
"Apa Rencanamu Ri? "
"Untuk saat ini saya masih menyelidiki gerak geriknya. Bukti yang kita punya masih belum cukup untuk membuat wanita itu mengaku"
"Kerja sama kita gimana?"
"Masih berjalan pak, Apa....... "
"Lanjutkan saja.... "
"Baik pak" Ucap Ari mengerti dengan apa yang ada dipikirkan bosnya.
"Jangan sampai dia curiga kalau kita mengawasinya"
Ari mengangguk tanda mengerti. Mereka berfikir keras bagaimana caranya untuk menangkap basah wanita itu. Sebenarnya bukti yang mereka miliki sudah cukup jika untuk menjebloskannya kepenjara. Namun sekarang yang menjadi ancamannya adalah psikis dari Dira.
Dira tidak akan membiarkan siapapun menyakiti orang-orang yang sangat ia sayangi termasuk Salwa. Saat ini Salwa berada ditangan wanita licik itu. Meski wanita licik ini adalah ibunya tapi dia akan melakukan segala cara asal tujuannya tercapai. Termasuk mengorbankan anak kandungnya sendiri.
Hal inilah yang ditakutkan oleh Bian. Jika Dira tahu bahwa Siska telah mengamcannya lewat Salwa. Dira pasti akan lemah dan mengalah.
Flasback on
drt... drt....
Suara dering handpone memecah lamunan Bian yang sedang terpaku menatap sendu wajah yang kini telah tertidur pulas diranjangnya.
Sebuah telpon masuk dari nomor tidak dikenal. Awalnya Bian ingin mengangkatnya namun ia memilih untuk mengabaikannya. Hingga deringnya sampai terdengar tiga kali Bian masih enggan menanggapinya.
Mungkin sipenelpon menyerah. Namun ternyata ada pesan masuk dari nomor yang sama. Awalnya Bian juga ingin mengabaikannya karena ini privasi Dira. Namun ketika Bian akan mengaktifkan mode silent Bian tak sengaja membaca dilayar yang membuat emosi seakan membuncah.
Nomor tidak dikenal.....
"Hai mamanya Salwa"
Tak lama diterima pesan Vidio yang didalamnya berisi tentang Salwa.
Tak lama ada sebuah pesan lagi
"Bagaimana jika anak yang ada dalam Vidio ini menemui mu sudah tak bernafas lagi"
Seketika membuat emosi Bian semakin memuncak. Bisa-bisanya wanita ini mengancam Dira. Bukankah Salwa anaknya dasar wanita gila.
Tak lama ada Pesan lagi.....
"Jika Putri kesayanganmu ini tidak ingin kurang sedikitpun maka temui aku"
"Sial...." Umpat Bian.
__ADS_1
Bian bingung harus melakukan apa. Akhirnya Bian memutuskan untuk membawa Handpone Dira. Bian tidak mau Dira sampai membaca pesan dari wanita gila itu. Kalaupun dia menghapusnya sekarang, maka tidak menutup kemungkinan wanita gila ini akan terus mengancam Dira.
Bian masukan Handpone milik Dira kesaku jasnya. Mengahampiri wanita pujaan hatinya. Bian duduk ditepi ranjang Sambil mengusap lembut wajah ayu istrinya.
"Kenapa wanita sebaik kamu selalu diberi luka. Tapi aku janji semampuku aku akan menjagamu dan selalu melindungimu."
Bian beranjak dan tampak menghubungi seseorang dan pergi keluar. Sebelumnya ia berpesan pada asisten rumah tangganya jika nanti istrinya bangun untuk mengatakan bahwa dirinya keluar sebentar. Dan untuk segera menghubunginya jika nanti istrinya bangun. Dan meminta juga untuk melayani segala kebutuhan istrinya.
Flasback Off
"Selidiki sedetail mungkin saya tidak mau ada celah untuk wanita gila itu dan siapapun yang terlibat didalamnya menghirup udara segar"
"Baik pak"
"Aku pulang lebih dulu"
"Baik pak"
Bian segara meninggalkan kantornya. Dan Bian bergegas menuju rumahnya. Karena asisten rumah tangganya telah memberikan kabar jika nyonya mudanya sudah bangun.
...๐๐๐๐๐...
Berjalan meniti anak tangga sambil mengedarkan pandangan disetiap ornament dirumah nan megah ini. Bangunan juga tata ruang dirumah ini hampir mirip dengan rumah mama Riana. Apa ini rumah mama Riana?
Tapi dimana mama?
"Ada yang bisa Dira bantu mbok? "
"Eh... Mbak Dira, Sudah mbak tunggu dikamar aja" Ucap Mbok Nah tak enak jika nyonya mudanya ikut repot -repot didapur bersamanya.
"Tidak apa mbok, apa yang bisa Dira bantu? "
"Ya Allah Mbak Dira, Mbok takut Tuan marah" Ucap Mbok Nah masih sungkan jika nyonya mudanya ingin membantunya. Seketika Dira hanya tersenyum. Dan lagi-lagi mbok Nah terpana dengan senyum manis istri dari Tuannya ini. Benar-benar wanita baik ini. Senyumnya saja membuat hati adem. Pantas saja Tuan Bian sangat mencintainya.
"Mbok... " Dengan lembut Dira kembali mengagetkan Mbok Nah.
"Em Iya.. Mbak.. Maaf"
Dira hanya mengerutkan keningnya dan kembali tersenyum.
"Mbok Ada yang bisa Dira bantu?" Dira mengulangi pertanyaannya.
"Aduh... sudah... sudah.. Biar Mbok kerjakan sendiri saja, Mbak tunggu dikamar saja"
"Dira bosan mbok kalau hanya diam dikamar"
"Ya sudah mbak bisa nontonnya tv Diruang tengah" Jawab mbok Nah yang masih enggan menerima bantuan dari Nyonya muda barunya ini.
__ADS_1
" Dira bantuin Mbok masak aja ya.. "
"Tapi Mbak"
"Udah ngak apa-apa Mbok.. Biar Dira bantu, Dira juga mau siapin makan malam untuk suami Dira" Sambil tersenyum Dira mendekat dan mengambil alih pisau yang dipegang Mbok Nah untuk memotong sayuran.
"Mbok Ngak usah khawatir Dira sudah biasa membantu Bunda kalau dirumah, Kalau dirumah Dira kan Tidak ada asisten rumah tangga Mbok, Jadi semua pekerjaan rumah dikerjakan sama-sama" Tambah Dira untuk menyakinkan Mbok Nah.
"Tapi nanti kalau Tuan Bian marah gimana? "
"Tidak akan mbok, Kak Bian pasti akan senang jika istrinya memperhatikan makanannya juga. Bukankah cinta itu bisa tumbuh dari perut juga Mbok." Lagi-lagi Dira tersenyum agar Mbok Nah tidak merasa canggung.
Akhirnya Mbok Nah mengizinkan Dira untuk membantunya.
Betapa beruntungnya Tuan muda memiliki istri yang cantik, baik, ramah, tidak membedakan status sosial, dan yang paling penting solehah. Duh gusti.. Lindungilah rumah tangga mereka. Jauhkan lah mereka dari segala mara bahaya yang nantinya akan merusak rumah tangga mereka. Amin. Doa Mbok Nah pada Tuan dan nyonya nya Yang begitu baik.
Mereka pun semakin lama semakin menikmati kebersamaan mereka. Terkadang mereka bercanda, saling bertukar cerita, Tertatawa dan tersenyum terlihat jelas dibibir manis Dira. Dan sepertinya Dira sedikit melupakan beban Dihatinya yang membuatnya menangis tadi.
Saking asyiknya mereka sampai tak menyadari ada sepasang mata yang melihat pemandangan ini dengan guratan senyum dibibir.
"Melihatmu bisa tertawa dan tersenyum begini membuat hatiku semakin menghangat Ra" batin Bian.
Bian merasa lelaki paling beruntung didunia ini. Bisa bersanding denganmu saja sudah membuatku bahagia. Jika memang kamu tidak bisa atau bahkan tidak akan pernah bisa mencintaiku. Bagiku itu tidak akan mengurangi rasa cintaku terhadapmu.
Kemudian Mbok Nah Menyadari kedatangan Tuannya. Saat Mbok Nah ingin menyapa namun Bian mengacungkan jari telunjuknya dibibirnya. Mengisyaratkan bahwa mbok Nah diam saja.
Bian meminta Mbok Nah pergi saja. Bian menganggap pekerjaan mbok Nah sudah selasai. Selebihnya biar Bian yang melanjutkan.
Mbok hanya bertindak patuh. Karena sebenarnya tugas pokok Mbok Nah hanya membersihkan rumah saja. Mbok Nah memasak jika Bian akan menginap Dirumah ini.
.
.
.
.
.
Bersambung.........
Like๐
komentarnya๐
โค (Biar pas aku up kamu dapat notifikasi)
__ADS_1
Thankiyuuuuu.........