
Ketika cinta yang diharapkan ternyata memilih untuk pergi. sekuat apa kita bertahan juga akan sia-sia. Ketika memang takdir tak mengharuskan keduanya untuk menjadi satu. Maka merelakan adalah pilhan terbaik. Menikamati kesendirian dan menata hidup yang lebih baik, kini yang terpatri pada pria yang berusia 21 tahun itu. Gelar sarjana baru saja ia sandang. Gelar jomblo juga masih nyaman tersemat didalam dirinya. belajar dari kedua kakaknya, patah hati adalah proses untuk menemukan cinta terbaik diakhir penantiannya.
Fokus dengan karir dan memantaskan diri adalah tujuan utama Muhamad Faisal. Biarlah hatinya saat ini sedang patah. Biarkan hatinya menemukan kenyamannya sendiri. Dari Patah hatinya membuat Faisal mensuport dirinya untuk mewujudkan semua mimpi-mimpinya. Bahkan Faisal telah membuat list, hal apa saja yang akan ia wujudkan. Jika dulu dirinya selalu berbangga karena hanya dirinya yang tak memiki permasalahan tentang hatinya. Namun hal itu kini ia buang jauh-jauh. Masa depan dan menjadi putra kebanggaan Bunda dan Ayahnya adalah list nomor satu untuk ia wujudkan.
Memulai aktifitasnya seperti biasa. Menuju ke Caffe untuk bekerja. Hari ini akan menajdi hari yang sibuk untuknya. Pasalnya hari ini Ical akan berkunjung di beberapa cabang Caffe yang ada di dalam maupun luar kota. Karena usia kehamilan Kak Fathia sudah memasuki trimester ketiga, maka Mas Fadil menyerahkan segala urusan Caffe pada Ical.
Namun konsentrasi Ical terpecah ketika kedua netranya menangkap seorang wanita Sedang berdiri dipinggir jalan dengan wajah yang kebingungan. Sosok yang sangat Ical kenali sedang beridri disamping motor metick warna Silver keluaran Honda. Wajahnya yang bingungpun tak mengurangi paras ayu yang memiliki senyum yang menawan. Dan hal ini baru disadari Ical beberapa waktu lalu ketika gadis itu berkunjung kerumahnya mengantarkan oleh-oleh untuk keluarganya. Ical menepikan Mobilnya dan membantu gadis yang menatapnya penuh kekaguman.
"Kenapa?" gadis itu hanya bergeming, diantara rasa malu juga rasa kagumnya dengan sosok pria tampan yang datang bak malaikat penolong.
"Dila.... " Dilara Syafiathunisa tersentak dengan suara Ical yang kedua kalinya. Lamunan tersadar dan segara menetralkan otaknya yang telah berkelana hingga ke Negeri Jiran.
"Eh... iya... itu... " ucapnya terbata
"Mogok?" pangkas Ical membuat Dila tersenyum dan mengangguk malu.
Ical tidak ahli dibidang otomotif, tapi melihat ada gadis cantik dipinggir jalan membutuhkan bantuan. Jiwa kemodusannya meronta. maklum dirinya adalah pria Jomblo yang sedang ikhtiar mencari jodoh. Eh... si Ical baru saja dirinya mengatakan jika akan fokus pada karir dan memantaskan diri. Eh... ada yang bening dikit langsung gas. πππ
Berulang kali Dila melirik kearah pergelangan tangannya. sepertinya dirinya sedang memiliki deadline waktu. Bukan ical tak peka terhadap kegelisahan Dila, tapi dirinya juga masih mencari cara untuk menawarkan diri untuk mengajak Dila berangkat bersama.
"Em... Mas Ical" ucap Dila memberanikan diri.
"Hem" jawab Ical sok cuek.
"Apa masih lama?" ical seperti sedang memperkirakan waktu.
"Dila pesan ojek online saja, kalau memang lama"
"Jangan!!" ucap Ical segera dan mendapatkan tatapan kebingungan dari Dila.
Melihat respon yang ditunjukkan oleh Dila, membuat Ical menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bingung harus mulai dari mana. Mau mengajak berangkat bareng kok ya gengsi, tapi kalau dibiarin naik ojek online kok ya ada rasa nggak rela.
Ical diam kegalauannya, sedang Dila masih diam menunggu penjelsan atas kata "Jangan" yang diucapkan Ical barusan.
__ADS_1
"Maaf Mas... soalnya Dila ada...."
"Bareng aja, kebetulan aku mau ke caffe yang searah dengan kampus kamu mengajar" ucap Ical dan lagi-lagi mendapat respon yang kebingungan dari Dila.
"Kenapa? takut ada yang marah?" kata Ical kembali karena Dila tak segera memberi persetujuan.
"Bukan... bukan itu?"
"Lalu?"
"Apa tidak merepotkan?" ucap Dila sungkan
Ical hanya tersenyum dengan kepolosan Dila. Ical tahu jika gadis dihadapannya ini sedang menahan gerogi sama seperti dirinya. Entah sejak kapan Ical menjadi salting jika didepan Dila. Padahal Dila adalah teman kecilnya. Bahkan saat dulu Dila mengakui secara terang-terangan, jika gadis itu menyukainya, ia biasa saja. Tapi sejak senyum yang malam itu Dila berikan membuat jantungnya susah untuk dikendalikan.
"Kamu masih kepikiran omongan Mbak Dira malam itu?"
Spontan Dila mengangguk dan sesaat kemudian Dila menggeleng. Terlalu Jelas sikap yang digambarkan oleh Dila. Dia ingin menampik bahwa dirinya bisa menutupi efek dari pertanyaan Mbak Dira. Tapi ternyata dengan sendirinya otaknya mengintruksikan reflek tubuhnya untuk berkata jujur. Ical hanya tersenyum kecil dengan jawaban Dila.
"Terlalu jelas ya?" pertanyaan Dila ragu namun akan mengusiknya jika tidak ia tanyakan.
.
.
.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa
__ADS_1
Like π
komentarnyaβοΈ
β€ (Biar pas aku up kamu dapat notifikasinya)
π§: Gueh tungguin baru nongol Thor?
π§: Kangen ya
π§ : lama nggak nonghol Pe De nya makin kebangetan ya lu
π§: Pe De kan wajib
π§: lu Ke Pe De an Kali
π§: Noh udah gueh kasih pengobat rindunya
π§: Besok up lagi kan Thor?
π§: diusahakan ya?
π§: ππππ
π§: ππππ
Jangan lupa Follow
Ig @Normairnawati
Fb Noe Haveadream
Thankiyuuuu.......
__ADS_1
β€β€β€β€β€