ADA KAMU SETELAH LUKA KEMARIN

ADA KAMU SETELAH LUKA KEMARIN
Mulai Hari Yang Baru


__ADS_3

Kini ketika cinta sedang berlabuh maka sediakah menyambutnya. Berawal dari rasa yang tidak akan mungkin akan bersambut. Namun ketika Allah telah menyatukan maka dua insan yang dipertemukan dengan takdir tidak akan bisa menghindar.


Menikmati indahnya cinta yang baru saja akan dimulai. Bian tidak pernah menyangka wanita yang ia pikir akan sulit digapai. Ternyata wanita itu kini ada dalam dekapannya. Berasenandung mengiramakan isyarat cinta kini telah bersemi.


"Kak, aku nggak menyangka ternyata kamu seterkenal itu?" Ucap Dira ketika keduanya sedang duduk diatas ranjang menikmati malam .


"Bukan hanya terkenal saja suamimu ini sayang. Tapi juga kaya raya..... " Ucap Bian tersenyum dan terlihat menyombongkan diri.


Dira hanya menyibikkan bibirnya seolah malas dengan keeksisan suaminya. Beberapa hari terakhir ini sudah cukup dirinya disibukkan bahkan sampai membuatnya pusing. Dira tidak menyangka jika resepsi pernikahannya banyak diperbincangkan diberbagai kalangan.


Dira tidak pernah tahu siapa yang kini menjadi suaminya.


Ketika dulu dirinya meminta untuk dinikahi karena dirinya hanya mengenal sosok Bian yang lembut dan hanya Bian lelaki asing yang bisa membuatnya nyaman. Dira sadar tidak akan selamanya dirinya akan terus bergantung pada kakak juga adik lelakinya. Mereka pasti akan memiliki keluarga yang harus diprioritaskan. Dan hanya Bianlah lelaki yang bisa Dira terima.


Dira tidak peduli Bian itu siapa.


Selama ini Dira benar-benar tidak tahu siapa lelaki yang menikahinya.


Bahkan Dira juga belum lama tahu jika sekolah dimana tempatnya mengajar juga milik suaminya. Setahu Dira Bian adalah seorang pengusaha. Dan sebarapa kaya suaminya Dira juga tidak tahu. Malah Dira tahu semua berita tentang suaminya dari beberapa perbincangan yang tak sengaja ia dengar. Atau melalui media sosial yang kini tengah menyoroti keduanya.


Seperti malam ini Bian juga tak banyak menjelaskan siapa dirinya. Bagi Bian menjelaskan juga percuma. Bukan apa yang ia miliki yang Dira inginkan selama ini. Tetapi Dira butuh seseorang tempatnya bersandar dari belenggu masa lalunya.


Dira mengambil handponenya diatas nakas dan mengetikan beberapa huruf di clipbord di handponenya.


Dan muncullah gambat pria tampan dengan setelan jas dan senyum menajdi menambah ketampanannya. Tidak lupa kaca mata hitam bertengker disana. Sungguh karya tuhan yang begitu sempurna bukan?


Seketika mata Dira terbelalak mengetahui berapa profit perbulan yang diterima suaminya. Bahkan tabungannya beberapa tahun terkahir ini pun tidak akan cukup jika dibandingkan dengan profit yang didapat suaminya disetiap bulannya.


"Kak ini....." Ucap Dira bergetar dan menatap kearah Bian menuntut penjelasan.


"Kenapa?" Tanya Bian heran


"Kamu sekaya ini Kak?"


Bian hanya tersenyum manatap kearah istrinya yang tampak begitu polos. Dira hanya menatap kagum sosok suaminya. Selama ini Dira memang tahu jika suaminya ini seorang pengusaha tapi dia benar-benar tidak tahu jika suaminya ini sekaya ini.


"Kamu kenapa sih sayang" Ucap Bian kembali karena istrinya ini terus menatapnya.


"Kak aku rasanya..... "


"Kamu itu lebih dari harta yang aku punya. Jangan merasa tidak pantas untuk berada disampingku. Karena tidak ada satu wanitapun yang akan aku jadikan pantas untuk hidup dan menua bersamaku kecuali kamu Nadira"


Dira terharu dengan apa yang dikatakan Bian. Dira benar-benar beruntung memiliki suami terbaik seperti suaminya. Suami yang taat akan agamanya. Dia adalah anak laki-laki yang memuliakan ibunya. Dan juga dia adalah lelaki yang telah menyiapkan nafkah yang lebih dari cukup.


"Semua yang aku punya adalah milikmu juga"


Dira hanya menggeleng....

__ADS_1


"Kamu tidak mau?"


"Dira tidak menginginkan apa yang kakak Punya. Dira hanya ingin, kakak mengajariku untuk mencintaimu kak. Dira ingin suatau hari nanti merasakan dan bisa mengatakan Aku mencintaimu suamiku."


"Kita adalah takdir yang tidak bisa untuk dihindari. Kamu tentu ingat bagaimana takdir memang menginginkan kita untuk bersama. Kamu ingatkan bagaimana cara Allah mempertemukan kita untuk pertama kalinya.


Bahkan apa kamu tahu?


Aku telah jatuh cinta padamu ketika Fathia menyebut namamu."


"Tanpa aku tahu ternayata memang cintamu sudah lama tinggal dihatiku kak. Tapi aku terlalu egois untuk mengakuinya. Aku terlalu sibuk dengan cinta yang bahkan membuat ku terluka. Aku takut Kak mengakuinya. Jika memang cinta ini sudah lama menjadi milikmu."


"Kita akan memulainya sekarang kan?"


Dira mengangguk dan menjatuhkan dirinya pada pelukan suaminya. Menyandarkan segala bagian dari hidupnya untukmu suamiku.


Ketika luka itu datang kamu hadir dengan kisah yang indah. Ketika dia pergi kamu datang menawarkan ruang untuk ku singgah.


Genggam tanganku selalu dalam langkahmu. Sebut aku disetiap doa yang kau lantunkan. Beriring menjalani bahtera dalam bagian kokoh yang disebut rumah tangga. Beribadah dalam sebuah pernikahan.


"Jangan menyesal karena memilihku" Ucap Dira dalam dekapan yang membuat Dira senyaman ini.


"Tidak ada alasan untuk aku menyesal telah menikahimu. Justru aku harus berterimakasih oleh luka yang kamu punya"


"Dengan lukaku???"


Bian mengangguk dan menyelipkan rambut Dira yang menutupi wajahnya. Wajah Dira terlihat begitu memerah. Dan saat seperti ini yang membuat Bian semakin tidak bisa menahan diri.


Ucapan Bian begitu membuat hati Dira semakin terharu. Bian memang begitu tulus untuk Dira. Bahkan Dira merasa tak pantas jika bersanding. Namun untuk berpisah Dira juga mungkin tak akan rela.


"Kak... "


"Iya"


"Meski belum sepenuhnya cintamu disini" Sambil Dira menunjuk dimana letak hatinya "Bisakah kita tetap saling mengenggam, berjalan, dan bertahan dalam situasi apapun?"


Bian mengangguk dan mengecup puncak kepala Dira. Rasa yang tersalurkan lewat sentuhan lembut. Bahkan rasa yang hadir kini telah menjadi nyaman dan selalu ingin yang lebih.


Sorot mata yang menginginkan sesuatu yang lebih. Bukankah hari yang baru telah dimulai. Mungkinkah hubungan ini hanya sebatas ini. Lalu sampai kapan hasrat akan terus terpendam.


"Kak....


Kamu adalah suamiku....


Jika kamu meminta hakmu sekarang....


Insya Allah Dira sudah siap"

__ADS_1


Ucap Dira bergetar dan menunduk.


Bian mencakup kedua pipi Dira membuat Dira mendongak dan menghadap tepat kewajah teduh milik suaminya. Bian tersenyum lembut membuat wajah Dira semakin merah.


Bukan mudah untuk Dira mengatakan itu. Namun cukup membutuhkan banyak keberanian untuk kata-kata yang baru saja Dira ucapkan. Bagaimanapun Bian berhak atas dirinya. Berhak untuk meminta sesuatu yang memang sudah menjadi haknya.


"Kamu yakin???"


.


.


.


.


.


Bersambung


Jangan lupa


LikeπŸ‘


komentarnyaπŸ“


❀ (Biar pas aku up kamu dapat notifikasinya)


.


.


.


πŸ‘§ : Wih thor.... kok nanggung sih


πŸ§•: Ntar lu kagak penasaran dong...


πŸ‘§: Demen banget bikin orang penasaran????


πŸ§•:He.. he.


πŸ‘§: πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ™„πŸ™„


.


.

__ADS_1


.


Matur thankiyuuuuu


__ADS_2