ADA KAMU SETELAH LUKA KEMARIN

ADA KAMU SETELAH LUKA KEMARIN
Dibuat Bangga


__ADS_3

"Jadi Mas Arka, Mbak Mita, kalian sudah pahamkan apa yang sudah kalian sampaikan tadi. Bagaimana pentingnya seorang wanita menjaga pandangannya dan auratnya?


Bagaimana kita menjadikan sabar dan sholat sebagai penolong kita dalam keadaan apapun?


Mama dan Papa berharap kalian bukan hanya mengerti dan paham saja, tapi kalian juga harus aplikasikan dalam kehidupan kalian."


Kalimat Dira membuat ketiga anaknya tersenyum mengerti. Tidak ada rasa yang bisa Dira panjatkan kecuali rasa syukurnya karena anugrah tuhan itu memang begitu indah. Putra dan putrinya tumbuh menjadi pribadi yang taat akan agamanya juga patuh terhadap kedua orang tuanya. Dira dan Bian pikir ketiga generasinya akan mudah tergiur dengan kehidupan yang serba digital di era sekarang ini. Namun nyatanya semua bisa berjalan seimbang. Putra dan putrinya tidak kudet alias kurang update dan juga taat akan ajaran agama.


"Ma.... " suara Juna memecah keheningan untuk beberapa saat terjadi.


"Iya sayang"


"Juna ingin sekolah dipesantren"


Permintaan Juna membuat kedua orang tuanya dan juga kedua kakaknya terlonjak kaget mendengarnya. Pasalnya dari baground keluarganya tidak ada yang bersekolah di pesantren. Namun kenapa Juna justru menginginkan sekolah dipesantren.


"Juna, Mama tidak salah dengar kan Nak?"


"Tidak boleh ya Ma?" ucapnya sendu, takut jika sang mama tidak memberinya restu.


Dira hanya menggeleng dan mengusap puncak kepala putranya. Ia tatap wajah imut dan lucu yang sudah lima tahun ini menjadi temannya. Wajah yang selalu ceria dan polos yang terkadang membuat suasana menjadi lebih hangat.


"Sayang, kamu kenapa ingin sekolah disana nak?" tanya Dira lembut agar Juna lebih terbuka dengan alasannya.


"Juna ingin jadi hafiz Al- Qur'an Ma"


Deg


Seperti tertampar, baik Dira maupun Bian kompak meneteskan air mata. Bahkan dirinya yang usianya sudah jauh lebih tua tidak terfikir untuk menjadi seperti apa yang di katakan Juna putra ketiganya. Rasa malu juga bangga kini tak dapat ia hindari. Semua tercampur menjadi satu.


"Boleh Ma, Pa?" tanya Juna Sambil bergantian menatap kearah kedua orang tuanya dengan penuh harap.

__ADS_1


Bian memeluk putra dengan erat, sedang Dira masih ragu ingin memberikan izin. Bukan dirinya tak menyukai juka putranya ada yang ingin bersekolah di pesantren namun, sebagai orang tua Dira juga tidak ingin berpisah dengan anak-anaknya. Lain Dira, lain lagi Bian. Bian memang akan dengan mudah memberikan restu, jika itu menyangkut pendidikan. Apapun itu Keinganan putra dan putrinya akan ia penuhi selagi itu memang terbaik untuk mereka. Apalagi permintaan Juna sungguh beda dari yang lainnya. Disaat anak seusianya masih harus dipaksa untuk melakukan ibadah. Tapi justru Bian dan juga Dira sangat bersyukur, jika putranya akan melakukannya karena diri mereka sendiri. Ditambah lagi Juna memang mengajukan sendiri permintaannya untuk sekolah di pesantren.


"Juna mau sekolah di pesantren mana Nak?


"Di sini Pa?" sambil Juna mengeluarkan brosur yang menjelaskan tentang pondok pesantren terbaik di Jawa Timur didaerah Ponorogo.


Hal ini sudah pasti membuat Dira membulatkan matanya dengan sempurna. Mendengar putra menginginkan sekolah di pesantren saja sudah membuatnya syok. ditambah lagi Dira tahu, jika Juna menginginkan untuk bersekolah di luar kota.


"Juna yakin?" tanya Bian sekali lagi


"Yakin Pa, nanti Raffi akan bersekolah disana juga"


"Raffi?" tanya keempatnya kompak yang membuat Juna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Pantas saja Juna begitu ngotot ingin bersekolah di pesantren. Ternyata Raffi putra bungsu dari sahabat Bian yang juga asisten pribadinya Bian juga akan bersekolah disana. Bahkan Almira Putri pertama Ari pun juga akan melanjutkan sekolahnya disana.


"Jadi Almira mau sekolah disana juga Dek?" kali ini Arka yang bertanya


Juna hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Jangan asal" Jawab Arka kesal


"Ya... ada yang LDR neh" goda Mita lagi


Arka sudah dalam mode kesal. Sedang Mita masih saja tak patah semangat untuk menggoda sang kakak. Interaksi keduanya justru membuat Bian dan juga Dira mengerutkan keningnya kemudian tersenyum. Dan justru mendapat tatapan tajam dari Arka.


Reaksi Arka yang dinilai berlebihan justru membuat semuanya semakin gencar menggodanya. Meski Bian dan Dira adalah termasuk orang tua yang tegas dan disiplin. Namun mereka juga terkadang ikut larut dalam candaan putra dan putrinya sehingga kedekatan mereka yang membuat harmonis hubungan anatara anak dan orang tua.


...๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€...


Sesuai keinginan Juna kini Bian dan juga Dira sedang berada didaerah Jawa Timur bersama dengan Syifa dan juga Ari. Mereka sepakat untuk menyekolahkan putra dan putri mereka di pesantren. Meski sejak semalam Dira sudah menguatkan hati dan berusaha untuk tegar. Namun nyatanya ketika hendak meninggalakn putra bungsunya ia tak bisa memungkiri bahwa sedih dan juga khawatir kini bersarang indah diparas ayunya.

__ADS_1


Berulang kali Bian menyakinkan Dira bahwa Putranya pasti akan baik-baik saja. Namun berkali pula Dira menolak perasaannya untuk berfikir demikian. Munhkin untuk semua ibu diluar sana jika mengantarkan anaknya untuk sebuah perpisahan pasti akan sedih. Meski perpisahan yang tercipta ini demi masa depan putra ataupun putrinya.


"Mbak Dira tenang saja, Juna pasti akan baik-baik saja. Apalagi Almira dan juga Raffi juga bersekolah di tempat yang sama. Pasti mereka akan saling menjaga" ucap Syifa yang tak lain adalah ibu dari Almira dan juga Raffi.


"Kamu kok tegar banget sih Fa? Padahal anak kamu dua-duanya yang pisah dari kamu?"


"Mereka kan berpisah dengan kita karena cita-cita mereka. karena masa depan mereka. Sekolah yang mereka pilih juga sekolah yang bagus. Kita Bahkan masih di pulau yang sama kan? kapanpun kita rindu mereka kita bisa berkunjung" ucap Syifa dengan lembut menguatkan hati Dira.


Dira tersenyum dan tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja. usapan lembut dari Bian membuatnya semakin kuat. Ia memang harus kuat. Juna itu menuntut ilmu, maka seharusnya dirinya mendukung dan juga mendoakan agar Putranya bisa meraih apa yang ia cita-citakan.


Akhirnya Dira tersenyum dan mulai melangkah meninggalkan bangunan yang berjajar dimana didalamnya ada satu orang anak yang menjadi kebanggaanya.


"Mama Doakan semoga Juna bisa meraih apa yang Juna cita-citakan Nak" Ucap Dira dalam hati sebelum mobil yang membawanya benar-benar telah jauh meninggalkan gedung dimana disana ada putranya.


Mungkin setelah ini Dira juga akan menghadapi perpisahan yang lainnya. Kenapa demikian?


Itu karena putra sulungnya yang juga akan melanjutkan pendidikan jenjang S1nya di luar Negri. Dan tidak menutup kemungkinan, jika Putri kedunya Mita, juga akan melakukan hal yang sama. Dira hanya bisa pasrah. Karena memang sejatinya sekuat apapun Dira meminta untuk anak-anaknya tetap berada didekatnya. Pada akhirnya mereka juga akan menemukan kehidupannya masing-masing. Biarpun demikian, tidak hanya Dira, Bian pun juga di buat bangga dengan tumbuh kembang ketiga anak-anaknya.


.


.


.


.


Bersambung.....


Jangan lupa


Like๐Ÿ‘

__ADS_1


komentarโœ๏ธ


love โค (Biar pas aku up kamu dapat notifikasinya)


__ADS_2