
Rasanya udara diperumahan Bunda sangat berbeda dengan udara diperumahan milik Bian. Semenjak Dira menikah Dira membag jarabg banget nginap dirumah Bunda ia hanya datang untuk melepas rindu dan setelah itu Bian dan Dira akan pulang kembali kerumah. Tapi malam ini entah kenapa Dira ingin sekali nginap dirumah, dimana ia dibesarkan selama ini.
Sudah lama Dira tidak menikmati indahnya malam didepan rumahnya dibawah pohon mangga didepan rumahnya. Bayangan beberapa tahun lalu kini berlalu lalang dikepalanya. Dira ingat betul dulu dirinya sering mengahabiskan waktunya luangnya bersama dengan Mas Fadil dan Ical. Kala itu mereka saling berbagi cerita, bercanda dan juga saling usil mengusili sudah menajdi warna untuk ketiga saudara kakak beradik ini.
"Kangen masa lalu ya Mbak?" Tiba-tiba terdengar suara yang sudah tidak asing lagi. Dia adalah Muhammad Faisal. Sang adik yang kini telah berubah menjadi pria yang bijak. Barat badannya pun sudah sangat profesional sekarang.
"Kangen itu pasti Cal" Ucap Dira masih menatap kearah jalanan komplek yang ramai anak -anak kecil baru pulang mengaji.
"Sekarang semua sudah menjadi kenangan Mbak"
"Lebih baik begitu bukan??"
Tidak ada jawabn dari bibir Ical. Ia hanya diam dan duduk disamping kakak juga memandang kerah jalan yang ramai anak-anak kecil pulang mengaji. Sesekali juga mereka menjawab Saapan dari anak-anak yang lewat.
"Kamu dan Nabila..... "
"Dia akan menikah dengan pria pilihan Kak Aisyah!"
"Dia mungkin bukan takdir mu Cal. Insya Allah sudah ada jodoh terbaik yang dipilihkan Allah untukmu."
"Amin"
"Fokus dulu ke masa depanmu Dek"
"Ical berencana ingin membuka studio foto. Menurut mbak gimana?"
"Caffe gimana?"
"Ical tetap bantuin Mas Fadil di Caffe kok Mabk. Ical juga Pengen punya usaha hasil kerja keras Ical sendiri"
"Mbak dukung, apapun adalh itu terbaik untuk kamu dan masa depan kamu nanti"
Dira tersenyum dan menyandarkan kepalaku dibahu adiknya. Bahu inilah yang dulu selalu menjadi dandanannya. Tempatnya berbagi keluh kesah. Setelah Mas Fadil, Ical adalah orang pertama yang menjadi saksi perjalanan hidup seorang Nadira. Perpisahan memang hal terberat yang harus dialama oleh kakak beradik ini. Entahlah apa salah dan dosa putra dan Putri dari bapak Harun Abdulah dan Ibu Dewi Ningrum. Harus selalu menelan luka terlebih dahulu.
__ADS_1
"Ternyata kita memang harus disakiti dulu Kalu ya mbak menemukan cinta yang sebenarnya"
"Terkadang kita memang dipertemukan pada orang yang salah terlebih dahulu, baru kita menemukan cinta yang sebenarnya"
"Jodoh itu lucu, kita tidak pernah tahu jodoh kita itu seperti apa dan bagaimana. Siapa dan dengan cara apa bertemunya."
"Mas Fadil menemukan cintanya ketika dia sudah pergi jauh. Mbak Dira menemukan jodohnya ketika Mabk Dira sedang Patah hati."
"Dan siapa tahu nanti jodohmu malah ketemunya didepan rumah kita" Canda Dira dan mereka hanya terkekeh menertawakan diri mereka masing-masing.
"Assalamualaikum" Tiba-tiba seorang gadis dengan paras cantik memakai gamis rumahan warna hitam dengan jilbab instan warna nude telah berdiri tak jauh dari Dira dan Ical duduk.
"Eh Walaikumsalam " Jawab Dira dan Ical barengan. Senyum manis menjadi sarapan pembuka dari gadis ayu yang baru saja datang menghampiri keduanya.
"Mbak Dira kapan datang?"
"Tadi sore, ya Allah kamu kok cantik banget Dek, sampai pangling Mbak" Jawab Dira mesra kagum dengan gadis yang masih berdiri dihadapannya dan tak lupa senyum malu menjadi jawaban atas pujiannya.
"Mbak Dira juga lebih cantik"
"Dila disuruh ibuk anterin ini?" Sambil gadis yang bernama lengkap Selara Syafiatunisa menyerahkan paperbag yang berisi makanan khas Sumatra Utara yaitu bika ambon.
"Wah enak ini Kayaknya, memang rezeki anak soleha ngak pernah tertukar." Ucap Dira sambil menerima paperbag dari tangan Dila.
"Eh Dila sini dulu main, sudah lama ya kita Nggak ketemu. Kamu kemaren kuliahnya di Solo kan ya?"
"Iya Mbak... "
"Sini.... sini" Sambil Dira menarik tangan Dila dan menggeser posisi Ical.
"Sekarang kamu lagi sibuk apa?"
"Dia Dosen ditempat kampus Ical Mbak?" Kali ini Ical yang menjawab
__ADS_1
"Wah keren" Ucap Dira bahagia dan mengagumi sosok gadis yang ada disampingnya. Dila adalah tetangga Dira. Dila seumuran dengam Ical adiknya. Jadi Dira tahu betul bagaimana sikap dan sifay dari gadis yang berma Dila ini. Dulu dia sangat cuek dengan penampilan. Meski berhijab tapi dia tak pernah menempatkannya dengan benar. Tahu kan istilah "Berkerudung tapi telanjang" Nah begitulah sosok Dira yang dulu. Dan jika sekaramg penampilannya sangat anggun dan wajah yang glow up ini sungguh prestasi yang luar biasa bukan. Bicaranya juga sopan dan lembut, yang tidak oernah berubaj dari Dila adalah senyumnya. Senyumnya masih manis sama seperi dulu
"Dila sudah punya pacar?"
Dila yang ditanya hanya malu-malu. Sengum yang ditampilkan Dila menjadi jawaban atas pertanyaan Dira.
"Kalau masih Jomblo, nih sama dengan Ical juga jomblo" Ucap Dira enteng dan menyenggol Adiknya yang masih setia disampingnya Mesku keberadaannya sempat diabaikan.
"Lho bukannya Mas Ical...... "
"Ditinggal nikah Dil"
Pernyataan Dira mendapat senggolan dari Ical yang nampak tidak suka jika kakaknya ini semena -mena mengumbar masalahnya.
"Dila kamu masih suka nggak sama Ical?"
.
.
.
.
Bersambung...
jangan lupa
Likeš
komentarāļø
⤠(Biar pas aku up kamu dapat notifikasinya)
__ADS_1
Thankiyuuuu bangettt