
"Kamu yakin sayang akan melakukan ini?" ucap Bian pada istrinya
"Yakin, semua sudah berlalu Kak. Dira ingin menjalani hidup tanpa bayang-bayang masa lalu lagi. Kakak dan juga anak-anak adalah bukti masa depanku"
"Bagaimana jika dengan melepaskannya, tidak juga membuat Salwa kembali padamu?"
"Salwa sudah dewasa Kak, dia berhak menentukan hidupnya. Aku yakin dia tumbuh menjadi wanita yang kuat dan bijak. Dia pasti sudah bisa memilih mana yang terbaik untuknya"
"Kamu tidak menyesal?"
"Aku ingin menjalani kehidupan ini bersamamu kak. Biarlah masa lalu itu berlalu dengan bergantinya waktu. Aku ingin berdamai. Mungkin sudah cukup hukuman untuk wanita itu"
"Kamu tahu kan, apapun yang menjadi keputusanmu asal itu bahagia untukmu aku akan kabulkan"
"Mas Ari bilang wanita itu sudah banyak berubah. Salwa butuh sosok seorang ibu. Apalagi dia ibu kandungnya"
"Jangan memaksakan sesutu sayang"
"Enggak Kak, aku sudah pikirkan ini dengan baik. Aku benar-benar ingin berdamai dengan keadaan. Aku lelah terus hidup dalam bayangan masa lalu. Ada Kamu dan anak-anak yang menjadi prioritas utamanya sekarang"
"Bukankah aku.... "
"Aku tahu hatimu terlalu baik Kak. Kami tidak pernah melarangku untuk hal itu. Tapi betapa egoisnya aku selama ini. Mengabaikan perasaanmu demi kebahagiaanku"
"Siapa bilang kamu mengabaikan Perasaanku. Buktinya kamu masih cemburu dengan Siska kan" sambil tersenyum Bian mengatakan itu.
Membuat Dira malu-malu dan juga tersenyum. Jika mengingat hal itu rasanya malu sendiri. Bagaimana mungkin dirinya bisa secemburu itu. Bahkan diusianya yang memang tak lagi muda, mengapa pikirannya menjadi sedangkal itu.
"Aku suka kamu masih cemburu padaku" ucap Bian kembali dengan senyum jahilnya.
__ADS_1
Dari dulu entah mengapa Bian sangat suka dengan wajah malu-malunya Dira. Meski usia tidak lagi muda justru semakin membuat keduanya semakin mencinta. Tiga buah hati yang hadir diantara keduanya sungguh anugrah luar biasa yang tak bisa di munafikkan kebahagiaanya.
"Mau dipeluk?" sambil Bian merentangkan kedua tangannya.
Dira pun terjatuh dalam pelukan Bian yang masih sama seperti lima belas tahun yang lalu. Masih membuatnya nyaman dan bahagia. Dira pikir cinta waktu akan benar-benar hilang dan tak akan munhkin memikiko rass itu lagi. Namun ternayta praduganya salah, justru saat ini Dira telah terperosok jauh kedalam jurang kebahagiaan terhadap pria yang dengan setia menemaninya dalam keadaan apapun.
"Kak"
"Iya"
"Bawa aku bertemu dengannya"
Bian hanya memandang wajah istrinya dengan lekat. Mengunci setiap hembusan nafas sang istri yang ia tahu samgatbsulit untuk mengatakan hal itu. Meski Bian tahu jika istrinya telah menyatakan jika dirinya ingin berdamai. Tapi untuk bertemu secara langsung pasti istrinya ini mengumpulkan banyak keberanian dan juga kelapangan hati.
"Aku ingin mengatakan pada Mbak Siska secara langsung Kak" ucap Dira kembali karena tidak ada respon dari suaminya
"Kamu yakin?"
"Itu artinya kamu benar-benar akan kehilangan Salwa"
"Salwa sudah dewasa Kak. Aku sudah cukup tenanh sekarang melihatnya benar-benar baik -baik saja dan tumbuh mebajdi gadis yang kuat. Dia sangat merindukan sosok ibunya. Ibu kandungnya. Bahkan selama ini dia juga tumbuh besar bersama kita. Hanya saja dia tidak tinggal dirumah kita. Aku ingin memberikannya hadiah"
"Aku bangga padamu sayang. Ternyata istriku ini benar-benar berhati malaikat" ucap Bian tersenyum dan kembali mebarik istrinya kedalam pelukannya.
...๐๐๐๐๐...
Hatinya bergetar menyusuri setiap koridor rumah sakit yang baru pertama kalinya untuk Dira menginjakkan kakinya. Entah bagaimana perasaannya saat ini, yang pasti banyak rasa yang kini menjalar disetiap langkahnya. Dari tempat parkir hingga sudah akan sampai pada sebuah ruangan yang ia yakini ruangan itu adalah tempat Siska berada, Bian menggenggam tangan Dira dengan erat. Bian menyakinkan Dira ketika seorang Dokter membuka pintu ruangan tersebut dan mempersilahkan mereka untuk Masuk.
Ruangannya tidak besar. Pertama kali yang menjadi pandanagn Dira dan juga Bian adalah seorang wanita dengan penampilan yang sangat berbeda dari pertemuan terakhir mereka. Selama ini baik Bian maupun Dira tidak memantaunya secara langsung. Bian hanya mendapat laporan dari Ari. Sedangkan Dira memang sengaja tidak pernah menayakan prihal Siska. Baru beberapa waktu lalu setelah ia bertemu dengan Salwa, Dira secara langsung menanyakan bagaimana Keadaan Siska pada Ari.
__ADS_1
Dira hanya menatap miris wanita yang pernah merenggut kebahagiannya. Penampilan wanita itu sungguh sangat berbeda ketika ia bertemu sekitar 15 tahun yang lalu. Dulu apapun yang melekat pada tubuh wanita itu pasti semua dari keluaran brand ternama baik di dalam maupun luar Negri. Namun hari ini sungguh sangat jauh dari semua itu. Bahkan rambut bergelombang berwarna coklat yang dulu pernah Dira lihat telah tak tampak lagi. Pakaian kekurangan bahan kini berganti denga gamis. Penampilan yang begitu berlebihan, bahkan Dira sering menyebut wanita itu dengan wanita overcook. Tapi hari ini semua pandangan itu seakan terpatahkan begitu saja. Jika dulu wanita itu selalu terlihat sombong dan arogan tapi kali ini tatapannya lembut senyumnya juga teduh. Bahkan ketika untuk pertama kali setelah beberapa tahun yang lalu bertemu kembali wanita itu menyunggingkan senyum ramah.
Jika tadi jantung Dira bertalu begitu kencang. Namun saat ini Dira lebih bisa menguasai diri. Ia pikir Siska akan memakinya dan berbuat yang diluar kendali. Tapi ternyata siska malah bertingkah benar-benar diluar dugaan.
Siska beranjak dari tempatnya dan mengahmpiri Dira, Bian, Ari dan juga Dokter yang tadi mengantar. sekali lagi Dira dibuat terpana dengan apa yang dilakukan oleh Siska. Siska bersimpuh di kaki Dira dan membuat Dira juga berjongkok menjajari Siska.
Tidak ada kalimat yang keluar diantara keduanya. Namun dari sorot mata itu menjelaskan betapa rasa bersalah itu mencuat begitu saja. Bahkan menurut Siska hijrahnya selama ini tak akan bisa menghapus seluruh kesalahan yang pernah ia lakukan. Bahkan kini bulir bening telah memupuk dipelupuk mata keduanya. Saling diam dan Membiarkan rasa yang bicara. Ketika sebuah kaliamat ingin terlontar tapi ternyata hanya sampai ditenggorokan.
"Maafkan saya" kalimat singkat yang keluar dari bibir siska nyatanya membuat hati Dira semakin luruh.
Dira masih diam, ia pikir akan mudah berkata "iya saya sudah memaafkan Mbak Siska" tapi nyatanya lidahnya kelu. Bahkan apapun yang pernah Siska lakukan terhadapnya kini berputar dikepalanya. Hatinya terasa begitu sakit. Ia pikir keputusan yang ia ambil tadi tidak akan mudah goyah seperti ini. Namun kenyataanya luka itu kembali hadir dan masih terasa nyeri.
Bian kini sudah berjongkok disamping Dira. Menggenggam erat jari jemari Dira. Menstranfer rasa yang membuat Dira kembali menghangat. Anggukan dari Bian membuat Dira mampu mengubah luka menjadi cinta. Luka-luka yang masih berputar dikepalanya seakan menghilang.
"Semua sudah berkahir"
.
.
.
.
Bersambung.....
Jangan lupa
Like๐
__ADS_1
komentarโ๏ธ
love โค (Biar pas aku up kamu dapat notifikasinya)