ADA KAMU SETELAH LUKA KEMARIN

ADA KAMU SETELAH LUKA KEMARIN
Melow Drama


__ADS_3

"Tuan semua sudah siap!"


"Tunggu sebentar lagi"


sambungan terputus kemudian Bian mendekati istrinya yang juga memperhatikannya melalui pantulan cermin. Tidak berniat untuk bertanya namun ekspresi wajahnya cukup jelas mengintimidasi Bian, agar ia menjelaskan.


"Kakak harus keluar kota, ada masalah dengan perusahaan"


Dira berbalik dan kemudian menatap suaminya yang sudah memasang wajah sendu. Tidak ada ucapan permintaan maaf, tetapi lewat sorot mata Bian bisa disimpulkan bahwa rasa bersalah pada sang istri kini menguar. Besok adalah hari dimana Bian dan Dira akan pergi berlibur, kemudian hari ini Bian harus keluar kota dan tidak tahu akan lama atau tidak.


"Sayang" ucap Bian sendu dan hanya mendapat helaaan nafas kasar dari sang istri.


Dira tidak marah, namun ekspresi wajahnya bisa disimpulkan jika dirinya sangat kecewa. Entah mengapa Dira sangat kecewa dengan janji Bian untuk berlibur tidak ditepati kali ini. Bian memang sering menjanjikan Dira untuk mengajaknya berlibur dan selalu gagal karena suatu keadaan. Dira bisa menerima dan mengerti jika memang suaminya sibuk. Tapi kali ini seolah rasa itu telah hilang.


"Selesaikan urusan kakak, baru setelah itu kakak berjanji lagi pada Dira!" suara Dira sangat lirih namun bisa disimpulkan bahwa gadis ini sedang marah.


"Ya Allah bukan begitu sayang, kakak.... "


"Kak, untuk menunggu hari besok, banyak hal yang sudah kita siapkan. Dira harus berulang kali menelan kekecewaan karena selalu gagal. Kakak sudah kerja lembur berhari-hari. Dan sekarang harus gagal lagi?"


"Bukan gagal, tapi kita menundanya sayang"


"Kakak sendiri nggak tahu kan, urusan kakak cepat selesai atau tidak?"


"Kakak akan usahakan semua cepat selesai"


"Dira ikut"


"Sayang.... "


Istrinya ini memang sangat keras kepala. Tapi Bian tidak pernah mendapati sifat istrinya yang satu ini. Entah kenapa, akhir-akhir ini Dira tampak aneh. Emosinya tidak stabil, sering ngambekan dan suka nangis sendiri. Mengahadapi sifat Dira yang tidak biasanya seperti ini membuat Bian cukup mengelurkan tenaga ekstra untuk menenangkannya.


"Dira mau ikut"


"Tapikan kamu harus kerja sayang"


"Tempatku bekerja, bukannya itu milik Kakak. Aku kan istrimu Kak"


Sejak kapan istrinya memanfaatkan kekuasaannya. Biasanya juga, Dira tidak pernah menganggap akan hal itu. Tapi kenapa hari ini dia seperti ini.


"Kamu kenapa?"


"Aku mau ikut kakak ke luar kota"


"Tapi disana nanti kakak akan sibuk sayang. Kakak nggak bisa sama kamu terus. Kamu akan terabaikan"


"Yang penting Dira bersama Kakak" ucapnya tidak lagi ketus dan berubah manja.


"Ya Allah Kenapa istriku ini" keluh Bian lirih sambil mencakup kedua pipi mulus milik istrinya yang sudah basah oleh air mata.


Selain menuruti keingan istrinya, tidak ada yang bisa Bian lakukan. Saat ini Bian memang tidak punya banyak waktu untuk membujuk sang istri. Entah apa sebabnya, kenapa emosi Dira sangat sulit ditebak akhir-akhir ini.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


"Loh, Mbak Dira ikut?"

__ADS_1


"Hem" jawab Bian sekenanya


"Kak Bian Nggak suka Dira ikut?" sela Dira dengan wajah ketusnya


"Allahuakbar" ucap Bian geram.


Sungguh ini benar-benar membuatnya bingung dengan perubahan sikap istrinya. Melihat eksprsei wajah Bian yang kesal, membuat Ari sang asisten hanya tersenyum mengejek yang membuat Bian semakin emosi.


"Untung cinta" ungkap Bian lirih dan mendapat lirikan sinis dari sang istri.


Hingga mobil milik Bian melaju, tak membuat mood Dira kembali. Ingin rasanya Bian mengabaikan, tapi Bian juga tak ingin membuat moodnya kembali rusak. Pasalnya tujuannya keluar kota akan menyelesaikan masalah. Jika moodnya sudah rusak bisa jadi pekerjaan akan terabaikan. Dengan segera Bian membujuk dan meminta Maaf.Namun tak semudah itu, meminta maaf pada wanita yang sedang sensitif. Tapi Bian tak ingin menyerah. Pokoknya sebelum sampai kota tujuan ia harus sudah bisa mengembalikan mood istrinya lagi.


"Kakak minta maaf ya" kalimat ia buat selembut mungkin.


Ari yang melihat bosnya sampai Segitunya merayu sang istri hanya tersenyum dan meremehkan. Dengan karyawan aja galak, giliran dengan istri takut kan lo. Ungkap Ari didalam hati. Kasian sih, tapi biarlah tuan bosnya ini merayu nyonya bosnya. Lumayan untuk hiburan diperjalanan.


"Kakak janji nggak gitu lagi. Kakak suka kok kalau Dira ikut. Malah kalau perlu ne ya, setiap hari Dira ikut kakak kerja. Biar kakak semangat" sambil tersenyum Bian mengatakannya.


"Beneran Dira boleh ikut?"


"Beneran.... "


"Janji"


"Janji" sambil Bian mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V Sambil nyengir.


Dira hanya menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan sang suami. Itu artinya Dira sudah tidak marah lagi. Dan Bian bernafas lega akhirnya usahanya berhasil. Meski bingung Bian mencoba untuk menahannya dulu. pekerjaannya sudah menunggunya. Bukan ingin mengabaikan, namun saat ini Bian memang harus lebih konsentrasi Pada pekerjaannya dulu agar cepat selesai. Agar rencana liburannya tidak gagal.


"Kak Dira pengen itu!" Sambil Dira menunjuk kearah luar kaca mobilnya.


"Kenapa Nggak Bo... "


"Boleh Kok, Boleh" ucap Bian segera. Tak ingin membuat istrinya merajuk lagi. Segera Bian minta Ari untuk menepikan mobilnya. Dan menyuruh Ari untuk membeli.


"Dira maunya Kakak yang beli"


Semakin dibuat bingung dengan tingkah Dira hari ini. Terpaksa Bian yang turun dan membeli gorengan yang diminta istrinya.


"Mbak Dira nggak kira-kira kalau ngerjain Tuan Muda" Ucap Ari ketika Bian sudah menjauh.


Dira hanya nyengir mendengar asisten suaminya memberikan pendapat. Dira memang lagi pengen diperhatikan Bian. Sedikit saja Bian mengabaikannya, dirinya sudah emosi, ngambekan. Jangankan Bain dirinya sendiri juga bingung dengan perubahan sikapnya.


"Tapi yakin Mbak, ngebiarin si Bos beli sendiri?" ucap Ari lagi


Dira hanya mengikuti arah mata Ari yang sedang menunjuk Bian. Benar saja, apa yang dia lihat membuat emosinya kembali memuncak. Bagaimana tidak?


Suaminya malah sibuk dikerumuni para wanita baik tua maupun muda. Dira langsung turun dan menghampiri suaminya.


Melihat tingkah Dira membuat Ari tertawa. Lucu, ia ini lucu sekali. Ia akan menyaksikan serial drama secara langsung.


.


.


.

__ADS_1


"Sayang, kok lama banget anak kamu udah nggak sabar pengen makan gorengan" ucap Dira menyita perhatian para wanita yang sedari tadi sibuk minta nomor HP lah, minta selfie lah, minta ini lah, itulah.


Dira kembali mengusap perutnya yang rata. Sungguh ia tak ingin siapapun menikmati ketampanan suaminya. Namun tak bisa dipungkiri kehadiran Dira, bisa membuat Bian senang. Bian bisa kabur dan mendekat kearah Dira berdiri. Bian melingkarkan tangannya dipinggang sang istri. Dan tangan yang satu lagi ia gunakan untuk mengusap perut Dira.


"Maaf ya sayang, Papa lama ya? Ini udah papa belikan" ucap Bian lembut membuat kecewa para wanita yang tadi memperebutkannya.


mereka berjalan dengan saling merangkul dan sesekali melempar canda. Meski Dira cemberut tapi Bian memperlakukannya dengan lembut dan mesra.


"Jangan Ngambek ya?"


"Seneng banget yang direbutin"


"Enggaklah....


Dapetin kamu itu susah sayang. Enggak mungkin kamu terkalahkan dengan mereka."


"Bener gitu?"


"He.. Um... "


"Enggak bohong?"


"Enggak.... " ucap Bian sambil mencubit gemas pipi milik Dira, yang membuat Dira tersenyum dan melingkarkan tanganya di pinggang Bian.


Akhirnya melow drama hari ini berkahir juga. Bian dan Ari bisa bernafas lega ketika Dira melahap habis gorengan yang tadi dibeli oleh Bian. Hingga Dira terlelap dalam pelukan Bian.


"Tuan ada yang aneh dari Mbak Dira?"


"Aku juga ngerasa gitu"


"Jangan... jangan.... "


.


.


.


.


Bersambung


Jangan... jangan... apa Hayo....


Kalian mikirnya apa?


Jangan lupa


LikeπŸ‘


komentar ✍️


love ❀ (Biar pas aku up kamu dapat notifikasinya)


Thankiyuuuuu

__ADS_1


__ADS_2