ADA KAMU SETELAH LUKA KEMARIN

ADA KAMU SETELAH LUKA KEMARIN
Harus diungkap


__ADS_3

Meski ragu Bian mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk mengungkapkan kebenaran. Apapun itu ia harus terima. Meski kekecewaan tak dapat ia elak, namun benar kata Ari. Dira istrinya, ibu dari anak-anaknya. Tidak akan mungkin Dira mengorbankan keluarganya hanya demi orang lain. Dengan sekuat hati Bian melangkah dan menghampiri sang istri yang sedang berdiri didekat jendala kamarnya. Menatap jauh kedepan. Sudah beberapa hari ini komunikasi keduanya memang kurang baik. Hari ini, Bian akan mengakhiri semuanya. 15 tahun bersama tanpa pernah sekalipun mereka tak bertegur sapa lebih dari setengah hari. Biasanya keduanya akan saling mengalah. Dan ya sudah semua akan menjadi baik kembali.


"Sayang.... " ucap Bian sebagai kalimat pembuka.


Harusnya Dira akan tersenyum jika mendengar panggilan itu ditujukan untuknya. Tapi entah mengapa panggilan iti bagai sembilu untuk Dira. Sakit, sangat sakit rasanya. Pria di sampingnya ini telah menemaninya hingga belasan tahun tapi justru pria inilah yang telah berbohong padanya. Kenyataan yang baru saja ia ketahui ternyata lebih sakit dari rasa kehilangan yang pernah dirasakan.


"Aku mau.... " belum selesai Bian berbicara sorot mata Dira mengisyaratkan betapa kecewanya dirinya.


"Naura.... " Lanjut Bian yang langsung dipotong oleh Dira


"Naura Gunawan, usianya 19 tahun, mahasiswi semester 4 di universitas swasta yang juga milik keluarga Caraka. Bahkan dia bisa mengajar eskul basket disekolah keluarga Caraka juga atas rekomendasi Tuan *A*kbar Fabian Caraka yang tak lain adalah pemilik Caraka Group" ucap Dira penuh dengan emosi.


"Dia.... "


"Dia adalah cucu dari pemilik Gunawan Group yang menjadi saingan Caraka Group" ucap Dira masih dengan emosi yang menggebu, bahkan cairan bening sudah tertumpuk dipelupuk mata indahnya.


"Kamu tahu dari mana?"


Tidak ada jawaban dari Dira. Dira justru mengambil sesuatu didalam laci dan memberikan pada Bian. Sebuah map berwarna merah yang berisi profil dari gadis yang ia temui beberpaa hari yang lalu. Naura Gunawan. Dira menyelidikinya sendiri. Dira pikir Dira akan mendapatkan hasil seperti yang ia inginkan. Tapi pada kenyataannya, Dira mendapat hasil yang sangat menyakitkan untuknya.


"Apa yang kamu tahu dari Naura Gunawan?" ucap Bian lirih.


"Tidakkah kamu punya penjelasan atas ini Pa?"


"Apa kamu tahu kalau dia...."


"Dia cucu kandung dari Tuan Gunawan. Dan beliau hanya memiliki satu anak yaitu wanita gila itu. Dan usia anak itu adalah 19 tahun. Kamu ada dibalik semua ini. Kamu ada hubungannya dengan ini semua Pa. Apa dia anak mu dengan.... "


"Bukan aku sudah katakan jangan berfikir diluar kendalimu. Apa sesempit itu pikiranmu tentang ku? Bukankah aku sudah ceritakan semuanya dulu, bagaimana hubungan ku dengan wanita itu. Aku berani bersumpah keturunanku adalah yang berasal dari rahimmu. Kamu adalah ibu satu-satunya yang melahirkan keturunanku. Apa kamu benar-benar belum mengenalku? apa 15 tahun bersama belum cukup untuk mu mengenal bagaimana aku? Aku pikir hari ini kita bisa bicarakan masalah ini dengan baik. Ternyata tidak, bahkan kebenaran apapun tidak akan ada gunanya" ucap Bian dengan kekecewaannya.


Bian sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengungkap siapa Naura. Tapi ternyata kalimat yang justru keluar dari bibir istrinya begitu menyakitkan. Sama merasa tersakiti oleh hal yang tidak tahu kebenarannya. Kecewa dalam kesalah pahaman yang membuat keduanya memilih bungkam. Membenarkan sikap masing-masing. Sama - sama merasa dirinya paling terluka. Bian melangkah pergi meninggalakn Dira yang masih diam dengan segala pemikiran yang terus merangsang otaknya untuk terus berpikir negatif.

__ADS_1


Harusnya Dira menyerahkan masalah ini pada suaminya. Harusnya Dira tidak mencari tahu sendiri. Harusnya luka ini tidak hadir setelah 15 tahun pernikahan yang ia lewati begitu manis. kenyataan yang ia simpulkan sendiri sungguh menyakitkan. Mungkin sebaiknya dia tidak mencari tahu siapa gadis yang hingga hari ini belum hilang dari ingatannya. Pelukannya siang itu pun masih hangat terasa. Senyumnya, raut sendunya, begitu tergambar jelas di ingatannya. Tapi kenyataannya memang begitu menyakitkan.


Dira dengan segala luka yang ia ciptakan sendiri. Sedangkan Bian dengan segala kekecewaan yang tanpa ia mau menjelasakannya. Kedunaya memilih saling diam dan bertahan dengan segala keegoisan masing-masing.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Beberapa hari telah berlalu. Sikap dingin dan saling acuh kini menjadi pemandangan dirumah yang sudah lebih dari 15 tahun Bian dan Dira tinggali. Dan dalam beberapa hari ini juga baik Bian maupun Dira tidak memiliki selera makan yang baik. Dira Selalu terlihat murung dan lebih sering menyendiri. Bahkan terkadang rengekan Juna putra bungsunya ia abaikan. Sedangkan Bian juga sama. Selalu berangkat kekantor pagi-pagi dan pulang sudah terlalu larut. Sikap keduanya tentu menjadi keresahan putra dan putrinya. Hingga pada suatu siang Arka yang melihat sang mama sedang duduk termenung di teras samping rumahnya dengan memandang kedasar kolam renang.


"Ma.... " sapa Arka dengan penuh kehati-hatian.


Dira menoleh kearah putra yang juga sudah duduk disamping sang Mama. Dira paksaan untuk tersenyum. Namun senyum itu tak bisa membohongi sang putra yang lebih dulu tahu jika Mamanya memang sedang tidak baik-baik saja.


"Mas Arka sudah pulang sekolah?"


"Sudah Ma"


"Sudah makan?" tanya Dira kembali, untuk mengalihkan perhatian sang putra yang terlihat raut kesedihan disana.


"Jadilah anak yang kuat Mas. Jaga adik-adik ya. Jadi pelindung keluarga. Kalau nanti Mama dan Papa...."


"Arka akan jaga Mama dan Papa, jaga Mbak Mita dan juga jaga adek Juna, jaga semua keluarga besar kita sama seperti yang selalu Papa lakukan"


Tersentak hati Dira mendengar putranya berbicara demikian. Bian memang selalu mengutamakan keselamatan keluarga.


Apa selama ini memang dirinya yang keterlaluan?


Apa benar dirinya yang memang belum mengenal bagaimana suaminya?


"Ma...."


Dira hanya menatap sang putra yang juga menatapnya sendu. Ada kesedihan yang Arka tunjukkan pada sang Mama. Mungkin jika bisa, Arka ingin bicara jika dirinya sangat tidak menyukai situasi ini. Namun Arka adalah anak sulung di keluarga. Meski usianya baru 14 tahun namun ia memang harus lebih dewasa dari kedua adiknya. Setidaknya Arka cukup memahami apa yang menjadi permasalahan kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Jangan pikirkan Mama dan Papa Mas. Apapun yang terjadi pada Mama dan Papa, kami tetap sayang sama kalian"


"Arka tidak suka Mama menangis seperti ini setiap hari. Mama lebih cantik kalau tersenyum. Arka juga tidak suka Papa murung, Arka lebih suka lihat Papa yang selalu ceria dan juga bijaksana"


"Permasalahan orang dewasa itu bervariasi Mas. Mas Arka masih terlalu kecil untuk berada didalamnya"


"Ma... Mas Arka sudah SMA. Mas Arka sudah besar. Mas Arka adalah seorang Kakak. Kata Abi Fadil anak laki-laki harus bertanggung jawab untuk ibunya dan saudara perempuannya. Itu artinya Mas Arka harus lebih dewasa untuk menghadapi apapun"


Dira tersenyum meski bulir bening juga tidak bisa ia bendung lagi. Ternyata putra sulungnya yang ia timang-timang ternyata memang sudah beranjak dewasa. Tidak pernah menyangka ternyata waktu benar-benar telah mengubah segalanya. Rasa bangga juga terselip diantara rasa kecewa yang masih bersarang dibenaknya.


"Ma.... Mas Arka siap memberikan bahu Mas untuk Mama bersandar jika itu memang berat"


Luruh sudah semua yang berusaha Dira pertahanan. Perkataan putranya benar-benar menunjukan betapa lemahnya dirinya. Ia pura-pura kuat, padahal ia memang butuh sandaran. Dira jatuh dalam pelukan sang putra. Arka memeluk sang Mama begitu erat. Mengeksplor kekuatan untuk sang Mama. Ia adalah anak laki-laki tertua. Ia adalah pelindung untuk keluarganya. Maka sudah semestinya dirinya membantu mendamaikan kedua orang tuanya seperti sebelumnya. Ada tanggung jawab dipundaknya untuk selalu menjaga keutuhan keluarganya.


.


.


.


Bersambung.....


Jangan lupa


LikeπŸ‘


komentar✍️


love ❀ (Biar pas aku up kamu dapat notifikasinya)


Makasih 😁😁😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2