ADA KAMU SETELAH LUKA KEMARIN

ADA KAMU SETELAH LUKA KEMARIN
Membantu Kak Mila


__ADS_3

Lelaki yang kini berada tepat dihadapannya ini memang terlihat menyebalkan. Namun pria menyebalkan ini juga yang kini telah menjadi suaminya. Masih dengan senyum jahilnya Bian masih saja menggoda Dira. Sementara Dira yang digoda hanya bisa menyembunyikan wajahnya bak kepiting rebus.


"Kakak..... " Ucap Dira ingin mengakhiri aksi jahil sang suami. Alih -alih menghentikan aksinya. Bian malas semakin gencar menggodanya.


"Loh ayo.... "


"Enggak...


Udah sana kakak Meeting. Udah ditunggu yang lain kan? " Desak Dira untuk mengalihkan Bian.


"Oh ia... Kan Kakak meetingnya........ " sengaja Bian menggantung ucapannya. Hanya demi apa? Demi melihat ekspresi wajah Dira yang terlihat kesal. Namun ekspresi yang demikian justru membuat Bian semakin gemas.


Cup.... Cup... Cup....


Dira menghujani Bian dengan kecupan-kecupan yang bercampur dengan rasa kesal. Kesal karena apa? Ya kesal karena wanita overcook itu yang akan Meeting sama suaminya. Jadi Dira sebenarnya sudah Cemburu?


Entahlah.....


Biarkan nanti waktu yang membantu menjawabnya.


Masih diam membisu dengan reaksi yang ditunjukkan Dira. Bian tidak menyangka jika Dira akan melakukan hal ini. Bian hanya mampu tersenyum dalam hatinya.


Bian yang masih mematung dengan perlakuan Dira barusan hanya bisa mengulas senyum bahagia. Tak bisa ia sembunyikan jika memang Bian jauh lebih semangat saat ini. Bahkan tenaganya serasa lebih prima berkali kali lipat.


Bian yang menyadari kalau Dira akan segera menghilang dibalik pintu segera menyusul dan menarik tangannya hingga jatuh dalam pelukannya.


"Kakak" Dira memeluk karena terkejut tiba-tiba Bian memeluknya. Bagaimana jika ada karyawan yang melihat. Bukankah pernikahan ini masih dirahasiakan.


"Terimakasih Ra... Kamu boleh minta waktu sesuka hati kamu Tapi tetaplah tinggal bersamaku" ucapnya lembut sehingga cukup membuat hati Dira luluh.


"Kak... Maafkan Dira"


"stttttt" Bian menempelkan jari telunjuknya kebibir Dira. "Sudah... Jangan terlalu dipikirkan kita jalani seperti air yang mengalir saja. Oke" Bian menatap manik mata Dira dengan senyum yang mengembang diwajahnya.


Dira mengangguk kemudian Bian melepaskan pelukannya.


"Kakak kerja dulu ya? "


Dira hanya mengangguk namun sebelum Bian menghilang dari pandangan Dira. Terlebih dahulu Dira meminta izin untuk keruangan Mila. Dan Bianpun tidak keberatan.


Diruangan yang berbeda Dira sudah mengembangkan senyumnya menatap wanita cantik berkacamata dan tak lupa jilbab warna peac membalut kepala. Betapa bahagia melihat wanita yang terlihat serius didepan benda persegi dengan segala perubahan yang ia alami. siapa wanita ini dia adala Kamila Maharani.


tok....tok... tok...


"Assalamualaikum Bu, apa saya mengganggu"


Masih fokus menatap layar didepannya Mila masih tidak melihat kesumber suara namun pikiranya terus dipaksa untuk menebak.


"Apa aku tidak salah dengar ini, masak jam segini Dira kesini"


Tak mau ambil pusing Mila kembali melanjutkan aktivitasnya.


"Wah sepertinya kedatangan saya sangat mengganggu Ibu ya"


Kali ini suaranya tidak lagi diambang pintu tapi sudah tepat berada didepan Mila. Mau tak mau membuat wajah yang masih diselimuti kebingungan ini mendongak dan betapa bahagianya dia melihat siapa yang sedari tadi mengganggu konsentrasinya


"Dira...

__ADS_1


Ini beneran Kamu?


Apa aku tidak salah melihat


Tidak...... rasanya aku sudah pakai kaca mataku dengan benar ini"


Dira hanya tersenyum dan memeluk Mila yang masih mematung mengamatinya. Seketika ada sesuatu yang membuatnya tersadar jika yang ia lihat ini benar adanya


"Bagaimana bu Mila masih belum percayakah?"


"Oh... tidak. ..Dira apa kabar?"


"Baik Kak...


Kakak sendiri Bagaimana? apa sudah ada keponakan ku disana?" Jawab Dira sambil menunjuk perut Mila


Mila hanya tersenyum masam sebanarnya ia sudah tebal telinga untuk mendengar pertanyaan serupa. Namun apalah daya sang pencipta belum menitipkannya.


"Maaf Kak... sabar Kak.."


"Iya tidak apa-apa Ra"


Untuk mangalihkan suasana Dira kembali bertanya namun kali ini ia bertanya mengenai suaminya yang tak lain adalah sahabatnya.


"Rangga gimana kak? "


"Dia baik...


Eh...... kapan -kapan kita hangout yuk Udah lama kan kita ngak keluar bareng"


Dira hanya tersenyum mengiyakan ajakan Mila.


"Huffffff iya ne... si bos Galak itu memberiku tugas banyak sekali. Ditambah lagi ini aku harus kerja double Ra. kamu kan tau semenjak kepergian Bayu, pekerjaanku menumpuk yang harusnya dikerjakan berdua ini hanya aku sendiri" keluhnya.


Mendengar kata Bayu membuat raut muka Dira berubah. Dan ini membuat Mila menyadari akan kesalahannya.


"Maaf Ra aku ngak bermaksud........"


Dira memaksakan Senyumnya Tapi rasanya ada yang berbeda kali ini kenapa aku tidak sesedih dulu ketika Ada yang menyebutkan nama Bayu. Aku memang sedih tapi rasanya aku sudah bisa mengatasinya.


"Dira ngak apa -apa Kak"


"Oh ya Ra kamu koq... jam segini Udah ngapel aja" Ucap Mila mengalihkan tema


"Ngapel? "


Ucap Dira sambil mengerutkan keningnya. Dan ini membuat gelak tawa dibibir Mila.


"Iya Kamu ngapelin Bos ku yang galak itu? "


"Kak Bian maksud kakak"


Mila hanya tersenyum menggoda Dira


"Kalau dipikir-pikir Kamu cocok lho sama Bian. walaupun dia galak cuek dingin tapi dia baik dan soleh koq"


Dira hanya diam mencerna setiap kalimat. Sebenarnya Dira ingin tertawa tapi ia juga masih harus akting. Kalau saja kak Mila tahu bahwa sebenarnya Dira sudah menikah sama bos galaknya itu. Pasti Kak Mila akan heboh.

__ADS_1


"Kenapa Diam...


Udah Ra sebaiknya kamu jangan terlalu memikirkan masa lalu biarkan Bayu tenang Ra. Bayu akan bahagia kalau kamu melanjutkan hidupmu percayalah"


"Ia kak.. Dira akan berusaha untuk menyudahi semua ini"


Mila menepuk pundak Dira untuk menguatkan. Senyum dibibir terus menyungging.


"Gimana sama Pak Bos Galak aja deh.. ya" Sambil ia mengerutkan ngerutkan dahinya keatas berulang -ulang sambil tersenyum


"Dan kenyataannya Pak Bos galak itu suamiku " ucap batin Dira masih setia membisu tentang kebenaran ini.


Akhirnya Dira menawarkan diri untuk membantu pekerjaan Mila. Dan dengan suka cita Mila menerimanya. Karena rasanya ia sudah sangat lelah untuk lembur terus.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Langkahnya riang dengan senyum selalu mengembang menjadi bingkai dua wanita yang sama cantiknya. Setiap mereka yang mamandang hanya bisa menatap kagum pada dua wanita yang terlihat begitu berbeda dari karyawan lainnya. Sebabnya apa? aku juga tidak tahu.


tring....


Pintu lift dilantai 7 terbuka. kembali melangkah menuju sebuah ruangan yang didalamnya ada dua orang pria yang sedang berdiskusi ringan.


"Selamat siang pak? " sapa Kak Mila.


Namun bukan menjawab salam sapaan dari Mila. Bian malah sedang asyik menatap wanita disebalahnya. Entahlah kenapa Setalah Bian mengucapkan ijab kabul rasanya matanya ini selalu terhipnotis untuk menikmati indahnya karya tuhan dalam bentuk wajah Dira. Ternyata menatap yang halal rasanya akan lebih indah ya. Guman Bian didalam hati.


"Jangan hanya dipandang pak......


Bawa Ke KUA donk"


Tersentaklah Bian dalam diamnya yang sedang menatap sang istri tadi. Masih enggan menanggapi Mila, Bian malah beranjak dari kursi kebesarannya.


"Loh Pak... " Sela Mila yang merasa diabaikan oleh Bosnya sekaligus sahabatnya sekaligus sepupunya itu.


"Ikut aku "


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung......


jangan lupa Like 😁


komentarnya 📝


❤ (biar pas aku up kamu dapat notifikasinya)

__ADS_1


Thankiyuuuuuuuu


__ADS_2