
Cuaca kota Semarang siang ini cukup terik. Meski demikian Bian tetap harus turun ke lapangan untuk ngecek langsung proyek. Setelah memastikan keadaan istrinya aman, tak lupa mengecup kening dan mengusap lembut kepala Dira, Bian segera bergegas turun ke loby karena Ari telah menunggu.
"Mbak Dira belum bangun Pak?"
"Belum"
"Apa tidak apa, kalau kita tinggal?"
"Aku sudah meninggalkan pesan untuknya. Aku juga tidak tega membangunkannya. Sedangkan kita memang harus segera menyelesaikan ini kan?"
Ari hanya mengangguk dan segera melangkah mengikuti Tuan mudanya. Sebenarnya Bian tidak tega jika harus meninggalkan Dira seorang diri begini. Dengan penjagaan yang sudah diatur dengan Bian, membuatnya lebih tenang meninggalkan sang istri.
Bian dengan segala rutinitasnya. Benar saja proyek yang sedang ia kerjakan mengalami masalah. Seharian ini Bian benar-benar dibuat sibuk mengurus segalanya. Hingga sang istri yang ia tinggalkan di Hotel juga masih asik dengan dunianya. Sesekali Bian melihat ponsel yang sedari tadi lepas dari genggaman sekedar mengecek apakah istrinya baik-baik saja. Perkataan Ari dimobil tadi membuatnya terus terngiang. Benarkah? atau ini....
"Pak permasalahannya sudah ketemu?" ucap Ari sembari memberikan sebuah benda pipih yang sedari tadi juga tak luput dari pantauan Ari.
Bian hanya memperhatikan dengan Seksama hasil penelusuran Ari. Ia pikir klayennya yang berulah, tapi ternyata bukan. Justru ada pihak lain lagi yang sengaja mengadu domba. Persaingan di dunia bisnis memang sangat kejam. Namun Bian selalu bisa menaklukkan hanya dengan waktu yang singkat. Ari adalah asistennya yang sangat handal. Apapun masalah yang dihadapi Bian Ari selalu bisa mengatasinya.
Bian masih fokus dengan pekerjaannya. Sesekali Bian mengecek keadaan istrinya melalui orang kepercayaan, untuk memastikan bahwa istrinya baik-baik saja. Pekerjaannya benar-benar membuatnya menguras energi. Fokus Bian kini pada berkas yang sudah membuatnya mengabaikan sang istri.
Namun konsentrasinya terpecah manakala Bian mendapat telpon dari orang kepercayaannya yang mengabarkan jika istrinya tidak ada di Hotel. Saat itu juga Bian langsung bergegas meninggalkan pekerjaannya yang harus ia selesaikan. Wajah paniknya membuktikan bahwa Bian begitu khawatir. Ia berfikir kalau istrinya diculik oleh salah satu saingan bisnisnya. Ini kecerobohannya, harusnya ia tidak meninggalkan istrinya begitu saja. Harusnya... harusnya... dan harusnya.... semua ini tidak terjadi.
Langkahnya menderu ketika Bian sampai diloby hotel. Tujuannya adalah ruang sisi tv di hotel tersebut. Ia ingin memastikan kemana arah istrinya pergi. Emosinya memuncak ketika ia menemui siapapun yang berada dihotel. Bahkan ia ingin mencabut izin operasional hotel, jika istrinya tidak ditemukan dan terjadi hal buruk.
"Aku mau kalian semua cari istriku sampai ketemu!" perintah Bian pada orang-orang kepercayaannya.
Sedang Ari berusaha memantau melalui GPS, namun tidak mendapat titik temu. Sebab terakhir lokasi Dira adalah di hotel ini. Setelah dicek ternyata handpone Dira memang tertingal di kamar hotel.
"Kamu kemana Sayang?" ucap Bian dengan lirih menujukkan betapa frustasinya Bian menghawatirkan istrinya yang tidak diketahui keberadaannya.
...🍀🍀🍀🍀...
Sementara Bian sedang panik dengan keberadaan istrinya yang tak tau dimana. Sedang istrinya lagi duduk santai di menikmati bakso mercon Mas Ganteng. Seolah tanpa beban dan tanpa rasa bersalah Dira begitu menikmati makanannya. Dira tidak jika suaminya hampir mati mencarinya.
"Mas berapa?" tanya Dira ketika dirinya sudah menyelesaikan dua mangkuk bakso dan segelas es jeruk sekaligus.
" Rp. 50.000 Mbak"
"Oke" ucap Dira sembari tersenyum.
Namun senyumnya menghilang ketika Dira menyadari jika dirinya tidak membawa sepeserpun uang. Bahkan handpone juga dia tidak membawanya.
__ADS_1
"Maaf mas, saya tidak bawa dompet dan juga handpone. semua tertinggal dihotel tempat saya menginap. Apa saya bisa ambil dulu uangnya?"
"Sebenarnya mbak punya uang tidak? kalau tidak punya uang jangan makan bakso disini dong" ucap pelayan dengan kasar.
"Saya punya uang mas"
"Pembeli seperti mbak ini sudah banyak. Pakaian branded, ngaku orang kaya, tapi miskin"
"Saya memang tidak kaya mas, tapi saya punya uang kok untuk membayar makanan saya"
"Halah banyak alasan, miskin, ya miskin aja mbak"
"Saya memang orang miskin mas, tapi mas tidak perlu menyebutnya berulang-ulang dan keras seperti itu" ucap Dira dengan matanya yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Ada apa ini?" seorang datang dengan setelan jas rapi kemudian memperhatikan wajah Dira yang terlihat ketakutan dan sedih.
"Mbak ini sudah makan tapi tidak mau bayar" ucap pelayan
"Loh mbak Dira kan?"
"Kamu.... "
"Oh iya, maaf"
"Iya tidak apa-apa mbak, mbak kok ada disini? sendiri?"
"Mbak sama suami, tapi dia lagi kerja. Mbak bosan di hotel sendiri. Iseng keluar, eh malah lupa enggak bawa tas"
"O... ya udah Mas, tagihan mbak ini masukin ke saya saja"
"Eh tapi.... "
"Mbak saya ini adik Mbak juga kan?"
"Terimaksih ya? nanti mbak ganti"
"Jangan terlalu dipikirkan"
Dira hanya tersenyum menanggapi Gibran. Sebenarnya Dira sungkan, tapi mau bagaimana lagi dirinya memang sangat membutuhkan. Dira masih merutuki dirinya sendiri yang bertindak ceroboh.
"Suami mbak Dira tahu mbak disini?"
__ADS_1
Dira tersentak dengan ucapan Gibran. Barulah dirinya teringat, jika dirinya memang belum memberikan kabar pada suaminya.
"Mbak mau ngabarin suami Mbak Dira?" tanya Gibran seolah tahu apa yang menjadi keresahan hati Dira.
"Boleh Mbak pinjam ponsel mu?"
"Silahkan Mbak"
Gibran menyerahkan benda pipih pada Dira.
Setelah Dira menerimanya bukan panggilan yang tersambung. Justru dirinya malah terlihat semakin kebingungan.
"Kenapa?"
Dira hanya tersenyum kikuk dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Mbak Ngak hafal nomor suami mbak?" tebak Gibran
Dira hanya mengangguk dan hanya mendapat helaan nafas berat dari Gibran.
"Ya Salam.... "
.
.
.
.
Bersambung.....
Jangan lupa
Like👍
komentar✍️
love ❤ (Biar pas aku up kamu dapat notifikasinya)
Makasih ❤❤❤
__ADS_1