
Diruangan yang berukuran 4x4 ini dilengkapi dengan AC. Harusnya bisa membuat suhu ruangan ini dingin. Tetapi hal itu tak dirasakan oleh seorang pria yang bernama Akbar Fabian Caraka. Bulir bening terus mengalir dikedua kelopak matanya. Keringat bercucuran tak ia hiraukan. Pandangannya dalam menatap betapa wanita hebat di hadapannya kini telah berjuang untuk seorang keturunan Caraka. Putra mahkota telah lahir tanpa dirinya. Penyesalan itu selalu tersirat ketika Bian tidak mendampingi Dira saat melahirkan Putra tampan yang kini ada di gendongannya. Permintaan maaf dan juga ucapan terimakasih puluhan kali Bian ucapkan untuk Dira. Dan puluhan kali pula Dira mengatakan jika dirinya tak mempermasalahkan ketidak hadiran Bian dalam proses persalinan Dira.
"Kakak sudah siapkan nama untuk putra tampan kita" ucap Dira untuk mengalihkan rasa bersalah juga penyesalan Bian.
Bian mengecup sang putra yang masih merah dan memang terlihat tampan. Suara azan ia lantunkan tepat ditelinga sang putra. Tetesan airmatanya menyiratkan betapa dirinya sangat bersyukur akan anugrah indah yang diberikan oleh sang maha kuasa.
"Arkana Rizky Caraka" ucap Bian lembut sambil menatap sang istri.
Senyum Dira merekah mendengar nama yang baru saja disebutkan oleh suaminya. Rasa syukur tiada henti ia ucapkan. Tak percaya ketika cinta yang dipikir akan kandas selamanya ternyata kembali bersemi. Bahkan kini telah hadir malaikat kecil penyelamat cinta keduanya. Dira pikir hatinya sudah mati bersama cintanya yang telah pergi meninggalkannya. Ternyata cinta itu digantikan dengan yang lebih baik seperti janjiNya.
"Assalamualaikum Arka, anak solehnya Papa dan Mama. Jadilah pelindung untuk keluarga kelak ya nak" ucap Bian menatap bayi merah yang masih nyaman berada digendongannya.
"Assalamualaikum Arka, kamu adalah Anugrah yang dikirim Allah untuk terus menumbuhkan cinta dihati Mama dan Papa" ucap Dira juga sambil menatap sang suami yang juga telah beralih menatapnya.
Suasana haru yang membiru ini disaksikan oleh keluarga Dira dan Bian yang juga turut menjadi saksi bagaimana keduanya menjalani kisah cinta ini. Kehadiran Arka membuat keduanya sadar jika memang cinta itu nyata bukan sekedar formalitas. Cinta Bian dan Dira kini dibuktikan melalui kehadiran Arka.
...๐๐๐๐๐...
"Selamat ya Mas dan Mbak, babynya sehat, pinter, dan juga tampan"
"Makasih Dokter Syifa" ucap Dira tulus pada Dokter syifa.
"Mau gendong?" tawar Bian pada Dokter Syifa dan dijawab dengan anggukan kepala.
"Dokter Syifa sudah tidak ada praktek?"
"Jam praktek ku sudah selesai dari tadi sebenarnya mbak. Karena Mbak Dira adalah pasien khusus jadi aku sendiri yang ngontrol" Jawab dokter Syifa sambil memandang kagum pada bayi merah yang kini ada dalam gendongannya.
.
.
.
"Cantik" ucap seorang pria yang baru saja datang dan membuat semua mata memandang kearahnya.
"Anak ku laki-laki" ucap Bian dingin pada pria yang baru saja datang dan selalu setia menemaninya dalam kondisi apapun.
"Bukan anak lo, tapi yang gendong" ucap Ari tak kalah acuh.
__ADS_1
"Gue bos lo"
"Jam kerja Udah habis kali"
"Lo.... "
"Kak...." ucap Dira mengingatkan sang suami untuk menyudahi perdebatan dengan asisten sekaligus sahabatnya itu.
Ari menyeringai mengejek Bian yang langsung diam. Kemenangan milik Ari saat ini. Lalu bagaimana dengan Bian, jangan ditanya dia sudah menahan kesal karena istrinya membiarkan Ari yang menang.
"Inget kakak sekarang udah jadi Papa, harus kontrol emosi. Kasih contoh yang baik untuk putra kita" ucap Dira kini lebih lembut yang membuat emosi Bian berangsur menghilang dan berganti menatap istrinya penuh cinta.
"Beraninya bilang cantik doang. Halalin dong" kini Bian kembali meledek sang asisten yang sudah berjalan mendekat kearah Syifa yang sedang menggendong putranya.
"Syifa, apa kamu mau jadi istriku?" pertanyaan Ari seketika membuat seisi ruangan diam dan memperhatikannya.
Sedang Syifa juga masih tertegun. Pertanyaan ini datang menyerang secara tiba-tiba. Antara serius atau tidak, Syifa sulit membedakan. Ia masih menatap wajah pria yang berada dihadapannya. Tidak ada kebohongan, wajahnya santai tapi penuh keseriusan. Yang membuat Syifa ragu kenapa dirinya dilamar diruangan pasien seperti ini. Sungguh diluar ekspekstasinya.
"Mas Ari sedang melamar Syifa?" tanya Syifa dengan polosnya.
"Kalau kamu bersedia menjadi istriku, pakai cincin ini. Tapi jika kamu tidak bersedia maka kamu boleh buang cincin ini" Sambil Ari mengeeluarkan kotak berbentuk hati dari saku jasnya.
Suasana menjadi hening, tidak ada sepatah kata pun yang keluar. Padahal didalam ruangan yang berukuran 4x 4 ini dipenuhi oleh keluarga Dira dan juga Bian. Namun mendadak suasana menjadi sunyi, bisu, tanpa suara. Sedang Syifa masih terus diam memikirkan sesuatu. seperti terintimidasi, semua menuntut jawaban tak terkecuali Ari.
Kata maaf yang keluar dari bibir Syifa membaut semua semakin dilanda kecemasan. Apa ini artinya Syifa menolak. Atau....
"Maaf Syifa tidak bisa" ucapnya membuat Ari dan yang lainnya melemah.
Gaya melamar Ari memang seperti tidak serius. Tapi Ari berharap banyak dari lamarannya. Ari pikir kedekatannya selama ini sudah cukup untuk mengenal satu sama lain. Syifa tidak pernah menolak perhatian dari Ari, hal ini membuat Ari berfikir bahwa niat baiknya akan disambut baik oleh Syifa. Tapi ternyata semua hanya berakhir dengan kata maaf yang sangat menyakitkan.
"Syifa tidak bisa pakai cincinnya sendiri, mbak Dira bisa tolong pakaian?" ucap Syifa kemudian mematahkan segala asumsi buruk di benak semua orang yang ada di ruangan ini.
Kini wajah tegang itu berganti dengan senyum dan juga tangis haru. Terlebih Ari, semula dirinya sudah patah semangat. Beramsumsi yang berlebihan terhadap hati dan perasaannya. Ternyata semua bersambut dengan cinta. Syifa gadis pujaan hatinya itu kini telah memenuhi batang otaknya. Dengan hati yang bahagia dan haru Dira melingkarkan cincin yang indah di jari manis Syifa. Peluk hangat juga Dira berikan untuk Syifa.
.
.
.
__ADS_1
.
"Mas Ari enggak romantis banget si, masak melamar kok diruangan pasien" ucap Syifa setelah keadaan kembali normal.
"Lah emang kenapa?"
"Mana ada sih lamaran kok diruang Pasien begini"
"Makannya sekarang kita adain"
Semua seakan tertawa dan gemas melihat pasangan yang baru saja go publik. Lucu sih memang, lamaran kok diruang pasien.
"Assalamualaikum...."terdengar suara yang tak asing mengalihlan canda dan tawa yang tengah merekah.
"Walaikumsalam...." jawab semuanya
"Mbak Dira enggak papa kan" suara panik itu kini terengar. Ical, pria yang menjadi adik dari Nadira itu selalu panik jika menyangkut tentang kakaknya.
"Mbak enggak apa-apa kok, tuh ponaan mu sudah lahir, tampan lagi, namanya Arkana Rizky Caraka" ucap Dira menyambut peluk hangat sang adik.
"Maafin Ical, yang tidak ada disaat mbak butuh Ical" ucapnya menyesal
"Yang penting semuanya sudah selamat dan lancar" Jawan Dira lebih bijak.
"Duh terharu Ical Mbak, Mbak Dira sekarang lebih bijak"
Dira tersenyum membelai rambut sang adik. Tidak bisa dipungkiri bahwa Dira sangat bahagia saat ini. Semua orang berkumpul untuk menyambut kehadiran keluarga baru. Tangis bahagia juga menghiasi kehadiran seorang putra mahkota Arkana Rizky Caraka. Rasa sykur itu tiada henti Dira panjatkan. Harapannya keluarganya tetap menjadi keluarga yang selalu diberikan keberkahan, kebahagiaan, dan selalu dalam kebaikan.
"Ical... Dila.... " ucap Dira ketika menyadari bahwa sang adik tidak datang Seorang diri.
Tanpa harus menjelaskan apapun dari bahasa tubuh mereka sudah bisa disimpulkan bahwa ada hubungan istimewa diantara keduanya. Hari ini adalah hari yang penuh dengan kebahgaian. Lahirnya sang putra generasi penerus dari keluarga Caraka. Ari si asisten dan juga sahabat terbaik dari keluarga Caraka telah menemukan tambatan hatinya. Dan Ical adik dari Nadira juga telah berhasil move on, menemukan hatinya yang telah patah kemarin.
*B**ersambung*
Jangan lupa
Like๐
komentarโ๏ธ
__ADS_1
love โค (Biar pas aku up kamu dapat notifikasinya)
Makasih โคโคโค