
"Mas Bian Baik-Baik saja Mbak"
Kalimat Ical yang begitu singkat membuat Dira semakin merasa jika suaminya dalam keadaan tidak baik-baik saja. Kini Dira sudah tidak lagi bisa diam dia benar-benar merasa ada yang janggal. Kenapa semua diam dan menatapnya sendu. Bahkan ada yang sampai meneteskan air mata.
Satu persatu Dira menatap setiap orang yang juga menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Namun bukan itu yang membuat hatinya begitu resah.
Dimana suaminya?
Apa yang terjadi?
Benarkah suaminya baik-baik saja?
Apa yang disembunyikan darinya?
Bukankah Dira berhak tahu apa yang terjadi terhadap suaminya?
Bukankah ....
Bukankah....
Dan masih banyak hal yang ada dalam benaknya.
Sebodoh apa dirinya hingga ia bisa terperdaya dengan sebuah kebohongan.
"Apakah ada yang bisa menjelaskan???" Ucap Dira menahan emosi. Begitu sesak dada yang selama ini ia tahan." Tidakkah dia berhak tahu akan apa yang terjadi?
Semua diam, pertanyaan Dira tidak ada yang bisa menjawab. Mungkin lebih tepatnya tidak sanggup menjawabnya.
"Mbak....."
"Mbak hanya ingin bahagia. Mbak tidak suka dibohongi. Mbak ingin tahu dimana Kak Bian. Mbak ingin bertemu dengannya." Kini luruh sudah tangisan yang sedari tadi dibendung.
"Mas Bian...."
"Sebodoh itukah kakak mu ini Cal?
Mbak sangat merindukan Kak Bian. Dan mbak sudah ingin mulai mencintainya.... " Ucap Dira lirih namun masih bisa didengar oleh Ical.
Ical semakin erat manarik sang kakak dalam pelukannya. Membiarkan air mata tumpah dan membasahi kemeja batik yang Ical pakai.
"Mbak... Ical... "
"Dimana suamiku... " Suara serak menahan emosi seolah membuat hati siapapun disana ikut larut dalam kesedihan. Terlebih Bunda dan juga sang Ayah. Melihat kondisi putri kesayanganya yang sangat memprihatinkan membuatnya tak sanggup melihat. Bahkan Bunda kini telah berada dalam pelukan sang Ayah.
"Mbak.." Ical mencoba menenangkan namun perkataannya dipotong dan Dira menarik dirinya dari pelukkan sang adik
"Jangan katakan apapun lagi Cal. Sudah cukup kalian menganggap aku wanita Bodoh yang seolah menganggap suamiku baik-baik saja padahal Kak Bian sedang mengalami hal buruk."
"Mbak... Bukan begitu.. "
"Cukup... " Dira berkata dengan nada rendah dengan sisa tenaga yang ia miliki. Ia terduduk dilantai tak sanggup Lagi menopang tubuhnya.
Ical duduk menjajari kakaknya dan mendekap erat tubuh sang kakak kembali. Meski Dira mencoba untuk meronta namun tubuhnya yang sudah tak bertenaga lagi membuatnya harus kembali pasrah.
Dira hanya terisak didalam dekapan sang adik. Siapapun yang berada disana pasti tidak akan sanggup melihat bagaimana keadaan sang pengantin wanita. Dimana sang penganten menunggu prianya tak kunjung datang. Dan tidak diketahui bagaimana kabarnya.
"Kak Bian ada dimana Cal? " Dengan mengumpulkan segala tenaganya terdengar lemah.
.
.
__ADS_1
.
.
"Aku ada disini sayang"
Suara seorang laki-laki yang sangat familiar ditelinga Dira. Membuat tenaganya yang hampir habis karena beban dihatinya memikirkan lelaki yang satu bulan ini telah menjadi suaminya Kembali terkumpul.
Semua mata tertuju pada sumber suara. Seorang pria dengan senyum menawan dan pakaian lengkap adat jawa telah tersemat ditubuhnya. Berdiri tegap diantara asisten pribadinya dan juga sahabatnya. Menatap dalam seorang wanita yang tengah terdiam dalam pelukan sang adik. Manik mata kedunya saling bertemu mengisayaratkan betapa rindu begitu menggebu didalamnya.
Tak peduli bagaimana keadaanya sekarang. Dira berlari kearah Bian. Dan berhenti tepat didepan Bian. Menatapnya dengan penuh kerinduan. Masih terlintas rasa yang sulit untuk diungkapkan. Beberapa kali Dira memejamkan mata namun penglihatannya tetap sama.
Suami yang dinantikan kini ada dihadapnnya. Menatapnya dengan penuh cinta dan kerinduan. membelai puncak kepala Dira. Tersenyum manis dan menatapnya lembut.
"Kak Bian...
Dira sedang tidur, bangunkan.... " Belum selesai ucapan Dira langsung dipotong dengan sebuah..
Cup..
Bian mengecup puncak kepala Dira dan kembali menatapnya lembut.
"Bagaimana kamu masih merasa ini mimpi? " Kemudian Bian mencakup kedua pipi Dira dan menghapus sisa air mata yang masih membasahi pipi mulus milik istrinya.
"Jangan nangis, nanti jelek lho?"Goda Bian pada istrinya.
"Kak....." suara Dira kini sudah terlihat agak kesal karena digoda oleh Bian.
"Kakak pasti datang kakak kan sudah janji" Ucap Bian masih tidak pernah lekang untuk menatap wajah sendu istrinya.
Tidak ada yang bisa Dira katakan. Selain menjatuhkan dirinya dalam pelukan sang suami. Bersandar didada bidang milik Bian menikmati wangi parfum yang sudah tiga hari ini ia rindukan.
"Jangan pernah tinggalkan Dira kak"
Di keluarga Caraka tidak ada yang boleh ingkar janji sayang.... "
Ini sudah kali kedua Bian memanggilnya dengan panggilan yang berbeda. Sayang????
Aneh sih...
Tapi kok jantungku deg...deg... deg... gini.
Oh tidak apa karena sudah tiga hari ini aku tidak tidur dengan baik ya. Jadi ada yang salah dengan jantungku. Batin Dira masih belum bisa mengerti dengan kerja jantungnya.
"Sepertinya Blushon mu terlalu tebal sayang?"
Hah.... apa....
"Te.. tebal... " Ucap Dira kikuk dan memegangi pipinya.
Perasaan tadi Dira minta sama mbak MUA nya Konsepnya natural saja deh, kok tebal sih? apa karena dirinya tidak terbiasa di Makeup ya? Jadi kelihatan tebal? Akh... entahlah Dira malah semakin dipusingkan dengan Blushon dan juga jantungnya yang udah kayak lari maraton dag..... dig.... dug.... jeder.....
"Aku Men..... "
"Sudah saatnya kalian siap-siap. Kangen-kangenannya nanti malam saja ya. Mama udah siapin kamar dihotel ini yang... Emmmm..." Sambil mama Riana mengacungkan jempolnya dan mengedipkan sebelah matanya.
"Mama.... " Ucap Bian geram karena mamanya ini tiba-tiba datang mengacaukan apa yang akan ia ungkapkan dengan Dira.
"Dira sayang, maafin kami ya udah buat kamu sekacau ini. Tapi mama Janji setalah ini kami akan bayar lunas semuanya" Kembali Mama Riana membelai lengan menantu kesayangannya dan masih tersenyum jahil.
"Ma.... " Ucap Bian ingin protes tapi Mama Riana sudah menyeret Dira entah kemana karena acara akan segera dimulai dan Dira harus di Makeup kembali.
__ADS_1
Tak berselang berapa lama acarapun dimulai. Acara sakral adat jawa yang begitu menyentuh sampai kerelung Jiwa. Sebuah prosesi yang memang masih terus dilestarikan. Dan setiap prosesi memiliki maknanya sendiri.
Semua dilaksanakan dengan penuh kesyahduan dan suka cita. Banyak pesan dan makna cinta disetiap prosesi yang dilaksakan. Karena kedua belah pihak baik dari pihak keluarga Dira maupun pihak keluarga Bian memang asli keturunan darah Jawa. Sehingga keduanya masih sangat menjunjung tinggi nilai budaya yang masih sangat kental dikeluarga keduanya.
Haru bahagia kini menyelimuti resepsi pernikahan Bian, seorang putra mahkota dikeluarga Caraka. Penerus perusahaan keluarga yang sepak terjangnya tidak diragukan lagi.
Bian menikahi gadis biasa yang multi talenta. Gadis yang sebenarnya memiliki sifat yang ceria dan supel. Namun belakangan ini sifatnya menjadi pemurung dan bibirnya jarang sekali digunakan untuk tersenyum. Namun semua itu juga perlahan akan kembali seperti semula karena kehadiran pria tampan juga rupawan bahkan hartanya berlimpah. Sungguh sangat sempurna bukan. Namun bukan itu yang membuat Dira meminta untuk dinikahi.
Lalu apa?
Dira melakukannya tanpa sadar...
Tanpa Dira sadari bahwa dirinya memang sangat nyaman berada didekat Bian. Merasa sangat aman dan hatinya pun menghangat ketika diperlakukan dengan lembut oleh Bian.
.
.
.
.
Bersambung
Like π
Komentarnyaπ
β€ (Biar pas aku up kamu dapat notifikasinya oke)
Nyesek ngak... Nyesek ngak...
Nyesek lah masak enggak
Masih setiakan
#KawalSampaiCinta
Udah mulai mau diungkapin ini...
Masih ada yang penasaran dengan kemana Bian selama meraka pisah rumah?
Apa yang terjadi?
Sabar.....
Mereka biar Wedding Party dulu lah ya...
Nanti ada saat nya Bian menceritakan pada Istri tercintahnya.
π§: Kelamaan lu Thor? "
π§:Gueh masih Pengen lihat Kak Bian sama Mbak Dira uwu uwuan dulu keles....
π§: Uwuan juga gueh thor.....
π§: Ya... lu emang maha benar π΄π΄π΄
π§: Dih author sewotttttt
π§: serah lu... Gueh mau semedi lagi untuk episode selanjutnya.....
__ADS_1
π€¨π€¨π€¨π€¨π€¨