ADA KAMU SETELAH LUKA KEMARIN

ADA KAMU SETELAH LUKA KEMARIN
Merasa Bahagia Meski Tak Bersama


__ADS_3

Kehidupan yang dipilih memang sangat sulit. Menjalani hidup dengan penuh tekanan namun tak membuatnya tidak menjadikan sosok wanita idolanya menjadi standar untuk hidupnya. Nadira Diandra Putri nama yang tidak pernah bisa dihapus meski waktu telah lama berlalu. Kasih sayang yang pernah diberikan sungguh sangat melekat dalam benaknya. Melihat dan menyertai selalu kehidupan keluarga yang sangat ia banggakan. Dari kejauhan gadis yang kini telah bernajak dewasa melihat keharmonisan keluarga yang tak pernah sedikitpun ia lewatkan momennya. Ingin rasanya ia berlari dan berada ditengah kebahagiaan itu. Namun ia harus konsisten dengan apa yang telah ia pilih. Ia memilih untuk pergi dan menjauh. Memilih untuk menjadi pengagum dalam diam. Turut merasa bahagia meski dari kejauhan.


Hingga pada suatu hari sebuah kejadian mengharuskannya bertemu secara langsung dengan sosok wanita yang terus menjadi rindunya. Bertemu secara langsung membuatnya tak kuasa menahan rasa yang terus terpatri dihatinya. Mama yang selama ini sangat ia rindukan. Tidak ada darah yang sama mengalir ditubuhnya. Namun ketulusan yang ia rasakan sangat membekas hingga menjadikannya nomor satu di hidupnya.


Bulir bening itu terus saja mengalir ketika sebuah gambar sosok wanita yang memakai gamis warna hijau Army dan jilbab warna cream membuat wajah wanita itu tampak cantik sempurna, menggandeng anak kecil dan tersenyum manis.


"Ma.... Awa Kangen" ucap Salwa yang kini telah berganti nama menjadi Naura dengan lirih. Bulir beningnya selalu jatuh tanpa diminta jika rindu itu semakin menggebu.


Rindu itu memang masih terus tersimpan didalam hatinya. Ucapan pria paruh baya yang mendatanginya beberapa hari yang lalu masih terngiang jelas dalam ingatannya.


"Naura bisakah kita sudahi semua sampai disini?" ucap Bian dengan penuh harapan.


Jika bisa ia memilih untuk pilihan ini. Maka akan dengan senang hati ia melakukannya. Rindunya sudah sampai dibatas, namun ia ingat jika dirinya telah berjanji untuk tidak akan goyah dengan pilihannya.


"Apa itu artinya Om Bian sudah siap untuk pilihan kedua dari Opa? "


Bian hanya diam, sudah cukup lama memang kejadian itu berlalu. Yang ada dalam pikiran bian adalah Bisakah Dira nanti menerima kenyataan untuk kebebasan wanita yang telah merenggut kebahagiaannya?


"Kamu menginginkan hal itu?" tanya Bian pada Naura.


"Bagaimanapun Mama siska adalah ibu kandung Naura Om. Tapi cinta Mama Dira ke Nuara dari dulu sangat besar jika dibanding Mama Siska. Naura ingin Mama Siska menjadi Baik. Dan juga Naura ingin Mama Dira bahagia"


"Kamu tahu apa yang terjadi pada keluarga Om sekarang"


Naura hanya mengangguk. Apapun yang terjadi pada keluarga pria tersebut Naura selalu tahu. Ia bukan ingin menutup mata dan telinganya untuk permasalahan ini. Namun jika ia mengakhiri semuanya, maka akan sia-sia apa yang telah ia korbankan selama ini. Membongkar semuanya itu sama halnya mengibarkan bendara perang pada sang kakek. Keselamatan orang-orang yang sangat ia cintai akan menjadi taruhannya.


"Naura, tidak tahu apakah keegoisan Naura ini memang tepat atau tidak Om. Jika Naura menyetujui itu artinya Naura mengorbankan Mama Dira dan adek-adek Naura"


"Kamu meragukan Om?"


Naura hanya menggeleng dan memang masih tampak keberatan atas permintaan Bian. sangat sulit untuknya memutuskan hal ini. Namun melihat Mama Dira dan Om Bian salah paham seperti ini membuatnya merasa beralah.


"Naura akan coba bicara sama Opa Om"


"Biar ini menajdi urusan Om. Om yang akan menemui Opa mu. Yang Om butuhkan saat ini adalah persetujuanmu untuk menyudahinya"


"Tapi.... "


"Jika memang dia menginginkan putrinya bebas dan dengan jaminan semua akan kembali seperti semula, Om akan lakukan"


"Bagaimana dengan Mama Dira?"

__ADS_1


"Semua akan lebih baik dengan sebuah kejujuran. Om akan bicarakan pada Mama Dira"


"Tapi...."


"Percaya semua akan baik-baik saja"


Tidak ada kalimat yang keluar dari keduanya. Saling diam dan terus berpacu dalam pikiran masing-masing. Semua memang harus berakhir secepatnya. keutuhan rumah tangga yang paling utama. Bian tidak ingin kesalahpahaman ini terus menjadi akar permasalahn dalam rumah tangganya.


Kalimat-kalimat Bian tetus saja berputar dalam kepala Naura. Ia masih membelai indah wajah cantik yang sangat ia rindukan. Benarkah semua akan lebih baik dengan kejujurannya. Tapi bagaimana dengan ancaman Opanya 15 tahun yang lalu itu benar-benar terjadi. Tapi jika dirinya terus diam, maka akan ada hati yang terus tersakiti.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Hatinya masih bimbang, namun kalimat-kalimat permohonan Bian terus saja mengganggu pikiran Naura. Ditambah wajah ceria dan senyum manis yang biasa ia lihat dari kejauhan itu, dalam beberapa hari ini tidak terlihat lagi. Berulang kali dirinya mengeja kata dan merangkai kata untuk bicara dengan pria yang ia panggil Opa. Baru Naura ingin beranjak, hendle pintu kamarnya sudah terbuka.


Ceklek....


Pria yang usianya tidak lagi muda. Wajahnya tegang, membuat hati Naura semakin berdebar. Wajah tegasnya mengisayaratkan jika dirinya sedang marah. Naura sadar jika memang kesalahannya sangat fatal. Naura merasa Bian sudah menemui sang kakek dan pasti saat ini Opa sedang murka terhadapnya.


"Maaf Opa" kalimat Naura yang keluar terdengar begitu lirih dan bergetar.


Gunawan hanya diam dan melirik tajam kerah Naura yang sudah diselimuti rasa takut. Bibirnya kelu dan keringat dingin kini tiada henti untuk keluar.


"Kamu sadar dengan kesalahan mu?" ucap Gunawan masih sinis


"Silahkan tentukan kehidupamu akan seperti apa. Lakukan sesuka hatimu. Opa tidak akan melarangnya lagi"


"Opa.... "


"Kenapa kamu memilih berkerja di sekolah swasta milik Caraka group. Apakah kurang uang yang Opa kasih?"


"Tidak Opa, tidak seperti itu"


"Lalu seperti apa?" ucap Gunawan masih sinis


"Naura bisa jelaskan" ucap Naura tapi hanya di tanggapi datar dan emosi kini menguasai wajah renta milik Gunawan.


"Opa sudah 15 tahun berlalu apakah tidak bisa kita menghilangkan satu dendam saja" lanjut Naura


"Opa hanya ingin mamamu selamat"


"Naura akan lakukan sekuat dan semampu Naura Opa"

__ADS_1


"Melakukan apa?


Diam-diam menemui keluarga kesayanganmu itu, membela mereka dengan sepenuh hatimu yanh bahkan darah mereka tidak mengalir ditubuhmu. Kami keluarga kandungmu Naura. Apa tidak bisa kamu sedikit saja berempati pada kami?


Kamu tahu apa yang sudah mereka lakukan pada keluarga kandungmu?


Apa kamu lupa kalau Mama mu berada ditempat yang tak sewajarnya, itu karena siapa?" ucap Gunawan dengan emosi yang juga membuat Naura tersulut emosi juga


"Apa Opa juga lupa, kalau putri kesayangan Opa yang katanya ibu Kandung Naura juga hampir membunuh anaknya sendiri?


Opa lupa akan hal itu?


Apa Naura perlu ingatkan lagi apa saja yang Putri Opa lakukan itu terhadap Naura, terhadap Almarhum Papa Bayu, terhadap Om Bian, dan juga terhadap Mama Dira?


Apa perlu Naura memilih pilihan Opa yang kedua?" ucap Naura mengeluarkan seluruh emosinya.


Sudah cukup untuknya memendam semuanya. Beban mental yang ia punya selama ini begitu berat. Memilih diantara dua pilihan yang cukup sulit itu tidak mudah. Naura pikir dengan memilih pilihan yang pertama dari Opanya semua akan baik, tapi ternyata tidak.


Tidak ada pembicaraan setelah ini. Gunawan hanya menatap dalam gadis remaja yang kini ada dihadapannya. Tidak ada sepatah katabyang keluar. Ras kecewa juga emosinya belum mereda. Maka ia putuskan untuk meninggalkan gadis remaja yang juga masih menatapnya marah dengan air matanya mengalir deras.


.


.


.


.


.


.


Bersambung.....


Jangan lupa


LikeπŸ‘


komentar✍️


love ❀ (Biar pas aku up kamu dapat notifikasinya)

__ADS_1


Makasih 😁😁😁😁😁


__ADS_2