
"Mohon maaf untuk beberapa hari ini tidak up. Dikarenakan ada urusan yang memang sangat mendesak yang harus diselesaikan didunia nyata. Terimakasih masih setia menunggu up selanjutnya. πππππ
...-------@@@@@@------...
Udara segar dipagi hari membuat siapa saja yang menghirupnya merasakan ketenangan. Seperti mendapat dopamin dari asupan-asupan embun menyeruak bebas kedalam jiwa.
Memejamkan mata menikmati kicauan burung disingasana. Panorama menyertakan butiran -butiran indah dipelupuk mata. Bersyukur adalah cara terindah untuk membalas bagiamana sang penguasa seluruh alam ini begitu besar memberikan kebaikannya. Memberikan udara yang begitu penting untuk setiap detik kelangsungan kehidupan manusia atau siapa saja yang memerlukannya.
"Kamu tahu tidak Ra....
Kenapa banyak orang bilang bahagia itu sederhana? "
Dira hanya diam masih menikmati indahnya pagi hari yang sudah lama tak ia rasakan ketengannya. Kata "Bahagia itu sederhana" memang kata kamuflase yang sangat sering didengar. Namun apakah ini juga berlaku untuk Dira, jawabannya tentu "Tidak"
Dira bukan tidak membenarkan kata yang sangat sering dikatakan oleh kebanyakan orang. Namun bagi Dira tidak sesederhana itu untuk mencapai kata bahagia. Pasalnya Dira harus selalu terluka untuk kebahagiannya. Bahkan kebahagiaan yang sudah didepan matanya saja bisa menghilang dengan hitungan detik.
"Kamu sedang tidak mempercayai kata Bahagia Ra? "
"Bukan aku tak mempercayainya kak.
Tapi aku lebih tidak menyetujui dengan kata Bahagia itu sederhana"
"Kenapa? "
"Karena bahagia itu mahal harganya kak"
"Kamu sedang tidak bahagia bersamaku? " Ucap Bian menghentikan langkahnya kemudian menatap dalam manik mata yang kini berada dihadapannya.
Dira membalas tatapan Bian sendu. Bukan Dira tak bahagia bersama Bian. Hanya saja hati dan pikirannya kini tak sejalan lagi. Dira masih sangat memikirkan perasaannya terhadap Bayu. Namun entah sejak kapan hatinya selalu menolak jauh dari Bian.
"Katakan bagaimana aku bisa membuat kebahagiaan untuk mu Ra? " Ucap Bian kembali masih menatap manik mata Dira.
"Aku....."
"katakan.....
Akan aku lakukan apapun itu.... "
"Meski itu menyakiti kakak"
"Jika itu untuk membuat kamu bahagia. Apapun akan aku lakukan"
"Bertahanlah.....
Meski aku belum bisa membalas perasaanmu kak....
Aku tahu ini sangat menyakitimu.
Namun hanya bersamamu aku nyaman"
Bian tersenyum dan mencakup kedua pipi mulus milik Dira.
__ADS_1
"Berapa lama aku harus menunggu, akan aku lakukan untukmu."
"Bagaimana jika aku..... "
"Aku tidak perlu mendapat balasan cinta darimu Ra. Biarkan aku yang memberikannya untukmu. Aku hanya ingin kamu bahagia bersamaku. Cukup itu saja. "
"Kak.... "
"Ini mungkin terdengar sangat egois Ra. Tapi tujuanku menikahimu untuk membuatmu bahagia."
Meski caranya harus menyakitiku aku akan terima Ra. Kalimat yang hanya mampu diucapkan didalam hati Bian.
"Kak.... "
"Kamu minta aku bertahan. Maka aku akan bertahan. kami minat aku jangan tinggalkan kamu. Maka aku akan tetap disini disampingmu menemanimu hingga kita menua bersama. "
"Terimakasih.....
Sudah melakukan banyak hal untukku kak" Ucap Dira sudah hampur terisak. Namun berhasil Dira tahan.
"Kamu adalah istriku. Kamu adalah tanggung jawabku"
"Aku juga sangat mencintaimu Ra. Bila saja kamu tahu aku memilih berbohong untuk tetap membuatmu nyaman disampingku." Kalimat yang lagi-lagi hanya berani Bian ungkapkan didalam hatinya.
"Kak..... "
"Iya... "
"Bertahanlah....
Ada rasa bahagia yang tersirat didalam hati Bian. Meski ini sungguh sangat tidak mungkin. Dan apabila itu mungkin, pasti akan membutuhkan waktu lama. Tapi Bian sudah bertekad akan sanggup menunggu. Bahkan Bian selalu menguatkan hatinya untuk tidak berharap meski sangat ingin.
"Apa Kakak mau menunggu selama waktu yang aku sendiri tidak tahu kapan?"
"Asal kamu disampingku....
Dan kamu bahagia...
Aku akan menunggu.... "
"Ajari aku untuk menerima cintamu kak.... "
"Aku sudah mengajarinya bukan?
Tinggal kamu saja bagaimana menerima pelajaran itu. "
Bian kembali tersenyum dan menggenggam erat jemari Dira. kembali melangkah menyapa setiap yang berpapasan. Begitulah jika hidup bersosial. Meski Dira dan Bian baru tinggal dikomplek perumahannya. Namun para tetangga dengan ramah saling menyapa.
Kini keadaan Dira sudah lebih tenang dan menikmati genggaman tangan Bian. Bian memang selalu memperlakuakn Dira dengan lembut dan baik.
"Kak...
__ADS_1
Memangnya kakak setuju dengan statmen bahagia itu sederhana? "
"Setuju.... "
"Alasannya..... "
"Karena untuk bahagia itu tidak perlu alasan. sesederhana itulah kebahagiaan. "
"Apa kita harus merasa bahagia meski kita terluka. "
"Iya... "
Dira hanya mengerutkan keningnya. Seolah bertanya akan alasannya. Dan lagi-lagi Bian tersenyum lembut pada Dira.
"Sebenarnya yang menyebabkan luka itu ada, ya diri kita sendiri. Terkadang kita lupa bahwa dibalik luka yang kita miliki akan tercipta banyaknya kebahagiaan.
Contohnya.... "
Tanpa aba -aba...
"aww sakit kak" Teriak Dira karena Bian mencubitnya.
"Sakit? " Tanya Bian rendah namun tersirat makna yang dalam.
"Iya lah.... "
"Sini kakak obati" Bian mengelus lengan yang baru saja terkena cubitannya. Denga lembut Bian memperlakukannya....
Perlakuan Bian yang sederhana ini tak bisa dipungkiri bahwa Dira merasakan kenyamanan. Tanpa disadari Dira mengulas senyum.
"Seneng? "
Dira mengangguk dan juga tersenyum. Diperhatikan, diperlakukan dengan lembut dan baik membuat Dira semakin nyaman berada didekat Bian.
"Sudah paham akan definisi dari Bahagia itu sederhana? "
Dira masih diam ingin membenarkan perkataan Bian. Namun nyatanya Dira masih ingin penjelasan yang lebih. Ingin menampik perkataan Bian juga rasanya terlalu egois jika Dira melakukannya.
"Ketika Allah memberikan kita luka. Maka berterimakasihlah! Disaat itu Allah sedang menunjukkan kebahagiaan dibalik luka itu. Allah memiliki caranya sendiri untuk membuat hambaNya bahagia. Bersyukur adalah cara sederhana yang harus kita lakukan atas apapun yang kita terima termasuk luka. "
"Tapi rasanya...." Belum selesai Dira menjawab Bian sudah memotongnya.
"Meski sakit tetap bersyukur dan lepaskanlah. Maka semua akan terasa ringan. ketika kita terlalu fokus dengan luka yang kita miliki maka rasa sakitnya akan terus terasa. Tetapi jika kita fokus degan rasa syukur maka semua akan baik-baik saja. "
Bian tersenyum dan kembali menggenggam erat jari jemari Dira. Melangkah bersama menyusuri jalanan komplek yang masih segar udara pagi hari. Belum banyak aktifitas hanya ada beberapa orang yang melakuakn aktifitas yang sama dengan Bian dan Dira.
Bersambung
Likeπ
komentarπ
__ADS_1
β€(Kalau pas aku up biar kamu dapat notifikasinya)
Thankiyuuuii...