ADA KAMU SETELAH LUKA KEMARIN

ADA KAMU SETELAH LUKA KEMARIN
Sebelumnya


__ADS_3

"Wanita gila itu harus membayar semua yang telah dia lakukan!!!!! "


Mendengar kalimat Bian menahan emosi membuat Dira berbalik menatap lekat mata tajam yang telah dipenuhi amarah. Dari sorot mata tajam itu bisa Dira simpulkan bahwa ada suatu hal yang terjadi antara suaminya Dan juga wanita overcook itu.


Ada amarah yang tersimpan dimata lentik milik istrinya. Dira adalah pribadi yang lembut marahnya pun sangat lembut tapi mematikan.


"Kak....


Apa kakak punya penjelasan untuk ini?"


"Kamu yakin mau tahu semuanya?"


"Katakan kak, Dira ngak mau ada yang ditutu-tutupi lagi. Bukankah kita sudah sepakat untuk memulainya dari awal?


Membuka lembaran baru?


Mari kita mulai lembarannya dengan saling terbuka"


Ucap Dira tersenyum, meski ada rasa sakit yang menjalar dihatinya namun Dira Harus berusaha kuat. Bukankah tadi Dira yang bilang kalau akan memulai semuanya dari awal.


Bian memperbaiki posisi duduknya. Begitupun dengan Dira duduk berhadapan dengan Bian. Dira sudah siap dengan apapun yang akan disampaikan oleh suaminya. Apapun itu Dira harus bisa menerima dengan lapang dada.


Bian menarik nafasnya dalam menatap manik mata Dira. Dari mata ini Bian bisa merasakan betapa terlukanya seorang Nadira. Betapa Kesedihan tergambar jelas diwajahnya. Namun bagaimanapun Dira harus tahu apa yang terjadi.


Flasback On


Dengan kecepatan tinggi Bian membelah jalaanan kota menuju sebuah bangunan yang terlihat kumuh. Bangunanan yang lebih mirip dengan gudang tua.


Bersama dengan sang asisten Bian Masuk kedalam bangunan itu. Ari adalah orang pertama yang akan selalu mendampingi Bian dalam keadaan apapun. Ari telah mempersiapkan dirinya untuk bertaruh demi Bian.


Meski mereka telah merencanakan dengan sempurna. Namun tatap harus wasapda pasalnya wanita yang akan mereka hadapi adalah wanita licik.


Bian telah merencanakan dengan matang Dan sempurna. Tidak hanya Ari yang membantu dalam menyelesaikan permasalahan ini. Namun ada Rangga dan juga Ical yang turut serta. Namun sesuai dengan rencana Bian dan Ari yang akan mendatangai Siska. Sedangkan Ical dan Rangga mengawasi ditempat yang tidak jauh disana.


"Siallllll" Umpat Bian ketika mendapat telpon dari sang asisten jika Dira kembali dikirim Vidio tentang Salwa. Siska juga mengirimkan pesan jika Salwa ingin selamat maka Dira harus datang menjemput Salwa digedung yang saat ini Bian dan Ari berada.


Siska masih belum menyadari jika Handpone Dira berada ditangan Ari. Jadi apapun ancaman Siska tidak akan berpengaruh dengan kondisi psikis Dira.


Dari pesan itu Bian memutuskan untuk menuntaskan secepatnya. Bian dan juga yang lainnya merencanakan ini untuk menyudahi kegilaan Siska.


"Mereka Sudah datang Nona?" Lapor seorang pria kekar dengan wajah sangar pada wanita berpakaian seksi dengan senyum sinisnya.


Siska sudah tersenyum penuh kemenangan. Namun senyum itu segera menghilang ketika ternyata yang datang adalah dia pria tampan dengan kharisma yang sungguh membuat siapapun yang melihatnya terpana.


Tapi kedatangan mereka bukan untuk membuat Siska terpana bukan?


Tujuannya adalah untuk membuat perhitungan pada wanita gila ini.


"Wowwww..... Wawwww....." Ucap siska menyambut kedatangan dua pria tampan yang kini ada dihadapannya.


"Apa saya sedang bermimpi?


Jika saat ini saya kedatangan tamu istimewa?"


Cih...


Ucap Bian senyum sarkasme dan sangat muak dengan basa-basi Siska.


"Saya sangat Surprise banget lho ini. Saya kedatangan mantan pacar saya. Apa anda sudah berubah pikiran Tuan Akbar Fabian Caraka?"


"Dimana Salwa?" Ucap Bian rendah namun mematikan. Bian sungguh muak dengam basa-basi ini. Kedatangannya untuk Salwa dan dengan demikian Bian juga menyelamatkan Dira dan menguak kasus dibalik kecelakaan Bayu.


"Salwa???" Tanya Siska sok lugu dan polos.


"Kamu kaget saya tahu semuanya?"


"Jadi wanita murahan itu ngadu kekamu"


Mendengar istrinya disebut wanita murahan membuat Bian semakin murka. Dia ingin sekali merobek mulut wanita ular itu. Bian sudah dipenuhi dengan emosi tangannya mengepal sorot matanya sudah menyorotkan amarah. Namun beruntung Ari bisa menenangkan Bian.


"Katakan dimana Salwa atau..... " Ucap Bian menahan emosi


"Atau apa Bian sayang..... "


Ucap Siska sambil berjalan mendekat dan mencoba menggoda Bian.


Namun Bian berusaha untuk menghindar. Jangankan untuk dekat dengan wanita ular ini bahkan menemuinya saja Bian sudah sangat malas. Jika bukan karena misinya untuk melindungi Dira.


Semakin Bian menekan untuk menanyakan diamana Salwa semakin membuat Siska mengulur waktunya. Jika Ari tidak menahannya Bian sudah melakukan kekerasan untuk memaksa Siska buka mulut.


"Om Bian....." Tiba -tiba ada suara anak kecil berlari kearah Bian. Namun sebelum anak kecil itu berhasil menuju Bian sudah ditarik oleh salah satu pria bertubuh kekar yang menjadi anak buah Siska.


"Salwa.... " Ucap Bian dan sorot mata kini sudah berapi-api kearah Siska. Namun sorot mata yang mematikan siap menerkam itu justru dibalas oleh senyum kemenangan dari Siska.


"Lepaskan Salwa!!!!! " Ucap Bian menggelegar diseluruh ruangan yang penuh dengan barang-barang tak berguna dan penuh debu.


"Aku akan lepaskan Salwa asal wanita murahan itu datang sendiri menjemput putri kesayangnya itu"


"Kamu.... " Habis sudah kesabaran Bian. Apapun Bian bisa menahannya asal jangan wanita yang sangat ia cintai dan jaga direndahkan oleh orang yang bahkan lebih rendah dari wanita malam.


"Kenapa kamu begitu membelanya Bian?


Kamu memiliki hubungan apa?"


"Bukan urusanmu??"


"Memang bukan urusanku Bian. Tapi kamu bisa memilih aku jika kamu mau?"


"Kamu pikir sebodoh apa aku Hah????"


"Sebodoh kamu memilih wanita murahan itu untuk menjadi istrimu dari pada aku" Ucap Siska dengan PeDenya.


Mendengar lagi-lagi "Wanita Murahan" yang disebutkan oleh Siska membuat Bian semakin mendidih.


"Kenapa Bian????

__ADS_1


Kamu kaget aku tahu jika wanita mu...... " belum selesai Siska berucap Bian menarik dan mencengkam keras lengan Siska. Tidak peduli Siska itu seorang wanita. Toh sikap Siska sungguh diluar kendali.


"Pak Bian..... "


Ucap Ari mengingatkan dan mencegah Bian. Ari melakukan ini bukan untuk melindungi Siska tetapi justru ingin menyelamatkan Bian. Ari sadar wanita yang dihadapi bukanlah wanita biasa dia sangat-sangat licik. Ari hanya tidak ingin Bosnya dalam masalah. Bisa saja hal ini digunakan Siska untuk menyerang balik.


"Pak Bian cukup... anda bisa menyakiti Siska???? "


"Aku nggak peduli Ri... dia sudah lebih menyakiti istriku. Dia sudah sangat melukai hati istriku. Dia sangat kejam dan tidak punya hati"


Bian yang membabi buta sanggup dicegah oleh Ari. Meski ucapan Bian tidak bisa ditarik lagi namun setidaknya Ari tidak Ingin apa yang dilakukan Bian melah menjadi bumerang.


"Jadi benar wanita itu istrimu????"


Oke.....


Kali ini sudah kepalang tanggung. Ucapan Bian tidak bisa ditarik lagi. Sebelum Bian dan Ari berada ditempat ini sekarang. Bian telah memastikan istrinya dan juga keluarga berada ditempat yang aman. Bian juga telah mengirimkan beberapa anak buahnya untuk berjaga disekitar rumah utama.


"Menarik sekali...


Hanya demi wanita itu kamu rela menjadi seperti ini. Bian..... Bian..... "


"Aku akan melakuakn apapun untuk istriku"


"Sweet bangettttt" Ucap Siska mengejek...


"Om... Bian tolong Awa....


Awa ngak mau disni....


Awa nggak mau tinggal sama tante itu?? " Lagi-lagi teriakan Salwa membuat semua terfokus pada bocah kecil yang Sedang dipegang tangannya dengan kasar.


"Kamu gila...


Lepasin Anak itu!!!!" Ucap Bian marah dan sudah ingin melayangkan kepalan tangnya beruntung Ari dengan sigap menahannya dan menggeleng.


"Wawwww.... Aku sangat-sangat Waw banget.... kamu begitu membela anakku Bi? sesayang itu kamu padanya?? " Ejek Siska lagi


"Anak yang memanggil ibunya sendiri dengan sebutan Tante????" Kali ini Ari yang bersuara, Ari tidak ingin Bosnya ini terpancing emosi lagi.


"Itu semua karena istri kesayangan Bos kamu ini, yang sok baik dan datang bak malaikat dan membuat anak ku memanggilnya Mama"


"Jadi kamu menyalahkan Nona muda, untuk itu?


Terus bagaimana dengan kecelakaan Bayu yang sepertinya anda terlibat?" Ucap Ari lagi dengan lantang dan menunjukkan sebuah bukti berupa rekaman sisi Tv di Handponenya.


Siska hanya diam dan tak bisa lagi mengelak ataupun menjawab. Bukti yang ditunjukkan Ari barusan memang benar-benar bukti bahwa dirinya terlibat dalam kecelakan Bayu.


"Bisa dijelaskan???? "


"Kalian mau tahu, kenapa aku membunuh Bayu?????


Itu karana Bayu lebih memilih wanita itu dari pada aku. Bayu begitu mengistimewakan wanita itu. Bayu tidak bisa sedikitpun bisa melupakannya. Bayu hanya bahagia bersamanya tapi tidak bersamaku. Dan bahkan dia telah merebut anakku"


"Bukannya kamu yang meninggalkan anakmu" Ucap Ari kembali untuk terus membuat Siska lemah dan dengan mudah Ari dan Bian membawa Salwa pergi.


"Apa kamu akan mati jika kamu miskin???"


"Aku tidak ingin orang lain bahagia jika aku tidak bahagia"


"Apa menjadi pembunuh akan membuatmu bahagia?"


"Jika aku tidak bisa membuat bahagia diriku, maka membunuh yang membuat aku tidak bahagia adalah cara terbaik yang harus aku laukan" Ucap Siska penuh amarah.


Ada kemarahan yang memuncak. Namun apapun alasannya membunuh bukanlah hal yang baik bukan???


Kemudian Siska berjalan mendekat kearah anak kecil yang sedang meraung dan menangis meminta tolong. Sungguh tidak punya hati seorang ibu yang kini malah ikut mencengkram lengan gadis kecil itu. Sehingga membuatnya gadis kecip itu berteriak


"Sakit tante.....


Om Bian tolong Awa Om... " Teriaknya yang membaut Bian maju dan ingin menarik bocah kecil itu. Namun sebelum Bian berhasil menarik Awa sudah dihadang oleh beberapa preman yang ada disana. Terjadi baku hantam beberapa kali Bian dan Ari terkena pukulan namun bisa dia tepis dan akhirnya Bian dan Ari Bisa melumpuhkan preman-preman.


Dan ketika Bian ingin mengambil Salwa. Namun dengan cepat Siska menarik Salwa dan melingkarkan tangannya dileher Salwa dengan sebuah pisau yang kalau Salwa bergerak sedikit saja sudah bisa dipastikan pisau tajam itu akan menggores leher mulus milik Salwa


"Siska... Jangan Gila kamu????"


"Om... Awa takut... "


"Jangan mendekat kamu bergerak satu langkah saja maka kamu akan tahu akibatnya" Ucap Siska masih setia dengan cengkramnnya. Bahkan dia tidak peduli dengan tangis ketakutan seorang anak kecil. Sungguh bukan mencerminkan seorang ibu.


"Sayang Awa, tenang ya nak, Awa harus tenang jangan nangis Sayang. Awa harus banyak berdoa nak. Biar Awa tenang, jangan takut sayang.... " Ketimbang meladeni Siska Bian lebih fokus menenangkan gadis kecil yang sedang ketakutan.


Dan ucapan Bian sangat berpengaruh Awa bisa lebih tenang. Yang terpenting adalah Awa tenang. Ketika Awa sudah tenang hanya tinggal memikirkan cara bagaimana membuat Siska lengah.


kemudian Rangga dan Ical berhasil masuk dari arah yang berlawanan dengan mereka. Kemudian mereka menarik siska agar Salwa bisa terbebas. Dengan memeperhitungkan segalanya sekali gerak membuat pisau ditangan siska terlempar jauh. Dan inilah saatnya Rangga menarik lengan siska dan Salwa bisa terbebas.


Salwa gadis kecil itu berlari kepelukanBian. Masih dengan tangis dan rasa takut yang terlihat jelas dari wajah polosnya. Bian mendekapnya dengan erat memberikan ketenangan dan masih terus mengelus pundak gadis kecil ini.


"Om Awa takut Om" Ucap Salwa diantara isak tangisnya.


"Iya sayang.....


Kamu sudah aman sekarang"


Bian masih berusaha menenangkan Salwa. Namun ketika mereka hendak keluar ternyata anak buah Siska masih menghadangnya. Dan kembali terjadi baku hantam. Hingga Bian menurunkan Salwa dari gendongannya. Dan membantu melawan anak buah Salwa.


Dan situasi ini sepertinya dimanfaatkan oleh Siska. Siska berjalan mendekat kearah Salwa berdiri dengan pisau sudah berada ditanganya. kembali.


Tidak ada rasa kasih dan sayang yang terlihat diraut wajah Siska. Bahkan hanya ada kebencian yang tergambar jelas disana. Anak kecil tak berdosa ini harus ikut berkorban demi ambisi seorang ibu yang gila dan licik ini.


Ketika membunuh adalah hal yang harus dilakukan maka siska sudah siap untuk mengakhiri hidup anaknya ditanganya sendiri.


"Tunggu!!! " Teriak Bian yang menyadari pergerakan Siska. Namun Siska masih mengabaikan teriakan Bian. Kini fokus Bian bukan lagi pada preman-preman yang sedang ia hadapi tetapi fokusnya kini pada anak kecil yang entah bagaimana nasibnya. Bahkan ibunya sendiri begitu tega menyakitinya.


"Siska.... dia anakmu" Ucap Bian lirih yang mampu menghentikan apa yang akan dilakukannya.

__ADS_1


Siska memang menghentikan tindakannya tetapi sorot matanya menggambarkan kebencian yang teramat sangat dalam. Meski Siska tidak menginginkan anak ini tetapi tidak bisa dihindari jika gadis kecil dihadapannya ini adalah darah dagingnya.


"Kamu menyelamatkan anak ini Bi?"


"Dia anakmu, darah dagingmu, aku yakin kamu masih memiliki rasa kasihan meski sedikit" Ucap Bian sudah frustrasi akan nasib anak kecil yang bahkan ia masih snagat polos dan lucu.


"Pilihannya hanya dua Bi...


Anak ini atau istri tercintamu... "


Semua seakan tercengang dan meski pertanyaan ini sudah diduga sebelumnya. Namun ketika berada secara langsung disituasi ini Sungguh Bian bingung. Salwa adalah anak kesayangan sahabatnya yang juga telah diamanatkan kepadanya. Sedangkan Dira adalah istrinya yang sangat ia cintai Meski Dira tidak memiliki perasaan terhadapnya.


"Om Awa takut.... " Salwa terlihat begitu ketakutan melihat benda tajam berada dalam genggaman wanita yang katanya ibu kandungnya itu.


"Apa kamu pikir aku main -main Bi?"


Semua masih diam bingung harus berbuat apa. Jika sedikit saja Bian dan yang lain salah dalam mengambil keputusan maka nyawalah taruhannya.


Dengan anggukan dari Ari sebagai bentuk dukungan dan kekuatan untuk Bian memberikan jawaban.


Bian mengambil nafas kasar ia memejamkan mata dan menjawab.


"Aku pilih......


.


.


.


.


Istriku..... "


Tangis gadis kecil itu terdengar Jelas. Wajah ketakutan tak menyurutkan niat Siska untuk mengakhiri hidup anaknya.


"Kamu dengar, bahkan dia yang kamu bilang akan menyelamatkanmu ternyata lebih memilih perempuan yang kamu panggil mama. Dan kamu lihat bahkan mamamu juga tidak datang menjemputmu?" Ucap Siska pada Salwa yang seolah Salwa adalah gadis remaja yang sudah mengerti apa yang dikatakan Siska.


"Tante jahat....


tante jahat....


Hu.... Hu.... Hu..... " Teriak Salwa masih terisak. Ingin rasanya Bian menariknya dan mendekapnya erat. Namun bagaimana mungkin ia bisa menggapai gadis kecil ini.


Salwa memberontak dan memukul-mukul lengan Siska. Siska bergeming menerima pukulan-pukulan dari tangan mungil Salwa.


"Diam!!!!!" Ucap Siska membentak anaknya.


Ketika siska sudah ingin melayangkan pukulan serta benda tajam dengan cepat Bian melindungi Salwa dibalik bahunya.


.


.


.


.


Bian menahan perutnya agar tidak banyak darah yang keluar.


Benda tajam itu tepat mengenai perutnya. Ternyata Siska tidak pernah main-main dengan ucapannya. lalu bagaimana tadi jika Bian tidak segera melindungi Salwa.


Gila....


ya Siska memang gila, bagaimana mungkin seorang ibu Kandung tega melukai anaknya dengan sengaja.


"Pak Bian.... "


"Mas Bian"


Ucap mereka berbarengan, sementara Raut wajahnya sudah berubah pucat pasi.


Siska ingin lari tetapi ditahan oleh Ical. Sedangkan Salwa histeris dan mendekat ke Bian.


"Om.... "


"Salwa larilah nak..."


"Tapi Om Bian?"


Tampak para Preman mendekat kearah Bian dan Salwa. Sasaran mereka tentulah Bian dan juga Salwa. Ari dan Rangga sedang berjuang melawan preman yang berusaha kabur. Sedangkan Ical menahan Siska agar tidak pergi. Sedangkan Salwa dalam bahaya. Sedang Bian dalam kondisi yang lemah mau tidak mau Bian meminta gadis kecil itu menyelamatkan diri.....


"Sudah Kamu lari yang kenceng ya, sampai kamu menemukan ada sebuah rumah. Minta bantuan pada mereka ya"


Salwa memangguk dan berlari menuju keluar gedung. Usianya masih sangat kecil tetapi ia tak memiliki pilihan lain selain pergi jauh. Sementara Slawa berlari mencari bantuan


ambulance datang....


tuk


tuk


tuk


Flasback off


janganupa


likešŸ‘


komentaršŸ“


ā¤ (Biar nanti pas aku up kamu dapat notifikasi)


thankiyuuuuuuu

__ADS_1


Mohon maaf ada sedikit revisi....


__ADS_2