantuk terkaget dengan sirine yang dinyalakan singkat oleh supir kami.
Pertanda kedatangan sang darah biru.
Warga yang sedang beraktivitas bahkan menghentikan kegiatan mereka.
Berkumpul untuk melihat kami.
Jika biasanya bersama mantan ibu mertua, aku akan membuka jendela dan menyapa.
Bersama Mas Indra yang dingin pada orang lain, sangat jarang kami menampakkan wajah.
Atau karena Mas Indra tidak mau terlihat bersamaku?
Kali ini mobil pun berjalan lurus membelah keramaian. Tidak ada sapaan selayaknya para pejabat.
Pintu gerbang yang tingginya berkali lipat dari tinggiku, terbuka lebar sebelum supir kami menyalakan sirine.
Satpam di depan komplek pasti sudah memberi tahu.
Jalan kami tadi sedikit tersendat. Mereka jadi memiliki waktu untuk bersiap siaga.
Tidak ada selang yang seharusnya dipakai tukang kebun.
Bekas galian tanah di taman, sedikit menonjol di mataku. Mereka merapatkannya dengan terburu- buru.
Seorang wanita paruh baya dengan kemben motif berdurinya, menyambut Mas Indra dengan senyum semringah.
Tampak sekali bahagianya.
"Nyonya sudah menunggu, Tuan," katanya dengan ringan.
"Nyonya?" celetukku pada wanita yang parasnya masih ayu di usianya.
Dia pias melihatku.
"Kanjeng Nyonya..." gumamnya lirih masih terdengar indraku.
Kusongsong saja dia. Berdiri di depannya dengan mengintimidasi.
Cengkana, namanya.
Sepertinya aku sudah tahu jelas siapa musuh di rumah ini.
'Rekan seperjuangan' dayang senior, yang tidak mampu melampauinya di rumah utama.
Membangun istana lain agar dapat menyamai 'rekan seperjuangan'nya.
__ADS_1
Mengendalikan seluruh dayang di villa ini.
Andai saja bukan dia yang di sini, mereka tidak akan membukakan pintu untuk dia yang bukan bagian keluarga Kesultanan.
Dan melaporkan keberadan orang mencurigakan pada Kanjeng Ibu, yang berkuasa atas seluruh dayang di Kesultanan.
Cengkana sangat berani.
Seolah anak- anak ini adalah miliknya.
Hanya karena dia yang memegang gaji dan kendali pecat memecat di tangannya.
Kalau saja Cengkana mengatakan keberadaan Gendhis sejak awal, Kanjeng Ibu mungkin akan lapang dada membiarkan putranya menikahi gadis impiannya.
Mereka pun tidak akan melibatkanku.
Aku akan tetap menjadi gadis desa yang polos dan bersahaja.
Tidak akan kudapati malam- malam mencekam, penuh kegelisahan.
"Dayang Cengkana, aku memecatmu," kataku tanpa membawa embel- embel apa pun.
Dasarnya memang begitu. Dayang dan pelayan bukan seseorang yang harus dihormati.
"Maaf, Kanjeng Nyonya. Kanjeng Ibu yang mempekerjakan saya."
"Kalau begitu, enyah dari sini," balasku.
"Maaf, Kanjeng Nyonya. Kanjeng Ibu sudah menempatkan saya di sini sejak sepuluh tahun lalu. Anda tidak bisa mengusir saya begitu saja."
"Anda yang tinggal selama sepuluh tahun di sini, rupanya tidak tahu tuan Villa ini telah berganti. Pangeran mendapatkannya tiga tahun lalu, lantas menyerahkannya padaku."
"Maaf, Kanjeng Nyonya. Kanjeng Ibu yang mempekerjakan saya, bukan Anda."
"Kanjeng Ibu tidak perlu repot memikirkan posisimu. Dayang senior yang kini mengurusi pembagian tugas."
Cengkana, ibu dari sebelas orang putra yang sangat ambisius untuk memiliki putri, sayang tak pernah berhasil.
Mengingat kampunya lahir sama dengan kampung Gendhis, rasa- rasanya dua orang ini sudah menjadi ibu dan anak.
Nah si anak ini, sepertinya berumur panjang.
Lalu mendadak dia terpeleset jatuh.
Kutatap Mas Indra yang telah lepas dari rengekan Cengkana.
Ingin tahu bagaimana responnya.
Sekilas jelas, dia ingin membantu Gendis. Tangannya mengepal. Matanya memejam sebentar.
Meraih tanganku untuk duduk, usai menyuruh para pelayan membantu Gendhis. Memerintah dengan lirikan matanya.
"Masih ga rela, Mas?" bisikku.
Masih kujaga marwahnya di depan para dayang.
Baik kan aku?
"Kasihan. Dia sedang hamil."
"Kamu buta, ya?" ejekku.
Jelas sekali Gendhis hanya pura- pura, Mas Indra masih saja kasihan?
Ckck.
Kutumpangkan kaki di atas kaki lain. Duduk dengan santai di atas sofa empuk nan wangi.
Kupandangi sekeliling ruangan.
Terlampau mewah.
Banyak guci mewah terpajang dengan bunga- bunga emas terpajang di dalamnya.
Jika ada orang jahat tak sengaja lihat bagian dalam rumah ini, apa tidak takut?
Sekuat- kuatnya kita dalam mengadakan perlindungan. Para penjahat bisa memutar otak untuk mengambil yang mereka inginkan.
__ADS_1
"Nona, aku yang memiliki Villa ini sekarang. Kamu tidak boleh lagi me- num- pang di sini."
"Menumpang??"
"Ya!"
Wajah Gendhis memerah saat kujawab dengan lantang. Pasukannya menciut.
Bagaimana aku bisa tahu dia membuat pasukan?
Simpel.
Saat aku mengusir Gendhis dengan blak- blakan, tidak ada satu pun dayang di rumah ini yang bergegas ke kamar Gendhis untuk mengemas barang- barangnya.
Selagi bukan dayang pribadi, seorang dayang haruslah mendengar perintah orang yang paling tinggi di dalam ruangan.
Mas Indra terus membungkam, tentu suaraku lah yang paling tinggi.
Tapi mereka, seolah menunggu saat- saat majikan mereka mendapat pembelaan.
Bisa jadi alasan lainnya ialah takut aku mengamuk di sini.
Sebagai bawahan yang baik, mereka ingin melindungi majikan mereka.
Ini kali pertama aku secara terbuka mendatangi Gendhis.
Pasti anak- anak itu khawatir.
Sungguh sangat setia.
"Kamu punya widi untuk tinggal di sini?" tanyaku pada Gendhis.
Perempuan itu tidak secara brutal menyerangku seperti saat di cafe.
Karena ada orang lain?
"Punya tidak?"
Aku mendesaknya untuk mengeluarkan widi, surat izin dia tinggal di dalam properti keluarga Sultan.
Rupanya dia masih diam.
Cukup cerdas.
Jika sudah membahas izin, tentu sudah membahas hukum.
Jika dia masih enggan pergi, aku akan membawanya ke pengadilan.
Dengan menghentakkan kaki, Gendhis berjalan menjauh.
Masih kudengar Cengkana tergopoh mendekati Gendhis dan bersuara lantang, seolah agar aku mendengarnya.
"Hati- hati, Nyonya. Putri kecil nanti kaget kalau Anda terburu- buru."
Oh? Jadi mereka sudah memeriksanya?
Sayang sekali seorang perempuan harus lahir di luar ikatan pernikahan.
Yang akan menjadi walinya, bukan keluarganya.
"Aku akan kasih kamu sebuah rumah di Grand Nirwana jika menjawab satu pertanyaanku."
Penawaranku rupanya mampu membuat langkahnya terhenti.
Tentu saja. Grand Nirwana adalah cluster rumah kelas atas.
Walau punya desain rumah yang sama, disebut nirwana karena tiap rumahnya mempunyai taman yang berbeda- beda.
Selayaknya sebuah nirwana.
Yang menempati bukan orang sembarang.
Jadi, akankah Gendhis menerima tawaranku?
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
__ADS_1
© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran