
Malam semakin larut bahkan tidak ada suara apapun diluar sana. Baru sesaat yang lalu Mama Riana pergi dari Kamar Bian yang saat ini ditempati oleh Dira. Dan saat ini Dira sudah mulai resah. Baru beberapa jam berpisah dari suaminya sudah membuat Dira resah.
Satu bulan Dira tinggal satu atap dengan Bian. Bahkan bukan hanya satu atap mereka sudah satu ranjang. Dira terbiasa tidur disamping Bian. Mencium aroma parfum Bian yang bisa menenangkan. Bayangan tentang suaminya kini berputar dikepalanya.
Bagaimana canggungnya ketika mereka tidur dalam satu ranjang. Sejauh ini Bian hanya memeluknya dan memberikan kenyaman untuk Dira. Bian juga tidak mau memaksa Dira untuk memberikan haknya. Selama tinggal bersama Bian tidak pernah sekalipun Bian memperlakukannya dengan kasar. Meski Dira belum memberikan hatinya untuk Bian. Tapi Bian dengan sabar masih memberikannya hati yang tulus.
Apa ini saatnya untuk mengakhiri semunya. Apa aku memang harus melupakan Bayu. Apa aku memang harus menjalaninya dengan Kak Bian. Bayu masa laluku sedang Kak Bian sekarang suamiku.
"Sebaiknya kamu jangan egois ndok. Bagaimanapun Nak Bian adalah suamimu. Meski Nak Bian selalu berkata dia tidak keberatan. Namun Bunda bisa lihat ada kekecewaan lewat sorot matanya."
Ucapan Bunda juga kini berputar dikepala Dira. Apa benar dirinya sungguh sangat egois selama ini. Bagaimana mungkin Dira begitu menjaga perasaannya terhadap Bayu sedang Bayu sudah tidak hidup didunia yang sama lagi dengannya. Dan bahkan Dira mengabaikan hati yang tulus seperti kak Bian.
Akhhhh.....
Kenapa aku Bodoh selama ini?
Mengabaikan kak Bian yang jelas begitu tulus. Dan aku sibuk dengan perasaanku yang justru membuat aku semakin terluka. Ucap Dira merutuki kebodohannya.
Dira bertekad untuk menghubungi Bian. Dira sudah tak lagi memikirkan soal gengsi. Toh Kak Bian adalah suaminya. Tidak salah bukan, jika dia mengungkapkan perasaannya. Meski belum 100 % yakin jika Dira memiliki perasan cinta pada Bian. Tapi Dira telah memutuskan untuk mencobanya. Ya kali ini Dira akan berusaha keras untuk mencobanya dari awal.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan"
Berkali Dira mencoba menelpon Bian namun jawabannya tetap sama. Kenapa nomor Kak Bian Ngak aktif. Kemana malam-malam gini kak Bian. Guman Dira masih tak tenang.
"Oke....
Aku harus berfikir positif, mungkin kak Bian lagi sibuk. Atau mungkin kak Bian sudah tidur. Iya Kak Bian sudah tidur. Good Night Kak Bian."
Ucap Dira lirih dengan senyum mengembang.
Lucu.....
Dira merasa lucu kenapa ketika berjauhan dari Bian seperti ini membuatnya hilang kendali. Dan malah seperti anak ABG yang jatuh cinta.
Baru Dira ingin terlelap Dira mendengar suara pintu didorong. Seketika Dira melihat kearah pintu. Dira sangat berharap jika yang datang adalah suaminya. Tapi harapannya musnah bersamaan dengan senyum mengembang diujung pintu yang tentu saja bukan milik suaminya.
"Belum tidur Ra?"
"Kak Mila.... "
"Kenapa belum tidur?"
"Kok kakak kesini?"
"Kalau ditanya itu dijawab dulu baru tanya balik"
"Dira nggak bisa tidur kak"
Senyum mengembang dibibir Mila. Seperti memikirkan sesutau dengan kata ambigu yang baru saja Dira lontarkan. Apa Dira sedang merindukan suaminya. Apa Dira sudah menyadari betapa pentingnya keberadaan Bian.
__ADS_1
"Kok kakak malah senyum?
Kenapa kakak kesini ini sudah malam lho. Lihat itu" Sambil Dira menunjuk jam dinding di kamarnya
Jam menunjukkan pukul 23:00 WiB. Sudah malam bukan? Tapi kenapa Kak Mila berada disini?
"Aku disuruh temenin kamu Ra?
Aku juga mau nginap disini sampai hari resepsi pernikahan kalian" Ucap Kak Mila tersenyum.
"Beneran Kak?"
"Iya dong"
"Rangga?"
"Rangga ya nemenin suami kamu lah untuk......." segera Mila menghentikan ucapannya. Hampir saja dia keceplosan kalau Rangga sedang membantu Bian untuk meyelesaikan masalahnya dengan wanita ular itu.
"Untuk apa kak?"
Mila seperti berfikir untuk mencari alasan yang tepat. Jangan sampai Dira curiga. Karena Bian sudah mewanti-wanti untuk tidak memberitahu apa-apa kepada Dira. Bian tidak mau Dira khawatir. Apalagi ini juga menyangkut soal Salwa gadis kecil yang sangat disayangi oleh Dira.
"Kak...." Ucap Dira kembali karena Mila tak kunjung menjawab.
"Em itu... Rangga nemenin suami kamu. Untuk mempersiapkan hari pernikahan kalian" Ucap Mila tersenyum untuk menutupi kebohongnnya.
"Jadi sekarang kak Bian lagi sama Rangga dong kak?"
"Iya... "
"Kak....
Boleh tolong telpon Rangga nggak?"
"Untuk Apa?"
"Mau tahu Kak Bian lagi ngapain?"
Ucap Dira polos membuat Mila geli. Tapi sebenarnya Mila juga cemas bagaimana caranya untuk menolak.
"Kak Mila please.... " Ucap Dira dengan mengatupkan kedua tangannya didada dengan nada memohon membuat Mila tak tega.
Akhirnya Mila mencoba menghubungi Rangga. Namun hingga panggilan ketiga Rangga baru mengangangkat telponnya.
"*Assalamualaikum sayang ada apa?"
"Walaikumsalam... Ngga ini Dira"
"Di... Dira*... " Jawab Rangga terbata. Mati aku jawab apa kalau Dira tanya soal Bian. Tidak mungkinkan kalau Rangga jawab Bian sedang..... Akhhh mati...mati.....
__ADS_1
"*Ngga... Masih disana? "
"I... Iya... Ada apa Ra?"
"Kamu dirumahku sekarang? "
"Iya.... "
"Kak Bian Mana?"
"Mas Bian.... "
"Udah tidur ya*? "
Seketika Rangga bisa bernafas lega karena sepertinya dia memiliki alasan untuk Dira malam ini. Setidaknya untuk malam ini saja.
"Iya ra Bian sudah tidur. Udah kamu ngak usah cemas gitulah. Sengaja Bian kami suruh tidur cepat dan matiin handponenya. Biar nanti pas kalian ketemu ada kengen-kangennya gitu" Goda Rangga yang membuat Dira malu-malu.
"*Apaan sih Ngga?"
"Udah mendingan kamu tidur aja ya. Ada Mila kan disana yang nemenin kamu?"
"Iya Ngga makasih ya. Kalian memang sahabat aku yang ter best deh*" Ucap Dira sudah bisa tersenyum. Dira merasa lega karena Dia sudah mengetahui kabar suaminya baik-baik saja.
Yah walaupun Dira tidak dapat kabar langsung dari Bian. Tapi Dira sudah bisa lega kalau memang suaminya baik-baik saja.
"Kak Bian memang harus baik -baik saja" Ucap Dira didalam hatinya. Kemudian menyerahkan handpone kak Mila.
.
.
.
.
.
Bersambung
Jangan lupa
Likeπ
komentar π
β€ (Biar pas aku up kalian dapat notifikasi)
ππππππ
__ADS_1