
Memiliki quality time seperti pagi ini sungguh hal yang sangat ditunggu oleh Bian ketika waktu weekend tiba. Sesibuk apapun Bian dan Dira keduanya selalu berusaha meluangkan waktu untuk bersantai ria tanpa memikirkan tentang pekerjaan. Berbagi cerita, memasak bersama, atau sekedar tiduran dikamar adalah waktu kebersamaan yang sangat dinikmati keduanya. Dan juga jalan-jalan keliling komplek, berburu kuliner, atau berkunjung kerumah mama dan juga Ayah Bunda juga menjadi pilihan keduanya untuk menghabiskan waktu bersama. Dan seperti pagi ini Dira kembali memperlihatkan tingkah anehnya.
Berawal dari sebuah motor cross yang telah terparkir indah di halaman rumahnya. Yang membuat Bian bingung dan juga khawatir. Bian khawatir jika Dira minta yang aneh-aneh. Bian takut Dira memintanya untuk naik motor, misalnya.
Semenjak pulang dari Semarang seminggu yang lalu tingkah Dira semakin aneh. Bukan hanya tingkahnya terkadang Dira juga mudah lelah dan mudah sekali tertidur. Dira pikir itu karena dirinya sedang lembur untuk rekap nilai siswa. Tak jarang juga Bian mengingatkan agar Dira jangan terlalu lelah. Namun hal ini selalu Dira abaikan begitu saja.
"Sayang"
"Iya"
"Ini motor siapa?"
Dira hanya nyengir menampakkan jajaran giginya yang rata dan putih bersih. Senyum manjanya membuat Bian selalu lagi dan lagi jatuh cinta. Namun senyum itu juga yang membuat Bian merasa terancam. Pasalnya jika Dira sudah bersikap manja seperti ini, sudah pasti dia akan meminta sesuatu yang membuat Bian tidak bisa memenuhinya.
"Untuk apa?" tanya Bian kembali sambil melirik benda yang membuat istrinya tergila-gila.
"Kak... "
"Hemm"
"Jalan yuk"
"Sebentar kakak ambil kunci mobil dulu"
Dira hanya cemberut sebagai jawaban. Bukan Bian tudak memahami apa keinginan Dira. Hanya saja dirinya Berusaha menghindar dari keinginan Dira yang sama sekali tidak bisa diwujudkan.
"Kak kita.... "
"Enggak"
"sekali aja, bilang iya gitu"
"Kalau enggak ya enggak" ucap Bian tegas Namun justru membuat Dira semakin merajuk.
"Sayang naik motor itu panas, polusi, terus juga berisik"
"Siapa bilang, justru naik motor itu lebih merakyat, efektif dan juga ekonomis" ucap Dira kembali.
"Suami mbak Dira itu tidak bisa bawa motor" suara yang memang sudah tidak asing lagi berada dirumah ini siapa lagi jika bukan Ari sang asisten sekaligus sahabat.
Mendengar Ari yang seolah meledek dan meremehkan membuat Bian menahan emosi. Begitulah Bian pria angkuh yang gengsi mengakui kelemehannya.
"Gue bukan nggak bisa ya, tapi kurang lihai aja" ucap Bian masih sombong.
"Kurang lihai dan takut, lebih tepatnya"
Ha.. ha.. ha..
Suara tawa Ari yang meledek Bian memenuhi ruang utama di rumah Bian. Jadilah keduanya saling ledek dan kejar-kejaran bak anak kecil. Melihat tingkah suami dan asistennya membuat Dira juga tertawa lepas. Padahal tadi Dira sedang merajuk namun tingkah suaminya ternyata membuatnya melemah.
Sedang Bian juga merasa bahagia melihat tawa lepas sang istri. Tawa Dira adalah sumber kabahagiaan untuknya. Bagi Bian ketika melihat Dira tertawa, sama halnya dirinya telah berhasil memenuhi janjinya terhadap sahabatnya. Berulang kali Bian merasa dirinya harus selalu bersyukur. Dihadirkan cinta sebaik ini. Dira adalah Anugrah terindah yang ia miliki.
"Aku ikut senang melihat rumah tanggamu" ucap Ari diantara nafas beratnya akibat kejar-kejaran.
"Dia adalag Anugrah"
"Cinta itu lucu ya?"
__ADS_1
"Aku pikir dia memang bukan takdirku. Ternyata Allah mempertemukan ku dengannya lagi. Dan Allah mengaturkan hari terbaik untukku dan dia"
Ari menepuk punggung sahabatnya tanda ia selalu mendukung setiap apa yang menjadi keputusan bos sekaligus sahabatnya. Ari adalah saksi bagaimana Bian menjalani kehidupannya sejak kecil. Dan ketika saat ini Bian sedang berbahagia maka ia adalah orang pertama yang akan tersenyum untuk kebahagiaan Bian.
"Kakak"
"Ia..."
"Ayo" Sambil Dira memperlihatkan jaket kulit, serta kaca mata hitam, dan snaker kesayangan suaminya.
Bian yang melihat tingkah istrinya hanya mengehela nafas berat. Ia pikir istrinya telah melupakan permintaannya, tapi ternyata tidak seperti itu. Bian hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil berjalan mendekati sang istri.
"Semangat pak Bos. Kalau punya istri pembalab harus bisa naik motor" ledekan itu kembali terdengar dan hanya mendapat tatapan tajam dari Bian.
Sedang Ari bukan takut, ia hanya nyengir menampakan jajaran giginya yang rapi dan putih bersih.
...🍀🍀🍀🍀...
hoek... hoek... hoek....
Dira tiba- tiba mual saat Bian telah mengintruksikan dirinya untuk naik di bangku penumpang. Dira berlari kekamar mandi dan memuntahkan semua isi yang ada didalam perutnya. Melihat istrinya yang berlari kekamar mandi, membuat Bian khawatir dan langsung menyusul.
"Sayang kamu tidak apa-apa?"
Hoek... hoek... hoek....
Bukan jawaban tapi suara itu kembali terdengar diluar pintu kamar mandi. ketukan pintu yang memburu pun tak membuat Dira segera membuka pintu. Hingga beberapa menit barulah terdengar suara
Ceklek....
Tampak wajah lesu dan pucat tak bertenaga. jika Bian tidak sigap, sudah pasti Dira akan jatuh. Sambil mengusap puncak kepala Dira yang berada dalam pelukannya.
Dira hanya menggeleng, rasanya tenaganya sudah benar-benar habis saat ini. Bahkan untuk membawa dirinya saja ia sudah tidak sanggup. Akhirnya Bian menggendong Dira dan dibawa kekamar.
"Aku panggil dokter kerumah ya?"
Lagi-lagi Dira hanya menggeleng tak bertenaga. Badanya benar-benar lemas. Tidak ingin kerumah sakit, tidak ingin dipanggilkan dokter juga. Entah kenapa rasanya Dira hanya ingin ditemani suaminya. Dira berbaring sambil memeluk sang suami yang Sedang duduk dipinggir ranjang.
"Kak... "
"iya... "
"Jalan-jalannya?"
Bian hanya menatap heran sang istri. Ia pikir ia telah lupa dengan jalan-jalannya. Tapi ternyata dalam keadaan lemah tak berdaya pun ia masih ingat.
"Kamu istirahat dulu ya?" dengan penuh kelembutan Bian menjawab.
"Kak... "
"Ia Sayang.... "
"Aku.... "
"Istirahat ya" Ucap Bian memotong pembicaraan Dira.
"Aku...."
__ADS_1
"Kakak temani kamu istirahat ya"
"Aku telat.... " Ucap Dira lirih, yang membuat Bian diam dan memperhatikan wajah Dira secara intens.
Bian masih diam mencerna kalimat Dira. Bian melirik kearah kalender yang berada diatas nakas. Ia perhatikan angka-angka yang tertera disana. Benar harusnya tamu bulanan Dira datang sejak dua minggu yang lalu. Oh Bian baru menyadari penyebab mood Dira berubah-rubah akhir-akhir ini. Sektika Bian memeluk sang istri dengan erat. Meski ia belum yakin dengan apa yang ada dalam pikiranya. Tapi rasa bahagia itu tumbuh begitu saja.
"Mbak Dira kenapa?" Teriak seorang pria diambang pintu dengan penuh kekhawatiran.
Ical datang setelah mendapat telpon dari Bian jika Dira muntah-muntah. Tanpa berpikir panjang Ical langsung menuju kerumah sang kakak meski dia tidak sedang sendiri.
"Lho kok Ical sama Dila" tanya Dira penuh selidik.
"Tadi pas Mas Bian nelpon, Ical lagi bareng ma Dila mbak"
Belum sempat Dira mengajukan pertanyaan, Ari datang dengan nafas tergopoh-gopoh bersama seorang wanita dengan jas warna putih sebagai identitas dirinya.
"Boleh saya periksa dulu?" ucap wanita cantik berbalut hijab warna mocca.
"Asyifa...." teriak Dira ketika Dokter perempuan yang cantik itu mendekatinya.
Bukan pemeriksaan yang dilakukan. Tetapi Dira malah memeluk erat Syifa. Sudah lama mereka tidak bertemu. Sejak meninggalnya Bayu Dira bahkan tidak pernah lagi mendengar kabar tentang Syifa. Dira seperti kehilangan orang-orang terdekatnya dahulu. Syifa yang hilang kabar. Apalagi Salwa yang hingga saat ini belum juga ditemukan keberadaannya.
"Mbak Dira diperiksa dulu ya?"
"Kamu?"
"Syifa sekarang udah jadi Dokter Mbak"
"Kamu.... "
"Ini semua berkat Mas Bian dan Mas Ari. mereka yang membiayai saya sampai saya bisa menjadi Dokter"
"Kok Bisa?"
"Panjang ceritanya mbak. Nanti kita cerita ya, sekarang Mbak diperiksa dulu"
Dira hanya mengangguk dan kembali baring untuk diperiksa. Tampak senyum kebahagiaan yang terpancar dari bibir Syifa. Dia tidak memberi penjelasan apapun tapi ia malah menyuruh Bian untuk membeli testpack.
"Syifa.... "
"Ia Mbak"
"Apa aku.... "
"Kita tunggu Mas Bian dan Mas Ari kembali ya mbak"
.
.
.
Jangan lupa
Like👍
komentar✍️
__ADS_1
love ❤ (Biar pas aku up kamu dapat notifikasinya)
Makasih ❤❤❤