ADA KAMU SETELAH LUKA KEMARIN

ADA KAMU SETELAH LUKA KEMARIN
Jebakan


__ADS_3

Tring.....


Pintu Lift terbuka dilantai 7 Caraka Group. Dengan paperbag yang dibawa Dira penuh suka cita. Menyapa dan tersenyum adalah ciri khas dari Nadira Diandra Putri.


"Siang mbak Anita"


"Eh... Mbak Dira, Mau bertemu pak Bian? "


"Apa Kak Bian ada diruanganya? "


"Ada Mbak, Mari saya antar"


"Tidak perlu Mbak, sebaiknya Mbak Anita istirahat saja. Ini sudah jam makan siang lho. " tolak Dira yang diiringi dengan senyum yang sangat mempesona.


"Baiklah....." Ucap Mbak Anita juga dengan senyum ramah.


Dira melangkah dengan penuh semangat keruangan Bian. Dan ketika Dira hendak mendorong pintu yang sedikit terbuka itu. Seketika Dira urungkan karena terdengar seperti Bian sedang marah pada seseorang namun tidak tahu pada siapa?


Karena kalau Dira tidak salah penglihatan yang berada didalam sana adalah Ari Sang asisten.


"Tidak ada pilihan lain"


"Maksud Bapak...... "


"Aku akan datang"


"Tapi... "


"Masalahnya Dira yang menjadi Ancamannya"


Mendengar namanya disebut sehingga membuat Dira tak bisa hanya berdiam didepan pintu. Tanpa ragu Dira melangkahkan kaki kedalam dan berkata


"Memangnya kenapa dengan ku Kak? "


Dua orang yang sedari tadi bersitegang kini menoleh dengan ekspresi terkejut.


"Kamu kok kesini? Kamu kesini sama siapa? Kan sudah aku katakan jangan kemana-mana tanpa ku atau Ari"Seketika Bian berkata dengan Nada tinggi.


Dira yang tadinya ingin bertanya ini dan itu seketika hilang sudah. Hilang berama rasa terkejutnya. Dira tidak tahu kenapa sulit sekali mengenali sifat suaminya ini. Kenapa kak Bian lebih sering terlihat emosi akhir-akhir ini.


Padahal menurut Dira apa yang dilakukan Dira tidaklah berlebihan. Dira hanya pergi kekantornya sendiri kenapa reaksinya sampai seperti ini. Biasanya juga Dira sering Kekantor ini seorang diri. Dan satu lagi saat Dira hanya menyinggung sial Handponenya Bian juga smaa reaksinya marah. Sungguh berlebihan bukan.


"Dira kesini hanya ingin mengantarkan makan siang untuk kakak. Ternyata Dira salah. Maaf jika Dira malah menganggu kakak. Jangan lupa dimakan kak. ***....... "


Belum selesai Dira berkata dan melangkahkan kakinya. Bian sudah datang mendekat melingkarkan tangan kokohnya ke pergelangan tangan Dira.


"Aku hanya menghawatirkanmu. Maaf jika sikapku terlalu berlebihan. Aku cuma ngak mau kamu kenapa-kenapa. "


Dira masih diam menatap dalam wajah yang terlihat sendu menatap matanya. Dira masih belum mencerna dengan baik. Atas apa yang telah dilakukan Bian.


"Ra.... "


Dira masih diam tanpa sepatah kata. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Menghadapi sikap Bian yang terkadang membuatnya bingung.


"Aku hanya mengkhawatirkanmu. Aku sudah berjanji pada Ayah dan Bunda untuk menjagamu."


"Iya aku tahu kak...


Tapi sikap kakak berlebihan."


"Untuk mu tidak ada yang berlebihan. "


"Tapi.... "


"Untuk saat ini, sebaiknya anda menurut mbak." Ucap Ari yang juga ikut membantu Bosnya yang sedang kesulitan meyakinkan istrinya.


"Alasannya"


"Cukup kamu menurut dan jangan tanya alsannya"


"Tapikan.... "


"Nadira Diandra Putri....


Beri aku waktu menyelesaikan semuanya. Dan akan aku jelaskan kepadamu"


Dira masih diam seakan tak terima dengan apa yang dikatakan Bian. Kenapa harus ditutupi.

__ADS_1


"Jika kakak tidak jelaskan aku tidak akan menurut" Ucap Dira masih belum menerima keputusan dari Bian.


"Ada saingan bisnisku yang mengincarmu. Itu sebabnya aku melakukan semua ini. " Ucao Bian memilih berbohong. Tidak mungkin Buan mengatakan jika Siska yang telah mengancam. Bian tidak ingin membuat Dira merasa terbebani bahkan merasa takut.


"Apa semenyeramkan ini menjadi istri pemilik perusahaan seperti mu kak? " Ucap Dira dengan mimik muka yang tak bisa untuk dijelaskan bagaimana.


Sambil tersenyum Bian menjawab


"Menurutlah maka semua akan baik-baik saja"


"Janji....


Jika aku menurut kakak tidak akan melakukan tindakan yang nantinya akan membuat kaka merugikan diri sendiri" Ucap Dira sedikit khawatir.


Bian mengangguk dan tersenyum. Aku mengatakan yang seperti ini saja kamu sudah terlihat ketakutan. Bagiaman jika kamu tahu alasan yang sebenarnya. Ucap batin Bian.


"Apa. kamu sudah makan? " Tanya Bian mengalihkan pembicaraan.


"Kalau Dira sudah makan ngapain Dira kesini? " Jawab Dira dengan wajah yang sudah berubah kesal.


"Iya kita makan okey..... "


"Kalau begitu saya permisi dulu.... Jangan lupa sama nanti kita ada Meeting setelah jam makan siang berakhir" Ucap Ari mengingatkan sebelum dirinya pergi meninggalkan sepasang suami istri yang terlihat aneh dimata Ari atau siapapun yang melihatnya.


"Ini untuk mas Ari... " Ucap Dira sebelum Ari pergi meninggalkan ruangan.


Setelah Ari pergi dari ruangan Bian, Dira menata makanan diatas meja. Namun sebelum menyantap makan siangnya terlebih dahulu mereka menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


"Ra.... kamu tidak apa-apa kan kakak tinggal? "


"Iya Kak... Kan ada mbok Nah, yang nemenin" Mbok Nah masih stay Dirumah Bian karena Bian meminta Mbok Nah menemani istrinya.


"Apa kakak suruh Ical kemari saja? " Ucap Bian masih belum bisa meninggalkan Dira dirumah.


"Tidak usah kak... "


"Tapi... "


"Ya udah biar kakak tenang kerjanya....


Bianpun akhirnya menghubungi Ical. Dan Setelah Ical menyanggupinya barulah Bian bisa bernafas lega.


"Sebentar lagi Ical datang"


"Oke baiklah.... "


...🍀🍀🍀🍀🍀...


Dengan banyak pertanyaan yang kini bersarang dikepala Bian. Bagaimana dia harus menghadapi wanita licik itu. Jika bukan karena Dira yang menjadi ancamannya. Bian tidak akan mungkin mau berhubungan dengan wanita gila ini.


Demi Dira.....


"Hai... Bi... apa kabar? "


"Baik" Jawab Bian dingin


"Bi..... "


"Cepat katakan atau.... "


"Kenapa kami buru-buru sekali Bi?"


"Aku tidak punya banyak waktu untuk mu" Ucap Bian masih dingin.


"Bian...... Bian.... Aku kenal kamu Bi.


Ayolah Bi....


Kamu tidak mungkin kan melupakan kenangan kita dulu? "


"Aku sudah muak Siska.....


Cepat katakan apa mau mu atau aku akan pergi... "


Bian rasanya sudah tidak sabar dengan permainan Siska. Ingin rasanya ia segera pergi dari hadapan wanita ini. Bagi Bian ini hanya membuang-buang waktu saja.

__ADS_1


Namun ketika ucapan Siska mengurungkan langkah Bian untuk pergi


"Bukankah Dira sangat penting untukmu? "


Melihat Bian berbalik dan mendekat membuat Siska tersenyum puas. Meski Siska belum tahu hubungan sebenarnya keduanya. Namun Siska bisa dengan mudah membaca bahwa antara Bian dan Dira sangat dekat.


"Jangan sentuh dia"


"Baik....


Aku tidak akan menyentuhnya....


Asal..... " Kalimat Siska digantung dengan senyum licik yang tergambar jelas


"Berani kami menyentuhnya kamu sendiri yang akan menanggung akibatnya. "


"Ha... ha.... " Suara tawa siska menggelegar di ruangan tempat mereka bertemu. Memang tidak banyak pengunjung yang datang. Memang sengaja di setting oleh Siska. Bahkan diantara pengunjung yang disana didominasi oleh orang-orang Siska.


"Segitu cintanya kamu terhadapnya"


Bian masih diam meminta otaknya untuk terus berfikir. Sialan ternyata aku masuk dalam jebakan wanita licik ini. Umpat Bian dalam hati.


"Atau begini saja...


Aku memiliki penawaran untukmu?"


Bian masih diam bergeming. Masih berusaha untuk tenang dan memutar otaknya.


"Kamu tahu kan kalau kekasih tercintamu itu sangat menyayangi putri cantikku ini." Sambil Siska memperlihatkan Vidio seorang anak kecil seperti dalam tawanan.


Bian masih berusaha untuk tetap tenang. Jangan sampai ketahuan oleh Siska jika dia sangat -sangat emosi dan juga mulai bimbang.


"Bagaimana Tuan Bian.... "


"Katakan mau mu? " Ucap Bian masih tenang


"Pilihlah salah satu diantara keduanya? "


Harusnya ini pilihan yang mudah untuk Bian. Bian tinggal memilih Dira. Tapi apa yang membuat Bian begitu sulit memutuskan. Sedang kerja otak dituntut berfikir cepat agar Siska terkecoh.


"Bagaimana Tuan sudah punya pilihan? " Tanya Siska kembali dengan nada mengejek.


Sial.....


Dia ternyata cukup pintar dalam mengambil situasi jika aku memilih salah satu diantara keduanya itu sama saja aku kalah darinya. Jika aku memilih Salwa itu akan sangat mudah untuk Siska menghancurkan Dira. Dan jika Bian memilih Dira, itu sama saja Bian mempublikasikan hubungannya dengan Dira. Ini dua kali lipat lebih berbahaya.


Benar-Benar wanita ini kenapa dia bisa menemukan kelemahanku. Batin Bian masih menuntut otaknya untuk berfikir.


"Apa terlalu sulit memilih Tuan? " Kembali Siska menekan dengan penuh kemenangan.


"Atau... bagaimana dengan ini... "


Kembali Siska menyodorkan foto yabg berbeda namun sangat Bian kenali. Foto Mama dan adiknya yang sudah pasti mana mungkin Bian mengorbankan mereka.


"Katakan apa yang kamu mau? " Ucap Bian masih tenang dan dingin.


"Aku ingin kamu menemaniku malam ini sayang. Kita mengenang masa lalu kita. "


Kini senyum yang mengembang dibibir Bian. Aku pikir kamu bisa lebih pintar dariku. Ternyata hanya sebatas itu. oke.....


"Baik kita bersenang-senang sekarang.... "


Ucap Bian penuh maksud. Bian melirik kesamping dimeja yang tak jauh darinya. Ia melirik kearah Ari yang memang sedari tadi mengawasinya.


.


.


.


.


Bersambung....


Tetap Like 👍


komentarnya 📝

__ADS_1


❤( biar pas aku up kamu dapat notifikasi)


ini sudah aku revisi ya......


__ADS_2