
Menanti hari yang memang sangat ditunggu oleh semua orang. Terlebih yang dinanti adalah cucu pertama dari keluarga Harun Abdullah. Generasi penerus keturunan Harun Abdullah. Rasa bahagia dicampur dengan khawatir kini sedang melanda seorang calon ayah yaitu Muhammad Fadil. Prediksi HPL harusnya masih dua minggu lagi. Mungkin karena sinjunior sudah tidak sabar lagi untuk melihat bagaimana kerasnya kehidupan didunia maka ia sudah ingin keluar.
sempat disarankan untuk SC saja tapi Kak Fathia kekeh ingin normal. Tensinya sempat drop karena rasa takut yang berlebihan. Tapi berkat doa juga dukungan dari keluarga membuat Kak Fathia lebih tenang dan Rilex sehingga membuat tekanan darahnya kembali normal. Khawatir sudah pasti yang kini semakin kuat menjalar dihati mas Fadil. Bahagia juga ada meski yang lebih jelas terlihat adalah rasa khawatir juga takut.
Sudah satu jam kak Fathia berada dalam ruangan bersalin. Didalam hanya ada dua orang dari pihak keluarga Bunda dan mas Fadil. Awalnya Kak Fathia meminta Mas Fadil. menunggi diluar saja. Kak Fathia khawatir Mas Fadil Tdiak akan kuat. Tapi Mas Fadil tetap memaksa ingin menemani Kak Fathia berjuang. Mas Fadil ingin menjadi saksi bagaimana perjuangan ibu dari anaknya yang sangat luar bisa. Ia tidak ingin membiarkan wanitanya berjuang sendiri.
Jika didalam sudah carut marut pikiran dan
perasaannya tidak jauh berbeda dengan perasaan yang berada diluar ruangan yang menunggu. Dira terus melantunkan doa dan sholawat agar persalinan kak Fathia lancar deiberi kesehatan untuk ibu juga anaknya.
"Apa masih lama mbak?" tanya Ical memecah ketenangan anatara Dira juga Ayahnya.
"Nggak tahu juga Mbak Cal?"
"Apa lama Yah?"
"Harusnya tidak lama lagi, karena tadi katanya sudah bukaan sempurna"
Dira dan juga Ical hanya manggut-mabggut sok ngerti aja. Dira memang sudah mebikah, Tapi pengalaman melahirkan dia belum ada. Dia Sedang berusaha untuk mendapatkannya. 😃😃😃
Cukup. lama mereka menunggu dengan kecemasan yang luar biasa. Hingga satu jam yang kedua barulah suara tangis bayi yang membuat baik yang berada didalam ruangan mauoun diluar bernafas lega. Ucapan syukur serta doa dilantunkan oleh semuanya. menyambut kahdairan malaikat kecil yang akan menjadi pelengkap sempurnya Abi dan Uminya.
Tetesan air mata bahagia menetes dari seorang pria yang baru saja mendapat gelar baru yaitu seorang Ayah yang akan dipanggil Abi. Mengecup kening dan senyum yang menandakan bahawa dirinya sangat mengagumi sosok wanita tangguh dihadapannya kini. Berjuang anatara hidup dan mati intuk bertaruh nyawa melahirkan malaikat kecil buah cintanya. pengorbanananya sungguh luar biasa. Bahkan dirinya tak pernah pedulikan bagaimana keselamatan dirinya yang terpenting untuknya buah hatinya selamat.
Suara azan dari sang Abi adalah kalimat pertama yang akan didengar oleh bayi mungil berjenis kelamin perempuan. Setelah mengazani putri cantiknya, Fadil, menatap dalam wajah bayi mungil tanpa dosa itu. inilah hasil buah cintanya terhadap wanita yang ia nikahi satu setenga tahun yang lalu kini telah memberikannya hadiah malaikat kecil yang sangat cantik.
"Dia cantik seperti Uminya" ucap Mas Fadil sambil memandang kearah Kak Fathia yang juga tersenyum pada suaminya.
"Dia adalah bukti dari cinta kita Mas"
__ADS_1
Mas Fadil masih tak bergeming menatap kearah istrinya. Bahkan seribu kali Mas Fadil mengucapkan kata Terimaksih tidak akan cukup untuk mengganti rasa yang diberikan oleh istrinya ini.
"Terimaksih telah menjadukanku seorang Ayah seperti impian kita selama ini. Terimakasih telah berjuang demi putri cantik. Kalian berdua adalah cintaku yang tak akan pernah lekang meski waktu yang akan menulisnya"
Tangis haru juga rasa bahagia menajadi satu dikeluarga Harun Abdullah. setalah kak Fathia dipindahkan diruangan rawat inap. kini ruangan itu sudah dipenuhi oleh Ayah, Ical dan Juga Dira bersama Bian yang beberapa menit yang lalu telah datang menyusul.
Saat ini bayi mungil itu sedang dalam gendongan Mbah putrinya. Dan Dira hanya berani mengelus-elus pipi yang masih terlihat merah itu. Senyumnya merekah Ketika mendapat respon dari bayi mungil. itu.
"Cantik sekali kamu sayang" ucap Dira gemas melihat bayi mungil itu.
"Mau gendong?" tawar Bunda pada Dira.
"Boleh Bun?"
"Ya tanya sama Abi dan Uminya boleh tidak digelar dong sama buleknya?"
kedua kompak tersenyum melihat kepolosan adiknya. Harusnya tidak perlu meminta izin.
"Ya boleh dong Ra?" jawab kak Fathia sambil terkekeh kecil.
Masih sangat kaku dan takut-takut Dira mencoba memberanikan diri menggendong bayi mungil yang masih merah itu. Hatinya bergetar, rasa haru juga bahagia melihat mata yang tertutup dan nafas yang beraturan. Wajahnya masih polos, suci, tanpa noda. Berada dalam gendongan Dira membuat bayi mungil itu semakin nyaman. mungkin bayi itu mulai merasakan ketulusan hati wanita yang sedang mendekapnya dengan penuh kasih.
"Mas Fadil sudah punya nama untuk dedeknya?" tanya Dira masih belum lekang memandangi wajah bayi mungil dalam gendongannya.
"*F*ina Nailatul Izzah" jawab Fadil
"Cantik, nama yang cantik. PanggilanNya Naila Saja mas" ucap Dira memberi usulan.
"Boleh juga" jawab Fathia.
__ADS_1
"Kamu suka dengan namanya sayang"
"Apapun yang suamiku beri aku suka" ucap Fathia tulus pada Fadil.
Tentu saja ini membuat gelak tawa semua orang yang berada disana. Tak terkecuali Bian yang notabennya adalah pria yang minim tawa.
.
.
.
Bersambung
Jangan lupa
Komentarnya✍️
likenya 👍
❤ (Biar pas aku up kamu dapat notifikasinya)
matur thakiyuuu
Jangan lupa kepoin sosmed Otor
Ig : @Normairnawati
Fb : Noe Haveadream
__ADS_1