
Masih setia dengan waktu yang entah sampai kapan akan mencapai batas. Masih diam memandang wajah sayahdu yang kini akan setiap hari menjadi orang pertama yang akan Bian pandang wajahnya. Andai kamu tahu bagaimana aku telah bertahan untuk hari ini. Apa kamu masih akan egois.
Tapi bukankah kamu sendiri Bi, yang bilang... "Bahwa kamu akan menunggu hingga waktu yang tanpa batas" Ucap Bian didalam hatinya.
Jika bukan sabar yang selalu berteman dengannya. Bisa jadi saat ini Bian menyerah. Namun sebisanya Bian Akan bertahan untuk sahabatnya dan juga untuk cintanya.
Suara azan yang berkumandang terdengar begitu menenangkan jiwa.
"Nadira.. bangun... kita sholat subuh dulu"
Suara lembut membuat Dira mengerjapkan matanya. Tepat ketika Dira membuka mata pemandangan pertama yang Dira lihat adalah mata teduh milik suaminya.
Jarak yang sangat dekat membuat detak jantung kian memburu. Andai saat itu kamu hadir lebih dulu dari cinta yang ku miliki saat ini. Aku tidak yakin jika aku tidak menjatuhkan hatiku padamu. Namun ketika kamu hadir setalah aku sangat terluka yang aku tahu, aku sangat membutuhkanmu Fabian. Ungkap batin Dira masih belum beralih dari paras tampan meneduhkan milik pria yang kini telah menjadi suaminya.
"Ka....kak.... " Ucap Dira dengan gugup
"Iya... " Jawab Bian masih fokus pada netra milik Dira yang sangat indah. Andai saat ini aku sedang tidak berkompetisi dengan waktu, Aku pasti sudah......
Bian kemudian memejamkan matanya menyadari jika dia terlalu berharap lebih. Oke kamu masih harus sabar Bi....
Sabar Bian......
Sabar....
Kata itu lah yang terus dan terus menjadi temannya.
"Kita sholat subuh dulu" Ucap Dira yang juga masih merasakan gugup akibat jarak yang mereka miliki hanya beberapa inci. Jika Dira bergerak sedikit saja sudah pasti..... (bisa dibayangkan sendiri ya π€π€π€π€)
Bian beranjak dan segera membersihkan diri kekamar mandi. Sepeninggal Bian kekamar mandi Dira duduk ditepi ranjang. Dira hanya menatap pintu kamar mandi. Bukan Dira tak mengerti apa yang diinginkan oleh pasangan suami istri. Bahkan Dira sangat mengerti...
"Maafkan Dira kak....
Bersabarlah kak...
Maka segera akan memangkas waktu yang Dira minta. Bukan Dira tak memiliki rasa terhadap kakak namun ini karena Dira masih membutuhkan waktu untuk menerima keadaan ini. Bayu adalah lelaki yang mampu membuat hatiku bergetar. Bayu adalah orang yang berhasil masuk kehatiku hingga kerelung jiwaku. Aku dan Bayu adalah dua orang yang memilki rasa yang sama namun selalu berteman dengan luka. Banyak hal yang kita lewati. Kami pernah menghabiskan waktu bersama. Kami juga pernah dipisahkan oleh jarak. Kami juga pernah saling menunggu. Kami pernah berjuang bersama dalam kerinduan. Dan yang paling menyakitkan adalah ketika kami dipisahkan oleh takdir. "
" Dira kamu bersih -bersih dulu gih... Kita sholat berjamaah" Ucap Bian dengan senyum dibibirnya yang kedatangannya tanpa disadari oleh Dira.
Dira hanya tersenyum yang diiringi rasa bersalah. Dan tanpa sepatah katapun Dira berjalan menuju kamar mandi.
...ππππππ...
__ADS_1
Alhamdulilah Engkau masih memberi kesempatan untukku dan juga seorang wanita yang kini menjadi makmumku untuk menunaikan kewajibanku terhadap Mu ya Rab.
Doa sebagai bentuk rasa syukur selalu Bian panjatkan. Bian selalu memasrahkan segala bentuk takdir yang akan diberikan untuknya. Termasuk soal hati Dira. Karena bagi Bian Allah lah pemilik hati setiap hambanya. Maka dari itu Bian telah pasrah akan takdir cinta yang akan ia dapatkan. Jika memang Allah mengizinkan Bian untuk memiliki hati seorang wanita yang bernama Nadira. Bian juga telah meyakinkan hatinya bahwa dirinya hanya perlu waktu untuk mendapatkannya.
Selain Bian telah mencuri dengar percakapan antara Dira dan ical sewaktu dirumah Ayah dan Bunda. Bian juga snagat yakin jika suatu hari nanti wanita yang sangat Bian cintai ini akan mencintainya. Atau sepaling tidak memberikan sedikit saja ruang dihatinya untuk seorang Fabian.
"Ra... "
"Iya kak"
"Apa kamu keberatan jika kita tinggal disini? "
Dira masih diam tampak berfikir akan keputusan yang disampaikan oleh Bian. Masih diam dengan banyak pikiran yang berkecamuk.
"Kalau kamu ngak mau ya Udah ngak apa-apa" Ucap Bian lagi karena masih belum dapat respon dari Dira.
"Kalau kamu masih mau tinggal di rumah Ayah dan Bunda ya ngak apa-apa" Ucap Bian yang masih belum mendapat respon dari Dira.
keadaan seakan hening dengan pikiran masing-masing. Dira berfikir jika dirinya tidak mau tinggal disini betapa dia sangat egois. Saat ini saja Dira sudah sangat egois. Telah mengikat seorang pria yang baik dan juga Taat akan agama dalam sebuah ikatan suci tanpa menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.
Sedang Bian diam mengira jika Dira akan sangat sulit beradaptasi dengan suasana baru. Mungkin Dira masih belum bisa menyesuaikan diri dengan keadaan barunya. Bian memahami jika memang Dira belum siap jika akan tinggal dirumah ini.
"Iya sebelum nanti kakak Kekantor kita kerumah Bunda. Kamu bisa membawa barang-barangmu. Tapi ingat!!!
Barang yang penting saja yang dibawa"
Dira hanya menghela nafasnya. Semua barang-barangku penting bagiku tentunya. Ucap batin Dira.
"Dira buat sarapan dulu" Ucap Dira dan beranjak dari duduknya. Dira sebaiknya menghindari dulu pembicaraan masalah barang apa yang akan dia bawa.
Namun ketika Dira hendak melangkah Bian lebih dulu mencegahnya dengan melingkarkan tangannya dipergelangan tangan Dira dan berkata...
"Aku suamimu...
Aku akan bertanggung jawab atas semua kebutuhanmu. "
"Iya... Dira mengerti.... "
"Katakan jika kamu tidak nyaman dengan apa yang telah aku putuskan untukmu" Ucap Bian masih rendah dan menatap dalam manik mata Dira.
"Tidak ada yang salah dengan keputusan yang telah kakak putuskan. Dan Terimakasih karena kakak masih menghargai keputusanku untuk waktu Yang Dira minta"
__ADS_1
"Asal kamu berada disampingku aku tidak masalah dengan waktu yang kamu minta"
"Dira buatkan kakak sarapan dulu ya... "
Bian mengangguk dan melepaskan genggaman tangannya. Menatap punggung wanita tercinta didalam hidupnya. Bila cinta ini tidak tumbuh begitu besar untuk dirimu aku tidak yakin sanggup bertahan.
Aku tidak akan menyerah jika tentang dirimu Ra. Aku rela mempertaruhkan apapun untuk mu. Bahkan jika ada yang meminta nyawaku untuk menyelamatkanmu pasti akan aku berikan.
drrtttt.... drrtttt...
Suara dering handpone memecah lamunan Bian. Sebuah pesan dari nomor yang sudah tak asing lagi bagi Bian.
Pesan singkat yang dikirim oleh asisten sekaligus sahabatnya. Membuat Bian sedikit mengulas senyum. Apa isi pesan itu?
Pesan itu berisi sebuah bukti yang akan memperkuat benteng pertahanannya untuk menjatuhkan wanita gila itu.
Kamu silahkan bersenang-senang wanita ular. Akan aku pastikan tidak akan ada senyum lagi setelah ini untukmu. Kamu akan segera membayar lunas tangis Dira selama ini.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Likeπ
komentarπ
β€ (Biar pas aku up kamu dapat notifikasi)
Matur thankiyuuuuu banyak -banyak...
ππππππ
__ADS_1