ADA KAMU SETELAH LUKA KEMARIN

ADA KAMU SETELAH LUKA KEMARIN
Waktu Begitu cepat berlalu


__ADS_3

Tanpa terasa waktu begitu cepat berlalu. 15 tahun yang lalu janji suci itu terucap, berawal dari kisah cinta yang tak berujung. Kini keduanya mampu bertahan hingga usia pernikahannya diangka yang ke 15. Doanya tetap sama harapannya juga tetap sama, semoga pernikahan ini hingga ke Jannah. Kehadiran tiga buah hati semakin membuat cinta Bian dan Dira semakin tak bisa terpisahkan. Keduanya dengan penuh kasih dan sayang, saling menjaga dan mendidik tiga buah hati mereka. Penyesalan Bian pada kelahiran putra pertamanya tidak akan terulang pada kelahiran kedua anaknya yang berikutnya. Cukup sekali ia melewatkan bagiamana istrinya berjuang hidup dan mati untuk mempertahankan generasi penerus caraka.


"Happy aniversary Mama, Papa"


Suara dari ketiga putra dan putrinya memenuhi kamar utama milik Dira dan Bian. Dira yang memang mudah terharu langsung menghampiri putra juga putrinya. Menyambut ketiganya dalan pelukan.


"Terimakasih sayang-sayangnya Mama dan Papa" ucap Dira dalam pelukan ketiga anaknya.


"Papa enggak dipeluk ne" rajuk Bian yang keberadaannya seolah diabaikan.


Mereka kompak saling pandang. Merencanakan sesuatu dalam otak masing-masing. Mengekspolrkan hanya dengan kedipan mata. Dan kompak melangkah perlahan hinggga....


Jadilah mereka kejar-kejaran didalam kamar. Mereka menggelitiki sang Papa hingga sang Papa minta ampun. Meski usia mereka tidak lagi usia anak-anak, tapi momen seperti ini yang sangat Dira sukai. Biarlah seorang Akbar Fabian Caraka terlihat dingin dan cuek Diluar sana. Namun ketika Bian sudah bersama anak-anaknya Bain berbanding terbalik. Bian selalu hangat dan penuh canda tawa ketika bersama keluarga


"Arka, Mita, Juna sudah nak, Kasian Papa" ucap Dira masih terpingkal melihat aksi suami dan anak-anaknya.


Alih mendengarkan Dira, justri Dira yang sekarang menjadi target ketiga anaknya. Tawa dan juga canda kini tumpah ruah. Mereka hanya berlima tapi ramenya sudah kayak satu komplek. Ketika mereka asyik dengan canda dan tawa, tak sengaja Dira melihat satu buah foto yang tak pernah berpindah dari tempatnya.


Dira meraih foto itu ia mngusap lembut seorang pria yang menggandeng anak kecil dan foto dirinya yang juga sedang menggandeng foto gadis kecil juga. Itu adalah Foto Bayu, Salwa, Fira dan juga dirinya belasan tahun lalu pada saat mereka menjadi model dari band ternama. Bulir bening kembali terjatuh tanpa diminta. Bahkan sudah lima belas tahun, meski kehidupan Dira telah banyak yang berubah, namun tidak untuk kenangan yang pernah tinggal dihatinya.


"Bayu aku sudah bahagia sekarang, anakku sudah 3. Kamu bahagia juga kan disana?" ucap Dira lirih.


Genggaman tangan dari Bian membuat Dira tersentak. Bian menggeleng dan menariknya dalam pelukan. Bian memang sakit ketika Dira masih mengingat Bayu. Tapi Bian tidak serius itu. Bian tahu dan sadar bagaimana dirinya harus bersikap. Bagaimanapun Bian berusaha untuk menghilangkan Bayu dari ingatan istrinya dia tidak akan sanggup. Bayu akan tetap ada dihati istrinya meski tempatnya berbeda. Bian sadar itu. Bahkan Bian sendiri yang meminta istrinya untuk tidak melupakan Bayu.


"Jangan sedih, kita kerumahnya mau?" ucap Bian lembut.


Sikap Bian yang seperti ini membuat Dira semakin merasa bersalah. Kenapa dimomen bahagia seperti ini justru dirinya mengingat masa lalu. Dan juga kenapa Bian selalu mengalah.


"Jangan merasa bersalah, aku sendiri kan yang bilang kalau kamu jangan pernah lupakan Bayu. Bayu sahabatku juga sayang"


"Dira semakin terisak dan mengeratkan pelukannya. Bahkan Dira lupa jika dikamar ini ada ketiga anaknya. Dira melepaskan pelukannya ketika Bian ingin mengecup keningnya.


"Upsss.... ada kami Pa" protes Arka menyentak keduanya.

__ADS_1


"Mama kenapa nangis?" tanya Arka yang hatinya lebih sensitif jika tentang mamanya.


"Mama enggak papa sayang" ucap Dira dianatara isak tangisnya.


Arka mendekat dan menghapus air mata Mamanya. "Mama jelek kalau nangis"


kalimat itulah yang sering kali Arka katakan ketika Dira menangis. Kalimat itu sama persis dengan kalimat Bian ketika melihat Dira menangis. Dan kalimat itu juga yang akhirnya membuat ukiran senyum dibibir Dira.


"Om Bayu pasti bahagia kok Ma. Kita kerumah Om Bayu ya ma" hibur Arka yang membuat Dira mengangguk.


Dira dan Bian memang tidak pernah menutupi siapa Bayu. Bahkan mereka selalu rutin mengunjungi Bayu ditempat peristirahatannya. Bian dan juga Dira menceritakan kepada putra dan putrinya siapa Bayu. Dan juga tentang Salwa, anak-anak Bian dan Dira juga mengetahuinya.


...๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€...


Didepan pusara yang bertuliskan Bayu Pramadipta. Satu keluarga itu khusuk dengan doa. Meski mereka sempat dibuat bingung. Karena saat mereka datang, sudah ada buket bunga mawar putih yang masih segar. Tapi mereka tetap pada tujuan utama. Sowan dan memberikan doa lebih penting.


"Bay.... Anakku sudah besar sekarang. Aku juga sudah bahagia sekarang. Terimakasih sempat hadir mengisi hari-hariku. Dan juga terimakasih telah hadirkan dia untukku" ucap Dira sambil. menggenggam erat tangan sang suami.


Bian menyambut dengan senyuman. Usia mereka memang tak lagi muda. Namun cinta dan kasih sayang yang mereka punya tidak akan pernah pudar. Mereka melangkah untuk pergi, dikuti oleh putra dan putrinya.


Bian menoleh dan menggandeng putranya kemudian berkata "kita makan oke"


"Makan di caffenya Abi ya"


"oke let's go"


"Ye...." soraknya yang membuat yang lainya juga tersenyum.


.


.


.

__ADS_1


Jalanan kota yogya siang ini memang cukup lengang. Di bawah panas terik matahari yang menyengat membuat pengendara lainnya berlomba untuk cepat sampai tujuan. Tak jarang Bian beristighfar akibat pengendara yang ugal-ugalan. Ingin rasanya mengumpat kata-kata kasar, tapi Bian sadar ia sedang bersama anak-anak. Usapan lembut dilengan dari sang istri cukup ampuh menjadi penawar emosinya. Bian sempatkan menoleh sembentar kearah istrinya yang sudah memberikan senyum termanisnya. Luluh sudah pertahanan hati Bian.


Dua puluh menit berada didajalanan yang menguras emosi akhirnya mereka sampai juga. Tanpa menunggu perintah ketiga anak Bian dan Dira sudah turun dan berlari menuju Caffe. Bian dan juga Dira hanya menggeleng dan tanpa curiga mereka turun dan menyusul anak-anaknya kedalam.


.


.


.


ketika Bian membuka pintu caffe betapa terkejutnya mereka ternyata


"Surpraise...."


Bian dan juga Dira hanya tertegun. Baik Dira dan juga Bian tidak menyangka jika akan ada surpraise. Dekorasi caffe tampak sedikit dirubah dan juga disana sudah ada keluarga Bian dan juga keluarga Dira. mereka semua berkumpul disana. Dira dan Bian yang masih tertegun dan berat melangkah dijemput oleh ketiga putranya. Arka membawakan buket bunga mawar berwarna pink simbol cinta.


"Happy aniversary Ma, Pa" ucap Arka sekali lagi sambil memeluk sang Mama.


"Mita sayang Mama dan Papa" ucap putri kedunya mereka


"Juna sayang Mama, Papa, Mas Arfan dan Mbak Mita" ucapnya dengan gaya anak-anak yang membuat sepasang suami istri itu tersenyum dan memeluk ketiga anaknya.


ucapan selamat silih berganti untuk pasangan yang baru saja merayakan ulang tahun pernikahannya yang ke 15. Bian dan juga Dira tidak menyangka jika ini adalah ide dari anak-anaknya. Dan ini semua mereka yang menyiapkan. Dan waktu benar-benar telah mengubah semunya. Ternyata ketiga anaknya kini telah beranjak dewasa. Mereka pikir putra putrinya masih kecil. Tapi ternyata mereka sudah bisa menyiapkan surpraise yang sangat luar biasa.


Bersambung


Jangan lupa


Like๐Ÿ‘


komentarโœ๏ธ


love โค (Biar pas aku up kamu dapat notifikasinya)

__ADS_1


Makasih โคโคโค


__ADS_2