(Mantan) Istri Pangeran

(Mantan) Istri Pangeran
036


__ADS_3

"Nona, kami tahu tidak mungkin ada orang segila itu membuang di tengah siang dekat dengan ramainya penduduk. Tapi, kami minta maaf membuat Nona terpaksa bermalam di rumah sempit ini."


Bu RT berkata dengan tak enak hati.


Walau baru berjumpa, terlihat dia adalah wanita yang keibuan.


Aku yang lebih tak enak hati, karenaku warga sini jadi menerima akibat perbuatan orang berkuasa di atas sana.


"Saya senang Bu RT bijak bahkan pada saya warga baru. Semoga berkah selalu."


"Aamiin. Semoga betah, ya."


Aku tidur bersama anak gadis Bu RT yang sudah beranjak remaja.


Perempuan itu hanya melirikku sekilas dan kembali fokus pada laptop yang dipangkunya.


Sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan, bila bukan dalam keadaan terdesak.


"Permisi, Neng.." kataku menyapa dengan kesopanan.


"Em."


Sudahlah. Mungkin saja dia lagi sibuk dengan tugas di laptopnya.


Malam berlalu dengan cepat.


Rasanya sudah lama tidak tidur dengan damai.


Rumah sederhana adalah impian untuk tinggal secara damai.


Tiada nyawa terancam. Hanya ocehan tetangga yang terasa panas.


Aku bahkan bisa mengopi di pagi hari tanpa takut akan mati.


"Hasilnya akan keluar siang ini," kata Bu RT memberi tahu padaku.


Daging kenyal tak berbentuk yang dipenuhi darah itu, dibawa ke rumah sakit kota kabupaten.


Memeriksa benda apakah itu.


Bidan di desa ini tidak mau menerka- nerka.


Sangat jelas ini sebuah permainan.


Mana ada warga desa mencari masalah sendiri? Biasanya bila ada hal mencurigakan, langsung menggiring pelaku yang dicurigai ke kantor polisi.


Mereka biasanya takut terlibat hal- hal seperti ini.


Aku menerka- nerka, ada berapakah orang yang terlibat dalam strategi ini.


Semua orang satu desa?


Bisa saja.


Mereka orang- orang atas yang bahkan bisa membeli nyawa seseorang.


Segumpal daging serupa janin yang dikeluarkan paksa, telah dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa kepemilikannya.


Andai mau berpikir jernih, apa ada orang yang setelah menggugurkan kandungan, dapat berjalan dengan sehat?


Aku didudukkan di tengah aula desa, persis seperti terdakwa yang hendak menerima hukuman.


Daripada wajah- wajah marah, kulihat banyak wajah lugu yang ingin tahu apa yang telah terjadi.


Mungkin mereka juga bingung, ada yang salah kenapa tidak dibawa ke rumah sakit?


Aku tidak tahu apa yang dilakukan warga. Aku melewati malam dengan nyenyaknya.


Tapi, waspada tidak pernah hilang.


Dalam sakuku tersimpan jarum tajam yang menyimpan listrik.


Duduk diam memperhatikan rombongan warga yang telah datang dari kota kabupaten.


Wajah mereka setenang air. Nampak sudah sangat terlatih.


Damara menjegal langkah kedua orang tuaku. Membiarkan mereka tidak tahu yang terjadi.

__ADS_1


Sedang anak buahku membaur dengan warga. Wanti- wanti barangkali ada masalah di luar kendali kami.


"Setelah melewati masa pemeriksaan DNA dua puluh enam jam, terbukti ini adalah janin ibu. Betapa kejamnya ibu berlaku demikian!"


Aku tersenyum kecil. Menatap Eneng, putri Pak RT. Dia mengerti dan menyerahkan berkas berwarna cokelat.


"Di dalam sini terdapat hasil pemeriksaan saya setiap bulan. Ada barcode di tiap suratnya. Kalian bisa lihat sendiri pada website. Kalau lima bulan ini, rahim saya bersih dari bakal janin."


Sudah?


Begitu saja?


Kumainkan kuku dengan elegan. Menunggu beberapa menit untuk provokator bersuara. Tidak juga terdengar.


"Walau rumah sakit kami bisa jadi salah. Ini tetap janin! Apa yang ibu lakukan!? Membuka mal praktik di rumah megah Pak Haji?!!"


Deru mobil yang bersuara halus memantik perhatian seluruh orang.


Nenenda yang agung itu turun.


Dia menatap tajam setiap orang di sini.


Hoh? Hampir semua orang?


Sepertinya begitu.


"Apa yang kalian lakukan pada orangku!? Sudah! Bubar!"


Nenenda mengusir semua orang. Nampak peduli padaku. Tapi sebenarnya tidak begitu.


Saat ini aku sedang dirundung masalah. Melihat ada seseorang yang menolong, orang akan berpikir aku mencari bantuan dari luar.


Sedang mereka, pasti paham siapa Nenenda tercinta ini.


Seorang ibu negara tidak bisa menangani masalah seorang diri?


Di mana reputasiku?


"Berlutut, Sugiwa!" sentak Nenenda sesaat setelah kami sampai di vila.


"Nenek bukan istri penguasa lagi. Juga bukan bagian keluarga saya lagi. Kenapa saya harus menuruti nenek?"


Nenenda tidak pernah dibantah.


"Apa maksudmu mengirim banyak pengemis ke Joglo Alon!?" cecar Nenenda yang sepertinya tidak mau basa- basi lagi.


"Saya hanya tidak membawa uang kecil. Mas Indra masih punya tanggung jawab atas saya selama masa idah ini kan?"


"Kamu....! Haaaaa. Bagaimana bisa kamu menjadi cucu menantuku? Tidak punya malu!"


"Mantan, Nen."


"Sekarang katakan di mana cucuku?"


Cucunya? Mas Indra? Dia pergi?


Rupanya dia juga kesulitan menghadapi neneknya.


Menggunakan senjataku untuk melenggang pergi.


Ya. Aku sengaja mengirim beberapa orang yang kumintakan mereka untuk menagih uang makan dan sebagainya.


Agar nenek ini keluar.


"Nenenda, saya dan cucu Anda sudah berpisah. Sesuai keinginan Anda."


"Lebih baik simpan akal cerdik Anda. Bukankah memalukan bila cicit Anda mempunyai ibu amoral?"


"Membuang bayi?"


"Bahkan orang paling cela sekali pun akan merasa geram. Hanya setan yang dapat melakukan hal itu. Hewan saja masih punya rasa terhadap anak- anaknya!"


Aku mencecarnya. Berkata telak sampai wajahnya memucat.


Dari mana aku tahu?


Eneng, anak Pak RT pagi tadi menyelipkan sebuah foto di bawah pisin kopi.

__ADS_1


Terlihat jelas sosok yang berlari pergi dari rumahku.


Walau tidak terlihat wajahnya, atribut yang dikenakan pada lehernya, sangat kentara.


Desa ini ... tidak sesederhana itu.


"Kamu menuduhku? Durhaka kamu!"


"Kita paling tahu siapa pelakunya."


Lihat? Bagaimana aku bisa tidak membencinya?


Membuang janin bukan sesuatu yang dapat dimaafkan begitu saja.


Pada orang biasa akan ditimpakan hukuman berat.


Lebih -lebih orang dengan kedudukan tinggi, yang selalu dijadikan panutan.


Tiap kesalahan kami akan dihukum tiga sampai empat kali lipat dibanding rakyat jelata.


Selain menciderai nama ibu dari Aden, aku bahkan akan mendapat hukuman mati.


Membunuh calon anggota keluarga Kesultanan.


Aku dan Mas Indra masih suami istri dalam kacamata publik, janinku tentu saja janin Mas Indra, milik negeri ini.


Kalaulah rencana ini berhasil dan aku menjadi tertuduh sebagai pelaku yang mengeluarkan janin hidup dari dalam perut, bukan hanya satu hukuman yang akan aku dapatkan.


Hukuman atas pembunuhan terhadap makhluk hidup.


Hukuman atas sikap buruk sebagai seorang pembesar.


Hukuman atas merenggut nyawa penerus negeri.


Semua itu akan menjadi berkali lipat, karena aku menduduki kursi wanita paling tinggi, setelah Permaisuri Sultan.


Nenenda merasa telak kalah dariku.


Bungkam seribu bahasa bukanlah lakunya.


Dia tidak akan segan mencecar, di tiap kali perjumpaan pribadi kami.


Dan Mas Indra itu, dia punya masalah kenapa harus melibatkan aku?


Seharusnya dia pergi setelah orangku pergi.


Jika bukan karena reputasinya, Nenenda adalah seorang yang pelit.


Membuang- buang uang untukku adalah hal yang paling dia bencinya.


Sangat mudah menariknya ke sini.


Mas Indra malah memanfaatkan orang- orangku untuk menyelinap pergi!


"Tepati janjimu!" sentak Nenenda sebelum pergi.


Melihatnya ingin terus mengusirku, kenapa aku jadi justru ingin bermain- main dengannya?


Dahulu, Aden pun pernah menjadi sasarannya.


Menyuruh orang menyelusup masuk ke kamar.


Untungnya aku ada di dalam kamar mandi.


Bermalam di sana.


Menjaga janinku yang baru dua bulan dalam dinginnya malam di kamar mandi.


Sekarang pikiranku tertuju pada janin yang ditenteng- tenteng warga.


Jika padaku, demi wanita pilihannya untuk sang cucu, Nenenda berani berlaku dengan keji.


Apakah janin itu..?


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉

__ADS_1


© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran


__ADS_2