
Tiada yang bisa Bian ungkapkan Selain rasa syukurnya. Istrinya kini tengah mengandung buah hatinya. Terjawab sudah apa yang menjadi keresahan Bian beberapa minggu terkahir ini. Tanda garis dua membuatnya tak hentinya mengucap syukur. Memberi kabar pada orang-orang tercinta tak lupa ia kabarkan. Doa juga ucapan selamat silih berganti berdatangan untuk keduanya.
Semenjak Bian mengetahui jika Dira sedang mengandung benih cintanya. Bian semakin ekstra menjaga Dira. Bahkan Dira tidak diizinkan kemanapun tanpa dirinya. Bahkan jika bisa turun dari ranjangpun tidak Bian izinkan. Namun Dira tetaplah Dira. Wanita keras kepala yang kelewat mandiri. Meski dirinya telah diperlakukam bak ratu, tidak membuatnya aji mumpung. Dira lebih suka melakukan kegiatan didapur sendiri. Misal menyiapkan sarapan, makan siang, hingga makan malam Untuk suami tercinta ia lakukan sendiri. Melayani sang suami dengan baik adalah bukti jika dirinya memang mulai menerima Bian. Belajar menerima suaminya meski cinta belum sepenuhnya tumbuh. Bagaimanapun Bian adalah pria terbaik untuknya. Bian adalah satu-satunya pria yang mampu membuatnya takut akan kehilangan kembali. Dira bisa kuat menghadapi apapun karena Bian. Bian hadir disaat yang tepat ketika dirinya benar membutuhkan sandaran.
"Terimakasih telah bersedia hadirkan dia untukku" ucap Bian lembut pada Dira yang sedang bersandar dalam pelukan Bian.
"Allah hadirkan untuk kita Kak. Untuk melengkapi kebahagian kita. Terimakasih telah bersedia menjadi pendampingku"
"Allah jodohkan kita, sebabnya kita dipertemukan. Aku telah jatuh cinta padamu jauh sebelum kita bertemu"
"Kak.... "
"Ia...."
"Aku masih belum percaya jika aku akan menjadi mama dan kakak akan menjadi papa"
Bian hanya memeluk erat sang istri. Bahkan dirinya juga belum mempercayai jika memang ia akan menjadi orang tua. Ia pikir Dira tidak akan menerima dirinya. Namun ternyata perlahan cintanya mulai terbalas.
"Selamat ya kalian akan menjadi Mama dan Papa"
Kalimat singkat itu nyatanya sanggup membuat keduanya menitikan air mata. Kalimat singkat yang disampaikan Asyifa Kemaren masih jelas terngiang. Hingga detik inipun kedunya masih belum percaya dengan kalimat Syifa kemaren.
"Kak kenapa kakak nggak pernah bilang kalau selama ini kakak bertemu dengan Syifa?"
"Maaf soal itu...."
"Terimakasih"
"Untuk?"
"Asyifa itu wanita yang baik. Dulu waktu dia masih bekerja dikeluarga Bayu, dia yang membantuku untuk bertemu dengan mama Harum. Dia juga yang membantu menjaga Salwa. Asyifa itu anak yatim piatu, dia bekerja untuk memenuhi kebutuhannya dan kuliahnya"
"Asyifa juga yang membantu kakak mengungkap kejahatan Siska"
"Asyifa tahu semuanya?"
"Ia, dia selama ini diancam oleh Siska jika berani membuka mulut. Dia hanya punya adik didunia ini. Siska mengancam akan melukai adiknya jika dia berani bicara. Akhirnya Syifa pergi dari kota ini. Tapi ternyata Allah benar menunjukkan kebenarannya. Suatu hari Ari bertemu dengan Syifa dijalan sedang dikejar-kejar preman. Sejak pertemuan itu Ari mulai menyelidiki kenapa Syifa begitu ketakutan ketika bertemu dirinya. Dan pada akhirnya Syifa membuat pengakuan dengan jaminan keselamatan dirinya dan adiknya"
__ADS_1
"Siska!!!" Dira tampak menahan emosinya. Ketika nama itu disebut seolah emosinya semakin memuncak.
"Jangan dipikirkan semua telah berlalu. Kini kita fokus pada kehidupan kita selanjutnya ya"
"Salwa?"
"Kakak masih tetap berusaha mencarinya"
Tampak raut kesedihan terpancar dari wajah Dira. Salwa belum juga ada kabarnya. Setiap hari ia berusaha dan berdoa untuk mencari putri kecil yang lucu itu. Ketika dirinya teringat dengan gadis kecil itu, rasa bersalah itu mencuat begitu saja.
"Kita doakan terus ya sayang, semoga Salwa dalam keadaan baik-baik saja. Anak itu Anak yang kuat, kakak yakin dia baik-baik diluar sana"
"Bagaimana jika...."
"Jangan berfikir yang membuat dirimu sakit sayang. Fikirkan jika Salwa baik-baik saja"
Dira mengangguk dan semakin memeluk erat sang suami. Kehamilannya membuatnya semakin manja terhadap Bian. Entahlah kenapa rasanya tidak ingin jauh dari Bian.
...🍀🍀🍀🍀...
"Cantik ya Bos"
Bian hanya bergeming dan menatap kearah sang istri yang sedang bergelut dengan alat masak. Kecantikan memang sangat luar biasa ketika Dira berada didapur. Apalagi Dira selalu memasak, selalu dengan diirngi dengan sholawat dan juga senyum bahagia. Senyumnya sudah mampu melelehkan kerasnya hati Tuan muda.
"Cepat lamar Syifa makannya. Biar setiap pagi ada pemandangan seperti ini"
"Enggak enak banget lu bercandanya"
"Siapa yang bercanda, gue serius. Lo juga berhak bahagia kan?"
"Lo kenapa Bos, pagi-pagi udah melow gini"
"Gue juga pengen lo bahagia, lo sahabat terbaik gue.Gue nggak tahu kalau dihidup gue nggak ada Lo"
"Gue juga nggak tahu bagaimana nasib gue kalau tidak ada keluarga Caraka dihidup gue"
"Gue akan menajdi orang pertama yang bahagia jika lo bisa nemuin kebahagian lo juga"
__ADS_1
Ari hanya tersenyum menanggapi perkataan Bian. Sebagai Sahabat Bian memang sangat baik padanya. Mereka bukan hanya sekedar kenal dan berteman baik. Tapi mereka sudah seperti saudara kandung.
"Cepat buruan lamar dia, sebelum entar diambil orang"
Ari hanya berlalu menuju ruang tengah rumahnya. Perkataan Bian bukanlah angin lalu yang bisa ia abaikan begitu saja. Selama ini Ari memang telah mematrikan dirinya untuk mengabdikan diri pada keluarga Caraka. Ia rela tidak memikirkan kehidupan pribadinya, yang terpenting adalah Bian dan keluarga dalam keadaan baik-baik saja sudah cukup untuknya. Tapi entah mengapa Kehadiran Asyifa dihidupnya beberapa waktu ini membuat hidupnya lebih terisi. Tidak bisa ia pungkiri jika dirinya memang memiliki ketertarikan pada wanita manis bernama Asyifa Namira.
"Kak sarapan sudah siap" teriakan dari Dira menyentak lamunan Ari dan Bian ditempat berbeda.
Bian berjalan mendekati sang istri yang sedang berdiri di ruang makan menyambut kedatangan sang suami. senyuman Dira menjadi menu pembuka untuk Bian.
"Masak apa pagi ini sayang?"
"Nasi goreng" ucap Dira dengan penuh antusias.
"Wah enak banget nih kelihatannya"
"Ia dong, kakak lupa kalau Dira ini adiknya Mas Fadil Owner FDF caffe, cabangnya sudah dibeberapa kota."
"Iya kakak percaya, istri kakak ini jago masaknya. Membuat kakak semakin jatuh cinta deh" ucap Bian dengan genitnya.
"Hem iya deh, lupa kalau ada bujangan disini" ucap Ari tiba-tiba dengan wajah sewotnya. Yang membuat Dira dan juga Bian tersenyum dan semakin gencar menggoda Ari.
.
.
.
Jangan lupa
Like👍
komentar✍️
love ❤ (Biar pas aku up kamu dapat notifikasinya)
Makasih ❤❤❤
__ADS_1