ADA KAMU SETELAH LUKA KEMARIN

ADA KAMU SETELAH LUKA KEMARIN
Kakak Cantik Mirip Mama


__ADS_3

"Ma... Maafin Mita"


"Ini bukan sepenuhnya salah Mbak Mita" jawab Dira lembut menatap sang putri yang tampak jelas rasa bersalah.


"Mita siap di hukum Ma"


Dira masih diam menatap sang Putri. Dira memang selalu membiaskan putra dan putrinya untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang mereka lakukan. Dira Selalu memberi hukuman jika mereka melakukan kesalahan. Tapi Dira juga bukan tipe orang tua yang egois dan semaunya. Dira dan juga Bian selalau mendengarkan alasan kenapa mereka selalu melakukan kesalahan. Dan juga hukuman yang Dira dan Bian berikan juga pada akhirnya akan menjadi kebaikan untuk putra dan putrinya.


"Juna juga salah Ma" susul bocah kecil yang tadi sempat membuat jantung Dira hampir lepas dari tempatnya.


"Mas Arka juga salah Ma" ungkap putra sulung Dira yang juga tak ingin melihat adik-adiknya mendapat hukuman


"Mama senang kalau ternyata anak-anak Mama memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki kesalahan kalian. Kejadian tadi siang juga tamparan keras untuk Mama dan Papa. Bukan hanya kalian yang merasa bersalah, tapi kami juga. Maafin Mama dan Papa yang juga telah lalai" ungkap Dira sambil mengusap punggung ketiga anaknya secara bergantian.


"Papa juga minta maaf. Ini salah Papa, harusnya Papa yang jaga kalian" ucap Bian kemudian dengan penuh rasa bersalah.


"Bagi kami Mama dan Papa adalah orang tua terbaik didunia ini. Kami bangga menjadi anak-anak Mama dan Papa"


Tangis haru kembali menyelimuti keluarga kecil Dira dan Bian. Kembali Dira merasa bangga ternyata anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik.


"Kalian juga kebanggaan kami Nak"


Melihat istri dan anak-anaknya saling berpelukan membuat Bian menyunggingkan senyumnya. Meski sebenarnya Bian juga merasakan khawatir akan kejadian siang tadi. Tapi Bian berusaha untuk kuat didepan istri dan juga anak-anaknya. Tak ingin terlalu larut dalam rasa bersalah yang anak dan istrinya rasakan Bian mencoba untuk mengalihlan perasaan itu.


"Berhubung kita semua salah bagaimana kalau kita sama-sama dihukum"


"Hukumannya apa?" tanya Arka yang sudah lebih dulu menarik diri.


"Oke berhubung Papa yang salahnya lebih sedikit jadi Papa yang mengatur hukumannanya gimana?" ucap Bian dengan sedikit nada bercanda.


"Papa pasti mau curang" selidik Mita yang juga sudah menarik diri dari pelukan sang Mama.


"No... Biar Mama yang ngatur hukuman untuk kita semua" ucap Juna yang masih betah dipangkuan sang mama


"Iya, itu ide yang bagus" jawab Arka


"Mita juga setuju" susul Mita


"Oke Papa kalah deh.... " ucap Bian mengalah dan mengundang tawa semuanya.


Inilah tujuan Bian menggantikan rasa bersalah menjadi sebuah tawa. Bian sengaja memberikan ide yang sudah pasti akan disanggah oleh anak-anaknya. Dengan begitu mereka akan mulai konsentrasi dengan tanggung jawab yang akan mereka emban.


"Papa.... Mama makin cinta deh" ucap Dira dengan senyum manja dan mengedipkan mata.


Sikap Dira barusan juga mengundang gelak tawa dari anak-anaknya. Seolah tak mau kalah dengan ungkapan cinta sang istri, Bian juga membalasnya.


"Emm Mama.... Papa punya hadiah deh untuk Mama"


"Hadiah?"


Bian seperti mengambil sesutu dari saku celananya. Dan mengeluarkan tangannyanya kembali. Bian mengangkat tangannya, kemudian jari telunjuk dan ibu jarinya ia silangkan membentuk simbol sarangheyo.


"Cie.... Papa" ledek anak-anaknya dan membuat wajah Dira merah bak kepiting rebus.

__ADS_1


Meski usia mereka tak lagi muda, tapi kalau di goda didepan anak-anak membuat Dira salting juga. Suasana kembali mencair dengan saling ledek juga canda tawa. Kejadian siang tadi yang hampir membuat jantung berhenti berdetak seolah hilang bersama suasana yang ceria ini.


"Hukuman kita gimana?" tanya Juna yang mendapat pelototan dari sang Kakak


"Emmm hampir Mama lupa"


"Padahal kami sudah sengaja buat Mama lupa" ungkap Papa pura-pura pro dengan kedua anaknya yang lainnya.


"Tadi rebutan rasa bersalah, giliran mau dikasih hukuman pada pura-pura lupa" ucap Dira jumawa.


"Oke baiklah, kami siap menerima hukuman sang ratu" canda Arka.


"Oke... Siap ya?"


Mereka semua mengangguk dan mulai memepersiapkan diri pada Dira yang akan memberikan mereka hukuman. Dira mulai memandangi putra dan putrinya satu persatu. Memikirkan hukuman apa yang cocok untuk ketiga anaknya.


"Untuk Mas Arka, coba mas Arka pelajari makna yang terkandung dalam Surat Al-baqarah ayat 45


Untuk Mbak Mita....


Mbak Mita pernah bertanya pada Mama kenapa seorang perempuan memakai hijab sedang lelaki tidak?


Nah coba sekarang Mbak Mita temukan jawabannya dengan memahami makna yang terkandung dalam Surat An-Nur ayat 31


Untuk Juna hapalin surat Al Falaq" ucap Dira yang membuat ketiga anaknya menyimak dengan seksama.


"Untuk Papa tidak ada Ma?" tanya Juna yang baru menyadari jika sang papa belum mendapat hukuman apa-apa.


"Ada dong, untuk Papa mendampingi anak-anak untuk mempelajari tugas dari Mama" ucap Dira dengan senyum mengembang


"Untuk Mama...."


Dira menggantung kalimatnya dan mengetuk-ngetuk pelipisnya seolah sedang berpikir. Kemudian berkata " Mama nanti yang menyimak bagaimana kalian bertanggung jawab atas apa yang mama tugaskan" ucap Dira kembali tersenyum


"Itu bukan hukuman dong Ma" proses Mita


"Iya Ne Mama" Bian juga ikut protes


"Lho kan memang harus ada yang memberi penilaian kan dengan apa yang sudah kalian upayakan?"


"Iya... iya Mama pokoknya memang yang ter best deh" ucap Arka


"Kalian tidak setuju dengan pengaturan yang sudah mama Buat?" ucap Dira pura-pura merajuk.


"Enggak kok Mama, kami setuju. Iya kan anak-anak?" ucap Bian memprovokasi anak-anaknya. Dan reflek anak-anak mengangguk yang membuat Dira tersenyum.


"Ya Udah, Mama mau siapin makan malam untuk kita dulu" ucap Dira kemudian.


"Mita bantu ya Ma?"


"Oke Let's Go"


"Mas Ban..."

__ADS_1


"No" Potong Bian ketika Arka mengajukan diri untuk membantu ibunya. Karena jika nanti Arka sudah membantu ibunya sudah pasti Juna akan ikut dan Bian Akan ditinggalkan.


"Ih Papa"


"Kita para lelaki lebih baik nyirami tanaman Mama gimana?" ide Bian untuk mengalihkan Putranya agar tidak membantu masak Mamanya.


"Dah sana" usir Mita yang merasa menang karena dirinya akan menjadi satu-satunya anak yang akan membantu Mamanya.


Mereka kini telah berkutat dengan tugas masing-masing. Para wanita memasak dan para lelaki dengan kesibukannya sendiri.


"Ma...."


"Iya"


"Kakak cantik tadi mirip ya dengan Mama?"


Ucapan Mita membuat Dira tertegun dan menghentikan aktivitasnya. Dira pikir hanya dirinya yang merasa seperti itu. Ternyata sang putri juga merasakan hal yang sama. Gaya berpakaian Naura memang mirip dirinya di waktu dirinya masih muda.


"Mita merasa enggak asing deh Ma dengan Kak Naura?"


"Maksud kamu?"


"Dia kayak mirip.... " kalimat Mita menggantung, ia masih ragu untuk mengatakan apa yang ada dalam pikirannya. Mita takut jika ia mengatakan justru akan membuat Mama yang sangat ia sayangi itu menjadi sedih.


"Mama takut berprasangka Mbak, takut jika semua tak sesuai realita" ucap Dira kemudian. seolah tahu apa yang akan di sampaikan oleh putrinya.


"Ma... Maafin.... "


"Kita lanjut masak saja Mbak" ucap Dira memotong rasa bersalah yang kini bersarang dihati wajah putrinya.


.


.


.


.


Bersambung


Jangan lupa


Like👍


komentar✍️


love ❤ (Biar pas aku up kamu dapat notifikasinya)


Dan


Selamat menunaikan ibadah puasa semuanya


Semoga lancar dan kita semua mendapat pahala yang berlimpah

__ADS_1


Amin.


Makasih ❤❤❤


__ADS_2