ADA KAMU SETELAH LUKA KEMARIN

ADA KAMU SETELAH LUKA KEMARIN
Berdamai Dengan Keadaan


__ADS_3

Memilih satu keputusan terbesar di hidupnya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Berdamai dengan keadaan ternyata jauh lebih ringan, jika dibandingkan harus hidup dengan bayang-bayang masa lalu. Meski tidak mudah, tapi Dira mencoba untuk benar-benar mengakhiri semuanya. Siska memang telah melakukan kesalahan fatal terhadap hidupnya. Namun Dira merasa bukan dirinya yang harus menghukum kesalahan wanita itu. Dira juga yakin jika Siska Sebenarnya adalah wanita yang baik. Terlebih ia sudah memiliki seorang Putri. Terlepas dari kesalahan yang ia lakukan, itu karena memiliki alasan yang memang tidak bisa dibenarkan. Tapi Dira sadar hidup tidak sebatas membalas dendam oleh sebuah luka. Ada banyak hal yang bisa ia lakukan untuk masa depannya. Bukan hanya tentang luka dan luka, ia juga harus ingat jika ada kebahagiaan diantara luka yang kita miliki. itu terbukti dari kehadiran seorang Bian di hidupnya dan juga tiga orang putra dan putri.


"Sayang"


Dira hanya tersenyum memandang kearah suaminya yang kini telah mendekapnya dengan erat. Jika dirinya sudah memiliki cinta seperti ini kenapa dirinya masih terus terbelenggu dengan rasa sakit masa lalu yang justru membuatnya semakin terluka.


Dira memejamkan mata dan menikmati betapa cinta itu hadir begitu luar biasa untuknya. Keputusannya untuk benar-benar berdamai dengan masa lalu adalah keputusan terbaik yang ia miliki. Sejak pertemuannya dengan wanita yang dulu telah membuatnya terluka beberapa waktu yang lalu, kini membuat Dira semakin ringan dalam melangkah.


"Kak"


"Iya"


"Mungkin aku sudah berulang kali mengatakannya padamu. Tapi kali ini aku ingin kembali mengucapkan untukmu. Terimakasih telah hadir dihidupku disaat yang tepat. Aku tidak akan pernah tahu bagaimana hidupku jika tanpa hadirmu" ucap Dira sambil menatap dalam manik mata milik suaminya yang telah mendampinginya lebih dari lima belas tahun ini.


"Kamu adalah anugrah terindah yang aku miliki. Kamu memang wanita terbaik yang dipilihkan allah untuk mendampingi aku. Terimakasih telah bersedia menjadi ibu dari anak-anak ku" ucap Bian dan diakhiri dengan mengecup kening sang istri dengan penuh cinta.


Bodoh jika Dira masih harus berperang dengan kisah masa lalu yang hanya membawa luka. Bahkan dirinya menyesal kenapa tidak dari dulu dirinya melepaskan bayangan masa lalunya. kenapa harus menunggu lima belas tahun. Kenapa harus menunggu bertemu denga gadis remaja yang ia cari selama ini. kenapa harus menunggu kesalahpahaman itu terjadi. kenapa dan kenapa....


"Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali" ucap Bian kembali seolah tahu apa yang menjadi keresahan sang istri.


"Maafkan Dira yang terlambat menyadarinya kak"

__ADS_1


Bian tersenyum dengan mebatap dalam manik mata yang kini telah mengunci gambar dirinya yang berjarak begitu dekat dengannya. Istri yang sangat ia cintai kini benar-benar telah terbebas dari bayangan masa lalunya. Namun bukan hanya itu titik fokus seorang Bian. Dira adalah segalanya untuknya. Bukan hanya istri untuknya. Selama ini Dira selalu berusaha menjadi pendamping yang baik untuknya. Selalu berusaha untuk melakukan tugasnya dengan baik meski dirinya tak menuntut apapun.


"Dampingi aku terus ya, hingga hanya maut yang menjadi pemisah diantara kita"


Dira mengangguk dan kembali jatuh dalam pelukan sang suami. Menikmati suasana sore di balkon kamarnya sambil menatap langit senja yang indah. Disinilah tempat favorite keduanya untuk menumpahkan segala rasa yang mereka miliki. Menghabiskan waktu bersama dan saling mencurahkan isi hati dari keduanya. Bahkan tempat ini adalah saksi bagaimana keduanya menjalani kehidupan.


"Mama.... " suara khas anak kecil berusia lima tahun berlari kecil sedikit mengacaukan suasana haru yang tercipta dari kedua orang tuanya.


"Juna"


Juna berlari dan langsung duduk dipangkuan sang Mama. Sedang Bian hanya menatap putra bungsunya dengan tatapan kesal. Pasalnya putranya ini telah menganggu kebersamaannya bersama sang istri.


"Udah jangan pacaran terus" kali ini terdengar protes dari suara yang jelas tidak asing lagi untuk Dira dan juga Bian, siapa lagi jika bukan Arka.


"Kalian ngapain sih kesini?" protes Bian.


"Pa.... " sanggah Dira dengan lembut pada suaminya dan membuat Bian diam tak berkutik.


"Kami mau setor hafalan Pa, Ma" kali ini Mita yang bersuara.


"Harus banget sekarang?"

__ADS_1


Ketiganya kompak mengangguk dan terseyum jahil pada sang papa. Bian hanya mendengus dan tidak bisa menolak permintaan putra dan putrinya. Padahal dirinya ingin bermanja pada sang istri, dan menikmatai momen indah hanya berdua. Terkadang memang keegoisan tersemat pada diri Bian. Karena jika telah berhadapan dengan anak-anak Dira pasti akan mengiyakan mereka dan sedikit mengabaikan Bian.


Melihat wajah suaminya yang sudah ditekuk membuat Dira menahan tawa dan timbul ide jahil


"Jangan cemburu pada anak sendiri, nanti ada waktunya untuk papa" Bisik Dira di telinga Bian, yang membuat Bian tersenyum seketika.


"Hayo siapa dulu ini yang mau setor hafalannya" ucap Bian kini semakin bersemangat.


"Juna Pa" jawab Anak bungsunya dengan semangat.


Melihat semangat Juna yang luar biasa membuat Bian maupun Dira tersenyum bangga pada putra dan putrinya. Apapun yang mereka ajarkan untuk putra dan putrinya ternyata benar-benar mereka tanam dalam diri mereka masing-masing. Berjuang keras untuk sebuah tanggung jawab adalah nilai dasar yang selalu Bian dan juga Dira ajarkan untuk putra dan putrinya.


Semangat serta dukungan dari kedua kakaknya membuat Juna tanpa ragu melafazkan surat yang telah menjadi tanggung jawabnya untuk ia hafal. Dan tanpa diduga jika putra bungsunya ini juga memiliki suara yang sangat merdu dan bukan hanya itu tajwidnya juga sudah sempurna. Meski tak semerdu sang kakak namun untuk anak seusianya sudah sangat membanggakan. Bahkan baik Dira maupun Bian sampai dibuat meneteskan air mata ketika menyimak bacaan sang putra bungsu.


Ketika sang putra mengakhiri bacaannya pun tak lantas membuat Dira tersadar dari rasa kagumnya. Dira menghampiri sang Putra dan berjongkok menjajarinya. Memeluk erat Juna dengan berbagai kebangaan. Rasanya ia tak lagi bisa mengungkapkan kebahagiaannya dengan kata-kata. Bukan hanya Dira, bahkan Bian pun ikut meneteskan air mata. Ia juga tak ingin ketinggalan momen berharga ini. Bian juga turut memeluk Juna dan juga istrinya.


Bersambung.....


Jangan lupa


LikešŸ‘

__ADS_1


komentarāœļø


love ā¤ (Biar pas aku up kamu dapat notifikasinya)


__ADS_2