
"Kenapa hukuman pelaku penculikan hanya berupa cambukkan? Tidak kamu bunuh orang yang melakukan hal sekejam itu pada anakmu!!?" marahku usai terbangun dari lemahnya tubuh ini.
Aku sangat tidak habis pikir dengan jalan pikiran Mas Indra.
Ketika orang biasa ingin menegakkan hukum, membunuh pelaku yang mencelakai anaknya, bagaimana bisa Mas Indra tidak melaksanakan hukuman mati pada pelaku penculikan anaknya?!
Dadaku bergemuruh.
Rasa ingin membunuh pelaku sangat tinggi ingin kulakukan.
Andai tidak ada keris pun, aku dapat mengambil jarum pentol pada jilbabku, dan membunuhnya!!
Hampir infus pada tangan ini kucerabut, umpama tangan besar Mas Indra tidak menahanku.
Dia menggenggam tanganku. Mengunci mataku.
"Pelaku akan dihukum mati setelah perayaan selesai."
"Setelah perayaan?" desisku.
Apakah perayaan ini lebih penting dari pada prosesi hukuman bagi pelaku penculikan?
Mas Indra makin mengeratkan pegangan tangannya, seolah tahu protes di dalam otakku.
"Kamu mau melaksanakannya sekarang?" tawar Mas Indra kemudian.
"Sekarang!" jawabku tanpa perlu berpikir panjang.
Meski dalam keadaan senang oleh banyaknya perayaan dalam hari jadi Kesultanan, aku tidak akan membiarkannya lepas.
Empat puluh hari adalah waktu yang cukup bagi seorang yang besar untuk meloloskan diri.
Aku tidak mau itu terjadi.
Wajahnya belum kulihat, aku tidak mau kecolongan.
Kalau saja boleh, aku ingin memberikan cap pada wajahnya hingga tercetak jelas pada tulang pipinya. Agar kelak menjadi pembelajaran bagi orang yang menemukan jasadnya.
"Baik. Sesuai inginmu. Besok kita akan mengadakan hukuman di alun- alun."
Seperti kata Mas Indra, segala persiapan hukuman mati dan pengumumannya diadakan secara mendadak.
Orang- orang berkumpul di alun- alun untuk menyaksikan siapakah orang yang membuat masalah dalam perayaan kali ini.
Awalnya aku senang karena musuh utamaku dan Aden akan lenyap di alun- alun.
Dan aku mengira Mas Indra sudah angkat tangan pada kelakuan neneknya yang jahat.
Tapi, apa ini? Sutiwejo yang ada di atas panggung!
Bagaimana bisa pelaku utamanya menjadi Sutiwejo?
Pria ini sudah menghilang setahun lalu.
Sekarang muncul sebagai penculik Pangeran?
Keberanian siapa yang dia pegang untuk menculik seorang Pangeran?
"Siapa dia, Mas?" tanyaku dengan nada yang rendah. Supaya tidak didengar oleh khalayak ramai.
Mas Indra melihatku sekilas. Dia kembali melihat sosok pria di atas panggung dengan pandangan tajam, sebelum menjawab pertanyaanku.
"Pelaku utama."
"Bagaimana bisa bukan Nenenda?" ceplosku.
"Sugiwa, meski Nenenda selalu berkata dengan kasar. Beliau tidak pernah benar- benar melakukan kejahatan. Apa tiga tahun ini kamu tidak memperhatikan beliau? Beliau tidak pernah ikut campur urusan kita," bantah Mas Indra.
"Kamu menutupinya," tuduhku.
"Kamu punya buktinya?" Mas Indra balik menyudutkanku.
Walau harus kuakui, Nenenda tidak pernah menculikku selama tiga tahun ini, tapi tipu muslihatnya bukan berarti tak pernah terjadi.
Kenapa Mas Indra menutup mata!?
"Dia pernah meracuniku," beberku.
"Beliau hanya ingin membuatmu menjadi lebih kuat," ucap Mas Indra.
__ADS_1
"Hah! Lalu kamu akan berpikir penculikan ini juga bentuk kasih sayang nenekmu pada Aden!?" Aku berkata dengan sengit.
"Bisa jadi," jawab Mas Indra setelah terdiam beberapa saat.
Seolah ragu dengan jawabannya sendiri.
"Kamu pinter tapi keblinger," cemoohku.
Mana ada seorang ayah berpikiran seperti Mas Indra?
Aku yang tidak dapat menggapai caranya berpikir atau ada yang salah dalam pemikiran Mas Indra.
Takut amarahku meledak di depan publik. Lebih baik aku masuk ke dalam pendopo kota. Menunggu prosesi hukuman mati Sutiwejo selesai.
Mayat pria itu diturunkan setelah dijemur selama dua jam lamanya.
Diperhatikan oleh orang- orang yang lewat.
Prosesi pemakaman dilakukan selayaknya Muslim pada umumnya.
Aku memperhatikan dari dalam mobil untuk memastikan pria itu benar- benar masuk ke dalam liang lahat.
Karena bukan hal mustahil andaikata ada orang selamat dari hukuman gantung.
Aku tidak mau kecolongan.
Dari para pengawalku, mereka memberitakan bahwasannya benar Sutiwejo yang melakukan penculikan hari itu.
Menyiksa mental putraku.
Namun mereka juga melihat Nenenda memberikan sebuah jodhang pada Sutiwejo, yang isinya berupa tumpukan emas batangan.
Untuk apa harta sebanyak itu, kalau bukan untuk menyelesaikan misi berbahaya.
Sutiwejo Widjianto adalah bangsawan yang tidak punya tata krama.
Segala kemalangan para bangsawan, selalu dia yang mulai.
Posisi kepala keluarga Widjianto yang memegang peran penting dalam pelatihan ksatria, menghasilkan ketakutan bagi keluarga yang hendak bersuara.
Hari ini, kulihat wajah- wajah puas dari mereka semua.
Segala alat elektronik di istana Nenenda, tidak dapat berfungsi.
Nenenda menanamkan lapangan magnet yang merusak ponsel hanya dalam hitungan jam.
Hal itu saja sudah mencurigakan kan?
Tapi cucunya ini ... ck. Apa dia sudah dimakankan racun oleh Nenenda, jadi tidak bisa berpikiran jernih?
Dalam rombongan pengiring jenazah, hanya ada empat puluh orang yang semuanya dari kalangan jelata.
Bagi pemimpin dan keluarganya, tidak boleh mensholati orang yang dihukum mati.
Di antara para pengiring jenazah, wajah yang kukenal memanggul keranda mayat.
Mobil yang membawaku memblok jalannya, ketika dia keluar dari dalam komplek pemakaman para pelaku kejahatan, yang sengaja dibuat di tengah kota.
"Kusuma.." panggilku.
Dia ternyata sudah bebas? Apa yang dia lakukan di sini?
"Kanjeng Nyonya..."
"Cepat, Kusuma!" ucap seseorang pria plontos yang berdiri jauh di pintu keluar.
"Tunggu sebentar, kepala sel. Kanjeng Nyonya ingin bicara pada tahanan," cetus dayang yang membersamaiku.
Mereka pun menyingkir. Membiarkan aku berdua bersama Kusuma.
Kusuma, dosa apa dia? Saat kucambuk tidak ada. Sempat juga aku mengira dia pelaku utamanya, tapi ternyata dia masih bisa berjalan di depanku.
"Pertama- tama, aku ingin minta maaf padamu. Aku membebaskan adikku. Melarikan dirinya ke negeri seberang. Aku minta maaf, aku tidak dapat mengatakan posisinya padamu," paparnya.
Raut wajah Kusuma penuh dengan kepasrahan.
Benarkah dia menyesali tindakan yang dia lakukan secara terang dan tersusun?
Aku terdiam mendengar pengakuan Kusuma.
__ADS_1
Dosanya tidak kalah besar, dari penculikan Aden yang dikepalai oleh pamannya.
Adiknya hampir membunuhku, juga Aden.
Pantaslah ia dikurung di Kunjara Dhedet.
"Aku tidak bisa menjamin kamu kalau aku akan diam saja, Kusuma," balasku padanya.
Aku tidak akan membiarkan orang yang hendak mencelakai putraku berkeliaran begitu saja.
Kutinggalkan ia.
Padahal tadinya masih berharap Kusuma dipenjara hanya karena telah memasuki bangunan pribadi keluarga Sultan.
Mendiami rumahku di pojok kota.
Nyatanya, dia benar- benar melakukan sebuah dosa yang besar.
Jalan kami sudah berbeda. Selayaknya arah tujuan mobil yang membawa kami.
Keselarasan kami dalam humor dan banyak lainnya, tidak dapat menyatukan kami dalam pertalian bernama pertemanan, apalagi naik menjadi persahabatan.
"Rian, aku minta pengawal tambahan untuk mengawasi Nenenda," pintaku pada Rian, rekan yang membangun asosiasi prajurit bayaran bersamaku.
"Nenenda? Ibu dari Sultan?"
"Ya. Aku yakin dia pelaku yang sebenarnya."
"Penculikan itu dilakukan Sutiwejo. Kamu meragukan penyidikan anak buahku?" Rian tampak marah.
"Tidak. Hanya saja aku punya banyak kesempatan melihatnya melakukan kejahatan. Sayang aku tidak punya bukti dan saksi."
"Bisa saja kamu salah melihat," elak Rian.
Kenapa semua orang membela Nenenda!?
"Kalau kamu tidak mau membantu bilang saja. Aku jadi tidak perlu berpanjang kata denganmu!!" kesalku.
Kuarahkan kaki ini ke luar bangunan.
Tidak memedulikan teriakan Rian dari dalam ruangannya.
Pria itu tidak berani menunjukkan batang hidungnya di dalam markas.
Sepulang dari sana, ingin kulihat Aden. Ternyata pria kecil itu sudah tidur.
Jadilah aku hanya mendapati wajah menyebalkan ayahnya.
"Giwa, makan dulu.." ajaknya.
"Tidak. Takutnya ada racun yang masuk ke dalam makanan!" ketusku.
Bagaimana bisa dia tidak tahu, ada racun yang masuk ke dalam dapurnya!?
Masih saja dia membela neneknya.
"Kali ini, kamu tidak perlu meminum racun."
"A- apa?!"
"Seperti yang kamu dengar," kata Mas Indra dengan wajahnya yang datar.
Enteng sekali ucapannya!
Di- dia tahu tentang racun itu dan tetap membiarkan aku meminumnya?
Gila!
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran
Sabar ya, 3 bab lagi giliran POV Mas Indra.
Di sini kan cuma sudut pandangnya Giwa, jadi ga sebesar sudut pandang author.
Menurut kalian siapa sebenarnya dalang utama yang ingin mencelakakan Giwa dan Aden?
__ADS_1