
"Aku pakai," ucapku pasrah.
Wajah dayang senior sangat sangar. Aku tidak dapat membantah.
Setelah memakai kemben yang menyesakkan, aku keluar. Malu juga menunjukkan bahuku pada orang lain.
Bahkan pahaku terekpos karena kecilnya kemben ini.
Dayang senior tidak berekpresi, pun begitu para pelayan lainnya. Wajah mereka datar.
Apa mereka sudah terbiasa melihat pemandangan seperti ini?
Walau tidak mengenakan hijab, kebaya mereka menutupi tangan dan kaki mereka. Aku jadi malu menunjukkan bahu dan pahaku.
Rasanya seperti telanjang.
Tak menghiraukan kegugupanku, mereka mendatangiku. Menyambutku yang baru keluar dari kamar ganti. Mengitariku dan membantuku bersiap.
Mereka memakaikan kain jarik. Menariknya hingga terasa sesak di dadaku.
Ingin protes, tapi nanti kainnya menjadi longgar dan itu akan memalukan.
"Nyonya, tolong tarik napas Anda."
Menahan dada yang belum terbiasa dipakaikan jarik sekuat ini, aku menarik perutku yang sedikit membuncit.
Mereka lantas memakaikan sabuk.
Rasanya makin sesak.
Pantaslah aku disuruh makan sayuran saja.
Kupikir kebaya mereka sama saja.
Ternyata tidak sesederhana kebaya milikku di kampung.
Mereka memakaikan kebaya, lalu mengikat dengan sabuk perut.
Rasanya, air saja susah masuk ke tubuh ini.
Diikat pada dada, perut, dan pinggang, bagaimana bisa aku tidak berjalan dengan pelan?
Masih harus menggunakan sandal yang sangat berat.
Ingin aku lepaskan salah satu ikatan di tubuh, namun dayang senior terus saja memelototiku sampai suara deru mobil terdengar.
Aku menyambut dua mertuaku di depan lorong.
Pada pintu utama terdapat aula kosong yang tersedia kursi- kursi dan vas bunga yang berjejer rapi.
Biasanya warga yang hendak mengadu dan telah melalui pemeriksaan ketat, akan duduk di sana menunggu dipanggil oleh Mas Indra.
Karena aku hanya mengenakan kebaya tanpa hijab, aku menunggu di dalam rumah, tidak menunggu di teras seperti biasanya aku menunggu pulang Mas Indra.
"Menantuku sudah betah tinggal di sini?"
Aku mengulas senyum, membalas perkataan ibu mertua dengan anggukan yang aku anggun- anggun kan. Ga tahu beneran anggun ataukah tidak.
Ibu mertua bertutur dengan lembut. Sesekali bertanya dan bercerita. Tidak keberatan denganku yang pasif. Hanya menjawab dan tidak terlalu aktif menanggapi.
__ADS_1
Jujur saja, aku sangat gugup.
Di luar status menantu dan mertua, mereka adalah penguasa wilayah ini. Pemilik tanah dan kekuasaan.
Rasanya jika sedikit saja berbuat salah, aku akan dipenjara.
Maklum saja, aku dan mertua belum pernah seintens itu.
Sebelum menikah sibuk dengan berbagai upacara, pun begitu setelah menikah. Apalagi ibu dan ayah mertua tidak menginap di rumah.
Mereka memiliki kesibukan yang ketat.
"Indra di mana, nak? Makanan sudah matang, belum juga nongol."
Ibu mertua tidak mengatakan hal itu dengan nada perintah. Tapi tetap saja aku merasa gugup, ada wibawa yang tidak dapat ditolak, kala beliau mulai bertanya.
"Mas Indra sedang meeting di luar kota, Bu.."
"Meeting? Yah, anakmu disuruh meeting saat masih pengantin baru? Bahkan kita belum ngunduh mantu!"
"Tidak bisa ditunda, Yah. Maaf ya, Nak."
Kulihat ayah mertua sempat ikut kaget mendengar anaknya pergi ke luar kota. Ucapan maaf nya pun rasanya bukan untuk meeting.
Harusnya saat itu aku peka, bukannya berangan- angan akan dicintai pria bernama Raden Sri Indraputra.
Namanya saja sudah berbeda dengan namaku yang hanya satu kata, Sugiwa.
Sugi yang tidak sugih.
Mbak Aini tampak mendekati dua insan yang masih dimabuk asmara. Perempuan anggun itu duduk di kursi mereka, membuat Mas Indra tersedak sendokan terakhir. Mangkuknya telah kosong.
Dari matanya, kulihat dia merasa khawatir atas penilaianku padanya.
Dia sudah sejak dahulu berbohong untuk wanita di sisinya, kenapa harus khawatir lagi akan penilaianku?
Mbak Aini tampak bicara dengan Gendhis, tak tahu bicara apa. Aku tidak mendekat. Karena aku enggan berurusan lagi dengan mereka.
Tapi tampaknya Mbak Aini sedang berbicara kasar dalam tutur bahasa halusnya.
Mencibir tanpa terasa mencibir.
Hal itu hanya akan membuat hati merasa rendah, dibanding perkataan kasar yang sering dilontarkan orang saat marah.
Gendhis sampai menunduk dalam- dalam. Wajahnya terlihat gusar.
Tanpa kusadari Mas Indra sudah berdiri di sisiku. Dia mengambil tanganku dengan raut muka yang belum berubah.
"Sayang, itu tidak seperti yang kamu pikirkan!"
"Tidak seperti yang aku pikirkan?" balasku tenang.
Aku masih menghormatinya untuk tidak menepis tangannya. Tadi kulihat ada seseorang yang kami kenal, dalam balutan kaos dan celana kulot, seorang pemuda yang memiliki posisi tinggi di pengadilan.
Mas Indra sungguh tak sabaran. Berdua- duaan dengan Gendhis di depan orang pengadilan.
Tidak mungkin kan Mas Indra tidak mengenali rekan satu kantornya?
Aku yang sesekali berjumpa saja sudah hafal.
__ADS_1
"Aku hanya refleks membersihkan mulutnya yang kotor. Dia sering begitu ceroboh."
"Kalau begitu lakukan saat kalian sudah halal, Mas. Jangan coreng namamu sendiri."
Aku mengalihkan tatapanku ke arah Saputra, pemuda itu.
Mas Indra mengikuti arah pandangku.
Dia tampak kesusahan menelan udara.
Apa ternyata Mas Indra tak tahu ada Saputra di sini?
Seseorang yang bisa dikatakan sebagai tangan kanan ayahnya sendiri.
"Tidak mungkin Saputra kan? Dia selalu memakai batik."
"Pandanganmu ternyata dangkal, Mas. Mana bisa kamu berpikir begitu? Semua orang bisa berpakaian sesuka mereka."
"Maksudmu, kalau kamu tiba- tiba memakai bikini, aku tidak akan terperangah?"
"Ya.. bukan begitu."
"Makanya, aku juga tidak bisa berpikir begitu. Semua orang di kantor, hanya satu dua orang yang mengenakan baju kekinian. Mereka orang yang menjunjung tinggi budaya. Kaos bukan budaya kita."
Aku mengendikan bahu. Tak mau meneruskan percakapan kami yang tak berujung.
Dari sudut mataku, kulihat Mbak Aini kembali mendekat. Gendhis sudah tidak kelihatan batang hidungnya.
"Tuan Pangeran, kamu ingat kan kalau Sugiwa itu adik kami? Adikku dan Mas Amir. Kamu jangan berpikir bisa mempermainkan dia! Cukup sekali aku memergoki kalian. Jangan berpikir kelak aku tidak akan tahu jika kalian kembali berjumpa!"
"Iya, mbak. Aku tidak akan mengkhianati Sugiwa. Aku bersumpah. Cukup sekali kebodohanku."
Aku memutar bola mata dengan jengah. Sudah berapa kali dia melanggar sumpah? Ratusan.
Mbak Aini yang lurus- lurus saja terlihat lega mendengar sumpah Mas Indra.
"Nyonya, pesanan Anda sudah matang."
Akhirnya malam itu kami makan malam bertiga. Kuberi tips yang banyak untuk si pelayan. Dengan uang Mas Indra tentunya.
Kalau tidak ada dia, aku bingung juga harus berbuat apa.
Mbak Aini tampaknya geram juga padaku karena membiarkan Mas Indra dan Gendhis begitu saja.
Aku bisa apa? Aku hanya tidak peduli.
Atau mungkin hatiku masih sakit, sehingga enggan terlibat dengan mereka?
Aku memaklumi Mbak Aini yang menceramahi kami setelah selesai makan. Beliau tak tahu tentang perpisahan kami.
Ini baktiku yang terakhir pada suami dan keluarga suami, tidak merendahkan mereka bahkan di depan sahabat yang paling banyak membantuku.
Walau sebenarnya, perceraian bukan hal besar untukku.
Aku senang bebas darinya.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
__ADS_1
© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran