
Percakapannya dengan putrinya saat memasak tadi sore ternyata meninggalkan efek untuk Dira. Entah mengapa sejak pertemuannya dengan gadis bernama Naura itu cukup sulit untuk Dira melupakannya. Bayangan gadis itu selalu memenuhi batang otaknya. Kajadian tadi siang memang mengingatkan Dira pada kejadian beberapa tahun lalu pada saat dirinya menyelematkan Salwa. Kejadian yang sama persis. Bahkan gaya berpakaian gadis tadi memang sangat mirip dengan dirinya dulu. Meski Dira juga tak memungkiri gaya berpakaian seperti dirinya juga banyak. Tapi kenapa gadis tadi sangat berbeda.
"Sayang, kamu kenapa? Hemm?" tanya Bian pada istrinya yang terus saja melamun.
"Pa, Naura...."
"Kamu mikir kalau dia.... "
Dira hanya menatap sendu kearah suaminya. Sebenarnya Dira ingin mengabaikan, tapi senyumnya juga air matanya begitu membekas di ingatan Dira.
"Sayang...."
"Pa, kata Arka dia mengajar eskul basket disekolahnya. Apa Papa bisa meminta detail profil Naura Pa?"
"Sayang, sudah ya. Papa enggak mau kamu memikrkan sesuatu diluar kemampuanmu. Biar ini menjadi urusan Papa"
" Tapi Pa, sudah lima belas tahun berlalu. Tapi apa hasil yang kita dapat? Nihil"
"Papa akan cari tahu siapa Naura"
"Pa..."
"Terus mau Mama apa?"
"Mama ikut andil"
"Enggak"
"Besok Mama akan kesekolah Arka. Mama akan cari tahu sendiri"
"Sepenting itu, sampai kamu mengabaikan ku sebagai suamimu"
"Maksud Papa?"
"Aku pikir bahuku sudah cukup nyaman untukmu bersandar selama ini. Ternayata aku salah" ucap Bian tersirat wajah kekecewaan.
Selama ini bukan dia tidak berusaha mencari keberadaan anak dari sahabatnya itu. Tapi ada hal yang memang harus Bian utamakan sehingga dia menghentikan pencariannya. Bian tahu bagaimana sifat Dira, keras kepala juga pantang menyerah. Entah mengapa untuk sikap Dira yang kali ini membuatnya kecewa. Lima belas tahun bukanlah waktu yang sebentar. Bian pikir waktu bisa mengubah cara berfikir Dira. Bukan Bian berniat mengabaikan gadis kecil yang menjadi putri angkat istrinya. Tapi disisi lain Bian juga harus melindungi keluarganya.
__ADS_1
Keheningan yang terjadi diantara keduanya. Dira pikir ini tidak berlebihan bukan? Dari dulu Bian juga mengetahui jika dirinya masih mencari keberadaan Salwa. Tapi kenapa hari ini ketika Dira membahasnya Bian seakan kecewa. Apa benar Dira memang sungguh sangat keterlaluan. Apa iya Dira mengabaikan Bian selama ini. Bagaimana mungkin Dira mengabaikan Bian. Tidakkah Bian mengahargai apa yang telah Dira perjuangkan. Tidakkah Arka, Mita, dan Arjuna belum cukup bukti jika Dira tidak mengabaikan Bian.
Saling diam menelan kekecewaan yang tak tahu dari siapa. Keduanya memiliki rasa yang sama yaitu kecewa. Meski waktu telah berlalu lama, namun didalam diri Dira masih menyimpan rasa tanggung jawab atas gadis kecil yang bernama Salwa. Janji terhadap almarhum Bayu tidak bisa ia abaikan begitu saja.
"Aku ada urusan mungkin akan pulang larut malam" ucap Bian dingin sambil pergi meninggalkan Dira.
Tidak ada kalimat sebagai jawaban dari kalimat Bian. Hanya ada kekecewaan yang kini bersarang di pikiran Dira Pun demikian dengan Bian. Bian pergi dengan membawa kekecewaan. Sebenarnya Bian bingung harus bagaimana. Mungkinkah saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkap semuanya. Lalu bagaimana keselamatan istrinya, putra dan putrinya, juga seluruh keluarganya. Jika ia terus berada didekat istrinya, Bian akan sulit untuk berfikir tenang. Melihat wajah kecewa sang istri saja sudah membuatnya kacau.
Laju mobil sport milik Bian kini melaju dengan kecepatan tinggi. Kemana tujuan Bian?
Ari.
Iya Ari lah tujuan Bian saat ini.
...ππππ...
"Kamu sudah yakin akan mengungkap siapa sebenarnya dia?" ucap Ari ketika keduanya berada di sebuah ruangan yang hanya dihuni oleh dua orang yang sama-sama bingung.
Dirumah Ari kini Bian berada. Ia datang dalam keadaan kacau. Sudah sejak pernikahannya dengan Dira, jarang Bian terlihat sekacau ini. Ari paham bagaimana sahabatnya ini. Pasti tentang Dira, siapa lagi.
"Dira masih terus ingin mencari tahu. Terlebih saat ia bertemu gadis itu"
"Komunikasimu masih berlanjut?" tanya Ari kembali dan hanya mendapat anggukan dari Bian.
"Tidak ada cara lain Bi" ucap Ari dengan nada lirih dan mendapat tatapan tajam dari Bian.
"Aku tidak mau menanggung resiko" ucap Bian dingin
"Kamu mau Dira tahu dari orang lain tentang rahasia ini. Istrimu bukan orang bodoh Bi. Jika dia berkata akan mencari tahu maka mustahil baginya untuk diam saja. Itu akan lebih menyakitkan untuk Dira jika dia tahu ternyata suaminya berbohong selama ini"
"Bukankah jujur untuk saat ini juga akan sama Dira juga akan kecewa?"
"Iya Dira pasti kecewa. Tapi setidaknya dia akan lebih mempertimbangkan kejujuranmuu. Dan Dira akan lebih mengerti dengan alasanmu"
Bian kembali diam. Tidak mudah untuknya mengatakan yang sebenarnya. Banyak hal yang harus ia lindungi. Bian tidak bisa melihat Dira terus menerus menderita. Bian ingin terus melihat istrinya bahagia. Tertawa dan terus tetap disampingnya hingga hanya maut yang menjadi pemisah keduanya.
"Keputusan ada ditanganmu. Meski Dira kecewa tapi aku yakin dia akan lebih bisa menerima dari pada dia tahu kebenarannya dari orang lain"
__ADS_1
"Bagaimana kalau Dira tidak.... "
"Dira adalah istrimu, ibu dari anak-anakmu. Ia tidak akan mungkin mengorbankan semua itu hanya demi orang lain. Orang yang bahkan tidak ada hubungan darah dengannya"
Bian masih diam mencerna kalimat yang keluar dari mulut sahabat sekaligus asistennya yang masih selalu setia padanya. Hingga mereka sudah memiliki keluarga masing-masing pun, Ari masih menjadi yang terdepan untuk membela keluarga Caraka.
"Apa kamu masih ingat apa yang aku katakan dulu ketika kita akan melawan wanita ular itu"
"Wanita itu tidak akan menyakiti Salwa walau dia mengaku membencinya. Bagaimanapun Salwa adalah darah dagingnya. Target utamanya adalah Dira. Jangan terpengaruh dengan keadaan" ucap Bian mengingat detail apa yang diucapkan oleh Ari saat Bian panik menghadapi wanita ular itu.
"Jujur atau semua akan sia-sia" ucap Ari lagi yang hanya ditanggapi dengan tatapan yang entah apa artinya.
Apakah iya ini benar, saat yang tepat untuk mengungkap semuanya. Tidak bisakah semua menghilang seiring waktu yang juga telah berlalu. Kenapa justru semakin rumit? Rumit untuk siapa?
Bian?
Dira?
Atau rumit untuk suatu hal yang memang dibuat rumit?
"Percaya, Dira akan lebih menghargai kejujuranmu. Meski dia akan kecewa. Tapi percayalah itu hanya sedikit. Dira akan lebih mengerti jika kamu menjelaskannya"
"Aku akan coba" ucap Bian dengan menghela nafas berat.
"No!"
Bian hanya menatap sahabatnya dengan tatapan aneh.
"Jangan dicoba, tapi memang harus dikatakan"
Bersambung.....
Jangan lupa
Likeπ
komentarβοΈ
__ADS_1
love β€ (Biar pas aku up kamu dapat notifikasinya)
Makasih πππππ