
Suara langkah kaki menderu menyusuri setiap koridor rumah sakit. Dari arah parkiram Bian terus mengejar seorang bocah perempuan kira berusia 9 tahun. Entah mengapa langkah Bian begitu penasaran dengan bocah yang sedang berlalari dan telah berhasil merebut handpone ditangan Bian. Hingga sampai di belakang gedung rumah sakit. Terlihat seorang gadis kecil sedang duduk bersandar menelungkupkan kepalanya. Bahunya yang naik turun menjelaskan bahwa ia sedang menangis. Perlahan Bian mendekat, sosoknya begitu familiar. Untuk beberapa saat Bian membiarkan gadis kecil itu puas dengan perasaaannya. Bian duduk disamping gadis itu. Ia masih memandangi sosok mungil yang kini ada disampingnya. Perlahan gadis itu mendongak. Memperhatikan setiap inci wajah Bian. Matanya masih basah dengan cairan bening yang tanpa sungkan mengalir deras. Tidak ada kalimat yang keluar dari keduanya. Hanya saling diam dan memahami pikiran masing-masing. Bian hanya melirik pada benda pipih yang masih dalam genggaman gadis kecil itu. Harusnya akan dengan mudah untuk Bian mengambil barangnya. Namun tidak ia lakukan. Bian merasa pasti ada alasan di balik semua ini.
"Maaf, Om. Cara saya untuk menemui Om, mungkin tidak baik. Tapi hanya dengan cara ini saya bisa bicara dengan Om"
Bian masih diam mencerna kalimat dari gadis kecil yang ada disampingnya. Ia tatap dalam wajah sendu miliknya. Disana tersirat betapa berharapnya atas pertemuan ini. Kejadian yang memang sengaja dibuat, hanya untuk sebuah pertemuan yang Bian sendiri tidak tahu untuk apa. Siapa gadis ini?
"Om pasti bertanya siapa saya?"
Hanya lewat sorot mata Bian mengiyakan perkataan gadis ini.
"Saya adalah anak kecil yang Om Bian selamatkan 5 tahun yang lalu. Saya adalah putri dari sahabat Om yang sekarang sudah tenang di dunia yang berbeda. Putri angkat dari istri Om Bian yang sekarang sedang melahirkan anak kedua yang cantik.
Tersentak Bian mendengar pernyataan dari gadis yang berada disampingnya. Kini pandangannya telah beralih lurus kedapan. Menembus pembatas dinding. Pilu, haru, juga sendu kini menguar dipersimpangan rasa.
"Kamu...."
"Iya....
Aku adalah Salwa yang Om cari selama ini!" ucapnya lirih.
Bian hanya memandangi sekali lagi setiap inci wajah gadis polos itu. Wajahnya memang telah berubah, namun sorot matanya tidak bisa dibohongi jika memang benar gadis ini adalah gadis yang ia cari selama ini. Beberapa detik hanya saling diam dan saling menyimpan rindu. Kini Bian menarik gadis kecil itu kedalam pelukannya. Menumpahkan segala rasa yang tersimpan didalam dada. Pencariannya selama ini, kini gadis kecil ini ada dalam pelukannya. Janjinya, rindunya, bahkan rasa khawatir menghilang seiring tangis haru pertemuan ini.
"Mama Dira pasti senang Nak, kita ketemu Mama ya sekarang. Kamu sudah punya dua adik sayang. Yang satu laki-laki dan yang satu lagi perempuan yang baru lahir" Bian begitu semanagt menjelaskan pada gadis kecil ini yang ternyata adalah gadis yang ia cari selama lima tahun terkahir ini.
Bian pikir Salwa akan merespon dengan semangat sama seperti dirinya. Tapi ternyata dugaannya salah. Salwa justru menggeleng lemah. Pancaran matanya menunjukkan betapa beban itu sangat berat. sorot matanya menjelaskan ada hal yang harus ia sembunyikan.
"Salwa tidak ingin bertemu Mama Dira?" tanya Bian menyakinkan
Salwa kembali menggeleng sebagai jawaban.
"Salwa tidak rindu sama Mama Dira?" tanya Bian kembali tak ingin kehabisan akal untuk mencari tahu penyebabnya.
Kali ini Salwa hanya merespon dengan diam. Kembali buliran bening itu mengalir sangat deras. Dira adalah idola untuknya. Bahkan disetiap detik hanya Dira yang terpatri indah dihatinya. Dari Dira Salwa belajar banyak hal. Belajar mandiri, belajar agama, juga belajar untuk kuat menghadapi kenyataan hidup yang terkadang tak sesuai harapannya. Usianya memang masih begitu kecil, namun ketulusan yang diberikan Dira membuat Salwa begitu menyayangi dan mengidolakan sosok Mama seperti Dira.
"Awa sangat rindu sama Mama Dira. Awa juga sangat sayang sama Mama Dira. Tapi bisakah pertemuan kita ini, menjadi rahasia kita berdua Om?" tanya Slawa lirih dengan penuh harap agar Bian menyetujuinya.
Bian hanya diam dan mengernyitkan keningnya. Alasan apa yang menjadi penyebab Salwa tidak mau bertemu istrinya. Padahal kedunya sama, sama-sama memiliki rasa yang sama yaitu rindu. Tapi kenapa justru Salwa tidak menginginkan pertemuan ini.
"Bagaimana kalau Om...."
__ADS_1
"Om Bian harus setuju dan harus bisa" potong Salwa yang tidak ingin Bian bernego dengannya.
"Ada apa Nak?
Katakan, mungkin Om bisa bantu kamu?"
Salwa kembali menggeleng lemah. Salwa percaya jika sahabat Papanya ini adalah orang hebat. Salwa juga yakin jika Bian bisa membantunya. Tapi bukan itu yang seharusnya terjadi.
"Salwa tidak mau jujur?" ucap Bian sepelan mungkim agar Salwa tetap bisa terbuka dengannya.
"Salwa hanya ingin yang terbaik untuk semuanya"
"Om tidak ngerti" ucap Bian lirih
"Opa tidak mengingnkan Awa untuk memiliki hubungan apapun dengan keluarga Om Bian" jelas Salwa singkat
"Opa?"
"Selama ini Awa tinggal sama Opa Gunawan. Malam itu sewaktu Om Bian meminta Awa untuk lari, ternyata anak buah Opa mengikuti Awa dan membawa Awa kerumahnya. Dan dari saat itu Opa melarang Awa untuk berhubungan dengan keluarga Om Bian. Selama ini Awa hanya bisa melihat kalian dari jauh. Awa senang sekarang Mama Dira sudah bisa tersenyum dan tertawa"
"Kamu tinggal dengan keluarga kandungmu?"
"Opa meminta Awa memilih, tidak memiliki hubungan apapun dengan keluarga Om Bian. Atau Awa harus membebaskan Mama Siska di RSJ" ucap Salwa sendu, mengungkapkan yang sebenarnya.
Tersentaklah hati Bian mendengar penjelasan Salwa. Pasti ini tidak mudah untuk Salwa memilih. Usianya masih sangat belia jika dibebankan pikiran seberat ini.
"Maafin Om Wa, Om tidak bisa memenuhi pilihan yang kedua"
"Awa tahu Om, itu sebabnya Awa memilih untuk tidak memiliki hubungan apapun dengan keluarga Om Bian."
"Maafin Om"
"Om Janji ya Jaga Mama Dira. Meski Awa tidak ada bersama Kalian. Tapi Awa akan selalu berada disekitar kalian. Om Bian yakinkan Mama Dira jika Awa baik-baik saja"
"Om akan coba bi.... "
"Tolong Om, sekali ini saja biarkan Awa yang berkorban untuk kalian. Ini adalah cara terbaik yang harus kita pilih Om"
"Tapi.... "
__ADS_1
"Inshaa Allah, Allah akan selalu memberi jalan untuk kita"
Bian masih bergeming, tak sepatah katapun ia bisa membantahnya. Permohonan dari gadis kecil ini yang penuh harap membuatnya urung untuk menolak. Bagaimana mungkin dirinya bisa mengalah begitu saja. Namun bagaimanapun Bian harus menghargai apa yang telah dipilih oleh anak sahabatnya.
"Suatu hari nanti, mungkin Salwa akan hadir diantara kalian. Meski itu bukan sebagai Salwa"
Bian masih tak menanggapi. Masih sulit rasanya untuk menyetujui permintaan dari Salwa.
"Ini Om, Awa kembalikan" sambil Salwa menyerahkan benda pipih yang menjadikannya alasan untuk bertemu dengan Bian.
Bian hanya menerimanya. Bian mengambil *sim*card dan mengirimkan beberap file penting didalamnya dan menghapus semua filenya. Bian kembali menyerahkan pada Salwa.
"Kamu pegang ini. Om akan rahasiakam pertemuan kita. Tapi izinkan Om mengetahui bagaimana kondisi kamu setiap saat. Didalam handpone ini sudah ada alamat email yang tidak ada yang tahu, kecuali Om dan kamu. Kamu bisa gunakan ini untuk berkomunikasi dengan Om"
"Tapi.... "
"Kamu punya permintaan maka Om juga punya permintaan"
Kalimat singkat dari Bian tidak bisa dibantah lagi. Mau tidak mau Salwa menerimanya. Entah bagaimana nanti ia tidak tahu.
.
.
.
.
Bersambung.....
Jangan lupa
Like๐
komentarโ๏ธ
love โค (Biar pas aku up kamu dapat notifikasinya)
Makasih ๐๐๐๐๐
__ADS_1