ADA KAMU SETELAH LUKA KEMARIN

ADA KAMU SETELAH LUKA KEMARIN
Aktifitas Pagi


__ADS_3

Pagi ini Dira mengawali aktifitasnya dengan menyiapkan sarapan untuk seisi rumah. Ketika Dira sedang menyiapkan sarapan pagi tiba-tiba sapaan hangat dari wanita paruh baya terdengar gelisah.


"Ma... Maaf Mbak.. Mbok kesiangan datangnya"


Dengan tersenyum lembut Dira menjawab "Enggak kok Mbok... "


"Tapi... "


"Sudah Mbok..... yang masak biar Dira saja. Mbok ngerjain pekerjaan lain saja ya"


Akhirnya Mbok Nah menuruti kemauan nyonya barunya ini.


Dengan senandung merdu Dira mulai kembali aktifitas yang sempat terjeda. Dira begitu lihai memasukkan bumbu kemudian memainkan spitula dengan senyum selalu mengembang sempurna. Entahlah Kenapa Dira begitu bersemangat pagi ini.


Sadarkah Dira jika diujung anak tangga telah ada sepasang mata dengan senyum bahagia. Karena apa?


Melihat wanitanya dengan memakai apron warna putih dengan bibir selalu mengulas senyum.


Melihat mu tersenyum seperti ini membuat hatiku menghangat Ra.


"Liatin doang... dekretin dong" Tiba-tiba suara resek menyentak telinga Bian.


"Apaan....


Jangan ganggu kesenangan gue.. "


"Kesenangan liatin dari jauh doang.. "


"Heh lo lupa gue suaminya sekarang. Perlu gue ingatin sedekat apa gue sekarang hemmm"


Ari hanya tersenyum masam mendengar pernyataan Bian. Ari bukan tidak tahu apa yang terjadi dipernikahan Bos yang juga Sahabatnya ini. Ari adalah orang yang sangat dekat dengan Bian. Jadi apapun yang terjadi pada Bian pasti Ari orang yang pertama akan tahu.


"Kakak... "


Suara Dira tiba-tiba membuat keduanya terkejut dan menoleh


"Sarapannya sudah siap.... " Ucap Dira masih dengan senyum dibibir.


"Iya " Jawan keduanya kompak.


Bian masuk kedalam kamar sedang Ari turun kebawah. Namun Ketika Ari melewati Dira sebelumnya Ari berkata "Bantuin Bos Bayi pasang dasi dong mbak" Pinta Ari Sambil tersenyum memohon.


Dira hanya mengerutkan keningnya. Namun juga Dira tak ingin membuang waktu. Mungkin Dira belum bisa menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri seutuhnya. Namun Dira mungkin bisa memulainya dengan menyiapkan sarapan dan membantu menyiapkan pakaiannya.


Dan benar saja ketika Dira membuka handle pintu mendapati sang suami tengah sibuk dengan Dasinya yang tak kunjung usai.


"Kakak beneran ngak bisa masang Dasi? " Suara dari ujung pintu membuat seorang menghentikan aktifitasnya.


"Bukannya bantuin"


Dira hanya melangkah dan meminta Dasi yang ada ditangan Bian. Dan tidak sampai 2 menit dasi sudah terpasang rapi.

__ADS_1


Lagi - lagi waktu benar-benar harus mempermainkannya. Disaat jarak yang begitu dekat membuat gemuruh debar jantung kian berdetak kencang. Namun kata sabar yang harus menghalanginya.


sebelum Bian tidak bisa mengontrol kerja jantungnya. Bian segera mengalihkan pandangannya. Jika manik mata ini terus dibiarkan bertemu maka Bian tidak akan yakin jika Bian tidak lepas kendali.


Senyum yang mengembang dibibir ranum milik Dira membuat gejolak jiwa seakan memanas. Debaran jantung seolah kian bergemuruh tanpa meminta persetujuan.


"Kak... "


"Iya.. "


"Dira masih Boleh kan mengajar? "


Bian hanya tersenyum dan mencakup kedua pipi halus Dira. Sentuhan Bian membuat kerja otak Dira seakan bekerja lebih keras. Dira tidak akan menyangkal jika benar sentuhan lembut Bian membuatnya seakan terpana. Membuat Dira seakan benar-benar ingin mengakhiri waktu yang ia minta . Namun tidak Dira harus menyelesaikannya dulu.


"Kak... Apa Boleh? " Ulang Dira karena tak kunjung mendapat jawaban.


"Apa kamu tidak yakin pada suamimu. Kalau suamimu ini mampu menafkaahimu?" Ucap Bian kali ini Bian mencakup Bahu Dira.


"Dira yakin kakak mampu bahkan sangat mampu menafkahi Dira. Tapi bukan itu alasannya kak.... "


"Apa alasanya?"


"Ini tentang cinta.... "


"Cinta? "


"Masalah cintaku terhadap anak-anak kak. Aku memiliki tanggung jawab untuk mereka. Aku merasa memiliki harapan ketika aku berinterkasi dengan mereka. Membagikan sedikit ilmu yang Dira punya adalah sungguh sangat istimewa. Senyum yang mereka berikan kepadaku ketika mereka berhasil mengerjakan soal yang aku berikan. Seperti kekuatan baru untuk Dira kak. Dan Dari mereka Dira belajar tentang keikhlasan. "


"Aku tidak akan membatasi keinginanmu. Lakukan apapun yang membuatmu bahagia. Karena tujuanku hanya ingin membuatmu bahagia Nadira Diandra Putri"


"Cukup kamu merasa bahagia itu sudah ucapan terimakasih yang tak terhingga untukku Ra... "


"Baiklah... Dira akan mencoba... "


"Sungguh... "


"Bantu Dira melewati ini. Agar waktu yang Dira minta tidak terlalu lama. "


"Kita lewati sama-sama"


Bian menarik Dira dalam pelukannya. Mendekap erat sang pujaan hati. Jika Dira berkata ingin mencobanya. Maka peluang terbesarnya adalah Dira akan segera memangkas waktu yang menjadi benteng diantara keduanya. Dan jika hari itu tiba Bian Akan dengan senang hati menyambutnya.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Seperti janjinya tadi pagi ini Bian dan Dira sedang berada didalam mobil membelah jalanan kota. Sebenarnya tidak harus datang kerumah juga. Karena sebelumnya Bian sudah menemui kedua orang tua Dira meminta izin untuk Dira tinggal bersamanya. Namun Dira bersikeras untuk tetap mengunjungi kedua orang tuannya.


Beberapa saat setalah menembus jalanan kota dam mobil sudah terparkir sempurna.


Sebenarnya hal inilah yang sangat Dira tidak sukai. Harus berada difase dimana kembali tentang merelakan. Rumah yang sejak kecil telah ia tempati banyak kenangan tersimpan disana. Rumah ini adalah saksi bagaimana seorang Nadira Diandra Putri menjalani metamorfosa kehidupan. Disini, Dirumah ini bagaimana Cinta Dira mulai menuai cerita.


Berat....

__ADS_1


Sudah Pasti dirasakan walau bagaimana Dirumah ini Dira mengenal banyak hal. mengenal Bagaimana cinta Ayah dan Bunda yang tiada duanya. Mengenal Bagaimana berbagi cerita suka maupun duka kepada saudara laki-laki ku.


Tawa, Tangis, Canda, dan Riang masih terus terdengar jelas di telinga. peluk hangat Ayah dan Bunda seolah enggan terlepas apalagi peluk manja Adik laki-laki ku yang tiada lelah medampingi Dira. Saksi hidup Bagaimana Nadira bangkit dan menata Hidupnya kembali.


Namun sosok yang selama ini menjadi pelindung Dira. Hanya bergeming menatap langit -langit rumah. Menahan buliran bening agar tak tumpah. Waktunya telah tiba, adik yang sangat ia sayangi akan dibawa suaminya. Tidak lagi tinggal satu atap dengannya. Adik yang selama ini selalu bermanja dengannya kini telah menemukan tempat untuknya bermanja. Adik yang dulu selalu bersandar dibahunya kini telah menemukan sandarannya sendiri.


Suasan haru kini hadir Dirumah Bapak Harun Abdullah. Saat ini Dira sedang berada dalam pelukan Sang Bunda. Seolah tak ingin berpisah pada Putri kesayangan mereka. Namun setelah kata ijab kabul itu terucap maka beralihlah tanggung jawab seorang Ayah dari putri kesayannya.


"Ndok... kamu sekarang adalah seorang istri. Ridho mu ada pada suamimu. Langkahmu atas izin dari suamimu. Jadilah istri yang berbakti pada suami ndok. Karena surgamu kini bukanlah ditelapak kaki Bunda namun ada pada suamimu. Jadilah istri solehah Ndok. Karena sebaik-baiknya hiasan dunia adalah istri solehah."


"Bunda Dira sayang sama Bunda... Dira... "


"Bunda juga sayang sama Dira. Bunda sayang sama anak-anak Bunda semuanya. Bunda mencintai anak-anak Bunda sama besarnya. Bunda juga selalu mendoakan yang terbaik untuk semua anak-anak Bunda"


"Bun.... " Dira kembali terjatuh dalam pelukan bundanya.


"Kamu adalah seorang istri sekarang jadi kamu harus kuat. Kuat mendampingi suamimu bukan hanya disaat suamimu bahagia. Tetapi kamu juga harus kuat ketika suamimu dalam kesulitan. Jadilah pendamping yang bisa mengisi kekurangannya dan menjadikan kelebihannya sebagai penyempurna kekuranganmu. Jadilah pasangan yang saling memberi dukungan dalam hal apapun. "


Dira memangguk akan wejangan yang diberikan bundanya. Bunda memang tidak ada duanya. Kemudian Dira beralih pada sang Ayah yang sedari tadi sudah menahan buliran bening yang siap jatuh. Ayah selalu mengalihkan pandangannya agar supaya tidak ada yang tahu bagaimana seorang Ayah akan terlihat lemah ketika anak perempuannya menemukan pasangannya.


Hanya ada peluk hangat yang saat ini dirasakan antara putri dan seorang Ayah.


"Ndok... Putri kecil Ayah... kamu sudah dewasa. kamu sudah menemukan pasangan yang akan melindungimu. Yang akan bertanggung jawab atas dirimu. Ayah percaya Putri Ayah ini bisa melewati ini dengan baik. Bian adalah lelaki yang tepat yang dipilihkan Allah untuk berada disampingmu selain Ayah dan dua saudara laki-lakimu. "


Dira mengangguk namun dekapan sang Ayah semakin erat dan erat lagi. semua seakan larut dalam kesedihan akan berkurangnya penghuni rumah. Sebelum kejadian satu tahun yang lalu wajah yang dulu selalu tampil ceria dan cuek. kini telah berubah sendu dan jarang mengulas senyum.


"Menjadilah pasangan yang akan saling menguatkan ketika kalian dalam kesulitan. Menjadilah pasangan yang aka saling mencari ketika ada jarak diantaranya. Menjadilah pasangan yang saling melindungi ketika badai itu datang. Menjadilah pasangan yang sempurna untuk menutupi setiap kekurangan kalian"


Ucap ayah panjang lebar. Ayah memang Ayah yang paling bijaksana seumur hidup Dira.


"Jika kalian merindukan kami maka pulanglah. Kami akan selalu membukakan pintu untuk kalian"


Kami saling berpelukan dan menganggi tanda mengerti. Jika memang jalan takdirku adalah bersamanya. Maka beri aku kesempatan menikmatinya.


.


.


.


.


.


Bersambung....


Jangan lupa


likeπŸ‘


komentarπŸ“

__ADS_1


❀ (Biar pas aku up ada notifikasinya)


Thankiyuuuuu


__ADS_2