(Mantan) Istri Pangeran

(Mantan) Istri Pangeran
008


__ADS_3

Menyetujui usulan Kusuma, akhirnya aku membuka warung kecil- kecilan di depan rumah.


Sebagai pria, aroma dan rasa masakan Kusuma sangat nikmat.


Rupanya hal itu juga dirasai para tetanggaku. Mereka telah berkumpul di depan rumahku.


Berbondong- bondong para pekerja keras itu memesan masakan Kusuma.


Aku sampai kewalahan membungkus nasi campur dan lauk pauk untuk mereka.


Sudah berapa lama ya aku tidak melayani begini?


Di desa dahulu aku sering membantu budhe ku yang juga jualan lauk pauk saat ramadhan tiba. Hanya ramadhan karena suaminya tidak mau membuatnya capek.


Walau keduanya sampai saat ini belum dikaruniai anak, tidak ada tanda -tanda keributan di antara mereka. Padahal rumah kami hanya berjarak lima rumah.


Paman yang merupakan juragan servis elektronik tidak pernah berpikir mencari yang lain.


"Senangnya jadi pengantin baru. Saya jadi ingat masa- masa empat belas tahun lalu," ucap seseibu yang mengenakan pakaian cokelat khaki.


Aku tersenyum canggung. Kutahu ibu- ibu itu sedang menggoda aku dan Kusuma karena di sana hanya ada ibu- ibu dan seorang gadis dengan seragam sekolah menengah pertama.


Tidak mungkin kan gadis itu yang merupakan pengantin baru?


"Udah jangan digoda nanti kuwalahan bungkusnya. Ayo nak dipercepat, jangan dengerin ibu- ibu ini. Mereka mah maunya bulan madu lagi, ngikutin trip yang dijejaki para pengantin baru," timpal ibu- ibu lain diiringi gelak tawa.


Aku sedikit tertegun. Kapan ya aku pernah liburan bersama suamiku? Maksudku mantan suamiku.


Harta memang kudapatkan, tapi liburan? Rasanya hanya menemani dia untuk bekerja, dua atau tiga kali dalam setahun.


Selebihnya? Hanya rumah, aula, mall, dan pulang kampung.


"Sayang, cepat dihitung. Ibu RT sudah menunggu."


Aku melotot kala mendengar panggilan itu. Kusuma tersenyum dengan wajah jahil.


"Ibu RT mau pesan laukan buat arisan di rumahnya sore ini," jelas Kusuma sebelum kudamprat pria itu.


Bukan hal aneh bagi warga sini memesan masakan secara mendadak, baik untuk pribadi ataupun acara.


Di ujung gang ada resto yang menyediakan semua itu.


Ini juga menjadi peluang bagus untuk kami. Masakan Kusuma sangat enak.


"Kamu sanggup?" tanyaku ragu.


Kusuma sudah berkutat di dapur sejak ba'da subuh. Aku takut dia kecapekan. Secara, dia adalah tuan muda.


Aku yang istirahat dari dunia perdapuran dan persumuran selama tiga tahun saja, merasa sangat letih.


Pagi ini aku hanya mencuci pakaian dua setel dan membantu Kusuma mengupasi bumbu, sudah terasa sangat letih.


"Aku sih tak masalah. Asal sudah dikupas- kupas. Itu yang lumayan memakan waktu."


"Baik. Nanti kupanggil Wati dan suaminya."


Kami kembali sibuk dengan pekerjaan masing- masing. Kuhitung biaya masakan pesanan ibu RT, sedangkan Kusuma membuat gorengan dari sayur tersisa.


Aromanya sangat sedap.


"Kamu pintar sekali memasak semua bahan yang ada."

__ADS_1


"Aku mantan chef di hotel bintang lima."


"Oh.."


Aku hanya ber oh ria. Tidak tahu terlalu tahu seluk beluk saudara- saudara Mas Indra. Hanya nama mereka, silsilah mereka, dan kedudukan mereka di dalam aula.


Selebihnya, tidak banyak yang kutahu.


"Ayo belanja! Di pasar, kalau rada siang semua barang habis. Ga mungkin kan kita belanja di mall? Yang ada kita rugi."


"Iya, sebentar!!"


Kususul Kusuma yang sudah asik di atas motor.


Entah sengaja atau tidak, pria itu melajukan motornya dengan sangat kencang. Membuatku terpaksa melingkarkan tangan di perutnya.


Terhidu aroma khas Mas Indra di punggungnya yang berkeringat.


Aroma yang mengingatkan malam- malam nan panjang.


Apa aroma keringat keluarga Mas Indra semuanya sama saja?


Aku tidak bisa membedakan bau ini.


Kulirik wajah Kusuma yang basah oleh keringat. Dapat kupastikan dia tidak pernah berpanas- panasan ke pasar.


Waktu menunjukkan pukul setengah delapan pagi dan cahaya matahari sudah bersinar terang.


Bulir keringat terus berjatuhan dari wajahnya, ketika dia mengangkat berkilo- kilo sayur dan buah.


Aku? Hanya mengangkat plastik bumbu yang tidak seberapa.


Pria itu enggan merepotkan wanita, katanya.


"Kamu pakai parfum?" tanyaku penasaran.


"Tidak. Kenapa?"


"Aromamu mirip seseorang."


"Suamimu?"


Kusuma terkekeh saat aku tidak menjawabnya. Nampaknya pria itu tahu jawabannya adalah, ya.


"Aku dan dia, memakan rerumputan dari padang yang sama. Setiap bulan kami juga harus melakukan perawatan dari rempah yang sama. Dan meski rumah kami berbeda, air kami dari sumber yang sama."


Kusuma menghentikan ucapannya saat berbelok. Pria itu melirik sekilas kaca spion yang memantulkan wajahku.


"Tapi, kamu bisa merasakan aroma berbeda kok kalo mencium kulitku langsung. Mau?"


Kupukul helm yang tersemat di kepalanya. Perkataannya sangat merendahkan!


Memangnya siapa yang mau bertindak seperti itu?


Tidak melanjutkan perbincangan, kami semua fokus memasak pesanan ibu RT.


Kusuma, pria itu, tidak bisa bicara sambil memasak.


Aku pun tidak berniat mengganggunya. Bersama Wati, kukupas segala bumbu. Sementara Faris mempersiapkan bungkusan. Dia tidak bisa mengupas rempah.


Sebelum Ashar datang, semua masakan sudah siap. Aku menyuruh Wati untuk mengantarkan semuanya.

__ADS_1


Belum siap aku menyerahkan bukti identitasku dan Kusuma yang tidak terikat apa pun.


Dalam rumah orang besar, bukan hal tabu ada pembantu dan penjaga yang merupakan orang lain.


Berbeda bila di rumah penduduk biasa, tentu saja akan menimbulkan tanya walau kukatakan Kusuma sebagai bodyguardku.


Aku masih membutuhkan Kusuma. Takut sewaktu- waktu Mas Indra datang setelah sembuh dari sakitnya.


Mengingat pria itu yang berbalut perban di sekujur tubuhnya, hatiku merasa terusik, pikiranku tertuju padanya.


Kepo, ingin sekali bertanya perihal kabarnya.


Tapi, untuk apa?


Aku dan dia sudah tidak memiliki hubungan. Keberadaannya di rumah sakit pun belum tentu karena mencari diriku.


Bisa saja aku yang terlampau percaya diri dicari- cari pria itu.


Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Baru memikirkan, muncul namanya di layar ponsel.


Kubiarkan dering itu hingga mati.


Barulah pada dering ketiga kuangkat telepon darinya.


Salamnya terdengar sangat lemah. Bahkan kudengar juga isak tangisnya.


Apa sesakit itu?


Aku masih belum bersuara kecuali saat menjawab salamnya.


Orang di balik telepon sepertinya kesulitan berbicara.


Apakah kecelakaannya membuat pita suaranya putus sehingga tidak mampu berbicara kepadaku?


"Ada apa, mas?" tanyaku kemudian.


Mengangkat tangan pada Wati yang oleh ibu RT disuruh meminta tambahan menu untuk bingkisan.


Kututup speaker dan mic pada ponsel. Mas Indra masih saja tidak bersuara.


Kupanjangkan leher dan menoleh pada Kusuma yang sedang menata masakan. Niatnya laukan sisa masakan ibu RT akan dijual lagi sore nanti.


Ternyata ibu RT meminta tambahan.


"Kusuma! Itu dibungkus saja pakai plastik besar terus kasihkan ke Faris. Bu RT minta yang dibungkus."


"Siap, sayang."


Aku tidak menjawab godaannya. Kutempelkan kembali ponsel ke telinga.


Rupanya Mas Indra telah bersuara.


"Maaf, mas. Tadi tidak kedengaran."


Terdengar tarikan napas kasar di ujung telepon. Sepertinya dia marah? Atau kenapa? Suara tarikan napasnya terdengar tak bagus.


"Pulanglah, Giwa. Aden demam.."


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉

__ADS_1


© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran


__ADS_2