ADA KAMU SETELAH LUKA KEMARIN

ADA KAMU SETELAH LUKA KEMARIN
Kemarahan Rangga


__ADS_3

Meski tak terima dengan apa yang dilakukan oleh bos dan juga sepupunya. Mila mengikuti dan tak bisa membantah. Pasalnya apapun yang keluar dari mulut pria yang ada dihadapnnya itu berarti sebuah perintah.


Bahkan omelan-omelan yang terlontar dari bibir Mila pun tak menggoyahkan Bian untuk tetap berjalan. Ingin rasanya Mila mencabik -cabik wajah datar yang diperlihatkan oleh Bian. Berulang kali Mila protes atas apa yang diputuskan Bian. Namun tetap saja pria ini tak sedikitpun merubah keputusannya.


Bahkan Dira yang juga ikut menyakinkan Bian juga tak dihiraukan oleh Bian. Bian terus melangkah keloby kantornya hingga Mobilnya telah terparkir didepan loby. Bian segera menuju mobil.


Masih dengan omelan-omelan yang tak sedikitpun didengar oleh Bian. Mila masih saja mengikuti. Bahkan tanpa Mila sadari Ia duduk disamping Ari sedang Dira duduk disamping Bian. Dan mobilpun melaju dengan kecepatan sedang memvelah jalanan kota yang tidak terlalu ramai oleh pengendara.


"Sudah ngomelnya? " Sanggah Bian yang jengah mendengar ocehan Mila yang hampir memecahkan gendang telinganya


"Belum, Pokoknya sebelum kamu membiarkan aku makan siang bareng suamiku aku ngak akan diam"


"Berhenti Ri? "


Spontan Ari menginjak rem mobil membuat semua penumpang terkejut dan hampir terdorong kedepan bahkan Mila pun sampai membentur dasbord mobil hingga Mila memegangi ujung keningnya.


"Bisa nyetir ngak sih kamu" omel Mila


"Maaf.. " ucap Ari merasa bersalah.


Hal serupa pun terjadi dibagian penumpang belakang bedannya hanya posisi benturannya. Jika Mila membentur Dasbord. Sedangkan Dira malah terlonjat kaget sehingga spontan Bian menarik tubuh mungilnya agar tak terbentur Bangku depan. Sehingga saat ini posisisnya Bian memeluk Dira.


Posisi seperti ini sungguh membuat Bian semakin tak sanggup mengontrol kerja jantungnya. Bisa berada sangat dekat dengan Dira bahkan manik mata mereka bertemu. Aku tidak akan tahu entah sampai kapan aku bisa menahannya Ra. Guman Bian.


Sedangkan Dira jangan ditanya lagi. Jantungnya juga sudah terpacu untuk berdetak lebih kencang dari biasanya. Mengelak mana bisa, Ketika tangan kekar ini melingkar ditubuhnya. Rasanya ingin sekali memangkas waktu yang ia minta. Namun Dira masih cukup memerankan gengsinya untuk tetap pada apa yang dia akan yakinkan.


Bahkan Dira tak bisa berbohong jika berada dalam dekapan Bian adalah hal ternyaman yang tak akan pernah Dira miliki dari siapapun. "Aku mohon bersabarlah kak. Aku akan segera menuntaskan waktu yang aku minta" Ucap batin Dira.


"Kalian ini bukan mahrom woi" ucapan Mila cukup menyentak keduanya. Saling melepas peluk dan terlihat canggung satu sama lain. Membuat seringai di bibir Mila.


"Kamu ngak papa Ra? " Bian berusaha menormalkan keadaannya. Dan lagi-lagi mengacuhkan Mila.


"Enggak apa-apa kak" Dira pun berusaha senormal mungkin untuk tetap mematuhi permintaan Suaminya untuk tetap merahasiakan pernikahannya.


"Ih.. soweet banget sih kalian gemes deh. Tante Riana Aku punya rekomendasi mantu neh.. " Ucap Mila masih menggoda. Seolah lupa akan kemarahannya terhadap sikap Bian yang suka seenaknya.


Sementara yang digoda masih diam dengan bahasanya sendiri.


"Ngak jadi makan siang sama suamimu? "


Sela Bian bukan menanggapi godaan Mila tapi malah mengalihkan dengan hal lain. Atau lebih tepatnya menyindir sepupunya itu yang seolah melupakan omelan sepanjang jalan tadi.


Terus maksudnya kamu mau nurunin aku dijalan gini? "

__ADS_1


Bian hanya menatap dingin pada Mila.


"No... No... Bian.. kamu.... " Mila dilanda kekhawatiran.


Ayo turun.... "


"Bi.. "


"Turun... " Bahkan Bian masih datar dan malah kali ini penuh penekanan.


"Kak... " Dira juga ikut protes dan menampakkan wajah melasnya. Seperti tak berpengaruh Bian hanya menatap datar sang istri dan mengabaikannya saja.


"Tunggu apa lagi... "


Meski dengan wajah yang terus mengomel Akhirnya Mila turun. Walau ingin protes namun Dira masih saja tak bisa melawan titah sang suami.


Sebenarnya apa yang membuat Bian tak terpengaruh meski Dira telah memelas terhadapnya tak lain karena sebenarnya mereka telah sampai ditempat tujuannya mereka hanya tinggal masuk keparkiran Caffe saja. Dimana tempat itu? Tempat yang dimaksud adalah Caffe nya Rangga. karena Memang orang yang akan mereka temui adalah Rangga seperti janjinya tadi pagi sambungan telpon.


Namun ternyata dua wanita yang telah mengomel, mengiba, dan tak karuan ternyata belum menyadari.


"Jangan cemberut seperti itu? "


Dira hanya diam dan masih terlihat kesal pada lelaki yang telah menikahinya ternyara benar -benar tidak punya belas kasih.


Sadar akan kemarahan Dira ternyata Bian tak sanggup untuk tidak menyadarkan keberadaan mereka.


Barulah senyum terjalin dibibir manis Dira. Senyummu Sungguh sanggup meluluh lantahkan kerasnya hati Bian.


"Jadi... kita.. "


"Sebanarnya aku hanya mengerjai cewek menyebalkan itu" sambil ia mengedarkan pandangannya keluar dimana Mila masih berdiri dan nampak telah menyadari sesuatu.


"Coba deh lihat wajah kesalnya itu lucu bukan?"


"Kak.. tetap saja kakak ngak boleh melakukan itu kan kasihan kak Mila"


"Sudah biarkan saja, biasa dia yang Selalu membuatku kesal"


Ucap Bian dengan ringannya dan mengajak Dira untuk turun. Dira hanya bertindak patuh terhadap Bian. Namun berbeda dengan Bian yang langsung nyelonong masuk kedalam bersama Ari. Dira malah berlari menghampiri Mila yang masih berdiri dimana ia diturunkan tadi. Tampak wajah kesal terlukis disana.


Dira menghampiri Mila dan mengajaknya untuk masuk kedalam. walau Mila masih saja mengomel dengan tingkah saudaranya itu ia tetap saja mengikuti Dira masuk ke Cafe milik suaminya itu. Bahkan ia telah memikirkan cara untuk membalas kejahilan sepupunya itu. senyum seringai ia kembangkan dan "Tunggu pembalasan ku sepupu ku yang ganteng"


Ya sebenarnya memang seperti ini hubungan mereka sebenarnya. Saling jahil menjahili satu sama lain. Dibalik sikap Dingin dan cueknya Bian ternyata dia bisa jahil juga. Dan dibalik sikap elegannya seorang Kamila Maharani ternyata ada sisi jahilnya juga. 🤭🤭🤭🤭

__ADS_1


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Setelah Menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim. Mereka langsung menyantap makan siangnya yang telah disediakan oleh Rangga.


Tak seberapa lama mereka menikmati makan siangnya mereka terlibat obrolan yang serius. Mendengar langsung cerita yang disampaikan Rangga membuat Bian semakin tak bisa menahan emosinya. Ditambah lagi ia melihat wanita yang sedari tadi berada disampingnya menangis. Mendengar kenyataan tabir dibalik kecelakan yang melibatkan pria yang sangat ia cintai.


Melihat Dira menangis dan terluka kembali membuat emosi Bian semakin memuncak. Bian berjanji pada dirinya bahwa dia tidak akan pernah mengampuni siapapun yang telah menyebabkan luka pada wanitanya.


Pelukan Bian semakin erat dan pembicaraan yang semakin dalam. Membuat tiga orang yang sedari tadi menjadi penonton adegan yang tak biasa diperlihatkan oleh kedua orang yang seolah menganggap tidak ada orang selain mereka.


Mungkin diantara ketiganya hanya Ari yang tak terlalu terkejut melihat pemandangan yang baru saja mereka saksikan. Lalu Bagaimana dengan Rangga dan Mila?


"Oh.....No... Kalian???? " Suara Mila yang terdengar nyaring ditelinga sanggup menyentak keduanya untuk saling melepas pelukan. Ada rasa canggung terselimut diantara keduanya.


"Tolong kalian jelaskan!!! " Terlihat kemarahan terpancar diwajah Rangga. Bahkan kemarahannya ketika menceritakan tentang Kecelakan Bayu Ia abaikan. Ada yang lebih menarik perhatiannya. Apa itu?


Tentu saja adegan yang baru saja dipertontonkan diantara kedua sahabatnya.


Rangga mengenal Dira dengan baik. Dira tidak mungkin dengan mudahnya disentuh oleh pria. Sedang dirinya saja yang telah tumbuh besar bersama Sejak mereka masih bayi. Dira masih enggan untuk disentuh terlebih dipeluk. Seingat Rangga sepuluh jari tangannya masih tersisa jika untuk menghitung berapa kali ia memeluk ataupun menyentuh Dira. Namun kali ini sungguh membuat Rangga ataupun Mila sangat dibuat kebingungan.


"Kenapa diam? Ada yang bisa menjelaskan? " Ucap Rangga kembali, yang terdengar lebih tajam dan menyeramkan.


.


.


.


.


.


.


Bersambung....


jangan lupa.......


Like 👍


komentar 📝


❤ (Biar pas aku up kamu dapat notifikasinya)

__ADS_1


Thankiyuuuuu


😊😊😊😊😊😊😊😊


__ADS_2