ADA KAMU SETELAH LUKA KEMARIN

ADA KAMU SETELAH LUKA KEMARIN
Naura Is....


__ADS_3

Arkanta Rizky Caraka terlahir sebagai putra pertama melengkapi pernikahan Dira dan Bian. Ketampanan juga kecerdasanya sudah tidak diragukan lagi. Tumbuh menjadi anak yang bertanggung jawab. Bertanggung jawab untuk dirinya sendiri, untuk Agamanya, kedua orang tuanya juga kedua adiknya. Diantara saudaranya yang lainnya Arka memang yang paling mewarisi sifat sang Papa. Cerdas, tampan, cuek tapi memiliki sifat yang lembut. Sangat memuliakan ibunya.


Menumpahkan segala apapun beban yang sudah beberapa hari ini Dira tahan dalam dekapan sang putra. Ternyata benar, bahu Arka sangat nyaman dan bisa sedikit meringankan beban yang begitu berat ia tahan. Belaian lembut dari sang putra membuat Dira semakin larut dalam dekapan hangatnya.


"Kapanpun Mama ingin bahu Mas Arka, maka Mas Arka akan selalu berikan untuk Mama" ucap Arka yang membuat Dira semakin bangga pada putra sulungnya ini.


"Mama terlalu lemah ya Mas?" ucap Dira setelah melepaskan diri dari pelukan Arka.


Arka menatap mamanya dengan tatapan penuh arti. Menunjukkan, selemah apapun mamanya dia siap menjadi sandarannya. Ia akan bangga jika memang dirinya yang akan dicari oleh sang Mama ataupun adik-adiknya kelak untuk menjadi sandaran.


"Mama adalah mama terbaik didunia untuk kami"


"Tapi.... "


"Ma, kami sayang Mama" ucap Arka memotong kalimat yang akan diucapkan sang Mama.


.


.


.


"Mama..... " suara yang memang sudah tak asing lagi. Suara itu berasal dari Mita dan Juna. Mereka ternyata sedari tadi mengintip, menyaksikan apa yang dilakukan oleh kakak dan mamanya.


"Mama jangan sedih lagi ya. Juna nakal ya ma?" ucap Arjuna dengan khas suara anak kecil yang terlihat sedih.


Dira berusaha untuk tersenyum dan membelai rambut Arjuna. Arjuna memeluk sang Mama dengan wajah yang begitu sulit diterjemahkan.


"Mbak Mita juga sayang Mama. Mama belum makan Kan? ini ada nasi goreng ayam. Ini Mbak Mita dan adek Juna lho ma yang masak" ucap Mita menghibur.


Betapa bangganya Dira, memiliki anak-anak yang luar biasa baik. Saling melengkapi disaat dirinya sedang merasa kecewa seperti ini. Perlahan perasaannya semakin ringan. Dira tidak lagi kecewa dengan apa yang terjadi antara dirinya dan Bian.


"Ma.... Apapun permasalahan Mama dan Papa Mas yakin kok semua tidak seburuk yang mama kira. Apapun yang Papa lakukan itu pasti ada alasan dibalik itu semuanya. Papa selalu melakukan yang terbaik untuk kita semua. Papa selalu mengutamakan keselamatan kita. Papa itu adalah Papa terbaik yang kita punya"


Hati Dira seketika mencair. Benar yang dikatakan Arka. Bian tidak pernah melakukan suatu hal tanpa ia perhitungkan. Semua selalu ia pikirkan dengan baik. Apapun yang ia lakukan selalu untuk kebaikan keluarga. Bian tidak pernah mau mengambil resiko apapun jika itu menyangkut tentang keluarganya.


Apa benar selama ini memang dirinya yang belum mengenal Bian dengan baik?


"Ma.... semua bisa diperbaiki kan?" ucap Arka kembali


Dan mendapat anggukan kepala dari Dira. Ya dirinya memang harus memperbaiki semunya. Harusnya Dira tidak mengambil keputusan sepihak seperti kemarin. Pasti Bian punya penjelasan. Apa yang ia tuduhkan juga tak beralasan dan tak berdasar.


"Ma.... beberapa hari ini juga Papa tidak makan dengan baik. Mbak Mita khawatir Papa sakit?" ucap Mita sendu mengungkapkan kekhawatiranya terhadap sang Papa.

__ADS_1


"Gimana kalau kita Kekantor Papa" ucap Arka


"Kita bawakan makanan untuk Papa gimana?" tambah Juna


"Pasti Papa kangen masakan Mama" Mita juga tak ingin kalah ide.


Tak ingin mengecewakan sang anak, akgirnya Dira mengalah. Tidak bertegur sapa dengan sang suami beberapa hari membuatnya merasa kehilangan dan kosonh. Sedikit menurunkan ego dan mencoba untuk menetralkan emosi.


Dengan tersenyum dan tenang Dira berkata


"Oke kita masak untuk Papa, setelah itu kita kekantor Papa"


"Let's go" ucap ketiga putra dan putrinya kompak.


Tak bisa dipungkiri kehadiran tiga malaikat didalam rumah tangganya memang menjadi warna tersendiri melengkapi kebahagiannya. Dan disaat Bian dan Dira sedang diuji dengan permasalahan seperti sekarang ini justru putra dan putrinya yang menjadi pemersatu.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


"Sebaiknya anda makan dulu tuan" ucap Ari pada Bian yang terlihat sangat kacau.


"Aku sedang tidak mood bekerja. Jadi stop bicara formal" ucap Bian acuh


"Kalau lo terus diam begini, tidak akan ada penyelesaiannya Bi" ucap Ari yang sudah tidak memakai bahasa formal lagi.


"Kenapa Dira malah berfikir kalau Naura itu anakku dan wanita itu. Kenapa dia enggak kepikiran kalau Naura itu anaknya yang hilang?"


"Maksud kakak apa?" suara yang sudah tak asing lagi itu menyentak Bian dan juga Ari.


Wanita dengan gamis warna lilac grey dipadukan dengan hijab warna senada sedang menuntut sebuah penjelasan. Mata indahnya sudah memupuk cairan bening. Perlahan ia jalan mendekat menghampiri seorang pria yang sudah hampir sepekan ini ia abaikan. Sorot mata dengan bulu mata yang lentik itu sudah basah oleh air mata. Jantung bergetar ketika kenyataan yang ia harapkan sedang ia tunggu kepastiannya.


"Kak.... "


"Iya, apa yang ada dalam pikiran mu benar" ucap Bian lirih dengan sorot mata yang tak ingin beralih dari paras syahdu yang sangat ia rindukan.


"Katakan, agar aku yakin"


"Naura adalah...."


Kalimat Bian terjeda, helaaan nafas kasarnya menunjukkan betapa berat ia ingin mengatakan. Namun Bian tidak punya pilihan lain. Mungkin memang semua harus diakhiri sampai disini.


"Naura Gunawan dan Salwa Pramadipta adalah orang yang sama" ucap Bian masih menatap lekat wajah yang kini semakin deras air mata yang mengalir dipipi.


Sebuah kenyataan yang sudah lama ia nantikan. Entah harus bersikap seperti apa, yang pasti rasa kecewa itu pergi begitu saja. Hatinya yang sakit berganti dengan rasa rindu yang menggebu. Ingin ia bertanya banyak hal, namun ingat kata Arka, putranya. Apapun yang suaminya lakukan itu pasti bukan tanpa alasan.

__ADS_1


"Maaf.... " ucap Bian kemudian.


Rasa penyeselaan juga menguar begitu saja. Andai Bian jujur dari awal, mungkin kesalah pahaman ini tidak akan pernah terjadi. Namun nalurinya untuk terus menjadi pelindung keluarganya menjadi taruhannya. Selama ini ia memilih mengalah bukan berarti ia kalah. Dira masih diam menatap lekat wajah pria yang usianya tak lagi muda namun masih terlihat tampan. Rasa kecewa, marah, dan rindu bercampur menjadi satu.


"Maaf untuk apa?" ucap Dira lirih


"Untuk semua yang telah terjadi"


"Kakak punya alasan untuk semua ini" ucap Dira masih belum lekang dari mengeja setiap inci wajah tampan suaminya


"Kamu sudah siap dengar penjelasanku?"


"Bagaimanapun Kakak adalah pria yang terbaik yang ada dihidup Dira. Kakak tidak pernah memiliki alasan buruk untuk setiap apa yang kakak lakukan.


Dira marah?


Iya


Dira Kecewa?


Juga iya


Tapi apapun itu sebuah penjelasan akan membuat keadaan lebih baik"


.


.


.


.


Bersambung.....


Jangan lupa


LikeπŸ‘


komentar✍️


love ❀ (Biar pas aku up kamu dapat notifikasinya)


Makasih 😁😁😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2