
"Ma... " Rengaek Bian bak anak kecil bagaimanapun Bian merayu mamanya untuk tidak tinggal terpisah. Namun mama Riana tetaplah mama Riana keras kepala dan tak bisa diganggu gugat jika sudah membuat keputusan.
"Hanya tiga hari Bian" Ucap mama tegas.
"Ma...
Kami sudah menikah ngapain lagi pakek acara pisah rumah?
Dipingit segala?" Ucap Bian masih kekeh minta negosiasi kepada sang mama
Namun....
"No Bian...."
Jika jawabannya sudah NO itu artinya tidak. Dan jika mama Riana sudah membuat keputusan siapapun tidak akan bisa mengubahnya.
Sebenarnya tidak hanya Bian yang keberatan Dira pun demikian. Sebulan terbiasa tinggal bersama suaminya. Meski cinta belum tumbuh tapi Dira begitu menikmatai menjadi istri Bian. Namun Dira juga tidak berani membantah, Bian saja yang anak kandungnya tidak bisa mengubah keputusan Mama. Apalagi dirinya yang hanya menantu. Selain pasrah tak ada yang bisa Dira lakukan.
"Jangan kayak anak kecil deh Bi." Ucap mama sambil beranjak meninggalkan anak dan menantunya di Sofa. Namun sebelum mama Riana beranjak Mama Riana tampak berbisik ketelinganya Bian.
"Waktu kamu hanya tiga hari Bian." Tegas Mama Riana yang membuat Bian terbelalak. Dan kemudian mama Riana pergi meninggalkan mereka.
Setelah kepergian Mama Riana kini tinggalah Dira yang memasang wajah melas. Terlihat sekali jika Dira tidak ingin berpisah dari Bian meski itu hanya tiga hari.
"Kak.... " Dira terlihat sendu dengan bibir mengerucut.
Ya ampun Kenapa dia seperti ini sih. Kenapa dia tampak menggemaskan. Ya Allah kalau begini caranya bagaimana bisa aku berpisah dari kamu Ra. Ucap batin Bian.
"Hanya tiga hari... "
Dira menggeleng tampak raut wajah cemas, takut, khawatir tergambar jelas disana.
"Aku pasti akan datang dihari pernikahan kita" Ucap Bian lembut dan mencakup kedua pipi Dira.
"Janji?? "
"Aku janji dan kamu tahu, jika seorang Akbar Fabian Caraka berjanji tidak akan pernah ingkar"
"Kak aku tidak ingin apapun didunia ini. Aku hanya ingin Kak Bian ada selalu disampingku."
"Aku janji" Ucap Bian lembut membelai pipi mulus Dira yang telah dipenuhi dengan air mata.
Rasa takut hingga khawatir kini carut marut dikepala Dira. Dira pernah mengalami kegagalan sekali. Dan masih tergambar jelas bagaimana gagalnya pernikahan yang hanya tinggal hitungan jam. Lelaki yang berjanji akan menjabat tangan ayahnya dan berjanji akan bertanggung jawab atas dirinya pergi tepat dihari pernikahannya.
Bahkan hingga detik ini Dira masih belum bisa melupakan sepenuhnya kejadian itu. Namun pria yang kini ada dihadapannya ini. Dengan sabar dan tulus untuk menikahinya. Mengambil alih tanggung jawab sang Ayah atas dirinya. Memberi tanpa menghiraukan balasan.
Sungguh keegoisan yang sangat tidak adil untuk Bian. Berulang kali Dira mencoba untuk melupakan Bayu berkali juga luka itu semakin terasa nyeri. Memaksa bukanlah cara yang tepat untuk mengakhiri lukanya.
__ADS_1
Bian memilih untuk memberi tanpa mengharap balasan meski sangat ingin. Melihat Dira selalu tersenyum dan tertawa ketika berada disampingnya sudah lebih dari cukup untuk Bian. Diizinkan untuk menjadi imannya dan bisa selalu melindungi juga hal sangat membahagiakan untuk Bian. Dan perlahan Bian yakin Dira akan menerima dan memberikan ruang untuk Bian tinggal dihati Dira.
"Jangan nangis lagi ya...
Kita hanya pisah rumahkan?" Ucap Bian sambil tersenyum dan menghapus sisa air mata yang masih senantiasa mengalir deras dipipi mulus milik Dira.
Dira tenggelam dalam dekapan dan menyandarkan kepalanya didada bidang milik suaminya.
Nyaman....
Begitulah deskripsi yang bisa digambarkan untuk saat ini. Apakah kata nyaman yang Dira miliki bisa dikatakan jika Dira telah memiliki perasaan cinta untuk Bian?
Entahlah bagaimana?
Meski berat Bian harus tetap pergi dari rumah utama.
Dipingit?
Bukan.... Bukan....
Bukan itu alasan sebenarnya mengapa mereka harus dipisah rumah. Mama Riana sengaja melakukan ini agar Bian segera menyelesaikan masalahnya dengan wanita ular itu. Jika Dira berada dirumah utama maka Bian akan sangat leluasa untuk menjalankan rencananya.
Sebenarnya Bian masih ingin bermain -main dengan wanita gila itu. Namun sepertinya sang mama sudah tidak sabar. Maka mau tidak mau Bian harus segera menyelesaikannya.
Flasback on
"Mama mau Bicara Bi"
Didalam ruangan itu Mamanya memberikan sebuah benda persegi panjang berbentuk balok berwarna hitam.
"Apa ini Ma?"
"Gunakan itu untuk menyelsaikan masalah dengan wanita gila itu"
Meski Bingung Bian menerima dan langsung membuka file melalui Handponenya. Sesaat Bian sangat terkejut dengan apa yang ia lihat.
"Ma... " Tampak Bian ingin protes namun mamanya menggeleng itu menandakan jika tidak ada penolakan.
"Itu kelemahan wanita licik itu Bi"Ucap Mama Riana dengan sorot mata yang menahan emosi.
"Tapi Ma...
Bian tidak ingin melakukan hal ini. Ini bahaya Ma"
"Apa yang dilakukan wanita gila itu lebih berbahaya Bian. "
"Tapi... "
__ADS_1
"Menghadapi wanita licik harus dengan cara yang licik juga Bian"
"Ma....
Bian punya cara sendiri untuk menyelesaikannya" Ucap Bian dingin dan meninggalkan ruangan Mama Riana.
Namun langkahnya terhenti ketika Mama Riana berkata "Apa kamu menunggu sampai Dira menjadi korban?"
"Ma seujung kuku pun tidak akan Bian biarkan siapapun menyentuh Dira termasuk wanita gila itu" Ucap Bian sambil berlalu dan meninggalkan mamanya.
Mama Riana tahu Bian Akan melakukan apa saja untuk melindungi orang-orang yang sangat Bian cintai. Mama Riana juga sangat paham jika Bian akan segera menyelsaikan masalahnya jika dalam tekanan.
Bian ternyata kamu sudah sedewasa ini. Mama tidak menyangka kamu tumbuh dewasa begitu cepat. Kamu yang dulu mama gendong dan selalu membuat mama khawatir. Kini kamu malah menjadi pelindung keluarga. Ucap batin mama Riana mengagumi sosok putranya yang kini telah dewasa. Dan sudah memiliki seorang istri.
Flasback Off
Terpaksa meninggalkan sang istri bersama sang mama. Dan saatnya Bian beraksi untuk menyelesaikan sesuatu. Waktunya hanya tiga hari. Dan Bian juga berjanji kepada sang Mama jika dalam tiga hari dia akan sanggup menyelesaikannya. Belum lagi janjinya pada sang istri jika dia pastikan akan datang dihari resepsi pernikahan mereka.
Bian menekan beberapa tombol dibenda pipih miliknya dan tampak menghubungi seseorang
"Temui aku di FDF Caffe"
Sambungan terputus dan segera menembus jalanan kota yang masih berlalu lalang. Tak butuh waktu lama Bian sudah sampai dipelataran FDF Caffe.
Disebuah meja telah hadir beberapa orang yang telah Bian hubungi. Meraka tak lain adalah Ari sang asisten dan juga Mas Fadil dan juga Ical.
Tampak senyum sebagai sambutan atas kedatangan Bian yang tadi secara tiba -tiba mengumpulkan mereka. Ada suatu hal yang harus dibicarakan.
.
.
.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa
like π
komentarnyaπ
β€ (Biar pas aku up kamu dapat notifikasinya oke)
__ADS_1
Thankiyuuu
ππππππ