
Terkadang cinta memang sungguh sangat lucu kehadirannya. Datangnya tanpa diduga dan perginya tanpa diminta. Kebahagiaan akibat hadirnya cinta yang diharapkan adalah suatu hal yang memang tidak bisa dihindari. Juga patah hati yang turut serta, bahkan tidak mudah untuk sembuh. Dira dengan banyak hal tentang luka. Kini Dira telah mematrikan hatinya hanya untuk suami tercintanya. Tidak pernah menyangka hadirnya cinta untuknya ternyata tanpa disangka. Berawal dari pertemuan yang tak disengaja berakhir dengan kisah halal sebagai janji suci yang tidak akan Bian ingkari. Pertemuan cinta Dira dan Bian sungguh sangat luar biasa. Perjalanannya pun tidak semudah kisah cinta pasangan lainnya. Luka juga air mata, turut serta menjadi warna dalam bahtera cinta yang mereka bangun.
"Sudah malam Kak, istirahat dulu" ucap wanita memakai gamis rumahan warna mocca dipadukan dengan hijab instan warna hitam membuat parasnya tetap cantik dan mempesona dimata Bian.
"Sedikit lagi sayang" jawab pria yang masih konsentrasi pada benda persegi yang menampilkan angka-angka yang nilainya cukup fantastis.
"Kalau hanya untuk pergi berlibur membuat kakak harus bekerja sekeras ini. Lebih baik dibatalkan saja kak" ucap Dira sendu menatap wajah suaminya yang kini telah menatap wajah istrinya.
Bian tersenyum dan mendekat kearah istrinya. Mencakup kedua pipi manis milik istrinya. kemudian mencium kening istrinya yang terlihat sedih melihatnya harus bekerja sampai selarut ini. Semenjak mereka dengan terang-terangan menunjukkan perasaan masing-masing, Dira lebih terlihat manja dan mellow. Tapi sifat Dira yang seperti ini yang membuat Bian semakin gemas dan bahagia.
"Kita sudah merencanakan ini sejak dua bulan yang lalu lho sayang. Jangan khawatir ya, kakak baik-baik saja kok"
"Tapi...."
Bian kembali tersenyum dan menarik istrinya dalam pelukannya. Mendekap erat tubuh mungil yang membuatnya jatuh cinta. Menaklukkan hati Dira yang keras bukanlah hal yang mudah. Bian harus menunggu lama untuk sebuah momen seperti sekarang ini. Meski tak jarang bayangan Bayu sang mantan kekasih istrinya masih terlintas dan terkadang membuat Bian cemburu. Namun hal itu tidak dipermasalahkan oleh Bian. Justru Bian selalu meyakinkan Dira bahwa Dira hanya boleh bahagia.
"Minggu depan kita liburan, kakak nggak mau kamu nanti malah sakit. Kamu istirahat dan tidak boleh mikir yang aneh-aneh ya" bujuk Bian pada istrinya yang masih nyaman dalam pelukannya.
"Tapi Kakak jadi kurang istirahatnya?"
"Suamimu ini kuat sayang. Jangan khawatir!"
"Dira Nggak mau Kakak bohong lagi ke Dira. Kakak bilang Kakak kuat, kakak bilang Semua akan baik-baik saja, tapi...."
"Maaf....
Waktu itu sudah buat kamu khawatir?"
__ADS_1
Tidak ada jawaban apapun yang keluar dari Dira. Justru dekapanya semakin erat dan menikmati dada bidang milik suaminya. Bian juga tidak ingin menyudahinya justru Bian semakin membuat Dira nyaman. Membiarkan sang istri menuntaskan apapun yang menjadi kegundahan hatinya.
Ceklek....
Suara handle pintu ruang kerja Bian terbuka.
"Oh... maaf" ucap Ari sang asisten, namun ia bukan pergi, tetapi malah masuk kedalam tak peduli jika bos juga istrinya sedang berpelukan sekarang.
"Emergency!" ucap Ari kembali ketika menyadari sorot mata dari Bian yang sungguh tak menyukai tindakan asisten sekaligus sahabatnya ini.
Sedang Ari bukan takut justru dirinya hanya melirik remeh pada bosnya. Bian hanya mendengus kesal ketika sorot mata tajam seolah diremehkan begitu saja. ini bukanlah pemandnagan yang asing untuk Dira. suami juga asistennya ini memang selalu seperti ini. suaminya yang seolah tak ingin dibantah, sedang asistennya yang seolah menyamaratakan segala situasinya.
"Kamu urus kantor selama aku dan istriku berlibur!" ucap Bian ketika Bian telah duduk kembali dikursi kebanggaanya dan Dira duduk di sofa.
"Mas Ari tidak ikut liburan Kak?" tanya Dira ketika menyadari suaminya memberikan perintah pada asistennya.
"Enggak sayang, kalau dia ikut pergi siapa yang urus kantor"
"Sayangnya cuma dia yang bisa ku percaya untuk urus kerjaan"
Hufff....
Dira menarik nafas berat. Ingin melayangakan protes tapi tidak bisa. Tapi rasa kasiannya pada asisten suaminya membuatnya ingin meminta keringanan. Tapi tetap sama, penolakan yang ia terima. Dan yang lebih aneh, asistennya iya-iya aja gitu di kasih perintah ini dan itu.
"Tenang aja sayang, dia nggak butuh liburan. Dia butuhnya uang!" jawab Bian sambil melirik kearah Ari. Sedang Ari hanya memandang dengan ekspresi datar.
"Mas Ari bener gitu?" kini pertanyaannya dialihkan pada Ari yang duduk disebrang tempatnya duduk.
__ADS_1
"Dia terlalu membutuhkan saya nona" jawab Ari sombong sambil melirik kearah Bian.
ketika Bian ingin melayangkan protes namun segera dipotong oleh istrinya. Dira sungguh tudak suka jika suaminya bersikap semena-mena pada asistennya. Disaat seperti ini lah yang ditunggu oleh Ari. kelemahan Bian adalah Dira. Jika mendebatnya disaat ada Dira, Bian pasti akan mengalah.
...🍀🍀🍀...
Ketika sang kakak tengah bermanja ria dengan suaminya. Tak lain dengan yang dilakukan oleh pria muda tampan yang sedang gelisah didalam kamarnya. Berapa kali pun ia mengubah posisi duduknya tetap saja hatinya gelisah. Entah sudah panggilan yang keberapa kali yang diabaikan kakaknya malam ini. Ical, pria muda yang tengah gelisah membutuhkan sandaran dari sang kakak. Namun panggilan telponnya diabaikan begitu saja dan membuatnya semakin larut dalam kegelisahan.
Wanita yang telah ia kenal sejak kecil, beberapa menit yang lalu telah memberikannya kode. Kalimatnya terus terngiang dalam telinga Ical saat ini. Gadis itu yang terlihat baik-baik saja dan selalu tersenyum ketika bersamanya. Siapa yang menyangka jika dibalik senyum itu ia sedang menutupi lukanya. Meski Dila tidak mengatakan jika dirinya penyebab luka hatinya, namun dari jawabn Dila beberap menit yang lalu sudah bisa menjadi kepastian bahwa Ical adalah pria yang membuat gadis baik itu patah hati.
Kilas balik tentang kehidupannya. Mengejar seoramg wanita, berjanji untuk saling menunggu kemudian pergi hingga pada akhirnya lagi-lagi takdir *A*llah tidak sesuai rencananya. Ical pikir Nabila adalah wanita terbaik yang memang akan menajdi titik akhir pencapaiannya. Ternyata bukan dia. Dia memilih pria lain yang telah dijodohkan oleh keluarganya. Sakit, luka juga kecewa kini menjadi satu dalam bentuk sederhana yaitu patah hati. Berusaha kuat dan menjalani segala ketetapanNya juga tidak mudah seperti kalimat "Kamu harus Move-On" .
Diam termenung menatap langit malam yang semakin sunyi diterpa kegelapan. Semua sudah terlelap dalam mimpinya. Namun pria dengan segala kegundahan hatinya masih setia dibawah langit malam menyerahkan segala takdir yang akan ia terima kelak. Akan sperti apa dan bagaimana, Ical yakin Allah tidak akan pernah mempermainkannya dalam urusan Jodoh, rezeki, juga maut.
Harapannya kini adalah....
"*Semoga gadis soleha yang ia temui beberpaa jam yang lalu adalah jawaban atas doa-doanya selama ini"
Bersambung*....
Jangan lupa
like👍
komentar✍️
Love❤ (Biar pas aku up kamu dapat notifikasinya) 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
Thankiyuuuuu
🤩🤩🤩🤩🤩