
Meski waktu telah berganti dan telah melewati banyak cerita kehidupan, baik Dira maupun Bian tidak pernah menyangka jika mereka mampu melewati masa itu. Banyak hal yang harus mereka lalui untuk berada dititik ini. Pria yang ada disamping Dira ini adalah pria terhebat yang dimiliki Dira. Pria yang menjadi suaminya ini adalah pria yang luar biasa. Terkadang Dira merasa dirinya tak pantas mendampingi pria hebat ini. Tapi jika untuk hidup tanpanya Dira juga tak akan sanggup. Egois bukan?
Iya....
Dari awal pernikahannya Dira memang sangat egois. Dirinya mengikat Bian, sementara Bian masih harus menunggu. Hingga keadaan itu berubah. Dira sadar bahwa pria ini adalah benar cinta yang selama ini ia tunggu. Memilih untuk menerima dan menjalani semua dengan apa yang telah disekenariokan oleh sang pemilik kehidupan ternyata lebih ringan. Dira mendapat banyak kebahagiaan. Diberi suami yang luar biasa baik. Diberi Putra dan Putri yang masya allah taat akan agama. Maka tidak ada nikmat yang bisa ia dustakan.
Senyum juga kebahagiaan kini terpancar dari raut wajah Dira dan Bian. Bahkan semua keluarga dan juga sahabat yang berada disana juga larut dalam kisah perjalanan cinta Bian dan Dira. lebih mirip dengan cerita dinovel-novel sih. Namun ini realitanya, ini kisah cinta dua anak manusia yang berliku dan berujung bahagia.
"Mama" suara anak kecil berusia 5 tahun itu membuyarkan uvoria sang Dirs yang sedang mengenang kisah cintanya
"Iya sayang"
"Juna mau ice cream itu" suaranya dibuat seimut mungkin membuat Dira tak kuasa untuk menolaknya.
"Mbak Mita, anterin adiknya beli ice cream Nak" suara Dira selalu lembut yang membuat anak-anaknya tidak pernah berkata tidak untuk setiap apapun bantuan yang dimintanya.
"Iya Ma"
Mita dan Juna bergandengan tangan menuju offlet ice cream yang berada disebrang FDF caffe. Suasana offlet memang sangat ramai sehingga Mita dan Juna harus menunggu beberapa saat. Mita yang terlalu fokus pada antrean membuatnya tak terlalu memperhatikan sang adik. Dan Juna yang merasa bosan, diam-diam ia ingin kembali ke FDF Caffe tanpa sepengetahuan Mita.
Kendaraan berlalu lalang disertai terik matahari yang begitu menyengat. Tanpa menghiraukan kendaraan dijalan raya, Juna jalan begitu saja. Dan....
"Ya Allah Juna.... " teriak Dira dari dalam caffe yang hanya berskat kaca.
Dira langsung berlari keluar dan dikuti oleh Bian yang juga terkejut mendengar Dira berteriak dan berlari. Jantung Dira sudah bergemuruh apapun tak ia hiraukan. Di dalam benaknya Ia harus segera menyelamatkan sang putra yang sedang berjalan dengan santainya dijalan raya hingga ke tengah-tengah. Hingga ada sebuah kendaraan dari arah depan dengan kecepatan tinggi.
"Junaaaaaaa" teriakan Dira semakin histeris ketika dirinya tak sempat menyelamatkan sang putra.
Dira masih terpaku ketika kendaraan itu melaju dengam kecepatan tinggi. Kakinya lemah, seperti tak memiliki aliran darah lagi. Tangannya gemetar melihat kenyataan yang tak ia harapkan. Dimana putranya, bagaimana keadaannya. Bian menarik lengannya, memeluknya, memberikannya ketenangan.
Tangisnya pecah dalam dekapan Bian. Baru saja dirinya merasa wanita paling bahagia didunia, namun kenapa kembali lagi semua tentang kehilangan. KEHILANGAN?
Tidak....
Harusnya ini mimpi, harusnya ia segera bangun. Putra bungsunay masih ada, Arjuna Qias Caraka masih ada. Berulang kali Dira menepuk pipinya, namun semua rasanya sama, nyeri.
.
__ADS_1
.
.
.
"Mama.... " suara anak kecil berusia 5 tahun yang sangat Dira kenali mematahkan segala asumsinya.
Suaranya begitu dekat, bahkan tangan mungilnya yang menarik gamisnya sangat begitu nyata. Benarkah?
Dira mencoba membuka mata mengedarkan pandangan kearah anak kecil yang sudah berada disampingnya. Wajah takutnya dan sisa airmatanya masih ada disana. Wajah pucatnya membuat Dira tersadar putra bungsunya masih selamat.
Dira berjongkok menjajari sang putra. Ia usap kepalanya, ia cakup kedua pipi cubynya. Ia usap sisa airmata yang belum sempurna menghilang. Ia rengkuh tubuh gempal dengan rasa yang campur aduk. Semakin erat pelukan yang ia berikan, maka semakin dirinya merasa semua benar nyata adanya.
"Juna takut Ma" ucap bocah kecil itu ketika dalam pelukan sang Mama.
"Jangan takut sayang, ada Mama" ucap Dira menguatkan sang Putra.
Tangisnya belum sempurna menghilang. Namun wajahnya sudah tidak sepucat sebelumnya. Keadaan juga lebih tenang dalam pelukan Dira.
Dira mendongak, memperhatikan gadis cantik yang baru saja dibicarakan oleh putranya. Gadis itu menyunggingkan senyumnya. Seketika Dira terpana dengan sikap gadis cantik yang ada dihadapannya. Gadis itu ikut berjongkok menjajari Dira.
Pandangan Dira tak beralih sedikitpun dari gadis berparas ayu memakai jilbab warna cream. longdress warna hitam dipadukan dengan rok plisket warna senada dengan hijab membuat penampilan gadis ini terlihat seperti Dira waktu seusia gadis ini. Matanya dan juga senyumnya seperti tidak asing di penglihatan Dira.
"Tante jangan nangis lagi" ucapnya lembut dengan tersenyum
"Terimakasih sudah menyelamatkan anak kami Nak. Katakan apapun yang kamu mau kami pasti akan kabulkan" ucap Dira tak kalah lembut dengan gadis itu.
Gadis itu menggeleng dan tersenyum kembali. Pandangannya tak beralih sedikit pun dari Dira. Ia menatap Dira begitu lekat. Seperti menggambarkan wajah wanita paruh baya yang ada dihadapnnya. Menyimpannya rapat tepat direlung hatinya yang paling dalam.
"Saya hanya minta satu hal Tante" ucap gadis muda itu tenang namun penuh dengan sebuah harapan.
"Apa itu, katakan....
Jika kami bisa wujudkan, kami akan wujudkan"
"Boleh saya memeluk Tante?"
__ADS_1
Permintaan gadis itu tidaklah berat. Namun dari permintaan itu kenapa membuat hati Dira seolah pilu. Kenapa bayangan Salwa selalu berada di pandangannya. Mungkinkah anak kecil itu sedang merindukan dirinya saat ini.
"Boleh Nak"
Dira memeluk gadis cantik itu dengan penuh kasih sayang. Begitupun gadis itu. Ketika gadis cantik ini dalam pelukannya kenapa Dira merasa ada sesuatu yang aneh menjalar di hatinya. Seperi rindu yang telah lama terpendam. Seperti hati yang baru saja kembali. Kenapa Dira merasa sedang memeluk gadis kecil yang telah lama hilang dan belum diketahui keberadaannya hingga kini.
"Maaf Tante, kalau permintaan Naura berlebihan"
Kenapa ada rasa kecewa dihati Dira ketika gadis cantik ini menyebutkan namanya. Kenapa Dira berharap bahwa nama gadis ini adalah Salwa putrinya yang hilang.
"Enggak apa-apa sayang"
"Naura sudah lama tidak merasakan hangatnya pekukan seorang ibu Tante" ucapnya sendu, sekali lagi membuat hati Dira semakin tersayat.
Dira hanya Diam dan semakin mengeratkan pelukannya. Rasa itu semakin membuatnya sakit ketika gadis itu mengatakan kerindunnya terhadap seorang ibu. Ingin bertanya lebih jauh namun Dira merasa dirinya tidak ingin membuat gadis itu semakin jauh terluka.
"Terimakasih, sudah memberi Naura kesemoatan merasakan pelukan seorang ibu walau itu hanya sebentar" ucapnya ketika ia telah menarik dirinya.
.
.
.
.
Bersambung
Jangan lupa
Like👍
komentar✍️
love ❤ (Biar pas aku up kamu dapat notifikasinya)
Makasih ❤❤❤
__ADS_1