
Satu bulan telah berlalu baik Dira maupun Bian masih setia dengan perasaan yang sama. Dira dengan perasaannya yang entah sampai kapan akan tertutup dengan rasa bersalah terhadap Bayu. Sedangkan Bian juga masih setia menunggu hingga waktu yang diminta Dira ada batasnya.
Sementara pria tampan berjalan dengan gagahnya menuju ruangannya. Paras rupawan itu sejak sebulan ini tidak pernah absen memerintahkan bibirnya untuk menggambarkan sebuah senyuman. Mengingat selalu bahwa wanita pujaan hatinya kini berada disampingnya dan telah sah menjadi istrinya. Dengan memandangi buku nikah yang baru saja Anita serahkan Bian sungguh merasa tak percaya. Namun kenyataannya kini Dira telah sah menjadi istrinya dimata Agama juga telah tercatat di Negara.
Namun senyum itu menghilang seketika. Ketika tangan lembut telah mendaray ditelinga Bian.
"Awwwww sakit" Teriak Bian melengking kearah wanita paruh baya yang masih terlihat cantik meski usinyanya tidak lagi muda.
"Mama" Ucap Bian kaget ternyata mamanya yang sedari tadi menjewer telinga Bian.
"Masih mau mengaku mama kamu Bi? " Ucap mama menahan emosi
"Mama jangan gitu donk"
"Mama jangan gitu donk" Ucap mama menirukan kalimat Bian.
"Masih untung mama jewer kamu"
Apa mau mama tambahin lagi.... "
"Iya ma.... Bian Akan menurut"
"Setelah itu kamu segera selesaikan permasalahan kamu"
"Ma.... "
"Mama jadi ragu sama kamu"
"Mama jangan sepertti itu. Bian Sedang berusaha untuk menyelesaikan semuanya. "
"cepat selesaikan" Ucap mama Riana tegas.
"Iya ma.. Bian Akan segera selesaikan"
"Apa perlu mama... "
Belum selesai Mama Riana menuntaskan kalimatnya Bian sudah memotongnya
"Biar Bian selesaikan sendiri ma" Ucap Bian segera, bukan Bian tak memerlukan bantuan. Tetapi Bian hanya tak ingin melibatkan Mamanya.
Kemudian Bian berjalan menuju kursi kebanggaanya. Bian telah larut dalam pekerjaannya setelah Ari membacakan jadwalnya hari ini. Sesekali Bian melirik kearah mamanya yang duduk manis di sofa ruanganya sambil membaca majalah.
"Kamu fokus aja kerja, tidak usah lirik-lirik Mama. "
Bian hanya menggelengkan kepalanya dan kemudian larut dalam pekerjaannya kembali. Hingga tak terasa jam makan siang telah tiba. Bian sejenak menghentikan kegiatannya bersamaan dengan pintu ruangannya terbuka.
Tampak seorang wanita dengan senyum terindah yang sudah sebulan ini menjadi pelepas lelah bagi Bian. Dira melangkah menghampiri Bian yang masih menunggunya di kursi kebanggaan. Saking Dira bahagia Dira tidak melihat jika didalam ruangan ini tidak hanya ada suaminya.
"Makan siang dulu kak" Dira masih terseyum yang membuat Bian luluh.
Ketika Dira akan memeluk Bian. Bian menahannya yang membuat Dira mematung. Pasalnya tidak pernah Bian menolak apapun Perlakuan Dira. Bian hanya mengalihkan lirikan matanya menuju sofa diamana sang mama berada. Dan Dira mengikuti arah ekor mata Bian. Dan betapa teekejutnya ternyata sedari tadi mama mertuanya telah menyaksikan anak dan mantunya berinteraksi.
__ADS_1
Mama Riana cukup lega melihat kedekatan yang terjalin antara Bian dan Dira. Meski masih terlihat jelas bahwa Dira masih sulit melupakan masa lalunya. Namun perlahan Dira akan mau membuka hatinya untuk Bian. Perlahan iya perlahan Dira akan terbuka dengan perasaannya.
"Mama..... " Dira berjalan menuju mama mertuanya yang sudah merentangkan tangannya bertanda akan memberikan pelukannya.
"Kamu sehat sayang" Tanya mama Riana ketika telah melepaskan pelukannya.
"Alhamdulillah.......
Dira sehat, mama gimana sehatkan ma?"
"Alhamdulilah mama sehat sayang. Gimana Bian tidak merepotkan kamu kan sayang?
Bian tidak buat kamu susah kan?"
Dira tersenyum menjawab kebawelan mama mertuanya. Kemudian berkata "Enggak kok ma, justru Dira yang merepotkan dan menyusahkan kak Bian"
"Oh itu harus sayang, kamu harus merepotkan dan menyusahkan Bian. Karena itu wajib hukumnya" Ucap mama Riana sambil mencubit pipi Dira gemas.
"Apaan si Ma" Protes Bian yang merasa diabaikan.
"Kita makan siang dulu yuk Ma. Kebetulan Dira masaknya banyak"
Akhirnya kami makan siang bersama namun sebelumnya kami menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim. Betapa bangga dan bahagianya seorang Akbar Fabian Caraka saat ini dirinya berdiri didepan dua wanita yang sangat dicintai didunia ini.
...πππππ...
Setelah makan siang bersama Mama Riana pulang. Dan terus memwanti-wanti Bian agar datang kerumah utama sepulang dari kantor. Sedangkan Dira kemabali pada rutinitasnya menjadi model untuk beberapa proyek yang ditangani oleh Caraka Group.
Senyum Selalu terpancar dibibir Dira ketika Dira menjalani pekerjaannya. Dira memang bukan model profesional namun semua pekerjaannya dia selesaikan dengan sangat profesinal. Semenjak Dira membantu menjadi model dibeberapa proyek yang dikerjakan Caraka Group tak jarang dari mereka yang menyatakan sangat puas dengan pekerjaan dari Caraka Group.
"Terimakasih Dira sudah membantu kami" Ucap Kak Mila kembali yang dengan senyuman indah pula.
"Mungkin ini proyek ku yang terakhir Ra" Ucap kak Mila rendah
"Lho Kak Mila Memangnya... " Belum selesai Dira berkata langsung dipotong oleh Mila.
"Aku sudah diizinkan untuk resign"
Dira tersenyum dan memeluk kak Mila. Sebagai bentuk dukungan apapun keputusan yang diambil olehnya.
"Oh Ya Ra ikut keruangan ku dulu yuk. Nanti aku antar kamu keruangan Bian." Ucap Kak Mila rendah agar tak terdengar.
Dirapun menyetujuinya dan banyak hal yang mereka ceritakan ketika menuju ruangan Kak Mila. Mulai dari rencana Mila setelah resign sampai rencana Mila mengajak liburan bareng. Hingga tak terasa telah sampai diruangan Kak Mila. Disana Mereka disambut oleh wanita yang usianya lebih muda dari mereka dengan senyum yang meneduhkan.
Sesat Dira dan wanita itu saling pandang. Seperi memikirkan sesuatu namun sulit untuk diartikan. Seperti tak asing namun siapa Dira lupa. Namun tidak dengan gadis dihadapannya justru dia mendekat dan meyapa
"Mbak Dira" Ucapnya dengan nada rendah
"Kamu.... " Ucap Dira terhenti karena Dira belum berhasil mengingat siapa gadis cantik dihadapannya ini.
"Saya Nabila Mbak"
__ADS_1
Mendengar namanya membuat Dira berfikir dan oh tidak. NABILA teriak Dira dalam hati. Dia adalah gadis yang membuat adiknya patah hati. Membuat adiknya tak bersemangat selama berhari -hari. Membuat adiknya hingga kini mengunci rapat hatinya untuk seorang wanita. Dan saat ini gadis ini berada didepannya. Ingin Dira mengabaikannya namun Dira juga sadar bahwa dirinya tidak berhak mengahakimi permasalahan seseorang.
"Nabila apa kabar? "
"Alhamdulillah baik Mbak"
"Sudah lama tidak bertemu kamu tambah cantik saja. "
"Mbak Dira juga semakin cantik. Emm... "
"Faisal juga baik kok kabarnya" Dira langsung menjawab akan pertanyaan yang tak berani Nabila tanyakan.
Melihat nama Faisal disebut membuat Nabila menunduk dan terlihat ada rasa bersalah yang bersarang dihatinya. Banyak hal yang harus Nabila jelaskan namun rasanya percumah. Nyatanya Faisal memang sudah memutuskan untuk mengikhlaskan semuanya.
"Sudah lama kerja disini? " Tanya Dira kembali untuk mengalihkan kecanggungan.
"Baru dua minggu ini Mbak"
"Em... sudah bertemu sama Faisal"
Tak ada jawaban yang keluar dari bibir Nabila. Justru raut muka yang sulit untuk ditebak yang ditunjukkan oleh Nabila.
"Nabila kamu tidak apa-apa? "
"Tidak mbak... kalau begitu Nabila lanjut kerja lagi ya Mbak"
"Baiklah semoga kamu betah kerja disini. "
"Iya mbak, Nabila pamit"
Dira hanya mengangguk dan kembali tersenyum mengantarkan kepergian Nabilla.
Melihat kesedihan yang sengaja ditutupi oleh gadis berparas ayu. Membuat Dira mengingat sang adik yang sampai detik ini belum bisa melupakan gadis pujaan hatinya yang baru saja berada dihadapannya. Ingin melakukan sesuatu untuk kedunya. Namun Dira juga ragu, pasalnya Dira juga belum tahu permsalahan mereka seperti apa yang sebenarnya. Yang Dira tahu Nabila meninggalkan Faisal karena ada yang ingin menghitbanya. Namun Dira juga tidak bisa menyalahkan begitu aja.
Saat ini Dira hanya berharap yang terbaik untuk keduanya. Apapun permsalahan mereka semoga mereka tidak menyelesaikannya dengan emosi.
.
.
.
.
.
Besambung
Like π
komentarπ
__ADS_1
β€ (biar pas aku up kamu dapat notifikasinya)
thankoyu