ADA KAMU SETELAH LUKA KEMARIN

ADA KAMU SETELAH LUKA KEMARIN
Makan Malam


__ADS_3

Dira begitu menikmati acara memasaknya. Sejanak Dira melupakan kejadian siang tadi yang membuatnya kembali mengingat lukanya. Saking asyiknya Dira memasak Dira tidak menyadari jika yang menemaninya memasak bukan lagi Mbok Nah. Namun pria tampan yang kini telah menyandang sebagai suami dari wanita cantik dengan senyum yang tak kalah menawan.


"Kira-kira Kak Bian suka ngak ya Mbok? "


"Pasti sangat suka"


Mendengar suara yang sangat familiar ditelinganya. Membuat Dira menghentikan aktivitasnya sejenak. Namun Dira seperti tak menghiraukan. Dira menganggap jika ini hanya halusianasinya saja.


"Masalahnya Mbok....


Biasanya Dira hanya membantu Bunda saja. Jadi kayak ngak Percaya Diri gitu Mbok"


"Tenang suamimu akan menyukai masakan istrinya"


Mendengar suara yang sama untuk yang kedua kalinya membuat Dira kembali menghentikan aktivitasnya. Dan Dira berbalik badannya. Sungguh ini sangat membuatnya terkejut. Pasalnya yang berada didekatmu bukan Mbok Nah sang Asisten Rumah Tangganya. Melainkan suami tampannya yang masih harus bersabar akan kepastian perasaannya.


"Kak... Bian...... Sejak kapan? "


Bian hanya tersenyum menjawab pertanyaan dari Dira. Sekali lagi Bian jatuh cinta pada gadis yang telah sah menjadi istrinya. Gadis yang sebanranya memiliki sifat yang ceria karena suatu kejadian membuat wajah cantik itu selalu murung dan jauh dari senyum.


"Kak.... "


Suara lembut dari Dira membuat Bian sadar dari lamunan. "Iya "


"Kakak Kenapa lihat Dira seperti itu? "


"Maaf... "


"Kenapa kakak malah minta maaf"


"Maaf.....


Karena kakak terlambat mengetahui semuanya"


Dira tersenyum lembut, senyum yang membuat Bian seakan terhipnotis. Membuat hati Bian luluh dan tak bisa berpaling dari gadis manapun.


"Saat ini.... Hanya kakak yang sangat dekat dengan Dira. Dira ngak mau kakak pergi lagi dari Dira"


"Kakak janji akan selalu melindungimu dan menjagamu"


"Meski Dira belum..... " belum selesai Dira melanjutkan ucapannya Bian sudah memotong.


"Jangan terlalu kamu pikirkan. Pikirkan bagaimana kamu harus melanjutkan hidup bersama lelaki sepertiku"


"Kak...... " Dira sudah tak sanggup melanjutkan katanya. Jika Dira berkata bahwa dirinya sangat beruntung memiliki suami seperti Bian itu bukan suatu kebohongan belaka. Benar adanya jika Dira memang sangat beruntung.


Lalu apakah Dira tidak egois saat ini?


Jawabannya...


Dira sangat egois.


Memaksakan kehendaknya meminta seorang lelaki menjadi pendamping hidupnya. Sedang dirinya masih belum bisa menerima siapapun masuk kedalam hatinya. Dira sendiri masih belum mengerti dengan kerja hatinya. Tak ingin ditinggalkan tapi juga tak ingin memilih.


"Dira.... "

__ADS_1


Kini Giliran Bian yang menyentak Lamunan Dira. Dira Masih diam bergeming memandang lekat wajah tampan sang suami yang kini semakin dekat jaraknya.


"Terimakasih.. " Ucap Dira......


Bian menatap dalam raut wajah Dira. Masih terlihat sendu bahkan buliran bening kini juga terlihat lolos begitu saja.


"Hei... Kenapa menangis? " Bian menghapus air mata Dira dengan lembut


"Jangan tinggalkan Dira kak"


Bian tersenyum menarik Dira dalam dekapannya. Hanya dekapan ini yang mampu meluluh lantahkan semua kesenduan, Kesedihan, luka dan juga air mata.


"Jangan pernah katakan itu, Kakak tidak akan meninggalkan mu percayalah"


Dira mendekap erat Bian dan semakin menyandarkan kesedihannya dalam pelukan Bian.


"Jangan sedih lagi. Tujuan kakak hanya ingin membuatmu bahagia"


"Terimakasih "


Bian mengangguk dan kembali menghapus sisa air mata dipipi Dira. "Tersenyumlah... "


Dirapun tersenyum untuk memenuhi permintaan sang suami. Dira merasa dirinya akan lebih baik jika berada disamping Bian. lagi-lagi Dira merutuki dirinya sendiri bahwa betapa naif nya dia tidak ingin ditinggal namun juga belum bisa menerima.


Bian pun tersenyum kembali dan menggandeng tangan Dira untuk membawanya ke meja makan. Bian menarik kursi dan mempersilahkan Dira duduk. sungguh perlakuan manis Bian membuat Dira lagi dan lagi merasa wanita paling beruntung di Dunia ini.


Dan tidak tahukan mereka jika dibalik dinding sekat ruang makan dan ruang keluarga ada hati yang dilanda kegalauan. Bagaimana tidak, didepan bujangan seperti dirinya ini mereka malah sengaja mesra -mesraan.


Ari datang dengan wajah yang sudah tak bersahabat. Tanpa menyapa keduanya Ia duduk dikursi Meja makan. Dan Sesungguhnya Ari juga Sangat bahagia melihat Bosnya banyak mengalami perubahan semenjak kehadiran Dira dalam hidupnya. Ari merasa hidup bosnya lebih berarti. Ari adalah saksi hidup Bagaimana seorang Fabian Seperti mayat hidup ketika mengetahui wanita yang sangat ia cintai ternyata menghianatinya. Namun Setalah seorang Nadira masuk dalam kehidupannya perlahan mempu menjadi warna baru dalam hidup Bosnya.


Cinta terkadang memang aneh. Terkadang kita memang harus dipertemukan pada luka yang begitu sakit sebelum kita dipertemukan dengan cinta yang begitu indah.


"Lapar.... " Jawabnya singkat


"Ya udah Mas Ari kita makan kebetulan Dira baru selesai masak. "


"Sudah ayo makan dulu, ini masakan istriku dan aku. kamu akan menyesal kalau tidak ikut makan"


Ari mengerutkan keningnya, Sejak kapan Bos nya ini mau repot -repot turun kedapur.


"Sudah ngak usah bengong gitu... " Ucap


Bian lagi


Tanpa sepatah kata Ari langsung mengisi piringnya. Baru kunyahan pertama ada rasa berbeda yang menjalar kedalam Mulutnya.


"Bagiamana mas? " Tanya Dira dengan rasa ragu


"Ini makanan paling enak yang pernah saya makan mbak" Jawab Ari kemudian melahap kembali makanan yang masih banyak berada dipiringnya.


Dira pun tersenyum bahagia ternyata selama ini tidak sia-sia belajar memasak dari Bunda dan juga mas Fadil.


Bian mengusap puncak kepala Dira dengan tersenyum. Entahlah Mengusap puncak kepala Dira sudah menjadi sensasi tersendiri Bagi Bian. Sedang Dira setiap kali Bian mengusap puncak kepalanya ada rasa nyaman dan juga Dira merasa ada rasa cinta yang mendalam setiap kali Bian mengusapnya. Cinta?


Darimana sayangnyankali Nadira kamu sendiri saja masih sok naif gitu.

__ADS_1


"Apa tidak bisa kalian mesra-mesraannya dikamar saja" ucap ari sewot dan sudah tak lagi berbahasa formal.


Seketika muka Dira merona dan menunduk. Sedang Bian menanggapinya dengan santai


"Biar kamu belajar, Kalau nanti kamu punya pasangan biar ngak kaku"


"Sialan" Umpat Ari pada Bian. Bian malah terkekeh melihat kekesalan Ari.


"Buruan cari istri sana, biar ngak sirik aja bawaannya"


"Bagaiman aku mau cari istri kalau kamu selau ngasih kerjaan yang banyak"


"He.. he... bukannya kamu suka "


"Huh... " Ari mendengus kesal pada Bian dan ia menatap Dira dengan raut muka rasa ingin dibela.


"Sudah kak.. kalian ini ternyata kalau tidak sedang bekerja malah kayak anak-anak ya" Ucap Dira yang baru tahu Bagaimana kelakuan suaminya bersama asisten pribadinya yang terlihat berbeda dari yang ia lihat ketika mereka sedang bekerja.


"Tuh Dengerin..." Ucap Ari yang merasa dibela


"Koq kamu bela Ari sih Ra" Ucap Bian pura-pura merajuk.


"Kalian berdua sama aja" Dira beranjak dan membawa piring-piring kotor ke westafle untuk dicuci.


Meski ditolak namun Bian tetaplah kekeh ingin membantu. Alhasil Dira membiarkan Bian untuk membantunya. Eh... bukan lebih tepatnya mengganggu. Bian memang sedang berusaha keras untuk membuat Dira nyawang Dan selalu Merasa bahagia. Meski kecil tapi Bian yakin suati Hadi nanti Dira akan menyadari banda Ada sedikit saja ruang untuk Bian.


"Oh iya Kak....


Apa kakak lihat Handpone Dira"


Seketika Bian menghentikan aktifitasnya Dan terlihat berfikir.


"Kak" Ucap Dira menyentak Bian


"Iya.... Apa... " Jawanya gagap


"Kaka lihat Handpone Dira?"


.


.


.


.


.


.


Bersambung.....


Like 👍


komentar📝

__ADS_1


❤(Biar Pas aku up kamu dapat notifikasinya)


Thankiyuuuuuuuuu......


__ADS_2