
Dengan langkah gontai Dira kini berjalan beriringan dengan Bian. Tidak ada percakapan seperti biasa ketika mereka tidak sedang ditempat umum. Mereka hanya saling diam dengan pikiran mereka masing-masing.
Dira masih saja berjalan disamping Bian yang selalu ditemani oleh Ari dibelakangnya. Tidak ada yang ingin memulai percakapan. Mereka masih saja terus saling memperhatikan dalam diam. Masih saling menunggu dalam diam.
Kelakukan mereka yang seperti ini membuat Ari sang asisten yang juga sahabat baik Bian hanya menggelengkan kepalanya. Ari merasa geram pada sahabatnya yang dinilai sangat membuang-buang waktu.
"Maaf Pak sebaiknya anda langsung pada intinya? " Celetuk Ari yang juga sangat geram karena atasannya ini tak juga mulai berbicara.
"Lagian nggak percaya banget sih sama istrinya. Mesti kudu di buktikan segala" Gerutu Dira pelan bahkan sangat pelan namun masih bisa didengar oleh Bian.
Seketika langkah Bian berhenti dan mengulas senyum singkat pada Dira. Bukan Bian tidak percaya akan hasil yang diperoleh Dira. Tapi Bian memang sengaja berdalih ingin membuktikan padahal kenyataannya Bian Ingin memiliki waktu bicara berdua tanpa ada yang curiga.
"Istri kan dirumah, jalau disini kita rekan kerja!" Ucap Bian juga tak kalah rendah namun masih bisa terdengar jelas oleh Dira.
"Lebih baik bapak bertanya pada salah satu Siswa saja deh. Untuk mematahkan ketidak percayaan Bapak. " Ucap Dira menahan emosi.
Bian berhenti disebuah taman sekolah disana ada beberapa murid yang sedang bersantai ria. Kemudian Bian mengedarkan pandangan keseluruh penjuru taman. Dan Bian memutuskan memanggil satu siswa yang sedang asyik bercengkrama dengan teman-temannya.
"Kamu....... " Bian memanggil dan memandang kearah anak laki-laki yang kebetulan dia berdiri menghadap kearah Bian.
Kemudian anak tersebut menunjuk dirinya sendiri dan berkata dari kejauhan yang tak terdengar suaranya "Saya"
Bian hanya mengangguk dan seperti ada magnet anak tersebut langsung berlari menuju Bian.
"Kakak... eh Bapak memanggil saya...? "
"Kakak? " Ucap Dira dalam hati, ada hubungan apa mereka?
"Iya... " Jawab Bian dingin
"Ada apa bapak memanggil saya? "
"Seperti apa kamu mengenal guru Matematika yang ada dihadapan kamu?"
Anak tersebut beralih memandang kearah Bu Guru yany ditunjuk oleh Bian. Kemudian terseyum dan mulai berkata
"Bu Nadira adalah sahabat untuk saya" Ucap Anak tersebut dengan bangga dan bibir terus mengembangkan senyumnya
Sedang Bian hanya mengerutkan keningnya dan berkata " Sahabat? "
__ADS_1
"Iya"
Bian masih diam dan seolah menuntut penjelasan yang lebih.
"Ibu Nadira ini bukan hanya guru untuk saya. Tapi dia adalah sahabat untuk saya. Ketika semua guru menganggap saya adalah anak si pembuat onar saja. Namun berbeda dengan Bu Nadira. Bu Nadira adalah satu -satunya Guru yang menganggap saya sebagai Elang. Elang Prima Caraka anak nakal yang hanya ingin diperhatikan. Bu Nadira adalah satu -satu orang yang memilih bertahan akan harga diri dari pada harus merendahkan dirinya dengan bersikap palsu karena sebuah kerjaan. Bu Nadira rela kehilangan pekerjaannya dari pada Bu Nadira harus berpura-pura baik."
Bian masih diam mencerna kalimat yang keluar dari bibir Elang. Tidak bisa Bian sangkal bahwa dirinya memang benar mengagumi sosok istrinya ini.
"Bu Nadira adalah satu-satunya orang yang bisa membuat saya sadar bahwa masih banyak cara yang benar untuk mendapatkan perhatian Papa. Bu Nadira adalah orang yang sangat peduli terhadap saya selain dari Tante dan juga kakak. Bu Nadira yang selalu menyakinkan saya bahwa saya bisa melakukan hal yang benar. Jika saya tidak ingin melakukannya untuk orang lain, maka lakukan ini untuk diri sendiri dulu. "
Semakin Elang mengagungkan sosok gurunya yang tak lain adalah istri dari kakak sepupunya ini. Semakin membuat Bian jatuh dan semakin jatuh cinta pada sosok Nadira Diandra Putri.
"Apa yang membuat bapak Ragu?
Hasil Nilai yang diberikan oleh Ibu Dira? "
"Saya mau tahu bagaimana dia mengajar? "
"Sama seperti guru lainnya mengajar. Memberikan materi, memberikan tugas, memberikan penilaian. Sama prosesnya seperti dengan guru yang lain.
Tapi.......
Bapak Mau tahu apa? "
"Apa? " Tanya Bian yang semakin ingin mengetahui bagaimana sosok istrinya ini dimata sepupunya atau bisa juga mewakili pandangan sosok istrinya dimata orang lain.
"Ibu Dira tidak pernah memaksa untuk kita mau belajar dengannya atau tidak. Bahkan Bu Dira tidak pernah meminta kita untuk selalu bisa menjawab setiap soal yang dia berikan. Bu Dira Selalu mengajarkan kami tentang ketulusan dan kejujuran. Dari situlah kami menemukan sosok guru yang sangat kami butuhkan. Guru seperti ibu Nadira ini yang kami butuhkan. Bahkan Bu Dira juga membawa pengaruh positif untuk guru bidang study yang lain." Kemudian Elang mengalihkan pandangannya kearah Bu Dira
"Bu Nadira... You are The best" Kalimat singkat yang mampu membuat Dira berkaca-kaca.
Sampai sedalam itu Elang mengenal dirinya. Padahal Dira semoat terlibat maslah dengan sekolah lamanya karena Elang. Dia rela meninggalkan pekerjaannya demi harga diri seorang guru tidak terinjak .
Dan satu lagi ternyata Elang dan juga Bian adalah sepupuan. Kenapa selama ini Dira tidak memperhatikan nama belakang Elang ya. Nama belakang Bian dan Elang sama.
"Nilai kamu paling tinggi di bidang study matematika, apa itu karena gurunya Bu Nadira?
Karena selama ini nilai kamu tidak sebagus ini??? "
"Bukan karena Bu Nadira. Tapi Karena apa yang telah Bu Nadira lakukan untuk saya. Membuat saya percaya diri bahwa saya bisa melakukan hal yang benar untuk meminta perhatian papa. Karena masih banyak orang yang ingin mendukung kebahagiaan saya termasuk Anda dan tante Riana."
__ADS_1
Kalimat Elang semakin membuat Dira tidak pernah menyangka dirinya dimata seorang Elang Prima Caraka.
"Bu Nadira bukan hanya mengajarkan kami jika Matematika itu bukan hanya sekedar menghitung sebuah angka. Dari Matematika kita belajar untuk sabar dalam menghadapi setiap permasalahan. Matematika juga mengajarkan kita bagaimana kita menyelesaikan sebuah permasalahan yang kita hadapi dengan cara kita sendiri. Bu Nadira juga mampu membangkitkan semangat kita untuk belajar tidak hanya di bidang study yang dia ampu. Tapi Bu Nadira berhasil membangkitkan semangat semua siswa untuk tetap antusias dengan mata pelajaran yang lainnya. Bu Nadira mengatakan jika setiap apa yang kita pelajari akan memberikan cara sendiri untuk keperluan kita. Bu Nadira juga selalu berkata pada kami Semua kita perlu belajar tidak terkecuali Bu Nadira sendiri. Untuk bisa berdiri dihadapan kami Bu Nadira juga belajar. Jika Ibu Guru hebat ini mengatakan dirinya masih belajar lalu bagaimana dengan kita. Dari sanalah kami termotivasi untuk terus belajar dan belajar."
Bian menatap betapa ia sangat mengagumi sosok yang baru saja ia dengar. Bian memang tidak salah jika jatuh cinta pada wanita yang kini berdiri disampingnya.
"Bagaimana pak apa Bapak masih meragukan Bu Guru cantik juga hebat ini? " Ucap Elang yang membuyarkan lamunan Bian.
"Saya butuh pendapat siswa yang lain, agar saya lebih yakin lagi" Ucap Bian masih menatap manik mata Dira penuh arti.
"Saya rasa Bapak hanya akan membuang-buang waktu bapak saja. Karena jawaban kami pasti akan sama. "
Bian hanya menatap datar seolah ia tak percaya. Namun sebenarnya meski Elang tak menjelaskan bagaimana sosok Bu Nadira dimata siswa maupun siswi Bian sudahnpercaya jika Dira mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Bian bisa Nelihat dari ketulusan Dira selama ini. Bian bisa melihat itu dari bagaimana Dira sewaktu menjadi guru lesnya Fira.
Sekali lagi Bian merasa hati tidak salah jika menjatuhkan pilihannya pada gadis biasa yang ternyata memiliki hal yang luar biasa.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa
like
komentar
❤(Kalai aku up kamu akan dapat notif)
Thankiyuuuuuuu
😚😚😚😚😚😚
__ADS_1