
Aku sampai di kota tujuanku lebih cepat dari jadwal yang aku buat.
Mobil terparkir dengan aman di halaman rumah yang kosong. Aku dan Pak Mamat duduk di sofa tamu dengan napas menderu.
Punggung kami naik turun.
Siang bolong menghadapi kejar- kejaran dengan para pembunuh adalah suatu hal yang baru untukku. Biasanya penculikan selalu terjadi di malam hari yang sepi, jauh dari intaian keamanan negara.
Apa mereka sudah tidak punya rasa takut pada aparat?
Menodongkan senjata di siang bolong. Terlebih aku ini terhitung sebagai warga sipil. Meski kini, selalu kusimpan senjata api terkini di dalam tas selempangku yang kecil.
"Gila mereka itu," gumam Pak Mamat.
Aku melirik sekilas Pak Mamat dan kembali memejamkan mata. Mengatur deru napas yang tersengal.
"Memang gila," timpalku.
Teringat dalam benak ini, begitu banyak kendaraan harus kami hindari, agar tidak kalah salip oleh para pembunuh bayaran.
Aku tidak takut dengan kecepatan mobil di atas rata- rata. Orang awam yang menyetir di tengah jalan dan mereka yang menyeberang di jalanan, menjadi gundah gulanaku.
Khawatir salah satu dari mereka terkena mobilku atau mobil para penculik yang terus mengejarku.
Aku akan merasa sangat berdosa bila mereka sampai terluka.
"Bapak bersyukur tidak ada korban. Was was loh tadi. Sedang ramai lancar, kok ya tetep ngejar- ngejar kek kesetanan gitu."
"Bapak aja khawatir apalagi saya."
Pak Mamat adalah mantan pembalap liar, mantan pembawa mobil jenazah, dan pernah terlibat beberapa hal tentang kerasnya dunia.
Aku menemukan beliau sedang kalut mencari pengobatan untuk anaknya.
Meski akhirnya tidak terselamatkan, Pak Mamat terus mengikutiku karena merasa senang telah mendapatkan waktu untuk membahagiakan putrinya, sebelum gadis kecil cantik itu kembali ke pangkuan ilahi.
"Ibu beneran mau tinggal sendiri di sini? Kok saya khawatir ya. Perpisahan ibu sama bapak masih belum diumumkan. Musuh- musuh ibu pasti masih misuh- misuh."
"Saya sudah perhitungkan, pak. Insya Allah tidak secepat itu mereka menemukan saya. Mungkin, mereka akan menemukan saya setelah kanjeng ibu menyiarkan berita perceraian kami. Mas Indra pasti tak sabar menikahi kekasihnya. Ini sudah masuk akhir Jumadil Tsani."
Pak Mamat terlihat mangut- mangut memahami perkataanku.
Pernikahan kalangan mereka tidak bisa dipersiapkan hanya dalam waktu satu bulan.
Ada ribuan ritual yang harus dilakukan. Dari adat istiadat sampai pesta pernikahan. Di rumah calon mempelai wanita ataupun di tempat calon mempelai pria.
Bahkan aku harus menaiki gunung untuk mengambil bunga sedap malam, sebagai bukti kemampuan diriku dalam tekad dan kekuatan fisik.
Aku tidak dapat membayangkan orang zaman dahulu tanpa peralatan canggih, berapa lama harus memenuhi syarat- syarat yang dikeluarkan?
Tapi, mereka dapat memenuhinya. Tubuh mereka pasti kuat dan enerjik.
"Ibu, saya izin pergi menjemput Dian."
"Iya, pak. Hati- hati."
Dian adalah anak sulung Pak Mamat. Mondok di pesantren terkenal dan hari ini akan pulang.
__ADS_1
Sebenarnya dengan kemampuan Pak Mamat, sudah cukup melindungiku. Adanya Pak Mamat di sisiku, membuatku tenang.
Namun aku tidak mau egois, hari ini kelulusan putrinya, yang telah berjuang selama sepuluh tahun di pesantren. Mereka pasti ingin merayakan hari kelulusan dengan keluarga mereka.
"Tapi saya ga enak ninggalin ibu sendirian. Apa ibu ndak tinggal bareng orang tua ibu saja?"
Aku menggeleng. "Justru akan bahaya. Bapak tenang saja. Salam buat Dian."
"Baik, bu. Hati- hati di rumah. Saya akan mengabari Martin dan Giyok," ucap Pak Mamat merujuk pada dua pengawalku yang lain.
"Iya, pak. Sudah sana pergi. Kasian Dian kalo kemalaman, bisa- bisa nyampenya besok."
"Hati- hati, bu."
"Siap, pak!"
Pak Mamat berlalu setelah berulang kali mengkhawatirkan kondisiku.
Beliau bagai orang tuaku di kota. Orang tuaku di desa, aku enggan menemui mereka. Takut mereka ikut terlibat masalah keluarga mantan suamiku.
Mamak dan bapak hanyalah orang desa yang polos. Tidak paham intrik- intrik yang terjadi di dalam istana.
Aku harap mereka terus tinggal dengan damai, meski hanya dalam kesederhanaan.
Keheningan di dalam rumah rupanya bukan hal yang baik.
Terbayang -bayang dalam benakku, bayi mungil yang sempat kudengar tangisnya ketika sedang memberi perintah pada orang- orangku, untuk terakhir kalinya.
Walau hanya sesekali menggendongnya, kurasakan sebuah ikatan yang tak kasat mata.
Ingin selalu berada di sisinya. Memastikan segala kebutuhannya.
Sudah ada orang- orangku untuk mengawasi tumbuh kembangnya. Ayah mertua juga menjanjikan perlindungan terbaik.
Aku hanya perlu memastikan semuanya berjalan lancar.
Suara dentingan panci terjatuh dari arah dapur membangunkan tidurku.
Rupanya aku jatuh tertidur sambil memikirkan bayi tampan itu.
Aku menggeliat. Merenggangkan tubuhku.
Malas- malasan aku beranjak pergi ke kamar.
Aku memelihara kucing di rumah ini. Bukan hal aneh jika mendengar suara benda terjatuh.
Mandi. Wudhu. Sholat. Telah selesai kulakukan.
Aku berleha- leha sebentar sambil menunggu waktu yang dijanjikan. Wawancara menjaga toko dilakukan sore hari setelah tokonya tutup.
Aku ingin beristirahat sebentar. Perihal tertidur tadi, tak terhitung istirahat. Yang ada tubuhku kaku, karena tertidur di atas sofa dengan posisi yang tidak baik.
Hendak memejamkan mata, kembali terdengar suara benda jatuh dari arah dapur.
Aku bangkit dengan perasaan kesal. Jika kucing itu dibiarkan bermain- main, hanya akan menimbulkan keributan -keributan lain.
Begitu sampai ke dapur, aku dikagetkan dengan keberadaan seorang pria yang berdiri memunggungiku.
__ADS_1
Kepalanya berdarah. Dia sedang merebus air.
Aku mundur perlahan. Mencari benda yang dapat kujadikan alat pertahanan diri.
Tersadar bila mendekati pria itu hanya akan menimbulkan bahaya, aku memutuskan pergi ke rumah Wati, perempuan yang kuberi amanah untuk mengurus rumah ini, jauh sebelum aku tinggal di dalamnya.
"Ada orang lain!?"
Wati terlihat kaget. Aku dapat membaca ekspresi wajahnya. Dia tidak mengatakan kebohongan. Dia sama terkejutnya denganku kala tahu ada orang lain tinggal di rumah itu.
"Seorang pri- a," tekanku.
"Demi Allah, mbak. Saya tidak pernah membiarkan orang lain masuk. Saya seorang yang membersihkan rumah dengan suami saya yang membersihkan halaman. Saya memastikan bersih sebelum mbak menempatinya."
"Lalu orang itu siapa??"
Aku resah. Takut secepat itu para penculik dan pembunuh menemukanku.
Apa perhitunganku salah?
Aku bahkan melewati jalan berkelok agar tidak ketahuan. Memutar jalan dengan waktu berlipat ganda.
Seolah aku benar- benar pergi ke kota yang jauh.
"Bagaimana kalau kita periksa, mbak? Bisa saja pria itu pencuri," usul Faris, suami Wati.
"Ya. Tolong bawa teman lain. Barangkali dia menyerang kita."
Faris mengangguk. Dia pergi dan tak lama kembali bersama dua orang pengembala. Mereka katanya mau membantu sebagai ucapan terima kasih atas berkarung- karung rerumputan yang diberikan Faris dari rumahku.
Aku mengulas senyum. Meski baru pertama tinggal, namaku sudah terkenal. Sesuai rencanaku.
Kami berlima mengendap- endap masuk dari pintu belakang. Di dalam dapur, tampak dua panci besar tergeletak di atas lantai. Di meja makan berceceran bungkus mie dan mangkuk kosong.
Kami saling melirik, lantas mengangguk bersamaan. Benar- benar bukan kucing. Ada orang lain di sana.
Sesuai rencana, Faris akan mendahului untuk mencari pria itu. Dua temannya mengikuti di belakang. Mereka akan bergerak hanya ketika Faris membutuhkan.
Aku dan Wati harap- harap cemas.
Wati mencemaskan suaminya. Aku mencemaskan rumahku.
Rumah ini tidak terlalu besar. Jika mereka bertengkar, kerusakannya pasti langsung mengarah pada dinding bangunan dan perabotan yang ada.
Memikirkannya saja sudah memusingkan.
Kuharap pria itu mau berhadapan dengan damai.
Lima menit kami menunggu, Faris sudah menemukan keberadaan orang itu. Faris memang sangat berhati- hati, langkahnya sangat pelan, takut tiba- tiba si penyusup menyergapnya.
Kami menuju kamar kedua, kamar kosong yang kujadikan sebagai kamar tamu. Dengan gerak lambat, Faris membuka pintu.
Kami dibuat tercengang dengan isian di dalam kamar.
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
__ADS_1
© Al-Fa4 | (Mantan) Istri Pangeran