(Mantan) Istri Pangeran

(Mantan) Istri Pangeran
027


__ADS_3

["Aku merindukanmu."]


Suara Mas Indra mengagetkan aku yang sedang fokus menatap seisi kamarku.


Wajahnya ternyata sudah memenuhi sebagian layar kamera.


Kutatap dia dengan datar. Dia tidak memedulikan delikanku,


["Bukan cuma bayi kecil itu yang rindu. Ayah si bayi juga rindu. Lihatlah ayahnya ini."]


"Gombal," balasku terkekeh.


Sudahlah biarkan saja dia narsis, kasar, atau menggombal sekalipun. Ribet kalo dibawa risi, sedangkan dia saja bersikap seenaknya.


Tampak di layar ponselku dia terperangah di seberang sana.


["Bagaimana kamu di sana? Betah?"]


Aku menaikkan alis, mempertanyakan suara yang mengalun lembut itu.


Yakin bertanya seperti itu?


Sejak baru datang, semua orang seperti mengenalku. Menyambut dan membawaku masuk ke dalam kamar.


Tanpa perlu menunjukkan identitas, mereka melayaniku selayaknya VVIP.


Bahkan makanan dan minuman tersedia. Tak lupa camilan satu meja penuh di kamar.


"Lebih baik dari Ingas Hotel," balasku menarik nama hotel hadiah dari Mas Indra untuk ulang tahun pertama Aden.


Sebuah hotel yang dibangun di bekas kebun tanaman gatal itu.


["Baik. Baik. Kanda memang selalu lebih maju. Kamu belajarlah dengan mereka. Pelajari tata hotel terbaik di sana. Apa sekalian saja kamu pindah ke wilayah mereka? Kayanya lebih baik."]


Aku menggeleng dengan tegas. "Mbak Aini sudah punya masalahnya sendiri. Aku tidak mau menambah bebannya."


["Keguguran itu? Tenang, Kanda Nisita sudah meringkus mereka semua. Istananya sudah kembali aman."]


Nisita adalah julukan bagi Mas Amir, maknanya tajam, pandai, dan cerdas, seperti pengambaran sosoknya.


"Semua ini sebenarnya akan selesai jika kamu berkata kita sudah bercerai, Mas."


["Aku tidak akan melepasmu, Sugiwa. Dan kamu tidakkah berpikir Aden yang akan kena imbasnya? Anak selalu jadi korban di tiap perceraian kedua orang tuanya."]


"Sayangnya, bertahan pun belum tentu baik untuk Aden. Kepalaku dipenuhi rasa waspada dan kekhawatiran bahkan di tiap tidurku. Bagaimana bisa aku mengawasi dan mendidik Aden? Aku tidak terbiasa hidup dengan tegang, Mas! Aku hanya perempuan desa yang selalu hidup dengan tenang, jika kamu lupa."


["Kamu bisa hidup dengan tenang, Giwa. Aku akan menjaminmu."]


"Seperti yang kamu lakukan pada kekasihmu itu?"


["Aku benar- benar minta maaf. Awalnya kupikir adalah hal baik memberikan perhatian publik padamu. Nyatanya ikrar suci itu tidak bisa dipermainkan. Aku sama was- wasnya sepertimu. Setahun aku tidak hidup dengan tenang. Setelah hari itu, aku tidak lagi bersama dengan Gendhis."]


"Bagaimana aku bisa percaya?"


["Kamu bisa bertanya pada orang di paviliun."]


"Mereka bisa saja disuap olehmu."


["Kalau begitu, tanyakan pada Ustadz Fahri. Dia tidak perlu dipertanyakan kejujurannya kan?"]


Paviliun yang dimaksud Mas Indra bukan hanya sebuah rumah besar yang berdiri sendiri. Ada beberapa rumah yang lebih kecil di sekelilingnya.

__ADS_1


Biasanya ditempati oleh para asisten rumah tangga ataupun orang yang mendapat bantuan dari keluarga Mas Indra.


Seperti di rumah utamanya, ada banyak rumah yang lebih kecil untuk para pegawai. Rumah yang sebesar rumahku.


"Aku mau tidur dulu."


["Assalamu'alaikum."]


"Wa'alaikumussalam."


Dari : Mas Indra


Jangan lupa wudhu sebelum tidur.


Jika perihal agama, Mas Indra paham beberapa hal.


Tapi ya itu, yang tahu belum tentu menjalani.


Tahu ga boleh berdua- duaan dengan lawan jenis, malah menemui kekasihnya di gudang belakang yang tak terjamah orang lewat.


Haduh. Jadi kepikiran terus.


Sudahlah. Lebih baik aku rebahan dengan santai.


Sudah lama tidak tidur setenang ini.


Deing ponsel milikku menarik lagi kesadaran yang hampir hilang.


Aku terduduk di ujung kasur dengan mata memerah menatap sekeliling.


Refleks mengintai sekitar, barangkali dering ponsel itu menandakan adanya penyusup di kamar ini.


Salah satu penculikan paling gila, karena mereka melakukannya di dalam hotel bintang lima.


"Mbak Aini?" gumamku lirih.


Kenapa aku tidak mencurigai alasan Mbak Aini tahu yang menimpaku?


Aku saja mampu mengetahui kegiatan yang dilakukan orang tuaku, tanpa saling berkabar.


Sengaja hanya satu kali dalam sepekan aku berhubungan dengan kedua orang tuaku, menggunakan nomor baru yang selalu kubuang setelah bertukar cerita dengan mereka.


Maka dari itu, mereka tidak bisa menghubungi duluan. Dan aku harus berhati- hati saat ingin melepas rindu pada mereka.


Hanya pada acara- acara resmi, aku dapat benar- benar menghabiskan waktu bersama mereka.


["Assalamu'alaikum, Dek."]


Terdengar suara melantun dari sana.


Andai saja Mbak Aini benar- benar kakakku, aku tidak akan lagi sungkan meminta bantuan.


"Wa'alaikumussalam, Mbak."


["Dek, bukannya aku ingin menakuti kamu. Tapi apa bisa kamu hubungi kedua orang tuamu?"]


"Kenapa, Mbak?"


Aku bolak- balik di dalam kamar.


Jika itu keluargaku, aku tidak bisa tenang.

__ADS_1


["Tenangkan dirimu, Dek! Ini hanya analisis Mbak saja."]


"Maksudnya gimana, Mbak? Jangan berbelit- belit!"


["Ada seseorang di gedung Z memantau rumahmu dengan senapan laras panjang. Ada yang menargetkan keluargamu."]


"Mbak ga ada buat makar ke kami 'kan?! Kenapa bisa tahu sedetail itu? Padahal jarak wilayah kita sampai berjam- jam perjalanan!"


Aku duduk untuk menetralkan emosi.


Saking khawatirnya terhadap keluarga di sana, aku jadi membentak Mbak Aini dan mengeluarkan kata- kata kasar.


"Maaf, Mbak.." lirihku.


["Tenangkan dirimu, ya? Bilang supaya keluargamu meninggalkan rumah sebelum hari berganti. Mbak lagi terbang menuju tempatmu."]


"Datang ke sini?"


["Iya."]


Sambungan terputus setelah mengucap salam. Lantas suara ketukan pintu terdengar.


Di atas hotel berbintang itu, sebuah heli mendarat dengan sempurna.


Seorang perempuan dengan gamis yang berkibar- kibar turun dibantu para wanita yang telah menunggu. Mereka adalah para petinggi hotel, terlihat dari name tag di dada mereka.


Mbak Aini tanpa basa- basi langsung mendekat padaku.


Keluargaku sudah diungsikan ke villa yang kubeli beberapa bulan lalu di dekat kabupaten kami.


Ingin pindah ke sana, tapi keluargaku tak mau. Sepi dan jarang orang, mereka tidak suka.


Untuk membeli rumah di sekitar, belum ada yang menjual.


Entahlah, setelah aku dinikahi Mas Indra, properti daerah kami yang sudah tinggi, semakin tinggi.


Mbak Aini mengajakku masuk ke ruang privat. Bukan kamar, bukan juga resto, hanya kursi panjang yang di tengahnya dihalangi meja panjang berkaca.


Aku dapat bercermin melalui kaca meja itu.


"Lihat ini," tutur Mbak Aini menunjukkan sebuah rekaman CCTV dari gedung z.


Aku tidak berkata- kata, lantas Mbak Aini masuk ke tampilan layar hitam putih dengan deretan angka tanpa satu pun huruf, lalu sebuah gambar CCTV lain masuk ke sana.


Tampak di layar gambar Mas Indra sedang menimang -nimang Aden di luar rumah sambil sesekali mengusap layar ponselnya.


Kembali layar di depanku berubah. Menampilkan sebuah gambar ponsel yang sedang memanggil sebuah kontak bernama 'Lulut'.


Panggilan itu mati dan menampilkan sederet nomor yang sangat kuhafal.


"Ponsel Mas Indra?" tebakku.


Mbak Aini mengangguk singkat.


Wajahnya sangat serius, mengutak atik layar komputernya sekali lagi.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran

__ADS_1


__ADS_2