
Semenjak Siska semakin merajarela dan bisa kapan saja membahayakan Dira. Bian kini selalu siaga untuk menjaganya. Bahkan kini Bian mengerahkan anak buahnya untuk mebjaga Dira juga seluruh keluarganya termasuk keluarga Dira. Karena Bian tidak ingin mengambil resiko apapun.
Mengantar Dira kesekolah untuk mengajar adalah rutinitas wajib yang dilakukan Bian sebelum Kekantor. Sesibuk apapun dirinya selalu menyempatkan waktu untuk mengantar Dira.
"Ra... Ingat ya jangan kemana -kemana tanpa aku atau Ari" Ucap Bian sebelum Dira turun dari mobil.
"Sama Ical dan Mas Fadil juga ngak boleh? " Jawab Dira polos
"Boleh... Tapi orang -orangku akan tetap mengawasi" Jawab Bian tegas
"Kak.... "
"Dengan pengawasan atau tidak usah kemana-mana"
"Iya.... " Ucap Dira malas
Kenapa menjadi istri seorang Akbar Fabian Caraka begitu menakutkan. Kemana-mana harus dikawal. Memangnya apa yang dilakukan kak Bian sampai saingan bisnisnya sampai menjadi ancaman. Batin Dira ingin protes namun ia sudah tahu juga akan Percumah.
"Kami pakai ini... "
Bian menyodorkan sebuah benda pipih keluaran terbaru dari merek dan type hanya orang -orang tertentu yang bisa membelinya.
Bahkan Dira ragu untuk menerimanya.
"Kak.... ini... "
"Pakailah, Kamu butuh ini kan?"
"Kak Inikan...... " Ucap Dira terhenti
"Kamu lupa suamimu ini siapa? " Ucap Bian yang membuat Dira kesal dan langsung Ingij keluar dari mobil. Namun masih bisa dicegah oleh Bian.
"Sebaiknya kamu jangan dulu sering-sering Kekantor.... "
Kalimat Bian yang mampu mengurungkan niat Dira untuk segera turun. "Aku hanya ingin memastikan makan siang kakak saja. "
"Tidak perlu Dira....
Nanti semua orang akan curiga dan kamu tahu kan?
Itu akan sangat berbahaya untukmu... "
"Kak.... Aku hanya ingin memastikan makan siang kakak. "
"Ada Ari dan Anita yang bisa mengaturnya"
"Aku yang istrimu bukan mereka..." Ucap Dira tak mau kalah.
"Tapi ini akan...."
"Kak aku belum bisa menjadi istri yang seutuhnya untukmu. Izinkan aku melakukan hal baik lainnya untukmu. Aku hanya ingin memastikan makananmu sehat. Termasuk makan siang kakak." Ucap Dira rendah namun masih menyimpan amarah.
"Akan aku pikirkan bagaimana caranya biar kamu bisa terus Kekantor tanpa ada yang curiga"
"Benarkah... " Kini senyum dibibir Dira merekah. Dan ini yang membuat Bian luluh.
"Iya... " Ucap Bian dingin namun sebenarnya Dia sangat bahagia melihat senyum indah itu mengembang dibibir milik istrinya.
Cup.....
satu kecupan dipipi yang di berikan Dira membuat Bian hanya bisa diam mematung.
"Assalamualaikum Kakak...."
__ADS_1
"Walaikumsalam... " Ucap Bian masih jelas terasa kecupan yang diberikan istrinya.
Masih belum beranjak Bian dari parkiran sekolah dimana Dira mengajar. Terdengar suara ketukan dibaca jendela Mobilnya.
Tuk... Tuk... Tuk.
Buan menurunkan kaca mobilnya dan betapa teekejutnya ketika yang dilihatnya adalah istrinya.
"Ada apa lagi? "
"Terimakasih Handponenya aku suka.... " Ucap Dira dengan senyum mengembang dan menampakkan giginyanya yang rata dan putih bersih.
"Hemmmmm" Ucap Bian sambil menahan senyumnya. Bian melajukan mobilnya dan meninggalkan Dira yang masih berdiri memandangi punggung mobil miliknya.
Melihat tingkah Dira membuat Bian semakin gemas. Memang unik itu cewek... sebentar nangis, Sebentar tersenyum, sebenyar maraj dan sebenyar keras kepala. Tapi aku semakin jatuh cinta padanya.
"Ya Allah izinkan hamba memiliki hatinya. " Doa yang selalu dan selalu Bian panjatkan.
...πππππ...
"Tolonggggggg...... "
Suara teriakan seorang ibu -ibu terdengar nyaring ditelinga Dira. Pasalnya saat ini Dira sedang berdiri didekat gerbang sekolah dimana dirinya mengajar. Dira melirik kesamping dan ternyata ada seorang ibu korban penjabretan.
Jiwa pahlawan meronta -ronta. Meski saat ini Dira sedang memakai pakaian yang sangat -sangat susah untuk bergerak. Namun rasa ingin menolongnya lebih besar.
Dira berlari dan segera menarik bahu Preman kebelakang hingga Preman tersebut terjungkal.
Dan ini Sungguh membuat preman naik darah. Dia sudah siap untuk perlawanannya. Namyn dengan sigap Dira menangkisnya. Dira masih sedikit mengingat bagaimana gerakan -gerakan ilmu bela dirinya.
Sebenarnya akan dengan mudah mengalahkannya Namun berhubung pakaian Dira yang tak leluasa membuatnya sedikit kewalahan. Dan sepertinya Dira sedikit kehabisan tenaga dan ketika lawan akan melayangkan pelukannya ternyata....
Bugh.....
Preman tersebut lebih dulu tersungkur kelantai. Dan terjadi baku hantam antara preman dan seorang pria tampan yang menjadi pahlawan Dira. Siapa dia.....
Tidak butuh waktu yang lama lawan sudh dilumpuhkan dan membuatnya lari tunggang langgang.
"Kakak ngak apa -apa? " Tanya Dira ketika Bian telah berhasil mengalahkan Preman.
"Kamu yang gimana? Ada yang luka? " Ucap Bian mengabaikan rasa sakit yang tadi sempat terkena pukulan. Justru Bian menghawatirkan keadaan Dira.
"Dira ngak apa-apa"
"Lain kali jangan seperti ini...." Ucap Bian masih dengan nada khawatir.
"Dira hanya ingin menolong ibu ini... "
"Tapi...." belum selesai Bian menjawab sudah terdengar suara ibu -ibu yang tadi ditolong
"Terimakasih ya Mbak.... Mas sudah menolong saya. Karena Didalam tas ini ada uang untuk menebus obat anak saya" Ucap Ibu tersebut dengan mata sudah berkaca-kaca.
"Obat.... " Ucap Dira dan Bian bersamaan.
"Iya Mas... Mbak... "
"Kalau boleh tahu anaknya sakit apa Bu? " Kali ini Dira yang menjawab dan mendekat kearah ibu tersebut.
"Kelainan jantung mbak... "
"Astafirullahalazim.... "
"Anak ibu sekarang ada dimana bu? "
__ADS_1
"Dirumah mas"
"Boleh kami mampir kerumah ibu? "
Ucapan Bian membuat dia orang wanita yang sedang berkaca-kaca terkejut.
"Bo... Boleh... Mas.... "
"Baik sekalian saya antarkan ibu" Bian mempersilahkan istri dan Ibu tersebut menuju Mobilnya. Awalnya mereka janjian untuk makan siang diluar. Karena Bian belum menemukan cara untuk Dira bisa leluasa ke Caraka Group tanpa ada yang curiga.
...πππππ...
"Kak.... "
"Hemm"
"Kasian Bu Aminah dan anaknya ya...
Hanya tinggal berdua, anaknya lagi sakit, bu Aminah harus berjuang sendiri untuk membiayai pengobatan anaknya dan juga kebutuhan sehari-harinya. "
"Iya...
Itu sebabnya kita harus bersyukur.
Dibalik kesulitan yang kita miliki ternyata masih banyak orang yang lebih kesulitan dibanding kita. "
"Iya kak... "
"Sudah jangan sedih... nanti kakak suruh Ari untuk memberikan pekerjaan pada bu Aminah agar dia tidak perlu repot kerja serabutan. Dan juga memberikan tempat tinggal yang layak untuk mereka. "
"Terimakasih kak" Dira tersenyum bahagia dan dia memeluk Bian.
"Kaka lagi nyetir ini.. "
Dira hanya mendongak dan menampakan jajaran giginya yang rata dan putih bersih denga polosnya.
"Udah sana... " Ucap Bian tak ingin ia lepas kontrol.
"Ih kakak.... " Dira mengerucutkan bibirnya.
"Jangan cemberut seperti itu... "
Seketika Dira menyibukkan bibirnya. Kesal karena sikap manja dan manisnya tak disambut dengan baik oleh suaminya. Mungkin Dira sudah mulai Ingun membuka hatinya perlahan. Namun sepertinya Bian tak peka.
"Kalau masih mau meminta waktu jangan berbuat yang bisa membuatku lepas kendali" Ucap Bian masih fokus nyetir.
Alih-alih mendengarkan suaminya Dira memilih untuk mengedarkan pandangannya kejalanan yang sudah mulai ramai. Kendaraan berlalu lalang kini nyatanya lebih membuatnya bisa menikmati pergantian siang menjadi sore dan sebentar akan menjadi malam.
.
.
.
.
Bersambung.......
likeπ
komentarπ
β€ (Biar pas kau up kamu dapat notifikasinya)
__ADS_1
thankiyuuuuu
ππππππππππ