
"Kakak Lihat Handpone Dira apa tidak? " Ucap Dira lembut membuat Bian hanya terdiam dan tidak memikiki jawaban.
"Kak.... "
"Kakak ngak Lihat"
"Apa tertinggal di Caffe nya Rangga ya?"
"Entahlah... "
"Yakin kak Dimobil tidak ada?"
"Kalau kakak bilang Ngak ada ya ngak ada. Lagian Handpone jelek aja. Ntar kakak belikan yang lebih bagus dari handpone kamu itu" Jawab Bian dengan nada yang tinggi.
Dira hanya diam bergeming. Masih belum bisa menyesuaikan dengan jawaban yang diberikan oleh Bian. Dira hanya bertanya dimana Handponenya Kenapa Bian malah marah.
"Kan Dira hanya bertanya? " Ucap Dira rendah
Bian memejamkan matanya dan menarik kasar nafasnya. Kenapa bisa lepas kontrol gini sih. Kemudian Bian mendekat kearah Dira. Mencakup punggung tangan Dira dan mantap manik matanya.
"Maaf... "
Ucap Bian penuh penyesalan
"Dira hanya bertanya kak, Kalau kakak ngak tahu jangan marah dong"
Ucap Dira masih rendah terlihat takut juga terkejut karena baru kali ini Dira melihat Bian Marah.
"Iya... Maafin kakak" Ucap Bian mengusap kepala Dira sembari tersenyum.
"Nah kalau tersenyum gini kan cakep jadinya" Ucap Dira sambil cemberut.
"Iya kakak minta maaf"
"Iya... sultan mah bebas mau ngapain juga"
Ucap Dira masih kesel karena suaminya ini memang tidak bisa ditebak. Sebentar marah sebentar menyesal dan menggoda.
"Kamu meragukan suamimu ini kalau suami mu ini.... "
"Orang kaya.... " Ucap Dira memotong ucapan dan kesombongan suaminya.
"Mau kakak beri tahu seberapa kayanya suamimu ini.... Hem.. "
Seoalah telah lupa dengan kemarahannya mengenai Handpone Dira Bian malah gencar menggoda Dira.
"Ngak deh ya... makasih" Ucap Dira sambil pergi meninggalkan Bian.
"Eh Tungguin...." Ucap Bian sambil mengajar langkah Dira menuju kamar.
Sesampainya dikamar....
"Ayo Kita pulang kak" Ucap Dira ketika Bian sampai di kamar.
"Pulang kemana? "
Dira hanya diam memandang kearah Bian yang seolah tak ada beban. Bukannya Bian menuruti ajakan Dira tapi malah Bian berbaring dengan santai diatas ranjang.
__ADS_1
"Loh kakak... ayo kita pulang nanti ayah dan Bunda marah lho kalau jam segini Dira belum pulang"
"Mereka ngak akan marah"
"Kakak... Ayo lah kak...
jangan nyebelin deh"
"Apa Ayah dab Bunda akan marah kalau anaknya ngak pulang sama suaminya? "
Pertanyaan Bian sekaligus alarm bahwa saat ini Dira bukan lagu seorang wanita s**ingle yang masih menjadi tanggung jawab orang tuanya. Tetapi saat ini Dira adalh seorang istri yang setiap langkahnya adalah atas tanggung jawab suaminya.
Menyadari akan kesalahannya akan ingatannya yang rada oleng. Baru sehari dirinya menyandang sebagai nyonya Bian dan juga membuatnya masih belum terbiasa.
"Lupa kalau kita sudah menikah? " Ucap Bian lagi
"Siapa bilang....
Lagi akcting aja.... Kan pernikahan ini masih disembunyikan???? " Ucapnya cukup menyentak Bian. Ada rasa bersalah dibenak Bian Akan perkataan yang dilontarkan Dira. Tapi Bian tidak punya pilihan lain, ini adalah cara yang tepat untuk melindungi Dira.
"Maaf... " Ucap Bian sendu
"Dira yakin apapun yang kakak lakukan sudah kakak pertimbangkan dengan baik kan" Sambil Dira tersenyum
Bian hanya membalas senyuman Dira. Kemudian Dira melanjutkan perkataannya " Kalau begitu aku pinjam handpone kakak. Dira mau kabarin orang rumah takutnya mereka nungguin"
"Kakak sudah kasih kabar kerumah"
"Beneran"
"Selalu saja begitu" Sambil Dira mengerucutkan bibirnya.
"Jangan menggoda... kalau masih minta waktu" Ucap Bian datar.
Dira hanya menghembuskan nafasnya kasar. Dira merebahkan badannya disamping Bian. Bian hanya mebatap lekat wajah cantik Dira yang masih terlihat kesal oleh suaminya.
"Istirahatlah.... "Ucap Bian sendu
"Kak.... "
"Sudah tidurlah.... "
"Tapi.... "
"Jangan pikirkan apapun yang hanta membuatku semakin terbebani. Kakak berjanji akan selalu menjagamu Bagaimanapun caranta apapun taruhannya "
"Maafkan Dira yang hanya menjadi...... "
Belum selesai Dira mengucapkan perkataannya Bian sudah memotong....
"Kakak sengaja mengajalmu pulang kerumah ini. Karena kakak ngak mau kamu menangis didepan orang lain meski itu keluargamu. Kakak hanya ingin kakaklah ornag pertama yang kamu cari ketika kamu menangis dan bahu inilah tempatmu bersandar. "
"Kak Dira...... "
"Kamu adalah istriku....
kamu adalah prioritasmu sekarang. Kamu adalah tanggung jawabku. "
__ADS_1
"Terimakasih....
Telah hadir dihidupmu Dira kak. "
"Kita jalani dengan ikhlas. Biarkan waktu akan menyelesaikan semuanya"
Dira mengangguk dan semakin erat mendekap sang suami. Terasa nyaman memang berada disini. Didada bidang milikmu ini suamiku. Tapi biarkan aku meminta waktu dan segera menyelesaikan semuanya.
Berada dalam dekapan Bian membaut Dira begitu mudah terlelap. Terdengar nafas yang beraturan menandakan sang empu telah tertidur melewati alam mimpi. Sementara Bian masih enggan terpejam. Bian masih berfikir bagaimana caranya untuk menuntaskan permasalahannya.
...πππππ...
Sementara dikamar Ari
Ari masih enggan juga memejamkan matanya. Masih memandang benda pipih yang tadi diserahkan Bian padanya. Mungkin benda ini bisa bermanfaat nanti. Ucap Ari didalam hati smabil menyimpan kembali benda pipih yang sebenarnya pemiliknya adalah Dira. Sengaja Bian menyerahkan handpone Dira pada Ari. Saat ini lebih baik Dira dijauhkan dari Handponenya dulu.
Kembali ari konsentrasi untuk memikirkan strtegi apa untuk melawan wanita ular itu. Meski Ari sedang berada dirumah tapi tak. jarang pula ia selalu memikirkan pekerjaannya. Apalagi ini untuk Bosnya yang sangat baik kepadanya selama ini. Jika bukan karena keluarga Caraka mungkin saat Ini Ari sudah menjadi gelandangan dijalanan.
Ari ingat benar Bagaimana dulu ia diselamatkan oleh Tuan Caraka sewaktu Ari dikejar-kejar oleh Preman karena ia ingin melarikan diri. Namun Tuan Caraka yang tak lain adalah papanya Bian datang disaat yang tepat. Ia menghajar tanpa memberi ampun pada Preman itu. Sampai Preman itu pergi dan tidak tahu bagaimana nasibnya sekarang.
Dan sejak hari itu Ari diangkat anak oleh Tuan Caraka. Keluarga Caraka adalah keluarga yang sangat tulus, Mereka menerima Ari dengan setulus hati. Terlebih Bian dia sangat bahagia ketika ia memiliki teman. Karena Bian adalah orang yang sangat sulit untuk berteman. sifat dingin dan cueknya memang sudah semenjak kecil melekat ditubuhnya. Namun meski demikian Bian juga sangat peduli dan baik hati.
Tuan Caraka dan Nyonya Riana tidak membedakan antara Ari dan Bian. meraka juga memiliki fasilitas yang sama. mereka sangat bahagia karana setidaknya Ari bisa membawa Bian kearah yang lebih baik.
Bian yang notaban nya anak orang kaya terkadang dia suka seenaknya dan nakal itu sudah pasti. Dan hal ini juga yang membuatnya selalu menjadi sasaran orang-orang jahat dari saingan Bisnis ayahnya.
Namun dengan siap siaga Ari selalu melindungi Bian. Hidup dijalanan membuat Ari menguasai ilmu bela diri meski tidak sempurna. Namun jalanan mengajarkan Ari banyak hal tentang kerasnya hidup.
Hingga Tuan caraka memasukkan Ari dipelatihan ilmu bela Diri dan juga Bian turut serta. Agar apa? Agar supaya jika hari ini tiba Ari bisa dengan sigap melindungi keluarganya.
Dan terbukti hingga saat ini Ari selalu setia pada keluarga Caraka. Karena Ari juga telah berjanji pada dirinya sendiri ia akan terus melindungi Tuan Mudanya meski nyawanya sendiri menjadi taruhannya. Oleh sebab itu pula ia Selalu bekerja keras untuk Tuan mudanya menyelesaikan masalah sesulit apapun.
Dan Ari tersenyum menyeringai karena merasa mendapat ide untuk melawan Wanita ular itu.
"Baiklah mengahadapi wanita licik maka harus dengan cara yang licik pula. Oke seberapa kuat kamu bertahan jika aku melakukan ini... Tunggu saja Nona Siska Gunawan akan hadiah yang akan aku kirim besok" Ucap Bian dengan penuh kesombongan akan rencanaNya. .
.
.
.
.
.
Bersambung
Likeπ
kimentarπ
β€ (biar pas aku up kamu dapat notifikasinya)
Thankiyuuuuuu
π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°
__ADS_1