ADA KAMU SETELAH LUKA KEMARIN

ADA KAMU SETELAH LUKA KEMARIN
Ingin Bersama


__ADS_3

Suasana sore dirumah yang cukup besar dikawasan perumahan elit milik keluarga Gunawan tidak terlalu ramai. Naura sedang berdiri diatas rooftop rumah milik opanya yang sudah kurang lebih 15 tahun ia tinggali. Kehidupan di rumah ini sangat berjalan dengan normal. Naura dilayani dengan baik. Naura tidak pernah kekurangan apapun. Opanya pun memberikan penuh kasih sayang yang ia punya. Hanya saja hatinya tidak bisa berbohong. Jika benar hati Naura sangat merindukan mama angkatnya. Mama Dira, yang setiap hari hanya bisa ia lihat dari kejauhan. Jika bisa Naura meminta ingin ia memiliki kehidupan keduanya. Bisa tinggal bersama keluarga kandungnya. Dan bisa bebas memiliki kasih sayang dari Mama Dira. Tapi sayang, kehidupan Naura tidak jauh dari sebuah pilihan. Dan Naura memilih pada kehidupan yang sangat tidak ia inginkan.


"Kehidupan seperti apa yang kamu inginkan Nak?" suara yang terdengar parau namun lebih tenang dari beberapa jam yang lalu.


Suara khas seorang pria yang Naura panggil Opa. Kali ini Gunawan sudah lebih tenang. Gunawan sadar, jika cucunya memang tumbuh besar bersamanya. Namun Naura tumbuh menjadi seperti sekarang ini bukan dirinya yang menjadi figur dibaliknya. Naura justru memilih figur keluarga angkatnya yaitu Dira dan Bian. Naura tumbuh menjadi gadis yang taat akan agama, mandiri, serta pemberani itu semua karena Naura selalu menjadikan Dira sebagai standar kompetensi untuk kehidupannya. Lalu pantaskah Gunawan menuntut banyak hal dari Naura. Harusnya dirinya malu, harusnya sebagai seorang kakek dirinya yang harus mendidik Naura menjadi lebih baik. Namun nyatanya juatru dirinya yang membuat beban psikis untuk Naura. Beruntung Naura tumbuh menjadi gadis yang kuat, sehingga beban itu bisa ia lewati. Harusnya Gunawan berterimakasih pada keluarga Dira. Meski mereka tak membersamai tumbuh kembangnya Naura. Namun kehidupan keluarga merekalah yang membuat Naura tumbuh menjadi gadis yang baik seperti sekarang ini. Mungkinkah ini karena obsesinya pada putrinya yang berada ditempat yang bukan tempat untuknya, hingga ia melupakan bahwa cucunya juga butuh bimbingan darinya.


"Maaf"


Kalimat yang singkat itu kembali terdengar ditelinga Naura. Namun kali ini kalimat yang sangat jarang sekali ia dengar dari kakeknya. Diamnya Naura membuat Gunawan semakin memiliki rasa bersalah.


"Opa...." kalimat itu terputus manakala Naura berbalik badan dengan genangan air mata.


Satu kalimatpun begitu kelu keluar dari bibir Naura. Ia memang marah, kecewa, terluka. Tapi kata maaf yang baru saja diucapkan kakeknya, membuatnya lemah. Kata yang singkat itu ternyata begitu tulus keluar dari bibir renta milik kakeknya.


"Maafin Kakek Naura" kalimat itu kembali terdengar ditelinga Naura.


Ingin Naura menepis, namun nyatanya yang Naura temukan adalah ketulusan. Rasa yang ia cari selama ini. Rasa yang tidak ia temukan selama ia tinggal bersama keluarga kandungnya. Kasih sayang yang ia punya berdasar dengan tekanan mental yang ia punya. Namun langit senja sore ini seolah menajadi saksi, jika seorang Gunawan yang memiliki sifat yang keras kepala dan kejam nyatanya memiliki sikap yang lembut dan tulus.


"Opa.... " ucap Naura parau dengan bulir bening yang masih mengalir tanpa permisi dipipi mulus milik Naura.


"Opa salah selama ini Nak, harusnya Opa lebih memperhatikan kebutuhan kamu. Tapi Opa malah sibuk memperalat kamu untuk kepentingan Opa"


Naura menggeleng mendegar kalimat penyesalan dari Opanya. Mungkin benar selama ini Opanya tidak pernah mau sedikit saja memberikan ruang untuknya untuk melangkah bebas. Tapi bagaimanapun Opa juga seorang ayah yang juga ingin melindungi putrinya. Sesalah apapun seorang putri, maka ayah yang akan selalu menjadi yang utama untuk membelanya.


"Naura akan lakukan, jika itu membuat Opa bahagia" ucap Naura lirih.


Gunawan hanya menggeleng. Mencakup kedua pipi cucu perempuannya yang selama ini ia abaikan meski mereka tinggal dalam atap yang sama.

__ADS_1


"Jangan lakukan apapun yang nantinya hanya menjadi beban untukmu" ucap Gunawan kembali lirih dan menatap dalam manik mata indah milik cucu perempuannya.


"Tapi.... "


"Kita bisa mengunjungi Mamamu kapanpun kan?


Mungkin ini memang sudah jalan yang harus ditempuh oleh mamamu akibat ulahnya" ucap Gunawan pasrah.


"Om Bian dan Mama Dira bukan orang yang egois. Naura yakin mereka akan mengerti untuk saat ini. Semua sudah berlalu lama kan Opa?"


"Kamu sedirikan yang mengingatkan Opa tadi, jika kesalahan mamamu begitu fatal. Sehingga wajar jika Tuan Bian dan istrinya melakukan hal ini"


"Mereka orang baik Opa. Mereka akan ngerti jika Naura yang minta"


Gunawan hanya menggeleng. Rasa bersalahnya kembali mencuat ketika lagi-lagi sang cucu ingin berkorban untuknya.


"Tapi Opa merindukan Mama Siska kan?"


"Opa tidak bisa egois ingin memiliki keduanya. Opa memang ingin bersama dengan mamamu. Tapi Opa juga tidak bisa melepasmu Naura"


"Naura tidak akan kemana-mana Opa"


"Jika ingin Mamamu kembali maka Opa harus siap kehilanganmu Naura"


"Mereka tidak seegois itu Opa?"


Gunawan hanya diam. Mengingat pertemuannya dengan Bian beberapa waktu lalu membuatnya tersadar jika sesuatu yang berada didekat kita memang sangat berharga. Naura memang gadis yang baik. Selama ini ia rela berkorban hanya untuk melindungi banyak orang. Naura memilih menjauh dari keluarga yang sangat ia sayangi dan memilih hidup terabaikan bersmaa keluarga kandungnya. Naura memilih memiliki beban mental selama bertahun-bertabun hanya untuk keegoisan seoarang ayah seperti dirinya.

__ADS_1


"Opa tidak ingin membebanimu lagi Nak. Pilihlah kehidupan sesuai keinginanmu. Opa tidak akan memberikanmu pilihan lagi"


"Naura akan hidup sesuai keinginan Naura Opa. Opa jangan khawatir"


Gunawan hanya tersenyum kecut. Ia tahu apa yang akan menjadi pilihan cucunya. Ia pasti akan memilih meninggalkannya. Itu sudah jelas. Selama ini saja Naura lebih membela keluarga angkatnya. Lebih menjadikan mereka panutan dalam menjalani kehidupannya. Tapi Gunawan sudah berjanji untuk tidak membebankan Naura sebuah pilihan lagi. Gunawan juga sudah pasrah jika diakhir kehidupannya ia harus hidup sendiri tanpa keluarga. Ini adalah resiko dari keegoisannya selama ini.


"Opa hormati keputusan mu Naura. Opa hanya ingin kamu tahu jika Opa juga menyanyangimu. Kehidupan seperti apa yang kamu inginkan nanti. Ingatlah jika Opa juga sangat mendukungmu. Rumah ini adalah rumahmu. Kapanpun kamu mau kembali pintu rumah ini akan selalu terbuka untukmu Nak"


Naura hanya tersenyum dan jatuh dalam pelukan sang kakek. Selama lima belas tahun tinggal bersama kakeknya tidak pernah Naura mendengar kalimat bijak yang keluar dari kakeknya. Harusnya ini akan dengan mudah untuk Naura menentukan pilihannya. Harusnya akan lebih mudah untuk Naura pergi dari keluarga yang membuatnya memiliki beban mental selama ini. Namun kenapa semua terasa begitu berat.


"Naura sayang Opa.... "


.


.


.


Bersambung.....


Jangan lupa


Like๐Ÿ‘


komentarโœ๏ธ


love โค (Biar pas aku up kamu dapat notifikasinya)

__ADS_1


Makasih ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


__ADS_2